(2007) Sering bepergian karena tugas, tidak membuat saya tidak berpuasa Ramadan sekalipun diperbolehkan. Malah saya juga tidak jarang berpuasa sunat Senin-Kamis dan lancar-lancar saja. Sakitpun sering saya tahan. Puasa saya kalah beberapa kali gara-gara sahur. Bukan karena tidak sahur, itu mah “keciiil”, tetapi karena sahur terlalu awal, sehingga habis sahur masih sempat tidur. Nah, entah kenapa, ketika kembali ke tempat tidur, alamaak, kok anak mertua selalu tampak tambah rancak. Mula-mula hanya bakucikak, lama kelamaan tahu sama tahu lah awak.
Kalau sudah begini, jangankan tanda imsak, azan Subuh pun nyaris “tak terdengar”.
Cianjur Sukabumi, badan terlanjur jadi begini.
Karena itu, riwayat tentang seorang lelaki yang mendatangi Rasulullah
dan memberitahukan bahwa dia sudah berhubungan badan dengan isterinya
ketika sedang berpuasa dan seperti apa reaksi beliau s.a.w kepada sang
“pendosa”, seperti pada hadis di bawah ini, bagi saya terasa sangat
manusiawi, menyentuh dan `inspiring’.
Seorang lelaki menemui Rasulullah dan berkata: “Celaka-celaka, saya
telah berhubungan badan dengan isteri ketika saya sedang puasa.”
Beliau menjawab: “Apakah engkau mampu untuk memerdekakan budak?” Ia
menjawab: “Tidak”
Beliau bertanya: Bisakah engkau berpuasa dua bulan berturut-turut?” Ia
menjawab: “Tidak”. Beliau bertanya: “Apakah engkau mampu memberi makan
enanpuluh orang miskin?” Ia menjawab: “Tidak”. Beliau bersabda:
“Duduklah!”.
Tidak lama kemudian Rasulullah membawa sekeranjang kurma, dan
bersabda:” Di manakah yang bertanya tadi?” Ia menjawab: “Saya!”
Beliau bersabda: “Ambillah sekeranjang kurma ini dan sedekahkanlah!”
Maka orang tadi berkata: “Tidak ada orang yang lebih fakir dari pada
keluarga saya wahai Rasulullah. Demi Allah, tidak ada keluarga yang
lebih membutuhkan di kampung kami kecuali keluargaku.
Kemudian Rasulullah tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu
bersabda: “Berilah makan keluargamu!”
Hadis yang saya temukan di buku yang ditulis Ibnu Qayim Al Jauzi,
satu-satunya murid Mujahid dan Mujtahid besar Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah, merupakan hadis Rawi Muttafaqalaih, yakni diriwayatkan dan
disahihkan oleh Bukhari dan Muslim,
Subhanallah, ketika saya membaca hadis ini dan sampai pada kalimat
ketika Rasulullah, yang sambil tertawa bersabda: “Berilah makan
keluargamu!”,” tak urung mata saya terasa basah.
Di atas segalanya Hadis di atas kembali menegaskan pesan dan
keteladanan yang sangat jelas dari Rasulullah, menyelamatkan kehidupan
di atas penegakkan aturan.
“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji
kurma. Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan
seteguk air,” sabda Rasulullah dalam salah satu khutbah beliau
menjelang Ramadan.
Tetapi tidak itu saja, hampir seumur hidupnya, tubuh beliau yang
mulia dan beraroma wangi surgawi itu tidur hanya beralaskan pelepah
kurma, yang menegaskan bahwa beliau adalah Nabi orang-orang papa dan
duafa, yang menegaskan bahwa agama yang dibawa dan diajarkannya
bukanlah agama antikehidupan, tetapi untuk penkhidmatan kepada manusia
dan kemanusiaan.
Itu tidak hanya tampak nyata dari kewajiban setiap muslim untuk
mengeluarkan zakat harta bagi mereka-mereka yang wajib zakat, serta
zakat fitrah dari setiap kepala yang mampu, yang harus dibayarkan pada
hari terakhir puasa agar setiap papa dan duafa dapat ikut bergembira
di Idulfitri yang mulia, tetapi juga terlihat, jika Anda karena
sesuatu hal tidak dapat berpuasa Ramadan, Anda harus memberi makan
seorang fakir miskin pada hari itu dengan makanan yang sama dengan
makanan yang Anda makan.
Kalau Anda berhaji memilih haji `tamattu’ atau haji qiran, Anda harus
menyembelih hewan qurban. Idem ditto jika melakukan pelanggaran
wajib-wajib haji. Hari raya haji yang dilaksanakan sehari setelah
wukuf di Arafah, dinamakan hari Raya Kurban, karena setiap muslimin
yang mampu diwajibkan memotong hewan kurban. Daging-daging kurban itu
bukan untuk ditaruh sebagai sesembahan di depan Ka’bah, dilarung di
laut atau ditanam di dalam tanah. Tetapi untuk disedekahkan kepada
para fukara dan masakin [*].
Bulan Ramadan adalah bulan penuh rakhmat. Tetapi Ramadan hampir selalu
tidak berpihak kepada orang-orang malang yang sering disebut “sampah
masyarakat” seperti pelacur jalanan, waria, dan kepada mereka yang
mengais kehidupan di tempat yang umumnya disebut “tempat maksiat”,
tetapi juga pedagang-pedagang kecil makanan, pedagang-pedagang nasi
yang berjualan dengan gerobak, yang hasilnya bahkan tidak cukup untuk
makanan sehari-hari.
“Apa tidak ada pekerjaan lain yang lebih terhormat dan bermartabat,”
sergah para ustadz dan ustadzah yang hampir tidak pernah menaruh
kuping di tanah sehingga cenderung menyederhanakan masalah, kepada
perempuan-perempuan yang bekerja di tempat-tempat “maksiat” seperti
bar, pub, panti pijat dan tentu saja rumah-rumah bordil. Sebahagian
mungkin menyukai pekerjaan tersebut, tetapi sebagian karena tidak
punya pilihan, tidak punya ijazah, kecuali wajah. Perut mereka,
anak-anak mereka harus diisi, bahkan tidak jarang para suami yang
hanya bisa mencetak bayi, pun mengantungkan makan, rokok dan botol
demi botol bir yang mereka tenggak dari hasil keringat dan bahkan
tidak jarang–—maaf—dari `lendir’ yang dihinakan lelaki-lelaki lain
ke dalam rahim sang isteri.
Untuk menghormati Ramadan, sudut-sudut Kota harus dibersihkan dari
“sampah masyarakat”. Tempat-tempat maksiat: bar, disko, panti pijat,
pub dan sejenis harus ditutup. Di sini, terlihat sekali pemberian
predikat “maksiat” sangat dangkal dan hanya menyentuh kulit.
Departemen Agama, tempat banyak orang-orang yang hapal ayat yang
mengembat uang rakyat dan umat, adalah tempat mulia belaka serta tidak
perlu diapa-apakan untuk memulyakan bulan puasa.
Dan para “Pembela Tuhan”, yang berjubah atau bukan, sudah siap untuk
mengamankan.
Pertanyaannya kemudian ialah, di mana wajah Nabi pada perilaku umat
waktu ini yang dengan tertawa menyuruh seorang pendosa yang sangat
miskin agar menggunakan sekeranjang kurma yang beliau hadiahkan kepada
sang pendosa membayar kifarat atas perbuatannya melakukan hubungan
badan dengan isterinya yang merupakan perbuatan yang dilarang dalam
bulan puasa, agar pendosa itu dan keluarga tidak kelaparan.
Tetapi kenapa?
Seperti pernah saya kemukakan dalam salah satu kolom saya di
Superkoran yang berasal dari posting saya pada sebuah diskusi di milis
Apakabar, kita sepertinya terperangkap pada teologi langit, “Teologi
yang memberhalakan Tuhan, sehingga melakukan tindakan yang dianggap
“menyenangkan” atau “memulyakan” Tuhan sah-sah saja, mulai dari hingar
bingar pengeras suara setiap subuh yang melafdzkan ayat-ayat Al Quran,
wirid, bahkan kasidahan di sebagian besar masjid di Indonesia (hal-hal
yang tidak akan pernah terdengar di Masjidil Haram di Makkah dan
Masjid Nabawi di Madinah), menzalimi jemaah Ahmadiyah, merusak rumah
ibadah penganut agama lain, membunuh orang-orang tidak bersalah,
termasuk yang seagama seperti yang terjadi di Pakistan, Irak dan
Darfour, Sudan”.
Dan kita juga menyangka kita “memulyakan” Tuhan ketika menguber-nguber
dan mengelandang para waria dan pelacur jalanan, menyumbat rezeki
orang-orang lemah dan terpinggirkan karena “salah mereka sendiri”
memilih pekerjaan, setiap Ramadan kok mau bekerja di sana.
Tentu saja bukan berarti kita harus cuek saja terhadap para perempuan
jalanan, jenis-jenis usaha yang tidak layak berdekatan dengan
tempat-tempat ibadah dan pemukiman, membiarkan kaum perempuan mencari
nafkan dengan menghinakan dirinya, tetapi jelas hal-hal tersebut tidak
mungkin dipecahkan dengan terapi “obat anti masuk angin” seperti itu.
“Wes, uwes, uwes, bablas angine!”
Yang jelas negeri tanpa tempat maksiat hanya ada di dunia utopia.
Dan Tuhan Pencipta dan Penguasa Semesta Alam, adalah Tuhan Yang Maha
Pengampun dan Maha Penyayang.
Tapi apalah awak ini
Selamat berpuasa Ramadan bagi yang menjalankan, dengan keprihatinan
yang sangat dalam atas bencana gempa yang kembali menimpa Bengkulu dan
sekitarnya.
Wassalam, Darwin
Banda Aceh, untuk Superkoran.
Catatan: Bakucikak (bahasa Minang)=Bercanda
[*] Daging kurban hasil sembelihan Jemaah Haji sekarang ini
dikalengkan dan dikirim ke negeri-negeri miskin di Afrika






Yth. Pak Darwin, Sungguh lega hati ada yang sudi berbagi isi tulisan seperti ini, kocak dan gamblang. Ketakutan sirna karenanya. Nabi adalah manusia juga bukan superman. Hanya kebanyakan manusia Muslim negara kita yang membuat beliau menjadi superman. Kalau ada yang mengatakan saya berdosa karena berani berkomentar seperti ini, saya tidak takut. Perhitungannya nanti di pintu akhirat, bukan di dunia. Anwari Doel Arnowo, Toronto, Kanada, 16 September 2007.
Pak Darwin, Anda “menyamakan” diri dengan orang yang mengaku berdosa kepada Rasulullah, dan Rasulullah memberikan sanksi untuk puasa dua bulan atau memberi makan 60 orang. Anda tentunya tidak semiskin atau selemah orang tersebut dan mampu berpuasa 2 bulan atau memberi makan 60 orang. Sekedar mengingatkan saja. Agung
Sebagaimana diingatkan Yesus : akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.
yang komen di atas, ente jangan kristenisasi terus yaa.. ga kapok ya gereja ente,ane tutup di mana2 ? jangan sampai darah ente yang tumpah nantinya !
kosong, komen gak mutu,,
untuk yg koment diatas, jangan asal komen, Baca baik2 al quran, yg di panggil oleh ALLAH SWT adalah orng2 yg beriman,WAHAI ORANG2 YG BERIMAN BERPUASALAH KAMU SEBAGAIMANA ORANG2 SEBELUM KAMU artinya tdk berlaku bagi umat muslim saja tetapi berlaku bagi semua mahluk ALLAH yg berserah diri secara total dlm arti yg sesungguhnya contoh kasar adalah orang mati dia sdh tdk menginginkan apa2 dia sdh menyerahkan seluruhnya pada ALLAH SWT,sanggupkah anda, kalau belum belajar lagi, jngn asal memaki, apalagi bergaya preman atau penegak hukum, umur dan dunia ini bukan manusia yg mengatur, jadi jangan mimpi, utk ngatur,ingat baik2 orng beragama belum tentu beriman, tetapi orng yg beriman pasti beragama, jangan hanya bisa mengaji,dan berbahasa arab saja, tetapi tdk mengerti apa arti dan tujuannya, sedangkan ALLAH SWT menuntut manusia agar rukun dan saling berkomunikasi satu sama lain, kalau memang belum sanggup belajar lagi ya.
Mas agus..sampean mbok jangan ngancam ngancam gitu ya..itu ucapan tidak baik…kecuali ada dalil yg memperbolehkan untuk mengancam, membakar, dan membunuh orang lain. Apakah ada dalilnya Mas ?