Ratusan pendukung Barisan Melayu Bersatu datang ke kantor DPRD Kalimantan Barat pada 20 Februari 2008. Mereka minta pemerintah melarang warga Tionghoa menggunakan bahasa Hakka atau Tio Ciu. Mereka juga menuntut pemerintah melarang perayaan Imlek dengan barongsai dan naga. Mereka minta semua aksara Mandarin dilarang di tempat-tempat umum.
Sejak Januari lalu, ketika Barisan Umat Islam datang ke DPRD Kalimantan Barat dan minta Majelis Adat & Budaya Tionghoa dibubarkan, hingga demo kemarin dengan Barisan Melayu Bersatu minta kebudayaan Tionghoa dilarang dan orang Tionghoa dilarang berbahasa etnik, saya sering ditanya bagaimana harus meliput ini?
Beberapa rekan wartawan di Pontianak –dari etnik Dayak, Madura, Melayu maupun Tionghoa– bilang kalau hanya diliput apa adanya, kesannya malah makin bringas. Banyak yang memutuskan tidak dimuat. Media Jakarta hampir semuanya tak memuat ketegangan ini. Ada televisi sudah punya gambar namun editornya bilang, kalau dimuat, nanti rasialisme anti-Cina makin luas di Indonesia.
Baca selanjutnya di Blog Andreas Harsono
Blog Andreas ini diakhiri dengan komentar:
” aya kira hanya ini yang bisa saya lakukan. Saya pesimis Pontianak bisa berakhir damai. Namun saya juga jahat kalau tak berusaha memberi tahu bahwa ada jalan yang lebih baik guna mengurangi kekerasan, syukur-syukur, bisa mencegahnya. Namun pada akhirnya, orang-orang waras di Pontianak yang harus berjuang melawan fasisme, rasialisme dan premanisme ini. ”
Berita terkait:





Para penuntut itu kalau mau “adil” ( tak pilih kasih!) maka harus menuntut juga larangan penggunaan bahasa/huruf2 arab, termasuk kebudayaan arab yg merusak kebudayaan asli Indonesia ( termasuk pakaian2 laki2 arab,jilbab dan burkah! ) Nah lo, gimana ?
Ini ekses politik daerah. Karena calonnya kalah, tidak terima. Paling gampang dialihkan menjadi rasialisme Inilah Indonesia
Selama mereka masih hidup dalam pengingkaran terhadap kenyataan, masalah ini TIDAK akan dapat dipecahkan.
wah, saya nggak setuju semua melayu dibawa bawa… memangnya ?
Yang Melayu rasis NEP itu ya Malaysia; kok Indonesia mau ikut-ikutan. Malu ah. Hare gene masih mau mainin kartu rasis. Dasar terbelakang.
Mereka itu berpikir yang tidak rasional, krn pada masa-masa sebelumnya tidak muncul pernyataan masyarakat atas larangan tersebut. Yang menjadi pertanyaan kok sekarang timbul pernyataan tersebut……
Saya bukan etnis China, saya baca di Kompas Imlek adalah tahun baru menurut kaleder bulan, bukan seperti yang internasional mengikuti matahari, jadi tidak ada hubungannya dengan agama manapun. Itu tradisi. Jadi kalau ada Imlek saya mau ikut merayakan, seperti orang Jepang merayakan kurisumasu (Christmas), karena tidak ada hubungannya dengan agama. Janganlah kita sering marah, karena menunjukkan pendek akal. Anwari Doel Arnowo -Singapura – 17 Maret 2008
Setahu saya melayu tidak begini…Saya tahu karena saya tinggal di Kepulauan Riau salah satu jantung suku dan kebudayaan Melayu yang tertua… Di sana Melayu menerima semua suku mengembangkan kebudayaannya masing masing.
sepertinya suku melayu tidak tau diri. melayu juga adalah pendatang di kalimantan. eksistensi melayu dikalimantan baru 3-4 ratus tahun ini. Saya hanya berharap Dayak harus melakukan hal yang sama terhadap melayu. supaya mereka membubarkan juga majelis adat melayu.
Hendaknya etnis ini lebih berbaur dengan masyarakat seperti juga etnis2 dari negara lain. Kita bisa lihat di-mana2 mereka mengelompokkan dirinya,di perusahaan cina, pegawai dari etnis tsb diberikan gaji lebih tinggi, mereka paling sering membuat jengkel, contoh saat macet nyerobot mengambil jalur yang salah sehingga menambah macet (dr.penglihatan saya kebanyakan dilakukan oleh etnis ini dan supir angkot). 2 Minggu lalu di PIM 2 orang cina dengan menaiki BMW menyerobot saat seorang wanita hendak masuk ketempat parkir.Bukan generalisir, tetapi mereka selalu berlaku curang tanpa perduli pada orang lain. Di perumahan suka parkir sembarangan dan melakukan kegiatan usaha yang mengganggu kenyamanan para tetangganya mereka tidak perduli karena merasa semua dapat diatasi dengan uang.Tidak heran bila mereka setiap suatu periode tertentu menjadi korban amuk massa karena mereka juga tidak pernah perduli pada orang yang bukan etnisnya. Belum lagi menciptakan system monopoli dalam berbagai kegiatan business. Siapa menuai angin akan menuai badai
Panja, kalau yang model perilaku seperti yang anda sebut itu bukan monopoli sara tertentu. Jelas anda menggeneralisir. Kalau soal perilaku di jalan, hampir semua pengendara mobil di kota besar egois, anda tau mengapa? karena setiap orang yang punya mobil pasti bisa nembak SIM, jelas dia tidak tahu aturan yang benar. Saya mau test anda: dua kendaraan bertemu dipersimpangan dari berbagai arah, apa kata aturan lalu lintas agar tidak bertabrakan? nahh… anda tahu mengapa antri bukan budaya bangsa kita? banyak sekali contoh, tetapi yang lebih penting adalah analogi yg anda gunakan untuk menghakimi orang lain karena sara jelas menunjukkan kepada forum intelek ini betapa statisnya pikiran anda…