Top 12 - Sejak Jan 2012

Tolong Klik LIKE

Cara Kirim tulisan

Tulis dulu tulisan anda di Word atau di word processor apa saja, jangan di format, cukup diberi paragrap saja.
Lihat kolom yang dibawah tulisan; LOGIN: User Name: :Tamu dan Password : superkoran - setelah itu anda akan bisa melihat kotak untuk mengisi tulisan. (kotak kanan atas)
Copy tulisan anda dan Paste di kotak tsb dan beri judul dan tekan SAVE. Tambahan: Setiap tulisan hendaknya diberi TITLE dimulai dengan Nama Penulis + judul Tulisannya. Tanpa nama penulis, dengan sendirinya tidak jelas siapa yang menulis dan tulisan tidak bisa diterbitkan. TIAP ORANG HANYA BOLEH MENGIRIM TULISANNYA SENDIRI

Daftar tulisan

Damar Shashangka: Serat Sabda Palon – Runtuhnya Majapahit

Pembaca: 14915

Ingatlah kalian semua,
Akan cerita masa lalu,
Yang tercantum didalam Babad ( Sejarah )
Babad Negara Majapahit,
Ketika itu,
Sang Prabhu Brawijaya,
Tengah bertemu,
Dengan Kangjeng Sunan Kalijaga,
Ditemani oleh Sabdo Palon dan Naya Genggong.

 

 

 



Sang-a Prabu Brawijaya
Sabdanira arum manis
Nuntun dhateng punakawan
Sabda Palon paran karsi
Jenengsun sapuniki
Wus ngrasuk agama Rasul
Heh ta kakang manira
Meluwa agama suci
Luwih becik iki agama kang mulya.

Sabda palon matur sugal
Yen kawula boten arsi
Ngrasuka agama Islam
Wit kula puniki yekti
Ratuning Dang Hyang Jawi
Momong marang anak putu
Sagung kang para Nata
Kang jumeneng ing tanah Jawi
Wus pinasthi sayekti kula pisahan.

Klawan Paduka sang Nata
Wangsul maring sunya ruri
Mung kula matur petungna
Ing benjang sakpungkur mami
Yen wus prapta kang wanci
Jangkep gangsal atus taun
Wit ing dinten punika
Kula gantos agami
Gama Budhi kula sebar ing tanah Jawa.

Sinten tan purun nganggeya
Yekti kula rusak sami
Sun sajakken putu kula
Berkasakan rupi-rupi
Dereng lega kang ati
Yen durung lebur atempur
Kula damel pratandha
Pratandha tembayan mami
Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.

Ngidul ngilen purugira
Nggada banger ingkang warih
Nggih punika wedal kula
Wus nyebar agama budi
Merapi janji mamai
Anggereng jagad satuhu
Karsanireng Jawata
Sadaya gilir gumanti
Boten kenging kalamunta kaowahan.

Sanget-sangeting sangsara
Kang tuwuh ing tanah Jawi
Sinengkalan tahunira
Lawon Sapta Ngesthi Aji
Upami nyabarang kali
Prapteng tengah-tengahipun
Kaline banjir bandhang
Jeronne ngelebna jalmi
Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.

Bebaya ingkang tumeka
Warata sa Tanah Jawi
Ginawe kang paring gesang
Tan kenging dipun singgahi
Wit ing donya puniki
Wonten ing sakwasanipun
Sedaya pra Jawata
Kinarya amertandhani
Jagad iki yekti ana kang akarya.

Warna-warna kang bebaya
Angrusaken Tanah Jawi
Sagung tiyang nambut karya
Pamedal boten nyekapi
Priyayi keh beranti
Sudagar tuna sadarum
Wong glidhik ora mingsra
Wong tani ora nyukupi
Pametune akeh sirna aneng wana.

Bumi ilang berkatira
Ama kathah kang ndhatengi
Kayu katahah ingkang ilang
Cinolong dening sujanmi
Pan risaknya nglangkungi
Karana rebut rinebut
Risak tataning janma
Yen dalu grimis keh maling
Yen rina-wa kathah tetiyang ambengal.

Heru hara sakeh janma
Rebutan ngupaya anggering praja
Tan tahan perihing ati
Katungka praptaneki
Pageblug ingkang linangkung
Lelara ngambra-ambara
Warading saktanah Jawi
Enjing sakit sorenya sampun pralaya.

Kesandhung wohing pralaya
Kaselak banjir ngemasi
Udan barat salah mangsa
Angin gung nggegirisi
Kayu gung brasta sami
Tinempuhing angin agung
Kathah rebah amblasah
Lepen-lepen samya banjir
Lamun tinon pan kados samodra bena.

Alun minggah ing daratan
Karya rusak tepis wiring
Kang dumunung kering kanan
Kajeng akeh ingkang keli
Kang tumuwuh apinggir
Samya kentir trusing laut
Sela geng sami brasta
Kabalebeg katut keli
Gumalundhung gumludhug suwaranira.

Hardi agung-agung samya
Huru-hara nggegirisi
Gumleger swaranira
Lahar wutah kanan kering
Ambleber angelebi
Nrajang wana lan desagung
Manungsanya keh brasta
Kebo sapi samya gusis
Sirna gempang tan wonten mangga puliha.

Lindhu ping pitu sedina
Karya sisahing sujanmi
Sitinipun samya nela
Brekasakan kang ngelesi
Anyeret sagung janmi
Manungsa pating galuruh
Kathah kang nandhang roga
Warna-warna ingkang sakit
Awis waras akeh klang prapteng pralaya.

Sabda Palon nulya mukswa
Sakedhap boten kaeksi
Wangsul ing jaman limunan
Langkung ngungun Sri Bupati
Njegreg tan bisa angling
Ing manah langkung gegetun
Kedhuwung lepatira
Mupus karsaning Dewadi
Kodrat iku sayekti tan kena owah.

Terjemahan :

Sang Prabhu Brawijaya,
Bersabda dengan lemah lembut,
Mengharapkan kepada kedua punakawan( pengiring dekat )-nya,
Tapi Sabdo Palon tetap menolak,
Diriku ini sekarang,
Sudah memeluk Agama Rasul (Islam),
Wahai kalian kakang berdua,
Ikutlah memeluk agama suci,
Lebih baik karena ini agama yang mulia,

Sabdo Palon menghaturkan kata-kata agak keras,
Hamba tidak mau,
Memeluk agama Islam,
Sebab hamba ini sesungguhnya,
Raja Dahnyang ( Penguasa Gaib ) tanah Jawa,
Memelihara kelestarian anak cucu ( penghuni tanah Jawa ),
(Serta) semua Para Raja,
Yang memerintah di tanah Jawa,
Sudah menjadi suratan karma (wahai Sang Prabhu), kita harus berpisah.

Dengan Paduka Wahai Sang Raja,
Kembali ke Sunyaruri (Alam kosong tapi ber-'isi'; Alam yang tidak ada tapi ada),
Hanya saja saya menghaturkan sebuah pesan agar Paduka menghitung,
Kelak sepeninggal hamba,
Apabila sudah datang waktunya,
Genap lima ratus tahun,
Mulai hari ini,
Akan saya ganti agama (di Jawa),
Agama Buddhi akan saya sebarkan ditanah Jawa.

Siapa saja yang tidak mau memakai,
Akan saya hancurkan,
Akan saya berikan kepada cucu saya sebagai tumbal,
Makhluk halus berwarna-warni,
Belum puas hati hamba,
Apabila belum hancur lebur,
Saya akan membuat pertanda,
Pertanda sebagai janji serius saya,
Gunung Merapi apabila sudah meletus mengeluarkan lahar.

Kearah selatan barat mengalirnya,
Berbau busuk air laharnya,
Itulah waktunya,
Sudah mulai menyebarkan agama Budhi,
Merapi janji saya,
Menggelegar seluruh jagad,
Kehendak Tuhan,
(Karena) segalanya (pasti akan) berganti,
Tidak mungkin untuk dirubah lagi.

Sangat sangat sengsara,
Yang hidup ditanah Jawa,
Perlambang tahun kedatangannya,
LAWON SAPTA NGESTI AJI ( LAWON ; 8, SAPTA ; 7, NGESTHI ; 9, AJI ; 1 = 1978),
Seandainya menyeberangi sebuah sungai,
Ketika masih berada ditengah-tengah,
Banjir bandhang akan datang tiba-tiba,
Tingginya air mampu menenggelamkan manusia,
Banyak manusia sirna karena mati.

Bahaya yang datang,
Merata diseluruh tanah Jawa,
Diciptakan oleh Yang Memberikan Hidup,
Tidak bisa untuk ditolak,
Sebab didunia ini,
Dibawah kekuasaan,
Tuhan dan Para Dewa,
Sebagai bukti,
Jagad ini ada yang menciptakan.

Bermacam-macam mara bahaya,
Merusak tanah Jawa,
Semua yang bekerja,
Hasilnya tidak mencukupi,
Pejabat banyak yang lupa daratan,
Pedagang mengalami kerugian,
Yang berkelakuan jahat semakin banyak,
Yag bertani tidak mengahsilkan apa-apa,
Hasilnya banyak terbuang percuma dihutan.

Bumi hilang berkahnya,
Banyak hama mendatangi,
Pepohonan banyakyang hilang,
Dicuri manusia,
Kerusakannya sangat parah,
Sebab saling berebut,
Rusak tatanan moral,
Apabila malam hujan banyak pencuri,
pabila siang banyak perampok.

Huru hara seluruh manusia,
Berebut kekuasan kerajaan,
Tidak tahan perdihnya hati,
Disusul datangnya,
Wabah yang sangat mengerikan,
Penyakit berjangkit kemana-mana,
Merata seluruh tanah Jawa,
Pagi sakit sorenya mati.

Belum selesai wabah kematian,
Ditambah banjir bandhang semakin menggenapi,
Hujan besar salah waktu,
Angin besar mengerikan,
Pohon-poho besar bertumbangan,
Disapu angin yang besar,
Banyak yang roboh berserakan,
Sungai-sungai banyak yang banjir,
Apabila dilihat bagaikan lautan.

Ombak naik kedaratan,
Membuat rusak pesisir pantai,
Yang berada dikiri kanannya,
Pohon banyak yang hanyut,
Yang tumbuh dipesisir,
Hanyut ketengah lautan,
Bebatuan besar hancur berantakan,
Tersapu ikut hanyut,
Bergemuruh nyaring suaranya.

Gunung berapi semua,
Huru hara mengerikan,
Menggelegar suaranya,
Lahar tumpah kekanan dan kekirinya,
Menenggelamkan,
Menerejang hutan dan perkotaan,
Manusia banyak yang tewas,
Kerbau dan Sapi habis,
Sirna hilang tak bisa dipulihkan lagi.

Gempa bumi sehari tujuh kali,
Membuat ketakutan manusia,
Tanah banyak yang retak-retak,
Makhluk halus yang ikut membantu amarah alam,
menyeret semua manusia,
Manusia menjerit-jerit,
Banyak yang terkena penyakit,
Bermacam-macam sakitnya,
Jarang yang bisa sembuh malahan banyak yang menemui kematian.

Sabdo Palon kemudian menghilang,
Sekejap mata tidak terlihat sudah,
Kembali ke alam misteri,
Sangat keheranan Sang Prabhu,
Terpaku tidak bisa bergerak,
Dalam hati merasa menyesal,
Merasa telah berbuat salah,
Akhirnya hanya bisa berserah kepada Tuhan,
Janji yang telah terucapkan itu sesungguhnya tak akan bisa dirubah lagi.

(Diterjemahkan oleh : Damar Sashangka).

Sabdo Palon dan Naya Genggong adalah 'PENUNTUN GAIB YANG MEWUJUD'. Beliau berdua senantiasa hadir mengiringi Raja-Raja Jawa jaman Hindhu Buddha. Beliau berdua pergi meninggalkan tanah Jawa semenjak Keruntuhan Majapahit pada tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Terkenal dengan SURYA SANGKALA (KATA SANDHI PENANDA TAHUN KEJADIAN) yang sangat populer di Jawa, yaitu SIRNA ILANG KERTHANING BHUMI ( SIRNA : 0, ILANG : 0, KERTHA : 4, BHUMI : 1 = 1400 Saka). Kalimat KERTHAning BHUMI, diambil dari nama asli PRABHU BRAWIJAYA PAMUNGKAS (PAMUNGKAS=TERAKHIR), yaitu RADEN KERTHABHUMI.

Janji kedatangan Beliau berdua diucapkan di Blambangan, ketika Majapahit hancur diserang oleh pasukan Demak Bintara. Prabhu Brawijaya meloloskan diri ke arah Timur, hendak menyeberang ke Pulau Bali, namun masih bertahan sementara di Blambangan ( Banyuwangi sekarang).

Raden Patah, Pemimpin Demak Bintara, merasa bangga telah menghancurkan Majapahit yang dia anggap sebagai negara kafir. Serta merta, setelah mendengar kabar berhasil dikuasainya Majapahit oleh tentara Islam, Raden Patah datang dari Demak, ingin melihat langsung keadaan Majapahit yang berhasil dihancurkan. Setelah itu, dengan bangga beliau meneruskan perjalanannya ke Pesantren Ampeldhenta, hendak mengabarkan keberhasilan itu. Namun ternyata, Nyi Ageng Ampel, istri almarhum Sunan Ampel, malah mempersalahkannya. Nyi Ageng Ampel mengingatkan bahwa dulu semasa Sunan Ampel masih hidup, beliau pernah berpesan bahwsanya jangan sekali-kali murid-murid beliau ikut campur masalah politik, atau malah berani merebut kekuasaan Majapahit. Bahkan Nyi Ageng dengan tegas menambahkan, Raden Patah telah berdosa tiga hal :

1.Kepada Guru, yaitu melanggar wasiat Sunan Ampel.
2.Kepada Ayah, karena Prabhu Brawijaya adalah ayah kandung Raden Patah.
3.Kepada Raja, karena Raja adalah Imam, tidak boleh dilawan tanpa alasan yang benar. Sebab, selama memerintah, Prabhu Brawijaya tidak pernah melarang penyebaran agama Islam, bahkan menghadiahkan tanah Ampeldhenta ( didaerah Surabaya sekarang ), sebagai tanah otonom. Diijinkan untuk dipakai sebagai basis pendidikan agama bagi orang-orang muslim.

Dengan sangat menyesal, Raden Patah meminta petunjuk, bagaimanakah cara untuk menghapus kesalahannya. Nyi Ageng menyarankan agar kedudukan Prabhu Brawijaya Pamungkas sebagai Raja harus dikembalikan. Namun yang menjadi masalah, kemanakah Sang Prabhu meloloskan diri? Nyi Ageng memperkirakan, Sang Prabhu pasti menuju ke Pulau Bali. Raden Patah berniat menyusul sendiri, namun dicegah Nyi Ageng Ampel, karena setelah kejadian penyerangan Majapahit oleh tentara Islam terjadi, maka, tidak akan ada satupun orang Islam yang akan dipercayai oleh Sang Prabhu. Tidak Raden Patah, tidak Nyi Ageng Ampel, tidak pula Para Wali yang lain, yang turut serta membantu penyerangan tersebut. Namun, hanya ada dua Wali yang mungkin masih beliau percayai, pertama Syeh Siti Jenar dan kedua Sunan Kalijaga. Karena kedua Wali ini terang-terangan menentang penyerangan pasukan Islam ke Majapahit.

Karena hubungan Raden Patah tidak begitu baik dengan Syeh Siti Jenar, maka dia meminta pertolongan Sunan Kalijaga untuk melacak keberadaan ramanda-nya. Dan jika ditemukan, dimohon dengan segala hormat untuk kembali ke Trowulan, ibukota Majapahit, untuk dikukuhkan lagi sebagai Raja. Sunan Kalijaga bersedia membantu, ditemani beberapa santri beliau langsung melakukan pencarian ke arah Timur. Dan ternyata benar, di Blambangan, banyak umbul-umbul pasukan Majapahit serta para prajurid Majapahit yang siap tempur berkumpul disana. Dan benar pula, Prabhu Brawijaya masih ada disana, belum menyeberang ke Pulau Bali. Agak kesulitan Sunan Kalijaga memohon bertemu dengan Sang Prabhu. Namun karena Sang Prabhu tahu betul, Sunan Kalijaga, yang seringkali beliau panggil Sahid itu, menurut pasukan sandhi (intelejen) Majapahit , Sunan Kalijaga bersama pengikutnya,sama sekali tidak ikut dalam penyerangan ke Majapahit, maka Sunan Kalijaga dipersilahkannya menghadap, walau dengan kawalan ketat.

Disinilah dialog SERAT SABDO PALON terjadi. Sang Prabhu Brawijaya, ditemani Sabdo Palon dan Naya Genggong, dihadap oleh Sunan Kalijaga,beserta sesepuh Majapahit yang kebetulan bersama-sama Sang Prabhu hendak menuju Pulau Bali, menyusul beberapa masyarakat Jawa lainnya yang lebih dahulu melarikan diri kesana. Mendengar penuturan Sunan Kalijaga,Sang Prabhu luruh hatinya. Karena sejatinya, Sang Prabhu kini tengah menggalang kekuatan besar untuk merebut kembali tahta dari tentara Islam. Tidak bisa dibayangkan apabila itu terjadi, karena pendukung Sang Prabhu Brawijaya masih banyak tersebar diseluruh Nusantara. Pertumpahan darah yang lebih besar pasti akan terjadi. Putra-putra Prabhu Brawijaya masih banyak yang berkuasa dan mempunyai kekuatan tentara yang besar, seperti Adipati Handayaningrat IV di Pegging, Lembu Peteng di Madura, Bondhan Kejawen di Tarub dan masih banyak lagi.

Sunan Kalijaga meminta, agar pertikaian dihentikan, dan sudilah kiranya Sang Prabhu kembali memegang tampuk pemerintahan. Prabhu Brawijaya menolak, karena jikalau itu terjadi, maka beliau akan merasa terhina oleh putra selirnya sediri, Raden Patah, yang lahir dari putri China Eng-Kian dan dibesarkan di Palembang dalam asuhan Adipati Arya Damar atau Swan Liong. Bagaimana tidak, seorang ayah harus menerima tahta dari anaknya sendiri, memalukan. Ketika perundingan menemui jalan buntu, maka Sunan Kalijaga mengusulkan agar beliau dengan kebesaran jiwa, mau memeluk Islam. Dengan demikian, seluruh pendukung beliau pasti akan meninggalkan beliau satu persatu, dan pertumpahan darah yang lebih besar lagi akan terhindar.

Mendengar akan hal itu, Prabhu Brawijaya tercenung, untuk menghindari peperangan lebih besar, setidaknya, usulan Sunan Kalijaga memang masuk akal. Demi perdamaian, Sang Prabhu mengesampingkan ego-nya. Maka PENUH dengan kebesaran hati, beliau menyatakan MASUK ISLAM. Terkejut seluruh yang hadir, termasuk Sabdo Palon dan Naya Genggong. Hingga, terlontarlah sebuah janji seperti tercantum pada SERAT SABDO PALON diatas.

Sepeninggal Sabdo Palon dan Naya Genggong, Sang Prabhu-pun bersedia kembali ke Trowulan, namun bukan hendak kembali memduduki tahta, akan tetapi mendamaikan seluruh kerabat Majapahit agar merelakan tahta dipegang oleh Raden Patah. Dalam perjalanan pulang inilah, Sunan Kalijaga meminta bukti ketulusan Sang Prabhu dalam memeluk Islam. Sunan Kalijaga memohon untuk memotong rambut panjang Sang Prabhu. Dengan sebilah keris, setelah diijinkan, Sunan Kalijaga memotong rambut beliau. Tapi ternyata, tidak satu helai-pun terpotong. Sekali lagi, Sunan Kalijaga meminta keikhlasan Sang Prabhu memeluk Islam, dan sekali lagi Sunan Kalijaga memotong rambut beliau. Kali ini, terpotong sudah.
Namun, Sunan Kalijaga belum puas, menjelang berangkat kembali ke Trowulan, Sunan Kalijaga mengambil air comberan yang berbau tidak sedap dimasukkan kedalam sebilah bambu. Dihadapan Sang Prabhu, beliau menyatakan, bahwasanya apabila air comberan ini sesampainya di Trowulan airnya berubah tidak berbau busuk, nyata sudahlah Sang Prabhu telah lahr bathin masuk Islam.

Berangkatlah rombongan itu ke Trowulan,sesampainya di Trowulan, disambut dengan suka cita oleh masyarakat Trowulan. Air dalam bilah bambu dicurahkan oleh Sunan Kalijaga, dan ternyata, bau busuknya hilang, bahkan airnya berubah jernih. Untuk mengingat kejadian itu, Blambangan diubah namanya menjadi BANYUWANGI hingga sekarang.
Tidak berapa lama di Trowulan, Sang Prabhu jatuh sakit. Putra-putranya datang berkumpul, melalui Sunan Kalijaga, beliau mengamanatkan agar menghentikan pertumpahan darah Hindhu-Buddha dengan Islam. Biarkanlah Raden Patah bertahta sebagai Raja di Jawa walau sebenarnya, keturunan dari Pengging-lah yang lebih berhak.

Menjelang akhir hayat beliau, beliau berpesan agar diatas pusara makam beliau jangan diberi tanda bahwasanya beliau adalah Prabhu Brawijaya, Raja Majapahit terakhir, namun tandailah dengan nama Putri Champa Anarawati, permaisuri beliau. Sebab beliau merasa diperhinakan sebagaimana wanita oleh putraya sendiri. Dan penghinaan itu didukung oleh permaisurinya sendiri, Dewi Anarawati, putri Champa yang beragama Islam. Dewi Anarawati inilah bibi Sunan Ampel. Dewi Anarawati-lah yang menyarankan agar Sang Prabhu memberikan Ampeldenta kepada Sunan Ampel untuk didirikan sebuah Pesantren Islam.

Maka jangan heran, apabila di Trowulan, tidak diketemukan makam Prabhu Brawijaya, melainkan Putri Champa.
Padahal makam Putri Champa yang asli berada di Gresik. Begitu Majapahit diserang pasukan Islam, beliau diungsikan ke Gresik hingga beliau wafat.

(Damar Shashangka).

43 comments to Damar Shashangka: Serat Sabda Palon – Runtuhnya Majapahit

  • Anonymous

    Menarik….sayangnya, kedatangan Sabda Palon dan Naya Genggong kelihatannya terlambat sekitar 30 tahun. Bencana2, perilaku2 pejabat dan kondisi2 yang disebutkan oleh Sabda Palon baru teramati di tahun2 sekarang ini.

  • Anonymous

    Menarik sekali, karena ternyata ISlam ke Indonesia tidak sepenuhnya damai. Gimana bisa hubungi japri Damar Shashangka?

  • Anonymous

    1978 tahun Saka = 2043-2044 Masehi

  • Anonymous

    cerita ini pernah saya dengar sebelumnya…sama seperti mesir begitupun indonesia,dahulu kita sudah mampu untuk membangun sebuah candi seindah Prambanan dan semegah Borobudur(untung bangunan ini tertimbun) sehingga bisa menjadi saksi bahwa dahulu sebelum ISLAM masuk ke nusantara bangsa ini telah mempunya PERADABAN yg maju.inipun berlaku pada mesir dan pyramid dan Spinxnya….sebagai catatan: para agresor ISLAM Menghabiskan waktu 6 bulan untuk membakar buku2 diperputakaan alexandria. namun setelah budaya ARAB itu masuk(baca:ISLAM) apa yang telah dihasilkan untuk PERADABAN bangsa INDONESIA ini ? RENUNGKANLAH KAWAN…..

  • Anonymous

    Dari dahulu sampai sekarang tampaknya kepentigan Asing tidak pernah jauh dari Bangsa ini dan selalu saja menjadi kita menjadi Budak para bangsa2 penjajah!

  • Anonymous

    1978 Saka ~ 2043 CE -> mungkin ada kaitan dengan ramalan john Croino mengenai “Indonesian economic boom (2040-2043): These are the years when the nation of Indonesia, particularly the people of Java and Sumatra will be their most wealthy, having influence and power over a vast region of the world. It is sad that the boom is as short-lived, as it is dramatic. The golden age doesn’t last long, for in 2043 the crash of the market shares destroys the illusionary wealth.”

  • Anonymous

    namanya juga ddongeng …. nusantara koq cuma Jawa ? Padahal kerajaan Sunda gak pernah tunduk kepada Majapait

  • Anonymous

    kita harus berpikir realistis. tanpa diserang islam pun kerajaan-kerajaan di nusantara dulu akan tetap hancur dengan serangan penjajah belanda dengan teknologi persenjataanya. pembodohan yang dilakukan penjajah ini semakin turun menurun menjadi budaya bangsa. kesalahanya bukan terdapat pada islam, tetapi pada ketidakmampuan bangsa ini untuk segera membenahi mental pasca penjajahan. belum lagi dengan pemerintahan yang cenderung fasis semakin membuat bangsa ini tidak cepat maju. bandingkan dengan negara islam lain seperti bahrain dan qatar yang baru merdeka pada tahun 1971, tapi sekarang sudah berkembang pesat. setaip agama mengajarkan hal yang baik, tetapi jika budaya sudah megakar, maka kita hanya bisa berharap pada evolusi.

  • Anonymous

    Maaf, Bung. Informasi dari mana bahwa Bahrain & Qatar maju karena Islam? Salah besar! Tidak ada sampai sekarang negara Islam yg kebudayaan dan peradabannya maju. Setiap orang yg pernah tinggal di jazirah Arab tahu betul bahwa negara2 ini kaya karena minyak dan gas, itu pun berkat Amerika (yg sering dikambinghitamkan kaum Muslimin). Sebelum Amerika datang, pekerjaan mereka adalah pearl diver, pedagang, atau pengembara (nomaden). Sampai sekarang, di balik kemegahan gedung2 yg ada di negara2 ini, kebanyakan penduduknya masih uneducated, walaupun kaya. Mereka yg pola pikirnya maju biasanya lulusan Eropa atau Amerika.

  • Anonymous

    Sebenarnya kemunduran Jawa bukan karena Islam itu sendiri tp krn politik kerajaan Demak yg berusaha meng-Islam-kan Nusantara. Ini keputusan politik yg salah besar, karena sejak dulu Nusantara kokoh dlm ke-bhinekaannya. Sebenarnya Syeh Siti Jenar tokoh Islam jg tdk sepakat dg invasi tsb, tp ia justru dihukum mati. Lebih parah lg di jaman skrg ini Indonesia makin jauh dr warisan nenek moyang. Islamisasi yg berkembang kian menggerus budaya Kejawen dan melabeli dg citra klenik dan perdukunan. Lima agama semua diakui secara sah, bahkan Kong Hu Cu sudah diakui pula. Tp bagaimana dg penganut Kejawen, mereka tdk mendapat tempat di negeri ini. Sinetron2 pun kian membentuk opini publik bahwa Islam agama putih, Kejawen agama sesat. Inilah bentuk politik Islam yg destruktif dan jauh dr nilai Islam itu sendiri. Pengertian kafir sesungguhnya tdk sedangkal pd status agama, tp pd akhlak dan sikap welas asih. Mari kita tumbuhkan sikap ke-bhinekaan yg dulu pernah ada dan menandai kejayaan Nusantara.

  • Anonymous

    Saat ini baru 1932 Caka..hmm we will see..sepertinya bakal terbukti tuh, gejalanya sudah sangat jelas, korupsi, bencana alam, kriminal, kerusuhan dll.

  • Anonymous

    yup betul Lawon sapta ngesti aji mang belum terjadi menurut kalender saka… melainkan tahun 2056 tahun masehi = 1978 tahun saka

  • anom

    Salam..saya yakin leluhur leluhur tanah jawa akan bangga, ternyata dibalik morat maritnya tatanan tanah jawa. MASIH ADA ANAK MUDA..DHAMAR SHASANGKA YANG SANGGUP MENGIBARKAN KEMBALI PANJI PANJI MAJAPAHIT YANG SELAMA INI TERSEMBUNYIKAN OLEH SEJARAH.Semoga kekuatan kekuatan suci para leluhur jawa selalu menuntun mas dhamar didalam berkarya lagi. Terima kasih atas karya karyanya yang telah saya baca, saya sebagai pemberontak ketimpangan ketimpangan tatanan budaya pendatang, sangat berkeinginan mewarisi ajaran ajaran luhur majapahit yang tersembunyikan.Matur Nuwun..semoga ada kekuatan gaib yang sanggup mempertemukan kita untuk mengibarkan kembali panji panji kejayaan Nusantara.

  • fiatmax

    Hmm…pantesan.. …gitu ceritanya….ya walaupun gak harus dipegang bener…tp nyatanya….knpa ada yg agak beda pd diri ini….lol

  • anom

    kalau saya lihat dan saya cermati mas damar itu mau memporak porandakan muslim dia hanya mencari keuntungan belaka dari semua cerita yang di paparkan diatas, padahal dia sendiri anti siwa (inilah sebenarnya kedok dari manusia)…….menganggap semua ini yang melakukan orang muslim………apakah anda mengenal baik dengan muslim dan apakah anda mengerti tentang muslim….ilmu anda itu bagaikan satu tetes air di tengah samudra lautan……..cerita yang anda tulis dan anda kemukakan diatas sama sekali menyimpang dari kebenaran karena anda bukan orang yang hidup didalamnya. kalau muslim itu jahat, anarkis, dan keras tapi mengapa didunia ini paling banyak orang muslim……..dan coba anda amati betul2 dan seksama. apakah anda tahu juga tentang makna kafir……..anda itu hanya melihat sebatas mata anda ……dan pikiran anda jauh dari kebenaran itu sendiri……jika anda mengaku sebagai (Budhi) apa gunanya anda menulis dan memeperkan karya anda yang tidak diakui di seluruh nusantara….hanya bebearapa segelintir orang bodoh yang percaya pada anda….(karena rasionalnya jauh) alias tidak berpendidikan dan sependapat he’e kepada anda saja………anda tidak punya bukti konkrit tapi anda sudah berani mendoktrin…….hati2 aja mas damar apapun yang sampean lakukan itu bercerminlah dahulu….biar tahu asli.orang bercermin aja anda salah mengartikan apalagi dalam kehidupan rasional…..saya kritis terhadap semua masalah.,,..saya tidak memihak kepada siapapun dan saya hanya mengingatkan pribadi saya dan khusus untuk anda sebagai perenungan anda…jika saya buka aib anda sungguh mengerikan anda….terima kasih.. yang perhatian.

    • Zastro goodle

      @Anom_| Damar hanya memberi informasi kepada pembaca. Bioleh dibaca – boleh diabaikan; tidak perlu dibenci, dicela

  • J kendill

    meski sama-sama Anom, AKAN TETAPI Anom April 9,2013 SANGAT BERBEDA dengan Anom November 21,2012.

  • Kang Nug

    Mojopahit memang sudah di gariskan runtuh oleh saudara sendiri,itu di dah termasuk satu paket dengan sumpahnya empu gandring. Tapi ingat saudaraku,..Sabdo palon & noyogenggong akan nepati janjinya…akan kembalikan kebesaran tanah Jawi ini.

  • sony

    Bagi yang membaca cwrita ini mohon jangan membenci…..kebwncian andapun belom tentu benar menurut saya,jadi marilah kita hargai hasil katya orang lainkarrnamingkin juga sangat berguna bagi generasi penerus bangsa ini.katrna sejarah mojopahit sangat lama diselubungi para penghianat.jadi hargailah kepandaian orang lain sebagainana orang lain menghargai kepandaian anda…

  • anonim

    Sebuah bangsa yg bertumbuh diatas budaya bangsa lain selalu akan banyak ada distorsi dalam kehidupan masyaraktnya. Bukan anti budaya asing,tetapi bangsa ini terlalu latah dengan mengagung agungkan sesuatu yang baru dan mencerca yang lama. Sebuah bangsa yang kehilangan identitas dan jati diri. Kalau Indoneasia mau maju,kuat dan beradab,sudah selayaknya kembali ke jatidiri dan budaya sendiri. Semua sudah digariskan,apa yg terjadi sekarang pada bangsa ini adalah buah karma dari apa yang dilakukan oleh pendahulunya. Karma adalah keadilan tertinggi,what you see today,is what you did in the past and what you see in the future is what you do in present.

  • Narotama

    Kita hendaknya harus berani melihat masa lalu dengan sumber yang valid seperti prasasti2 dan tidak me-nutup2inya atau membelokkannya untuk kepentingan tertentu. Kalau memang Majapahit runtuh karena diserang oleh anaknya sendiri yang sdh berpindah keyakinan/budaya hidupnya dan disokong oleh petinggi budaya tsb, ya itulah adanya. Karya Damar Shashangka ini bisa dijadikan salah satu pembanding atas sejarah kita. Kalau mau fair, mungkin perlu pemerintah memberikan keleluasaan kepada masyarakat untuk menjalankan keyakinannya yg berakar pada budaya nusantara yg adiluhung tsb tanpa ditekan secara langsung maupun tidak langsung dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Suatu bangsa hendaknya berakar pada budaya bangsanya sendiri jika mau maju dan sejahtera. Sebenarnya negara kita NKRI yang berdasarkan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan UUD 1945 yg dicetuskan oleh para founding fathers sdh sangat baik tetapi sayang implementasinya tdk konsisten. Salam Indonesia….

  • nanang

    apapun alasannya, ki Damar adalah seorang pencerita yang baik. Di balik semua ceritanya ada semacam sihir yang dapat menghanyutkan kita pada penghargaan budaya masa lalu…dan memang itulah milik kita terasa sekali makna dari silih asah,asih dan asuh dari tulisan ini serta dapat menginspirasi kita untuk dapat bangkit dan minimalnya dapat kuat bertahan dari gelombang arus yang akan memporak porandakan kesejatian diri…

  • Blankon Kaumann

    Untung wae sampeyan kenal Rasul; yen ora – sampeyan ora ngerti “serat”, ora nulis “donya”; ora mudheng “kodrat” lan ora bakal bisa nulis “Kodrat iku sayekti tan kena owah”

  • Retno

    Lucu yg komenislam budaya arab, emang yesus lahir di Italia ya

  • Di ambang Kejayaan Majapahit k-2

  • Raden patah diasuh oleh Arya Damar?????. Arya damar dan gajah mada hidup dijaman Hayam Wuruk, apa masih hidup dizaman Kertabumi???????. kelihatannya ada rekayasa sejarah untuk mengesahkan bahwa raden fatah adalah anak prabu brawijaya. Raden fatah adalah anak dari seorang wanita simpanan yang berasal dari campa. siapa yang menumpan ????. Dan kenapa dibuiang oleh Brawijaya ke Palembang?????, karena diketahuiklah bahwa anawati itu seorang wanita nakal. yang merupakan isteri dari??????. yang dihadiahkan kepada Kertabumi untuk memikat kertabumi. Jadi ketahuan bahwa Kertabumi mendapat Barang sisa (bekasgundik seseorang dan sudah hamiul pula makanya disingkirkanlah mereka ke palembang. siover kepada adipati palembang yang jelas yang menjadi adipati palembang saat itu bukan lagi Arya damar, karena arya damar sudah wafat 100 tahun sebelumnya

  • Raden patah diasuh oleh Arya Damar?????. Arya damar dan gajah mada hidup dijaman Hayam Wuruk, apa masih hidup dizaman Kertabumi???????. kelihatannya ada rekayasa sejarah untuk mengesahkan bahwa raden fatah adalah anak prabu brawijaya. Raden fatah adalah anak dari seorang wanita simpanan yang berasal dari campa. siapa yang menyimpan ????. Dan kenapa dibuang oleh Brawijaya ke Palembang?????, karena diketahui bahwa anawati itu seorang wanita nakal. yang merupakan isteri dari??????. yang dihadiahkan kepada Kertabumi untuk memikat kertabumi. Jadi setelah ketahuan bahwa Kertabumi mendapat Barang sisa (bekas gundik seseorang dan sudah hamil pula makanya disingkirkanlah mereka ke palembang. diover kepada adipati palembang. Yang menjadi adipati palembang saat itu bukan lagi Arya damar, karena arya damar sudah wafat 100 tahun sebelumnya. Raden fatah bukan anak biologis Prabu Kertabumi. Raden Fatah anak biologis…….??????, yang sengaja disiapkan untuk menjatuhkan Majapahit, untuk kepentingan penyebaran Agama.

  • Bila kita mau menjadi bangsa pemenang, mau atau tidak mau harus berani meluruskan sejarah sesuai dengan kejadian dan peristiwa yang sebenarnya…walaupun akan membawa perasaan yang menyakitkan bagi kelompok-kelompok tertentu…tapi semuanya itu sanagat penting bagi suatu pendidikan bangsa…untuk belajar dari kesalahan-kesalahan sejarah masa lalunya…sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama dan terlepas dari cengkeraman dosa-dosa yang dilakukan leluhurnya.

    Kelemahan bangsa Nusantara selama ini adalah karena tidak pernah mau dengan jujur melihat masalalu nya yang kelam, malahan berusaha menutupi dan melupakan begitu saja kesalahan-kesalahan yang dilakukan leluhurnya…bahkan berusaha menyembunyikannya rapat-rapat dari generasi penerusnya…demi kepentingan penguasa dan kelompok tertentu yang berkuasa…dan tidak pernah mau mengakui kesalahannya dan tidak berani membuka aib leluhurnya demi kehormatan dan kepentingan dirinya, dan malah membungkusnya dengan ajaran: “Mikul ndhuwur, mendhem njero”

    Secara tidak langsung sebenarnya bangsa Nusantara selama ini terbelenggu oleh kebohongan demi kebohongannya sendiri, sehingga tidak berani mengajarkan “Kebenaran” kepada generasi bangsa keturunannya, karena takut “wirang” (malu); yang mengakibatkan pembiaran-pembiaran terhadap praktek-praktek tidak jujur yang dilakukan oleh warga bangsa dan penguasa, mulai dari yang ringan sampai yang sangat berat, dari pencurian terselubung sampai pembunuhan masal.

    Dengan adanya tulisan Ki Damar Shashangka ini semoga dapat membuka hati semua warga bangsa bersatu tekad untuk bersatu-padu dan memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara yang sehat, yang menjunjung kebenaran, kejujuran, dan keadilan untuk dapat tercapainya cita-cita bangsa menuju “Masyarakat yang adil dan makmur”.

  • Agung Usada

    Sejarah tetaplah sejarah baik atau pun buruk, melihat sejarah bukan untuk berfikir kebelakang,tetapi untuk menjadikan acuan dan intropeksi diri ke arah yang lebih baik. kesalahan terjadi apabila sejarah dipolitisir untuk kepentingan kelompok atau golongan dan dibelokan kiri-kanan, dikaburkan, diputarbalikkan,untuk kepentingan tertentu sehingga sejarah itu menjadi tidak jelas. Pada akhirnya bangsa ini menjadi bangsa yang tak jelas, kehilangan jati diri,terombang-ambing, tak tau akan melangkah kemana. kebudayaan sendiri diabaikan anehnya kebudayaan bangsa lain justru dibanggakan. yang salah dibela yang benar dicaci dan dijerumuska…sedih dan miris melihatnya. semoga saja SABDA PALON dan NAYA GENGGONG cepat datang dan menepati janjinya. agar terlihat jelas HITAM tetap HITAM dan PUTIH tetap PUTIH.

  • gendeng

    Inilah cerita yg d tunggu2 oleh.kaum kejawen…hehehe sungguh ironis…sejak dulu yg d nnti sabdo palon…ada yg blng 100 tahun,ada yg blang 200,sekarang malah 500 tahun…kyknya sumpah sabdo palon bsa berubah2 sesuai yg menceritakan…kliatan bahwa kejawen sudah putus asa…saya sarankan kembalilah anda kepada DIN yg benar

  • kinanti

    Minta info,siapa yg mendengar percakapan Sabdopalon&Nayagenggong dng Raja?Siapa yg kmd menulisnya,shg kita skrg bisa membacanya? T.kasih unt penjelasannya

  • sony

    Kalau kerajaan sunda gak usah ikut campur,kerajaan sunda itu kesayangan mojopahit,kalau mau menumpasnya si pasti udah jd tepung,lagian apa yg dihasilkan kerajaan sunda untuk negeri ini

  • Hanggajaya

    y, meskipun begitu kita harus bijak dalam mencermati sejarah. Benturan peradaban akan terus terjadi karena kita hidup tidak sendiri, tak pula dalam latar belakang yang sama. Ketika kita memuliakan satu peradaban, kita harus ingat bahwa tumbuh dan tenggelamnya sebuah peradaban adalah sebuah kepastian. Dalam keyakinan yang saya anut dikatakan bahwa Tuhan mempergilirkan kekuasaan bumi kepada berbagai bangsa. yang tujuannya adalah untuk mengajarkan manusia tentang apa yang dilakukan leluhur-leluhur mereka. Begitu pun majapahit, saya sangat kagum dengan Majapahit bahkan seluruh peradaban Nusantara. Saya bangga sekali berkata Majapahit memang luar biasa. Namun jika kita mau jujur, Majapahit yang kita agung-agungkan disini pun punya sisi gelap yang tidak bisa kita ingkari. Imperialisme yang dilakukan Majapahit juga dianggap sebagai penjajahan bagi suku2 lain di jawa maupun luar Jawa. Tanpa kita sadari banyak sudah klan-klan lain di tanah Jawa yang musnah tanpa pernah kita tahu. Corak Hindu-Budha yang diusung Majapahit pun tak mampu membuatnya menahan diri menaklukkan bangsa-bangsa lain. Berapa banyak pertumpahan darah yang terjadi atas nama ‘mempersatukan Nusantara’ ? Ambisi Majapahit pun bahkan pernah menggoreskan luka yang cukup dalam ketika terjadi perang bubat yang diabadikan peziarah Bali dalam Kidung Sunda. Bangsa besar ini, yang kita muliakan ini, mengapa sampai begitu rendah dan licik dengan serta merta membuang citra kekesatriaan. Dan ini juga harus kita akui sebagai kenyataan sejarah. Atau mungkin kita tak pernah berpikir bagaimana dahulu ketika budaya agung yang kita miliki sebelum corak Hindu-Budha datang tersingkir dan tergerus oleh warna baru dalam budaya kita?

    Akankah kita benar-benar mengakui dengan jujur dan jumawa akan kebenaran masa lalu kita ? Jika kita baca Kitab Pararaton bahkan akan kita ketemukan, bahwa leluhur para Raja Jawa Majapahit Ken Angrok dahulunya adalah seorang perampok, berandalan, bandit, dan -mohon maaf- pemerkosa. Itu juga harus kita terima dengan sikap kesatria jika kita mau jujur pada sikap kita terhadap budaya dan sejarah kita yang sebenarnya. bahwa keagungan tak akan pernah dimiliki manusia dan peradaban mana pun di dunia ini, kita sudah tahu siapa pemilliknya. tak boleh ada alasan apapun untuk membenarkan egoisme dalam bentuk apapun.

  • kasut

    jangan berharap apa yang disampaikan Sabdo palon akan datang seketika. Ini semua melalui proses yang panjang, bukan satu dua tahun tetapi mungkin satu generasi. Gejalanya telah tampak, bahwa agama formal kini dipergunakan oleh oknum untuk kejayaan diri, bukan ibadah Illahi.Pamor agama formal apapun akan pudar, dan orang hanya percaya pada bukti tindakan dan bukan gelar agama.Ini yang dimaksud dengan agama BUDHI, agama dalam realitas perilaku, bukan dalam wajah sorban atau jubah imam.

  • Sedikit referensi tentang misi Sabdopalon saat kembali ke bumi Nusantara lagi (kisah nyata). Salamku untuk para ksatria alam.

    http://pondokcinde.org/kisah-spiritual-pertemuan-alam-ghaib-dibalik-runtuhnya-majapahit-1-5/

  • kaprut

    selagi kita punya niat untuk memperbaiki, semua akan menjadi baik kembali..trima kasih untuk mas Dhamar Shasangka atas karya-karyanya..sebagai generasi muda tentu kita bisa menjadikan karya-karya ini sebagai salah satu referensi mendampingi referensi-referensi yang sudah ada..secara jujur kita harus mengakui kalau kita telah kehilangan identitas budaya sendiri..karena pengaruh budaya orang lain yang lebih diagung-agungkan..(maaf)saat ini semua kehidupan kemasyarakatan kita telah didominasi budaya asing(arab) dengan identitas islam..hal itu sah-sah saja..tapi jangan sampai budaya sendiri diabaikan hanya untuk mengagung-agungkan budaya orang lain..yang saya percaya bahwa sabdo palon noyo genggong akan kembali..sesuai karma yang telah berlaku..bagi siapa saja yang telah merusak tatanan sejaran akan mendapatkan buah karmanya..bagi mereka yang berani menyembunyikan fakta sejarah dan membelokkannya sesuai kepentingan penguasa..maka karmanya akan sangat buruk..jangan lagi agama dijadikan alat kekuasaan..miris rasanya..sebagai generasi yang asli nusantara saya mengajak semua rekan, teman, sahabat dan saudara-saudara semua..mari kita bangkitkan kembali kejayaan Nusantara dengan ke-Bhinekaan-nya..seperti yang telah diajarkan leluhur-leluhur kita..jangan lagi merasa siapa paling benar..kebenaran hanya datang dari Yang maha Kuasa..kita luruskan sejarah Nusantara bersama-sam..karena kita bisa..kalau tidak sekarang kapan lagi..kalau bukan kita siapa lagi…ayoooo

  • viryaadi

    Saya merenung ucapan sabdo palon dan melihat gejala sudah terbukti dan ini sptnya harus terjadi agar manusia dimuka bumi bisa merenug dan bertindak,apa yg bisa dilakukan dialm semesta ini.

  • dies_veneries

    …kawan se-bangsa, se-tanah dan se-air
    setiap kejayaan mempunyai jaman dan masa-nya masing-masing
    tanpa harus mempermasalahkan ini salah siapa !!!
    mari maju kedepan dan sebaik dan bijaknya mengambil pengalaman yang baik atas setiap kejadian
    ingat.. ada benarnya cerita Sabda Palon mengenai Agama Budhi bukan Agama Dendam
    analoginya juga sama yaitu bukan Balas Dendam tetapi Balas Budhi
    jika seseorang berbudi (berkelakuan) jahat, maka balas dengan budinya seseorang itu
    siapa menabur siapa memetik
    jika seseorang berbudi baik maka balas pulalah dengan kebaikan
    namun.. sebaik baik pembalasan adalah dengan kebaikan
    Tuhan lebih berwenang dan adil dalam hal pembalasan
    mari maju sodaraku dengan tidak membesarkan perbedaan yang ada

  • dedy

    sebenarnya tokoh yang diceritakan mas damar sashangka hanya tokoh fiktiv belaka,yang dikarang orang pacitan yang disuruh orang belanda untuk merusak sejarah ,dan melecehkan islam.lihat diskusi atlas walisongo , bp.agus sunyoto

  • jessi

    Saya senang dgn cerita di atas, saya bkn orng jawa, tpi saya kagum dgn budaya indonesia twemasuk jawa dan kejawen nya. andaikan cerita di atas itu benar, betapa sayang nya raja terahir rela pindah agama demi perdamaian, yg ahirnya meninggalkan kutuk dri pengikut2 setianya untuk anak cucu di jawa yg belum tau kpn datang semuanya itu. Harusnya raja angkat senjata aja tuntaskan hari itu juga demi anak cucu di tanah jawa saat ini dan esok hari. Amdaikan pun kalah, setidaknya gak meninggalkan kutuk bagi anak cucu, tpi ywd lah, dah terjadi juga. Ayolah orang jawa, bangkit lagi. Kejawen itu yunik….!! (unik) hehe… Kejawen itu sakral, Gak perlu bikin kerajaan lagi sich, tpi jgn smpe hilang gara2 agama tertentu. Agama hanya judul dri mulut manusia. Aslinya hanya TUHAN lah yg menentukan siapa yg berkenan di hadapan NYA sesuai perilaku masing2 manusia. Emang ada manusia yg bisa tentuin siapa yg k surga dan yg k neraka…?? Gak ada kan…??!! Kata agama kan keluar dari mulut manusia saja. Kan lucu perang atas namakan agama, hhaha, klo agama itu benar, masa membunuh adala benar..? Sedangkan bnyk orng mau berperang atas nama agama. Jadi klo mau agama mu benar yah jgn membunuh berarti yah jgn perang…!! Tpi overall saya kagum dgn cerita majapahit di atas. (klo cerita di atas memang benar).

  • Tri

    kulonuwun,nyuwun pangapunten sakderengipun,kawulo naming badhe sharing sanepo jawi
    injih puniko “Lawon Sapto Ngesthi Aji”.
    Lawon = 2
    Sapto = 7
    Ngesthi = 9
    Aji = 1
    wonten ing sanepo jawi injih puniko Saka Jawa 1972 = 2039 taun Masehi.

    Maturnuwun sembah nuwun,

Leave a Reply