Top 12 - Sejak Jan 2012

Cara Kirim tulisan

Tulis dulu tulisan anda di Word atau di word processor apa saja, jangan di format, cukup diberi paragrap saja.
Lihat kolom yang dibawah tulisan; LOGIN: User Name: :Tamu dan Password : superkoran - setelah itu anda akan bisa melihat kotak untuk mengisi tulisan. (kotak kanan atas)
Copy tulisan anda dan Paste di kotak tsb dan beri judul dan tekan SAVE. Tambahan: Setiap tulisan hendaknya diberi TITLE dimulai dengan Nama Penulis + judul Tulisannya. Tanpa nama penulis, dengan sendirinya tidak jelas siapa yang menulis dan tulisan tidak bisa diterbitkan. TIAP ORANG HANYA BOLEH MENGIRIM TULISANNYA SENDIRI

Daftar tulisan

Iwan Piliang: YOKOI dan KIJANG

Pembaca: 3244

 Selasa, 29 April 2008 BAGI Anda yang pernah ke Makassar, Sulawesi Selatan, pastilah melewati Pantai Losari. Kawasan inilah yang sesungguhnya menjadi landmark kota. Di penghujung 1990-an, bila petang merembang, deretan gerobak penjual pisang epek – – pisang batu mengkal dipanggang, lalu dipenyetkan, digencet pakai besi penjepit, dihidangkan di piring kecil memakai tetesan gula merah – – berderet sepanjang pantai.

 

Kini deretan gerobak pisang epek itu tidak ada lagi, kendati di tempat lain
masih banyak dijumpai. Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan
kota, dari tepi jalan menatap ke laut lepas, pandangan bebas ke hamparan laut
lepas.

Siang, Selasa, pukul 11.30 Waktu Indonesia Tengah, udara cerah. Beberapa orang
rombongan petinggi Toyota Motor Corporation (TMC), Jepang, tampak menaiki sebuah
kapal kecil di Hotel Pantai Gapura, Losari.

Di antara rombongan ada Senior Managing Toyota International, Akira Okabe. Di
sampingnya sosok perempuan Jepang tua, istri almarhum Akira Yokoi, mantan Wakil
Direktur Utama TMC. Juga ada anak Akira Yokoi, Masami dan Masuki. Mereka
didampingi Wakil Walikota Makassar Hendry Iskandar. Juga ada wakil dari NV H.
Kalla, distributor terbesar Toyota bagi Indonesia Timur.

Jika saja sosok Akira Yokoi ada di situ, pastilah tangannya ingin sekali
memegang kail dan memerintahkan kapal ke tengah laut. Ia gemar memancing ke
samudera lepas.

Tetapi Akira hari ini, sudah berada di dalam wadah, di dalam sebuah mangkok kayu
eboni. Di dalam mangkok itu memang tidak lagi ada jasad Akira. Di situ tinggal
abu sisa pembakaran jasadnya yang meninggal pada 21 Januari 2008 lalu.

Sesuai dengan wasiatnya, Akira Yokoi meminta kepada keluarganya untuk
melarungkan abunya ke perairan di kota Makassar.

Melihat dari wasiat itu, bisa dipastikan Makassar menjadi kota yang begitu
berkesan bagi almarhum. Kota ini memang begitu membekas bagi Akira Yukoi. Dulu
ia berteman dengan Jenderal M. Jusuf, salah satu tokoh kunci Supersemar itu.
Mereka sering memancing berdua di laut dekat kota Makassar di era 1976. Kala itu
M. Jusuf menjabat sebagai Menteri Perindustrian.

Sehingga ketika rombongan keluarga almarhum Akira Yokoi tiba di Makassar Senin,
27 April 2008, abu mayat Akira Yokoi sempat dibawa ke kediaman almarhum M.
Jusuf. Mereka diterima oleh Ny. Elly Jusuf. Malam harinya disemayamkan di Hotel
Aryaduta.

Peristiwa ini tidak mendapatkan perhatian besar masyarakat dan media. Mungkin
karena tidak banyak yang paham, bahwa Akira Yokoi adalah sosok kunci lahirnya
produk Toyota Kijang di Indonesia. Selain itu, keluarga almarhum sengaja hadir
low profile, agaknya, kendati high profit.

Dan pukul 15.00 siang ini juga, rombongan keluarga Akira bertolak ke Jakarta,
langsung terbang pulang ke Jepang.

Akira Yokoi adalah sosok yang memprakarsai lahirnya mobil Toyota Kijang di
Indonesia, pada 1977.

PERTAMA keluar mobil kijang berjuang keras merebut hati masyarakat. Harga jual
masih di kisaran Rp 3 juta dalam bentuk pick up kotak. Bagian pintu bila diketok
dengan jari tangan, berbunyi seperti kaleng. Sehingga banyak calon konsumen
meragukan kehandalan Kijang pertama itu. Namun pemasaran terus digenjot.
Kehadirannya, didistribusikan ke banyak kota ke seluruh Indonesia.

Pada 1980-an awal dibuat kijang minibus yang juga berlanggam kotak-kotak.
Masyarakat akbrab menyebutnya Kijang Buaya atau Kijang Doyok. Baru sekitar 1987
keluar varian Kijang Super yang bentuknya sudah lebih “manusiawi”, dan
penjualannya melonjak tajam.

Mesin yang tangguh, chasis kuat mengangkut banyak penumpang. Itulah cirri khas
Kijang. Anda tentu masih ingat iklannya di televisi, “Aa, tetah, mamah, ayah,
eyang .” Semuanya muat di Kijang.

Toyota original body muncul 1992. Proses pembuatan body tidak lagi menggunakan
dempul tapi sudah menggunakan las layaknya sedan. Periode 1992 sampai 1996
terkenal model Kijang Grand Extra, lebih modern, ada fitur RPM, power steering,
dashboard sedan. Mesin dari 1500 cc menjadi 1800 cc pada 1995.

Ketika regulasi otomotif digulirkan pemerintah yang melahirkan pemain baru
seperti Timor, Hyundai diikuti lahirnya mobil-mobil murah macam sedan Timor,
Kijang terkena dampaknya. Maka keluarlah varian Kijang kapsul pada 1997, dan
menembus penjualan 1 juta unit.

Di saat Menteri perindustrian Tungky Ariwibowo, seingat saya meregulasi
pembuatan mobil nasional (Mobnas), berkerjasama dengan KIA, Korea dengan
Kelompok usaha Humpus, melahirkan mobil merek Timor. Akira Yokoi adalah sosok
yang gigih mempersoalkan, termasuk mendesak pemerintah Jepang untuk membawa
regulasi yang dikeluarkan pemerintah itu ke pertemuan World Trade Organization
(WTO).

Dan kala itu, seperti masih bisa dibaca di Republika On Line, 9 Oktober 1996,
Tungky Ariwibowo bergeming dengan sikapnya. Ia siap menjawab apapun di
persidangan WTO. “Indonesia harus mengembangkan kemampuan lokal industri
otomotifnya, “ ujar Tungky.

Setahun kemudian, 1997, Menteri Perindustrian berganti ke Bob Hasan. Bob pula
menjabat Presiden Komisaris PT Astra International. Di saat isu Mobnas terus
bergulir, rombongan komisaris dan direksi Astra, termasuk Rini Suwandi, yang
kala itu direktur keuangan Astra, bertolak ke Jepang, ke kantor induk Toyota.

Sosok Akira Yokoi melobby habis rencana Mobnas. Ia menghimbau agar sesuai dengan
ketentuan WTO.

Menurut sumber Bisnis Indonesia pada 21 Februari 1997:

Sumber Bisnis di TMC mengungkapkan dalam pertemuan dengan pucuk pimpinan
perusahaan otomotif itu, Bob Hasan membahas masalah program Mobnas. "Pak Bob
sendiri bahkan mengharapkan agar Toyota ikut memberikan penjelasan kepada
pemerintah Jepang supaya masalah Mobnas jangan sampai dibawa ke panel WTO."

Sumber tadi menambahkan Bob Hasan kemungkinan besar juga membicarakan masalah
Mobnas dengan pimpinan Isuzu Motor dan Nissan Diesel. Bahkan, lanjutnya, kedua
pihak – – Bob Hasan dan mitra Jepang – – menginginkan agar masalah Mobnas tidak
sampai menjadi penghalang hubungan persahabatan kedua negara.

"Kami juga menekankan agar masalah Mobnas tidak melebar atau membesar," tutur
Bob pada kesempatan itu. Secara prinsip, katanya, Jepang hanya menginginkan agar
masalah Mobnas dapat sejalan dengan ketentuan Badan Perdagangan Dunia (WTO)
sehingga semua pihak bisa menerimanya dengan baik.

Bob Hasan menjelaskan kepada Bisnis Indonesia di pertemuan tersebut membahas
tentang masalah kandungan lokal – – kendaraan bermotor yang diproduksi di
Indonesia – – dan investasi mereka di Indonesia. "Dalam pembicaraan dengan
pimpinan TMC, mereka sepakat meningkatkan kandungan lokal mobil Toyota yang
dibuat di Indonesia."

Ketika itu kandungan lokal kendaraan niaga kategori I merk Toyota yang dirakit
di Indonesia rata-rata baru 40%-45%, sedangkan sedan jauh lebih kecil dari angka
tersebut. "Peningkatan kandungan lokal tersebut akan dilakukan secara bertahap
dalam beberapa tahun, " Bob hasan.

Artinya jika melihat kliping media masa lalu, bisa dipastikan adalah Jepang
Negara yang kencang menentang upaya membuat Mobnas. Apalagi Negara yang
dirangkul untuk merealisasikannya bukanlah Jepang, melainkan Korea.

Sayang kemudian Indonesia pada Mei 1998, masuk ke era sulit. Hantaman badai
krisis terjadi.

Sebagaimana Anda lihat kini, program Mobnas kandas.

Lebih menyedihkan, kemampuan rancang bangun lokal dan membuat blok mesin mobil
sendiri yang diprakarsai oleh PT Perkasa Engineering, pun gagal.

Padahal sebagaimana saya tulis di Tajuk berjudul BESI dan STEEL, perusahaan ini
memiliki kemampuan membuat blok mesin, karena punya lisensi pembuatan mesin dari
Steir, Austria, khususnya untuk kapasitas mesin 300 HP ke bawah. Hanya ada dua
negara yang mendapat lisensi ini. Satunya lagi Cina, khusus untuk engine 600 HP
ke atas.

Rippon Dwi, seorang engineer senior pernah mengatakan kepada saya, untuk membuat
mobil macam Kijang, ia memastikan harga Rp 80 juta saja seharusnya sudah untung.
Dan Perkasa pernah membuat kendaraan yang sama dengan kualitas sama pula, mampu
di kisaran harga itu.

Seiring dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia, kemampuan industri lokal
seakan tenggalam.

Lebih parah industri hulu, seperti peleburan baja, tidak menjalankan laku
memproduksi rasis dari alam, dari batu besi, pasir besi. PT Krakatau Steel sejak
lama hanya melebur besi daur ulang. Baru belakangan ini mereka mengarahkan
rencana kerja ke sana. Padahal; pig iron berguna untuk membuat blok mesin,
pastinya.

Sebaliknya, rasis dari alam, pasir besi, batu besi, kini salah satu komoditi
yang banyak diekspor ke Cina.

Lebih celaka kini, untuk PT Krakatau Steel oleh trio: Kepala BKPM, Menteri
Perindustrian, dan Menteri BUMN, akan dijual melalui penjualan strategic partner
kepada Laksmi Mittal, raja baja dunia yang memulai berusaha dari Surabaya
melalui PT Ispatindo, sejak 30 tahun lalu itu.

Itu artinya, segala yang Indonesia punya bisa dipastikan bukan untuk
memandirikan bangsa. Keadaan seakan dibuat melemahkan negeri ini. Juga menjadi
tanya entah untuk apa guna sebuah kebijakan?

Kijang Innova lahir di medio 2000-an. Harganya pun sudah di atas Rp 170-an juta.
Ia bukan lagi dianggap mobil murah.

Dan Mobnas gagal total.

Arah mengembangkan kemampuan industri mobil nasional tidak kian tumbuh.
Prinsipal mobil macam Toyota di Indonesia, jika jernih berkata, hanyalah
menempatkan negara ini sebagai pasar, tidak lebih, sejak dari Indonesia dijajah
Jepang, entah hingga kapan?

Maka saya to the point mengatakan, dengan latar pemikiran duo menteri dan satu
kepala BKPM yang hendak menjual PT Kraklatau Steel kini, dengan cara semau
hatinya, tanpa memikirkan sikap kenegarawanan dan kebangsaan yang jauh ke depan,
memang layak dipertanyakan.

Paling tidak saya melalui tulisan ini menggugatnya.

Sudah sejak lama program Dirjen Logam Mesin dan Idustri Aneka, di Departemen
Perindustrian hanya satu yang diagulkan: Menjual mobil dan motor
sebanyak-banyaknya. Belum ada berbuat bagi Mobnas, bagi motor nasional,
(Motnas).

Sehingga, ketika abu jasad Akira Yokoi, sosok yang
mempersoalkan sengit ihwal Mobnas di Indonesia dulu, kini justeru dilarungkan di
Makassar, saya tentu tidak hendak "menganggu" arwahnya.

Tetapi saya hanya ingin menduga-duga, apakah dia merasa “berdosa” kepada
almarhum M. Jusuf dulu, yang menghimbaunya membuat mobil murah, sehingga sebagai
rasa penghormatan, ia minta dilarungkan di Makassar?

Entah lah!

Yang pasti, dari beberapa kali melihat dengan mata kepala sendiri, terutama
kerabat sendiri, mereka di akhir hayat, menjelang sakratul maut, seakan menatap
perjalanan dosanya, macam menonton film dokumenter. Tetapi kala itu, sudah
terlambat, maut diujung mulut.

Apakah wujud “film dokumenter” yang ditonton Yokoi?

Mana tahulah saya.

Apakah dengan dilarungkan di Makassar, sebagai rasa terima kasih, karena dari
negeri inilah penjualan terbesar produk TMC?

Yang pasti, sebagai reporter saya tentu sangat sulit mengkonfirmasi kepada Akira
Yokoi dan M. Jusuf. Ketika M. Jusuf masih hidup, untuk mengkonfirmasi ihwal
Supersemar saja, ia mengunci mulut rapat, pat-pat. Apalagi kini hanya untuk
bertanya ihwal Mobnas, keduanya sudah tiada.

Semoga mereka diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa dan Indonesia berpemimpin
memberi manfaat bagi bangsa ke depan. Amin!

Berbagai produk TMC di Indonesia kini, “wes ewes ewes bablas angine.”

Iwan Piliang (tajuk www.presstalk.info)

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>