Top 12 - Sejak Jan 2012

Tolong Klik LIKE

Cara Kirim tulisan

Tulis dulu tulisan anda di Word atau di word processor apa saja, jangan di format, cukup diberi paragrap saja.
Lihat kolom yang dibawah tulisan; LOGIN: User Name: :Tamu dan Password : superkoran - setelah itu anda akan bisa melihat kotak untuk mengisi tulisan. (kotak kanan atas)
Copy tulisan anda dan Paste di kotak tsb dan beri judul dan tekan SAVE. Tambahan: Setiap tulisan hendaknya diberi TITLE dimulai dengan Nama Penulis + judul Tulisannya. Tanpa nama penulis, dengan sendirinya tidak jelas siapa yang menulis dan tulisan tidak bisa diterbitkan. TIAP ORANG HANYA BOLEH MENGIRIM TULISANNYA SENDIRI

Daftar tulisan

JASP: BUSWAY – solusi atau problem?

Pembaca: 1903

 Beberapa kali kita bisa menyaksikan adanya protes dari penduduk PI terhadap rencana jalur Koridor VIII Busway yang melalui kawasan permukiman Pondok Indah. Yang menjadi masalah ialah ketidak setujuan banyak orang dan mungkin saja banyak orang yang memiliki berbagai motivasi : " kenapa tidak setuju ? " Langsung Sutiyoso sebagai Gubernur DKI menyatakan bahwa pembangunan
jalur Busway adalah keharusan karena kebutuhan rakyat kecil akan
angkutan masal yang cepat, tidak macet dan tepat bagi penduduk
Jakarta. Semua orang mengalami kemacetan yang kadang-kadang luar
biasa , seringkali sampai berjam-jam dan menimbulkan frustrasi yang
amat sangat. Apakah Busway merupakan pemecahan atau merupakan masalah
baru ? Inilah sebenarnya yang harus dikaji dan inilah yang seharusnya
didialogkan. Dan bukan langsung main tembak TANPA DATA : pokoknya
pembangunan Busway harus diteruskan tanpa mendengarkan aspirasi warga
Jakarta, tanpa DATA dan tanpa perencanaan yang matang sebagai salah
satu SOLUSI pemecahan masalah kemacetan dan masalah kebutuhan
penduduk DKI akan angkutan murah, tepat dan cepat serta nerupakan
SOLUSI kemacetan ibu kota.

Pembangunan jalur Busway terindikasi tanpa perencanaan matang dan
cuma mengejar target saja. Hal ini bisa dibuktikan dengan indikasi
perubahan yang seenaknya, kemacetan yang selalu terjadi lebih-lebih
dengan adanya jalur Busway, pungutan-pungutan berupa tilang yang
dilakukan oleh Dinas Perhubungan DKI yang menimbulkan protes
pengendara sepeda motor, kerusakan-kerusakan Halte, kerusakan
jalanan Busway yang sering terjadi merupakan kebiasaan adanya dugaan
korupsi dalam pembangunan proyek Busway, belum lagi kemungkinan
dugaan Mark Up dalam pengadaan bus-bus . Ada yang menganggap proyek
Busway tak transparan dan siapa pemilik perusahaan Trans Jakarta tak
jelas benar. Pembangunan jalur Busway Koridor VIII yang " dipaksakan
" melalui kawasan PI semula direncanakan melalui jalan Kebayoran
Lama dan dengan pelebaran jalan kekiri dan kekanan jalanan yang sudah
ada. Ini tampaknya jauh lebih logis, entah bagaimana mendadak
Sutiyoso mengubahnya melalui kawasan PI, disinilah pangkal ketidak
puasan rakyat penduduk PI maupun pengguna jalan . Inilah sebenarnya
menimbulkan tanda tanya, kenapa ? Barangkali memang proyek Busway
cuma mengejar target dan mengejar " murah " sebab tanpa pelebaran
jalan kan jauh lebih murah. Disinilah ketidak bijaksanaan proyek
Busway dan apakah yang beginian nggak bisa dipikir ulang ?

Penebangan pohon-pohon yang sudah ditanam dan dirawat selama 30 tahun
dilingkungan kawasan Pondok Indah jelas merupakan aset ibu kota,
jelas merupakan salah satu dari kebutuhan paru-paru kota yang sudah
sangat gersang, sehingga adanya protes penduduk merupakan hal wajar.
Wajarkah kalau langsung Sutiyoso menuduh bahwa yang protes adalah
orang kaya ? Orang kaya juga membutuhkan angkutan cepat, orang kaya
atau miskin tetap membutuhkan pemecahan masalah kemacetan lalu
lintas. Jadi omongan Sutiyoso sebagai gubernur rasanya kurang pantas
dan berbau populis seolah-olah dialah Pahlawan rakyat kecil. Padahal
track record Sutiyoso sebagai pembela rakyat kecil tak terlampau
menonjol, yang menonjol justru AMBISI serta semangatnya menjadi
presiden RI, mula-mula tampak dari perjuangannya menjadi Gubernur
Kepala Daerah setingkat menteri dengan upaya menjadikan DKI sebagai
daerah yang diperluas, kemudian ambisinya menjadi Menteri Dalam
Negeri yang kandas dengan pengangkatan Menteri Dalam Negeri
Mardiyanto, mantan Gubernur Jawa Tengah.

KIta masih ingat betapa berbagai kawasan di DKI yang terkena musibah
banjir hebat, antara lain kawasan Kelapa Gading dimana pembangunan
Ruko, pembangunan Mal pusat perbelanjaan dan pembangunan apartemen
serta rumah hunian luar biasa hebatnya. Pembangunan yang
menghilangkan daerah resapan air, antara lain danau-danau besar yang
ditimbun habis-habisan di kawasan Sunter serta kawasan Kelapa Gading,
lapangan golf yang disulap menjadi kawasan ruko dan tadinya milik
angkatan laut. Perubahan peruntukan kawasan penyerapan air jelas
merupakan salah satu sumber biang keladi banjir dikawasan Kelapa
Gading. Dan jelas perubahan peruntukan ini merupakan tanggung jawab
penerintah daerah. Lha kalau sudah begini, apakah Sutiyoso memikirkan
rakyat kecil ? Rakyat kecil yang membutuhkan Busway ? Barangkali
Sutiyoso sudah lupa bahwa banjir ibu kota merupakan salah satu
tanggung jawab pemerintah daerah, kok mendadak mau membela rakyat
dengan isu populis Busway untuk kebutuhan rakyat kecil.

Dalam diskusi antara tokoh-tokoh penduduk Pondok Indah di kantor
walikota Jakarta Selatan, ternyata bukan merupakan diskusi yang
berimbang dalam memecahkan masalah protes, malah merupakan keputusan
yang tak terbantah dan bukan diskusi yang logis. Walikota menyatakan
akan mengerahkan 1500 preman dalam mensukseskan pembangunan jalur
busway. Inilah celakanya: bukan mau diskusi tetapi cuma "memaksakan "
keinginan Sutiyoso dalam pembangunan Busway yang sementara banyak
pihak meragukan apakah Busway merupakan solusi ataukah merupakan
persoalan yang menambah kemacetan lalu lintas di DKI ? Walikota yang
jelas cuma alat memaksakan kehendak Sutiyoso jelas akan menimbulkan
perlawanan pihak kawasan Pondok Indah yang akan dirusak habis dengan
pembangunan Koridor Busway dan pada akhirnya cuma menghancurkan
kawasan yang tertata rapi dan bukan tidak mungkin kawasan Pondok
Indah menjadi kawasan BANJIR seperti yang terjadi di Kelapa Gading.
Kalau sudah demikian siapa yang bertanggung jawab ?

No comments yet to JASP: BUSWAY – solusi atau problem?

  • Anonymous

    Alo Bung, tulisan Anda kok malah jadi gak fokus? Yang dipersoalkan di awal tulisan kan busway sebagai solusi buat wong cilik dari kemacetan. Lah, kok terus lari ke masalah korupsi proyek, banjir, dsb?

  • Anonymous

    Yang dibutuhkan disini adalah solusi menang-menang, ditempatkannya hukum dan peraturan sebagai panglima, dan jangan sampai kebijakan populis mengalahkan kedua hal pertama tadi. Apalagi jika sampai kebijakan populis tadi mempunyai maksud-maksud politik tertentu. Jadi itulah harapan saya, pasti dicari jalan keluar yang baik dan benar serta bermanfaat bagi semua orang. Semoga.

Leave a Reply