Sejak Jan 2012

Tolong Klik LIKE

Cara Kirim tulisan

Tulis dulu tulisan anda di Word atau di word processor apa saja, jangan di format, cukup diberi paragrap saja.
Lihat kolom yang dibawah tulisan; LOGIN: User Name: :Tamu dan Password : superkoran - setelah itu anda akan bisa melihat kotak untuk mengisi tulisan. (kotak kanan atas)
Copy tulisan anda dan Paste di kotak tsb dan beri judul dan tekan SAVE. Tambahan: Setiap tulisan hendaknya diberi TITLE dimulai dengan Nama Penulis + judul Tulisannya. Tanpa nama penulis, dengan sendirinya tidak jelas siapa yang menulis dan tulisan tidak bisa diterbitkan. TIAP ORANG HANYA BOLEH MENGIRIM TULISANNYA SENDIRI

Daftar tulisan

Damar Shashangka: PengIslaman Nusantara & Runtuhnya Majapahit 5/5

Pembaca: 7693

 BENARKAH MASUKNYA ISLAM KE NUSANTARA BERLANGSUNG DENGAN JALAN DAMAI?
TIDAKKAH ADA DARAH YANG TERTUMPAH? CATATAN INI HANYA SEKEDAR MENGUNGKAP FAKTA MASA LALU YANG SEBENARNYA , SEBAGAI BAHAN RENUNGAN KITA SEMUA AGAR TIDAK TERULANG LAGI.


Sirna Ilang Kerthaning Bhumi

Atas perintah Raden Patah, Senopati Demak Bintara Sunan Kudus menemui Adipati Terung, adik kandung Raden Patah dengan membawa pasukan Demak Bintara. Adipati Terung di ultimatum agar menyerah, atau dihancurkan. Adipati Terung dalam dilema. Pada akhirnya, dia menyatakan ‘menyerah’ kepada Demak Bintara.

Beberapa minggu kemudian, Raden Patah datang dari Demak untuk melihat langsung kemenangan pasukannya. Raden Patah meminta semua laporan dari kepala pasukan Demak. Diketahui kemudian, Prabhu Brawijaya berhasil meloloskan diri. Pasukan Bhayangkara Majapahit atau Pasukan Khusus Pengawal Raja, memang terkenal lihai melindungi junjungan mereka. Tak ada satupun kepala pasukan Demak yang mengetahui bagaimana Pasukan Bhayangkara bisa menerobos kepungan rapat Pasukan Islam dan kearah mana mereka membawa Sang Prabhu pergi.

Raden Patah segera menyebar pasukan mata-mata untuk melacak keberadaan Sang Prabhu. Dan Raden Patah sendiri segera melanjutkan perjalanan untuk bertandang ke Pesantren Ampel di Surabaya. Dia hendak mengabarkan kemenangan besar ini kepada janda Sunan Ampel.

Di Surabaya situasi anarkhis-pun merajalela. Nyi Ageng Ampel, begitu mendengar laporan Raden Patah, marah! Dengan tegas beliau menyatakan, apa yang dilakukan Raden Patah adalah sebuah kesalahan besar. Dia telah berani melanggar wasiat gurunya sendiri, Sunan Ampel, yang mewasiatkan sebelum beliau wafat, melarang orang-orang Islam merebut tahta Majapahit. Dan juga, Raden Patah telah berani melawan seorang Imam yang sah, seorang Umaro’ tidak seharusnya dilawan tanpa ada alasan yang jelas. Dan yang ketiga, Raden Patah telah berani durhaka kepada ayah kandungnya sendiri yang telah melimpahkan segala kebaikan bagi dirinya serta orang-orang Islam.

Nyi Ageng Ampel menangis. Raden Patah terketuk hati nuraninya, dia ikut mencucurkan air mata. Didepan Nyi Ageng Ampel, Raden Patah mencium kaki beliau, menangis, menyesali perbuatannya.

Dengan berurai air mata, Raden Patah meminta solusi kepada Nyi Ageng Ampel. Dan Nyi Ageng Ampel memerintahkan kepadanya untuk segera mencari keberadaan Prabhu Brawijaya. Dan apabila sudah diketemukan, seyogyanya, Prabhu Brawijaya dikukuhkan kembali sebagai seorang Raja.

Mendengar perintah itu, secara emosional Raden Patah berniat mencari ayahandanya sendiri bersama beberapa orang prajurid Demak. Tapi Nyi Ageng Ampel mencegahnya. Dalam situasi anarkhis seperti ini, tidak memungkinkan bagi dia untuk mencari beliau sendiri. Dikhawatirkan, akan terjadi kesalah pahaman. Dan sekarang, dimata Prabhu Brawijaya, dirinya dan seluruh umat Islam yang menyokong pergerakan pasukan Demak, tidak mungkin dipercaya lagi.

Jalan keluar yang terbaik adalah, meminta bantuan Sunan Kalijaga atau Syeh Siti Jenar untuk mewakili dirinya, mencari Prabhu Brawijaya dan apabila sudah bisa ditemukan, memohon kepada Prabhu Brawijaya agar kembali ke Majapahit. Sudah bukan rahasia lagi dikalangan Istana, dua ulama besar ini tidak terlibat dalam penyerangan Majapahit.

Karena Syeh Siti Jenar, baru saja disidang oleh Dewan Wali Sangha yang mengakibatkan hubungan beliau dengan Para Wali sekaligus dengan Raden Patah dalam situasi yang tidak mengenakkan, maka Raden Patah memutuskan untuk mengirim pasukan khusus menemui Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga, dimohon menghadap ke Pesantren Ampel atas permintaan Nyi Ageng Ampel dan Raden Patah.

Beberapa hari kemudian, Sunan Kalijaga datang ke Surabaya. Beliau waktu itu berada di Demak Bintara, memfokuskan diri memimpin pembangunan Masjid Demak.

Sunan Kalijaga, Nyi Ageng Ampel dan Raden Patah, terlibat perundingan yang serius. Dan pada akhirnya, Sunan Kalijaga menyetujui untuk mengemban tugas mulia itu.

Beberapa hari kemudian, laporan dari pasukan mata-mata Demak Bintara diterima Raden Patah. Diketahui, ada konsentrasi besar pasukan Majapahit diwilayah Blambangan. Diketahui pula, Prabhu Brawijaya ada disana. Ada kabar terpetik, Prabhu Brawijaya hendak menyeberang ke pulau Bali.

Mendapati informasi yang dapat dipercaya seperti itu, Sunan Kalijaga, diiringi beberapa santrinya, segera berangkat ke Blambangan. Dia siap mengambil segala resiko yang bakal terjadi. Dengan memakai pakaian rakyat sipil yang tidak mencolok mata, demi untuk menghindari kesalah pahaman, dia berangkat. Disetiap daerah yang dilalui, Sunan Kalijaga beserta rombongan melihat pemandangan yang memilukan. Kekacauaan ada dimana-mana. Penduduk yang masih memegang keyakinan lama, bentrok dengan penduduk yang sudah mengganti keyakinannya.Korban berjatuhan. Nyawa melayang karena kepicikan.

Rombongan ini harus pandai-pandai memilih jalan. Kadangkala memutar kalau dirasa perlu. Mereka sengaja menghindari tempat keramaian. Mereka lebih memilih menerobos hutan belantara demi menjaga keamanan.

Dan, manakala mereka sudah tiba di Blambangan, Sunan Kalijaga, menunjukkan statusnya. Dengan mengibarkan bendera putih tanda gencatan senjata, dia memasuki kota Blambangan yang mencekam.

Para prajurid Majapahit terkejut melihat ada serombongan kecil orang-orang muslim memasuki kota Blambangan. Mereka mengibarkan bendera putih. Mereka bukan tentara. Mereka tidak bersenjata. Serta merta, kedatangan mereka dihadang oleh pasukan Majapahit. Dan mereka tidak diperkenankan memasuki kota. Prajurid Majapahit, siap tempur.

Namun, Sunan Kalijaga menunjukkan siapa dirinya. Dia meminta kepada kepala prajurid agar menyampaikan pesan kepada Prabhu Brawijaya, bahwasanya dia, Raden Sahid atau Sunan Kalijaga, datang sebagai duta dan memohon menghadap.

Ketegangan terjadi. Rombongan kecil ini diujung tanduk. Nyawa mereka terancam. Namun mereka yakin, prajurid Majapahit bisa membedakan, mana musuh dalam medan laga dan mana musuh dalam status duta. Mereka tidak akan berani mencelakai seorang duta.

Ketegangan sedikit mencair manakala ada pesan dari Sang Prabhu yang mengabulkan permohonan Sunan Kalijaga untuk menghadap kepada beliau. Prabhu Brawijaya tahu bagaimana menghormati seorang duta. Prabhu Brawijaya-pun tahu dari laporan para pasukan Sandhi (Intelejen) bahwa Sunan Kalijaga bersama para pengikutnya, tidak ikut melakukan penyerangan ke Majapahit.

Sunan Kalijaga beserta rombongan bisa bernafas lega. Mereka segera menghadap Prabhu Brawijaya dengan pengawalan yang sangat ketat sekali. Sembari memegang persenjataan lengkap dan siap digunakan, para prajurid Bhayangkara menyambut kedatangan Sunan Kalijaga. Mereka mengapitnya. Sunan Kalijaga diperkenankan masuk. Beberapa santrinya disuruh menunggu diluar.

Prabhu Brawijaya, didampingi para penasehat beliau yang terdiri dari para Pandhita Shiva dan Wiku Buddha, juga Sabdo Palon dan Naya Genggong, nampak telah menunggu kedatangan Sunan Kalijaga. Begitu ada dihadapan Sang Prabhu, Sunan Kalijaga menghaturkan hormat.

Prabhu Brawijaya menanyakan maksud kedatangan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga mengatakan bahwa dia adalah duta Raden Patah sekaligus Nyi Ageng Ampel. Sunan Kalijaga menceritakan segalanya dari awal hingga akhir. Bahkan dia menceritakan pula kondisi Majapahit. Prabhu Brawijaya meneteskan air mata mendengar banyak penduduk yang harus meregang nyawa karena kepicikan, mendengar Keraton megah kebanggaan Nusantara dibumi hanguskan, mendengar tempat-tempat suci hancur rata dengan tanah.

Seluruh yang hadir merasa sedih, marah, geram, semua bercampur aduk menjadi satu.

Dan manakala Sunan Kalijaga mengahturkan tujuan sebenarnya dia menjadi duta, yaitu agar Prabhu Brawijaya berkenan kembali memegang tampuk pemerintahan di Majapahit, seketika ssemua yang hadir memincingkan mata.Seolah mendengarkan kalimat yang tidak bisa dicerna.

Prabhu Brawijaya tercenung. Beliau meminta nasehat. Beberapa penasehat mengusulkan agar hal itu tidak dilakukan, karena sama saja menerima suatu penghinaan. Dinasti Majapahit, bisa kembali berkuasa hanya karena kebaikan hati orang-orang Islam. Tidak hanya itu saja, wibawa Sang Prabhu akan jatuh dimata para pendukungnya. Tidak ada artinya tahta yang diperoleh dari belas kasihan musuh. Masyarakat Majapahit akan memandang rendah pemimpin mereka yang mau menerima tahta seperti itu. Selama ini, Raja-Raja Majapahit, tidak pernah melakukan itu. Bila wibawa Sang Prabhu telah jatuh, dengan sendirinya, para pengikut Sang Prabhu akan berani juga bermain-main dengan Sang Prabhu kelak. Hukum tidak akan dipatuhi. Para pembangkang akan muncul dimana-mana bak jamur tumbuh dimusim penghujan. Dan lagi, apakah Sang Prabhu tidak malu menerima tahta dari anaknya sendiri?

Sebaiknya Sang Prabhu tidak menerima tawaran itu.

Sang Prabhu menghela nafas.

Sunan Kalijaga mohon bicara. Apabila memang Sang Prabhu tidak mau menerima tahta Majapahit dari tangan Raden Patah, maka seyogyanya Sang Prabhu mempertimbangkan kembali jika hendak mendapatkannya dengan jalan merebut. Sebab, bila hal itu sampai terjadi, tidak bisa dibayangkan, tanah Jawa akan banjir darah. Dukungan kekuatan militer bagi Sang Prabhu akan datang dari segenap pelosok Nusantara, tidak bakalan tanggung-tanggung lagi. Jawa akan semakin membara bila seluruh Nusantara akan bangkit. Pembunuhan yang lebih besar dan mengerikan akan terjadi.

Sang Prabhu Brawijaya bagaikan disodori buah simalakama, dimakan mati tidak dimakan pun mati.

Sejenak, Sang Prabhu berunding dengan para penasehat beliau yang terdiri dari para ahli hukum dan agamawan. Sejurus kemudian, beliau menyatakan kepada Sunan Kalijaga hendak merundingkan hal ini dengan para penasehat lebih dalam lagi. Dan Sunan Kalijaga diperbolehkan menghadap esok hari lagi. Sunan Kalijaga dan seluruh rombongannya diberikan tempat bermalam, dengan pengawalan ketat.

Keesokan harinya, Sunan Kalijaga dipanggil menghadap. Prabhu Brawijaya memutuskan, untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih besar lagi, beliau tidak akan mengadakan gerakan perebutan tahta kembali. Lega Sunan Kalijaga mendengarnya.

Namun apa yang akan dilakukan Sang Prabhu agar seluruh putra-putra beliau mau merelakan tahta diduduki Raden Patah? Begitu Sunan Kalijaga meminta kejelasan langkah selanjutnya. Sang Prabhu mengatakan, beliau akan mengeluarkan maklumat kepada seluruh putra-putra beliau untuk bersikap sama seperti dirinya. Untuk berjiwa besar memberikan kesempatan bagi Raden Patah memegang tampuk kekuasaan. Terutama kepada keturunan beliau di Pengging, maklumat ini benar-benar harus dipatuhi. Semua sudah paham, yang berhak mewarisi tahta Majapahit sebenarnya adalah keturunan di Pengging.

Kini, Sang Prabhu yang mempertanyakan jaminan kebebasan beragama kepada Sunan Kalijaga, apakah Demak Bintara bisa memberikan wilayah-wilayah otonomi khusus bagi para penguasa daerah yang mayoritas masyarakatnya tidak beragama Islam? Bisakah Demak Bintara sebijak Majapahit dulu? Bukankah keyakinan yang dianut Raden Patah menganggap semua yang diluar keyakinan mereka adalah musuh?

Sunan Kalijaga terdiam. Dan setelah berfikir barang sejenak, Sunan Kalijaga betjanji akan ikut andil menentukan arah kebijakan pemerintahan Demak Bintara. Dan itu berarti, mulai saat ini, dia harus ikut terjun kedunia politik. Dunia yang dihindarinya selama ini ( Tahta Kadipaten Tuban yang diserahkan kepadanya, dia berikan kepada Raden Jaka Supa, suami adiknya Dewi Rasa Wulan : Damar Shashangka).

Prabhu Brawijaya bernafas lega. Dia percaya pada sosok Raden Sahid atau Sunan Kalijaga ini.

Sunan Kalijaga menambahkan, Sang Prabhu seyogyanya kembali ke Trowulan. Tidak usah meneruskan menyeberang ke pulau Bali. Sebab dengan adanya Sang Prabhu di Trowulan, para putra dan masyarakat tahu kondisi beliau. Tahu bahwasanya beliau baik-baik saja. Sehingga seluruh pendukung beliau akan merasa tenang.

Kembali Sang Prabhu berunding dengan para penasehat sejenak Kemudian beliau memeberikan jawaban.

Ada beliau di Trowulan ataupun tidak, stabilitas negara sepeninggal beliau tergulingkan dari tahta, mau tidak mau, tetap akan terganggu. Karena para pendukung beliau pasti juga banyak yang belum bisa menerima pemberontakan Raden Patah ini. Namun, jika tidak ada komando khusus dari beliau, hal itu tidak akan menjadi sebuah kekacauan yang besar. Pembangkangan daerah per daerah pasti terjadi. Tapi, Sang Prabhu menjamin, tanpa komando beliau, penyatuan kekuatan Majapahit dari daerah per daerah tidak bakalan terjadi. Dan, beliau tidak perlu pulang ke Trowulan.

Sunan Kalijaga resah. Bila Sang Prabhu ke Bali, Sunan Kalijaga takut beliau akan berubah pikiran begitu melihat betapa militan-nya para pendukung beliau disana. Mau tidak mau, Prabhu Brawijaya harus bisa diusahakan pulang ke Trowulan. Sunan Kalijaga memutar otak.

Sunan Kalijaga tahu, hati Prabhu Brawijaya sangat lembut. Dan kini, Sunan Kalijaga akan berusaha mengetuk kelembutan hati beliau. Sunan Kalijaga memberikan gambaran betapa mengerikannya jika para pendukung beliau benar-benar siap melakukan gerakan besar. Tidak ada jaminan bagi Sang Prabhu sendiri bahwa beliau tidak akan berubah pikiran bila tetap meneruskan perjalanan ke Bali. Sunan Kalijaga memohon, Prabhu Brawijaya harus mengambil jarak dengan para pendukung beliau. Nasib rakyat kecil dalam hal ini dipertaruhkan. Mereka harus lebih diutamakan.

Sunan Kalijaga memberikan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi jika Sang Prabhu tetap hendak ke Bali

Diam-diam, Prabhu Brawijaya berfikir. Diam-diam hati beliau terketuk. Kata-kata Sunan Kalijaga memang ada benarnya. Prabhu Brawijaya tercenung. Beliau memutuskan pertemuan untuk sementara disudahi. Sunan Kalijaga diminta kembali ketempatnya untuk sementara waktu.

Dan, Prabhu Brawijaya ingin menyendiri. Ingin merenung tanpa mau diganggu oleh siapapun. Ketika malam menjelang, Sang Prabhu memanggil Sabdo Palon dan Naya Genggong. Bertiga bersama-sama membahas langkah selanjutnya.

Dan, ketika malam menjelang puncak, Sabdo Palon dan Naya Genggong berterus terang, Mereka berdua menunjukkan siapa sebenarnya jati dirinya. Diiringi semburat cahaya lembut, Sabdo Palon dan Naya Genggong ‘menampakkan wujudnya yang asli’ kepada Prabhu Brawijaya.

Prabhu Brawijaya terperanjat. Serta merta beliau menghaturkan hormat, bersembah. Kini, malam ini, untuk pertama kalinya, Sang Prabhu Brawijaya bersimpuh. ( Siapa mereka? Masih rahasia : Damar Shashangka).

Sabdo Palon dan Naya Genggong memberikan gambaran apa yang bakal terjadi kelak di Nusantara. Semenjak hari kehancuran Majapahit, ‘kesadaran’ masyarakat Nusantara akan jatuh ketitik yang paling rendah. ‘Kulit’ lebih diagung-agungkan dari pada ‘Isi’. ‘Kebenaran Yang Mutlak’ dianggap sebagai milik golongan tertentu. Dharma diputar balikkan. Sampah-sampah seperti ini akan terus tertumpuk sampai lima ratus tahun kedepan. Dan bila sudah saatnya, Alam akan memuntahkannya. Alam akan membersihkannya.

Nusantara akan terguncang. Gempa Bumi, banjir bandang, angin puting beliung, ombak samudera naik ke daratan, gunung berapi memuntahkan laharnya berganti-gantian, musibah silih berganti, datang dan pergi. Bila waktu itu tiba, Alam telah melakukan penyeleksian. Alam akan memilih mereka-mereka yang ‘berkesadaran tinggi’. Yang ‘kesadarannya masih rendah’, untuk sementara waktu disisihkan dahulu atau akan dilahirkan ditempat lain diluar Nusantara. Bila saat itu sudah terjadi, Sabdo Palon dan Naya Genggong akan muncul lagi, kembali ke Nusantara. Sabdo Palon dan Naya Genggong akan ‘merawat tumbuhan kesadaran’ dari mereka-mereka yang terpilih. Sabdo Palon dan Naya Genggong akan menjaga ‘tumbuhan Buddhi’ yang mulai bersemi itu. Itulah saatnya, agama Buddhi, agama Kesadaran akan berkembang biak di Nusantara. Dan Nusantara, pelan tapi pasti, akan dapat meraih kejayaannya kembali.

Memang sudah menjadi garis karma, kehendak Hyang Widdhi Wasa, mereka-mereka saat ini berkuasa di Nusantara. Prabhu Brawijaya tidak ada gunanya mempertahankan Shiva Buddha. Prabhu Brawijaya lebih baik menuruti kehendak mereka-mereka yang tengah berkuasa. Kelak, Prabhu Brawijaya juga akan lahir lagi, lima ratus tahun kemudian, untuk ikut menyaksikan berseminya agama Buddhi.

Menangislah Prabhu Brawijaya. Semalaman beliau menangis. Semua rahasia masa depan Nusantara, dijabarkan oleh Sabdo Palon dan Naya Genggong.

Keesokan harinya, beliau memanggil Sunan Kalijaga. Dihadapan seluruh yang hadir, beliau menyatakan hendak kembali ke Trowulan. Dan yang lebih mengagetkan, beliau menyatakan masuk Islam demi menjaga stabilitas negara.

Sunan Kalijaga dan seluruh yang hadir terperangah mendengar keputusan Sang Prabhu. Beberapa penasehat, pejabat dan kepala pasukan Bhayangkara, bersujud sambil menangis haru. Mereka memohon agar Sang Prabhu mencabut kembali sabda yang telah beliau keluarkan. Situasi tegang, sedih, bingung…

Sabdo Palon dan Naya Genggong angkat bicara. Dihadapan Prabhu Brawijaya, Sunan Kalijaga dan seluruh yang hadir, mereka mengucapkan sebuah sumpah, bahwasanya lima ratus tahun kemudian, mereka berdua akan kembali. ( Inilah yang lantas dikenal dengan JANGKA SABDO PALON NAYA GENGGONG oleh masyarakat Jawa sampai sekarang. Baca catatan saya tentang SERAT SABDO PALON. : Damar Shashangka).

Selesai mengucapkan sumpah mereka, Sabdo Palon dan Naya Genggong mencium tangan Sang Prabhu Brawijaya. Sabdo Palon berbisik :

“Lima ratus tahun lagi, ananda akan bertemu dengan kami kembali. Sekarang sudah saatnya kita berpisah. Selamat tinggal ananda.”

Sabdo Palon dan Naya Genggong menyembah hormat, lalu bergegas keluar dari ruang pertemuan. Semua yang hadir masih bingung melihat peristiwa ini. Diantara mereka, ada beberapa yang ikut menyembah, melepas lencana mereka dan memohon maaf kepada Sang Prabhu untuk undur diri.

Bagaikan tugu dari batu, Sang Prabhu Brawijaya diam tak bergerak. Tinggal beberapa orang yang ada didepan beliau. Beberapa pasukan Bhayangkara yang memutuskan untuk setia mengiringi Sang Prabhu. Juga ada Sunan Kalijaga, yang masih pula ada di sana.

Setelah kediaman beliau yang lama, Sunan Kalijaga memberanikan diri menanyakan keputusan Sang Prabhu tersebut. Sang Prabhu menjawab, semua memang harus terjadi. Mendengar sabda Sang Prabhu, Sunan Kalijaga segera mendekat kepada beliau.

Sunan Kalijaga memohon dengan segala hormat, apabila Sang Prabhu benar-benar ikhlas menyerahkan tahta kepada Raden Patah, maka beliau harus rela melepaskan mahkota beserta pakaian kebesaran beliau sebagai Raja Diraja. Sejenak Sang Prabhu masih ragu, namun ketika sekali lagi Sunan Kalijaga memohon keikhlasan beliau, maka Sang Prabhu menyetujuinya. ( Inilah simbolisasi rambut beliau dipotong oleh Sunan Kalijaga. Pada kali pertama, rambut beliau tidak bisa putus. Dan pada kali kedua, barulah bisa putus : Damar Shashangka.)

Tidak menunggu waktu lama, berangkatlah rombongan Prabhu Brawijaya yang terdiri dari sedikit pasukan Bhayangkara dan Sunan Kalijaga beserta para santri menuju Trowulan. Sesampainya di Trowulan, masyarakat Majapahit menyambut dengan penuh suka cita. Keadaan mulai berangsur membaik ketika Sang Prabhu Brawijaya mengeluarkan maklumat agar semua pertikaian dihentikan. Disusul kemudian, keluar maklumat serupa dari Demak Bintara yang memfatwakan, peperangan sudah berhenti, diharamkan membunuh mereka yang telah kalah perang. Kondisi anarkhisme, berangsur-angsur menjadi kondusif. Stabilitas untuk sementara waktu kembali normal. Stabilitas yang dibawa dari Blambangan ini, membuat Sunan Kalijaga, sebagai suatu kenangan keberhasilan mendamaikan kedua belah pihak, memberikan nama baru kepada Blambangan, yaitu Banyuwangi. ( Disimbolkan, Sunan Kalijaga membawa sepotong bambu kemudian dia mengisinya dengan air kotor waktu masih di Blambangan. Begitu sesampainya di Trowulan, air dalam bambu itu berubah menjadi jernih dan wangi. Bambu adalah lambang dari sebuah negara, air kotor yang diambil Sunan Kalijaga adalah masalah yang dibuat oleh orang-orang yang sekeyakinan dengan Sunan Kalijaga sendiri. Air yang berubah jernih setibanya di Trowulan melambangkan kembalinya stabilitas negara.: Damar Shashangka).

Bergiliran, para putra Prabhu Brawijaya datang ke Trowulan. Adipati Handayaningrat dari Pengging beserta Ki Ageng Pengging putranya. Raden Bondhan Kejawen dari Tarub. Raden Bathara Katong dari Ponorogo. Raden Lembu Peteng dari Madura, dan masih banyak lagi. Tak ketinggalan Raden Patah sendiri.

Dihadapan seluruh putra-putra beliau, Sunan Kalijaga menyampaikan amanat Sang Prabhu agar pertikaian dihentikan. Dan agar Raden Patah, diikhlaskan menduduki tahta Demak Bintara. Seluruh putra-putra beliau, wajib menerima dan mentaati keputusan ini.

Kepada Sunan Kalijaga, Sang Prabhu Brawijaya memberikan amanat untuk mendampingi keturunan beliau yang ada di Tarub yaitu Raden Bondhan Kejawen dan keturunan beliau yang ada di Pengging. Terutama kepada Raden Bondhan Kejawen, Prabhu Brawijaya telah mengetahuinya dari Sabdo Palon dan Naya Genggong, bahwa kelak, dari keturunannya, akan lahir Raja-Raja besar di Jawa. Dinasti Raden Patah dan dinasti dari Pengging, tidak akan bertahan lama.

Prabhu Brawijaya bahkan membisikkan kepada Sunan Kalijaga, bahwa Demak hanya akan dipimpin oleh tiga orang Raja. Setelah itu akan digantikan oleh keturunan dari Pengging, cuma satu orang Raja. Lantas digantikan oleh keturunan dari Tarub. Banyak Raja akan terlahir dari keturunan dari Tarub.
(Ramalan ini terbukti, Demak hanya diperintah oleh tiga orang Sultan. Yaitu Raden Patah, Sultan Yunus lalu Sultan Trenggana. Setelah itu terjadi pertumpahan darah antara Kubu Abangan dengan Kubu Putihan. Dan Jaka Tingkir tampil kemuka. Jaka Tingkir adalah keturunan dari Pengging. Tapi tidak lama, keturunan dari Tarub, yaitu Danang Sutawijaya, yang kelak dikenal dengan gelar Panembahan Senopati Ing Ngalaga Mentaram, akan tampil kemuka menggantikan keturunan Pengging. Panembahan Senopati inilah pendiri Kesultanan Mataram Islam, yang sekarang terpecah menjadi Jogjakarta, Surakarta, Mangkunegaran dan Paku Alaman :Damar Shashangka.)

Tidak berapa lama kemudian, Prabhu Brawijaya jatuh sakit. Dalam kondisi akhir hidupnya, Sunan Kalijaga dengan setia mendampingi beliau. Kepada Sunan Kalijaga, Prabhu Brawijaya berwasiat agar dipusara makam beliau kelak apabila beliau wafat, jangan dituliskan nama beliau atau gelar beliau sebagai Raja terakhir Majapahit. Melainkan beliau meminta agar dituliskan nama Putri Champa saja. Ini sebagai penanda kisah akhir hidup beliau, juga kisah akhir Kerajaan Majapahit yang terkenal dipelosok Nusantara. Bahwasanya, beliau telah ditikam dari belakang oleh permaisurinya sendiri Dewi Anarawati atau Putri Champa dan beliau diperlakukan dan tidak dihargai lagi sebagai seorang laki-laki oleh Raden Patah, putranya sendiri.

Sunan Kalijaga sedih mendapat wasiat seperti itu. Namun begitu beliau wafat, wasiat itu-pun dijalankan.

Seluruh masyarakat berkabung. Seluruh putra dan putri beliau berkabung.

Dan kehancuran Majapahit. Kehancuran Kerajaan Besar ini dikenang oleh masyarakat Jawa dengan kalimat sandhi yang menyiratkan angka-angka tahun sebuah kejadian (Surya Sengkala), yaitu SIRNA ILANG KERTANING BHUMI. SIRNA berarti angka ’0′. ILANGberarti angka ’0′. KERTA berarti angka ’4′ dan BHUMI berarti angka ’1′. Dan apabila dibalik, akan terbaca 1400 Saka atau 1478 Masehi. Kalimat KERTAning BHUMI diambil dari nama asli Prabhu Brawijaya, yaitu Raden Kertabhumi. Inilah kebiasaan masyarakat Jawa yang sangat indah dalam mengenang sebuah kejadian penting.

Dan Raden Patah, memindahkan pusat pemerintahan ke Demak Bintara. Dia dikukuhkan oleh Dewan Wali Sangha sebagai Sultan dengan gelar Sultan Syah ‘Alam Akbar Jim-Bun-ningrat.

Keinginan orang-orang Islam terwujud. Demak Bintara menjadi ke-Khalifah-an Islam pertama di Jawa. Tapi, pemberontakan dari berbagai daerah, tidak bisa diatasi oleh Pemerintahan Demak. Wilayah Majapahit yang dulu luas, kini terkikis habis. Praktis, wilayah Demak Bintara hanya sebatas Jawa Tengah saja. Kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian seolah menjauh dari Demak Bintara. Darah terus tertumpah tiada habisnya. Perebutan kekuasaan silih berganti. Nusantara semakin terpuruk. Semakin tenggelam dipeta perpolitikan dunia.

Disusul kemudian, pada tahun 1596 Masehi, Belanda datang ke Jawa. Nusantara semakin menjadi bangsa tempe! Semenjak Majapahit hancur, hingga sekarang, kemakmuran hanya menjadi mimpi belaka.

Kapan Majapahit bangkit lagi? Kapan Nusantara akan disegani sebagai Macan lagi?
Menangislah membaca sejarah bangsa kita. Menangislah kalian karena kalian sendiri yang telah lalai terlalu bangga membawa masuk ideologi bangsa lain yang tidak sesuai dengan tanah Nusantara.

 

49 comments to Damar Shashangka: PengIslaman Nusantara & Runtuhnya Majapahit 5/5

  • Anonymous

    Bila kisah ini benar apa adanya, sebagai bangsa yang memiliki harga diri haruskah kita menelaah lebih dalam lagi mengenai posisi kita saat ini.Secara tidak disadari kita saat ini berbeda dengan para leluhur kita yang pernah mengharumkan nama bangsa ini dengan kejayaannya, perlukah kejayaan itu kita rebut kembali?

  • Anonymous

    Saya kira apa yang dialami oleh Majapahit Nusantara juga dialami oleh Mesir. Mesir, negara superpower dan pusat ilmu pengetahuan kemudian hilang tak berbekas kejayaannya setelah masuknya Islam di Mesir. Kita lihat Mesir sekarang. Kita bagaikan melihat cermin, melihat keadaan Indonesia sekarang dibandingkan dengan sewaktu di jaman Majapahit Nusantara

  • Anonymous

    Salam kenal, Terima kasih atas ringkasan sejarah yang sangat menarik. Semoga suatu saat bisa dibukukan sehingga menjadi warisan buat anak cucu kita kelak. Syukur2 bisa jadi lessons learned buat sesuatu yang lebih baik di masa depan. Selama ini saya bertanya2 kenapa kejayaan Majapahit musnah begitu saja. Sekarang saya tahu jawabannya.

  • Anonymous

    Salah satu mata pelajaran yg saya sukai adalah sejarah Indonesia sejak SD. Membaca serial tulisan ini saya malah lebih mengerti sejarah majapahit dibanding tahunan saya belajar sejarah dibangku sekolah. Kenapa ini terjadi? Sudah saatnya sejarahwan indonesia menulis sejarah yang benar, penuh kebanggan dan bermartabat. Apapun kesalahannya, kelicikan dan kecurangan tokoh masa lalu itu; kita harus menerimanya. Kenapa kebesaran Kerajaan Majapahit tidak pernah di agungkan oleh bangsa ini?

  • Anonymous

    Saya bersyukur lahir di keluarga yang sangat mencintai cerita dan pelajaran sejarah. Apa yang diceritakan ditulisan ini secara garis besar sudah pernah saya dengar/baca dari kecil. Kebetulan kami sekeluarga dari pihak pecudang alias yang pihak yang kalah kemudian menjadi pengungsi dalam uraian ini. Besar harapan saya pihak yang menang juga belajar untuk menjadi pemenang yang baik dan bijaksana..tidak mentang-mentang menang. Walaupun demikian tulisan ini tetap saja bagus dan menarik. Ada petuah bijak yang saya pegang sampai saat ini: Yang tidak mempelajari sejarah dengan baik..akan dikutuk untuk mengulangi kesalahan yang sama.

  • Anonymous

    Pertama kali saya selesai baca cukilan sejarah ini, saya diam beberapa menit. Dahsyat! Sejarah yang kita pelajari ternyata cuma secuwil – tak ada apa apanya. Kita dibodohi dan dininabobokan. Semoga Damar terus menulis. Lanjutkan dengan kisah pengungsian besar besaran orang Jawa kuno ke Bali dan apa yang terjadi dengan Bali? Mengapa tidak diserbu oleh pasukan Islam?

  • Anonymous

    Di akhir cerita, saya tidak membaca dimanakah keberadaan putri campa saat penyerbuan/penghancuran Majapahit. Tolong diperjelas, bagaimana ceritanya.

  • Anonymous

    jikalau majapahit itu kuat pasti akan bertahan…sebaliknya ia akan dimakan oleh jaman….kacian deh loe majapahit

  • Anonymous

    Damar Shashangka, Anda memikul tanggung jawab untuk mencerahkan dan meluruskan hati, jiwa dan pikiran anak-anak Pertiwi dengan fakta sejarah yang ada. Kami siap menyokongmu, Damar! 500 tahun telah berlalu, Sabdo Palon dan Nayagenggong, mana ya???

  • Anonymous

    Luar biasa sekali tulisan Anda, Pak Damar… Tulisan yg sangat bernilai tinggi karna bisa dibilang LANGKA! Mata saya menjadi terbuka lebar dan semoga para rekan pembaca sekalian turut dapat hikmah darinya. By the way, saya jadi tergelitik baca salah satu komen di artikel sebelumnya “bila benar Majapahit sebesar itu pastinya ada peninggalan yg bisa dilihat sampai sekarang” Satu pemikiran yg cukup logis sebenarnya. Tetapi jangan dilupakan tragedi sejarah dimana waktu itu terjadi agresi militan Islam, yg akan turut menghancurkan apa saja di sekitarnya bila tidak sesuai dengan nuansa Islami itu sendiri. Lihat saja keadaan di dunia sekarang, penghancuran patung Buddha di daerah Bamiyan, pembakaran perpustakaan kuno di jaman dahulu… Tanya sekarang, apakah buku-buku kuno yg berisikan pengetahuan berharga tersebut itu betul adanya? Sulit untuk membuktikan wong perpustakaan itu telah musnah tak berbekas.. Sama dengan tragedi kerajaan Majapahit beserta peninggalannya yg di bumihanguskan.

  • Anonymous

    Betul ini adalah CERPEN (berbau) sejarah… TAHUKAH anda bahwa kerajaan Majapahit dihancurkan oleh serangan Raja Girindrawardhana (kerajaan hindu Kediri) pada tahun 1478? Girindrawardhana membalas serangan yg pernah dilakukan raden Wijaya pada tahun 1292 terhadap kerajaan hindu Kediri yg saat itu diperintah oleh Jayakatwang. Saat itu raden Wijaya memanfaatkan tentara Kubilai Khan yg berniat menyerang raja Kertanegara dari kerajaan hindu Kediri karena telah berani memotong telinga utusannya, Meng Ki. Namun Kubilai Khan tidak tahu bahwa Kertanegara sudah tidak berkuasa lagi. Kesultanan Demak menghancurkan Majapahit hanyalah sebuah dongengan, terutama digunakan sejarawan Barat untuk mendukung teori mereka bahwa Islam masuk ke Nusantara dengan menggunakan pedang. (lihat buku Api Sejarah, terbitan Salamadani tahun 2009, oleh sejarawan Unpad, Prof Ahmad Mansur Suryanegara) Dharma bacalah lagi sejarah dengan benar, dan jgn lupa sertakan referensi (jika memang ada)…

  • Anonymous

    Luar biasa apa yang di tulis oleh Ki Damar, mengungkap apa yang selama ini tersembunyi, bahwa Islam masuk ke tanah jawa dengan cara damai, ternyata tidak demikian. Sudah menjadi ciri dan karakter Islam yang adalah expansive subsersiv, bahwa dimanapun Islam berada senantiasa ingin berkuasa ingin mendirikan Khilafah Islamiah, maka tidak heran Jin Bun si Raden Patah setelah mendapat didikan Islam garis keras, dengan segala cara akan merebut kekuasan Majapahit untuk mendirikan Khilafah Islamiah. Dan sudah terjadi di mana mana jika Islam tampil sebagai penguasa, apapun yang tidak Islami pasti di lumat dan di hancurkan. Patung Buda di Bamiyan contohnya juga di ledakan,sehingga sangat mungkin peninggalan Majapahit yang bernilai seni tinggi ikut pula di hancurkan dan di Jawa barat hampir tidak dapat ditemukan sisa peninggalan berupa candi, padahal Pajajaran adalah kerajaan Hindu besar, manamungkin di tanah Pajajaran tidak ada candi sebagai tempat ibadah, saya menduga candi candi di jawa barat juga di hancurkan setelah Islam masuk Jabar. Untung masih ada sunan Kalijaga, yang lebih mementingkan isi daripada kulit, yang lebih mementingkan Buddhi dari pada Syari,yang meskipun melaksanakan Syariat Islam tapi sikap hidupnya tetap jawa, sehingga sunan Kalijaga merupakan Islam yang njawani, tidak seneng ribut, meskipun oleh teman teman wali beliau disebut segai Islam abangan. dan stigmatisasi abangan dan putihan masih tetep ajeg sampai sekarang. Ki Damar teruslah menulis, saya menikmati tulisan sampeyan. Salam Gendeng

  • Anonymous

    Banyak tanda2 bahwa Majapahit versi modern akan bangkit kembali. Awalnya adalah dari Bali.

  • Anonymous

    sangat disayangkan jika menyalahkan kepada agama tertentu. yang patut disesalkan adalah orang dalam “agama” tersebut yang ber”agama” secara kasar. kita bisa melihat bahwa Sunan Kalijaga dan beberapa umat Islam yang dikenal abangan bahkan malah membantu Majapahit. Jadi jangan jadikan perbedaan karena agama menjadikan berpikiran picik. trima kasih…

  • Anonymous

    Luar biasa bagus penulisan sejarah ini. Pak Damar Sashangka saya kagum akan penulisan sejarah ini, bangsa Indonesia memang sedang kehilangan ‘keluhuran budi’ nya yang pernah diagungkan dan ditrapkan zaman Majapahit. Saya tetap yakin dan tetap semangat bahwa kejayaan Indonesia akan kembali pulih, Indonesia yang jaya yanh disegani kawan maupun lawan akan terbangun lagi

  • Anonymous

    MANTABS…sebuah tulisan yang mengguggah membuka wawasan tentang sejarah nusantara..seandainya kisah ini bisa difilmkan wah.. bisa menggungguli tri logi lord of the ring…mantabs maju terus buat ki damar!!!!

  • Anonymous

    tulisan sejarah yang mengguggah wawasan…seandainya bisa di felmkan..wah bisa2 mengalahkan trilogi lord of the ring MANTABs…maju terus mas damar

  • Anonymous

    Ayolah guys ini cuman cerita fiksi berlatar sejarah. Jangan terlalu serius. Apalagi menganggap islam sebagai penghambat kemajuan dan hindu/budha yang bisa mengembalikan kejayaan nusantara.Bukan masalah agama itu yang patut didikotomi. Cuba tengok India dan Bali bukankah gak jauh beda dengan kondisi umumnya. Ayolah mulai dari diri sendiri melaksanakan kebenaran yang hakiki.

  • Anonymous

    Serius banget sih. ini mah cerita fiksi berlatar sejarah. Jangan pada berantem napa.Kayak emak2 aja yang gara2 sinetron jadi berantem.

  • Anonymous

    Prabhu Brawijaya dikisahkan disini seorang yang dimabuk perempuan, dan perbuatan kejinya mencampakkan Putri Campa yang sedang hamil tua ke pada bawannya (Wanita dianggap barang yang bisa diberikan pada bawahannya jikalau dia sudah tdk cinta lagi). Pantaslah Raden Patah mengakhiri kesewenang-wenangan ayahnya. Apakah salah seorang anak yang dibuang kemudain menuntut? Bisakah seorang raja yang dimabuk wanita dan tega mencampakkan istrinya yang telah hamil tua memimpin dengan adil? pikir dengan logika.

  • Anonymous

    kalian keminter semua & sok tau, saya adalah keturunan brawijaya maka keluarga saya yg lebih tau dr kisah nenek moyang kita. selama ini yg kalian tau krn baca dr informasi yg belum jelas atau tidak tau kisah yg sebenarnya… Yang terpenting skrg adalah, gmn negara kita benar2 adil makmur, damai sentausa & benar2 merdeka dalam arti yg nyata bukan cuman topeng belaka, ok bro !?

  • Anonymous

    org pribumi asli pasti menginginkan diri nya aman dan nyaman dimana pun dia berjalan dan di mana pun dia bertempat tinggal saya ngga bisa berdebat tentang argument yg tingkat tinggi. yg saya rasakan saat ini hilang nya tata krama, kesopanan dan adat istiadat dimana semua nya saling menghargai sudah hilang ato memang tidak sadar bahwa semua nya itu sangat perlu dalam menyambung silaturahmi satu yg pasti entah kapan nusantara ini akan bangkit lagi tanpa harus melihat ras, agama ato apa pun untuk mencapai sebuah kedamaian … sebelum hal ini menjadi besar alangkah baik nya kalo kita menerapkan dalam diri kita sendiri dan keluarga kita sendiri harus bisa menjaga panca indra dengan sebaik baik nya bersifat lah bijak dalam mengambil sebuah keputusan dan hargai lah sebuah perbedaan mung dari semua itu baru kita bisa menemukan sebuah kesejatian tanpa ada rasa takut lagi … salam rahayu buat semua nya ..

  • Anonymous

    Catatan/Fakta masa lalu yang menyumbat hidung & menguras airmata.

  • Anonymous

    sedih dan terharu adalah reaksi-ku ketika membaca artikel ini. Benarkah artikel ini adalah sebuah FAKTA SEJARAH Nusantara yang sebenarnya…??? Tapi kalau dipikir secara logis bahwasanya KEJAYAAN dan KEBESARAN MAJAPAHIT ternyata tak berbekas dan hanya ada sedikit sekali peninggalannya, kemudian dari ilmu sejarah yang aku terima dari bangku SEKOLAH selama ini tentang SEJARAH KERUNTUHAN MAJAPAHIT yang hanya BEGITU SAJA. Maka ARTIKEL ini patut menjadi referensi dan pembanding bagi kalangan SEJARAWAN dan PENELITI untuk mencari dan menggali SEJARAH NUSANTARA. Terima kasih buat penulis. Bangkitlah NUSANTARA-ku, jaya-lah NEGRI-ku…!

  • Anonymous

    Islam itu sesungguhnya ajaran yang hanya layak untuk binatang buas saja. Anjink. Munafik.

  • Anonymous

    Saya sangat suka membaca cerita seperti ini, penuh dengan nostalgia kejayaan masa lalu. Majapahit didirikan dengan pertumbahan darah dan banyak menumpahkan darah di seluruh nusantara. Perebutan tahta oleh Raden Patah, bisa dikatakan sebagai politisasi agama Islam pada saat itu. Sebagaimana portugis, spain, belanda memanfaatkan Kristen sebagai alasan melakukan invasi. Hmm…sayang tulisan ini tidak dilengkapi fakta-fakta yang memadai, sehingga tidak layak untuk dipercayai sebagai cerita sejarah. Tetapi hanya opini yang dibangun dengan latar belakang sejarah Majapahit. Saya kira tak ada beda dengan tulisan S Kho Ping Hoo.

  • Anonymous

    segala sesuatu yang tergesa gesa akan menuai sesuatu yang kurang baik dan kurang sempurna, raden patah memerangi ayah handanya dengan tergesa gesa,sehingga nyi ageng ampel menasehatinya, juga kembalinya sang prabu ke trowulan dan pernyataannya masuk islam adalah keputusan yang tergesa gesa,jadi siapapun yang dengan emasional memutuskan pendapat yang tergesa gesa akan mengakibatkan hasil keputusan yang kurang baik. maka nasehan sabdo palon dan noyo genggong bahwa nanti setelah 500 tahun akan lahir agama budhi. yang artinya bahwa setiap manusia tang salah melangkah akan memperbiki kesalahannya memakan waktu yang lama sekali, dan agama budhi yang dimaksud adalah manusia harus mengerti tentang inti agama bukan kulit agama, saya berpendapat bahwa setiap manusia pemeluk agama yang telah mengerti inti agamanya akan menjadikan jiwanya teduh serta dalam bicara serta tindak tanduknya akan membuat orang lain teduh hatinya. coba kita tengok pemimpin selama hancurnya majapahit hingga sekarang adakah pemimpin yang teduh dan mampu menedukkan keadaan? dari demak lalu pajang dilanjutkan mataram bahkan mataram yang hancur berkeping keping . setelah berdirinya republik pun negri ini masih dipimpin oleh pemimpin masih kulit. sehingga pemimpin dan sekitarnya serta rakyatnya masih cenderung dalam ilmu sebab akibat. saya berharap ada cahaya yang mampu menyinari jiwa jiwa bangsa ini menjadi jiwa yang indah dapat berperilaku indah . mungkin ini yang dinamakan agama budhi oleh sabdho palon dan noyo genggong yang pernah diucapkan 500 tahun lebih yang kita tunggu. jadi cerita diatas yang berlatar sejarah kita harus memandang dan mengambil hikmah didalamnya.

  • Anonymous

    Islam masuk ke nusantara damai lah…Menyebar pun damai….tapi mendapat kekuasaannya mungkin dengan peperangan…

  • Anonymous

    @Anton Poluan: anda gak tahu sejarah ya? Pernah denger fatimid caliphate? cari di google… kalian semua: budaya itu datang dan pergi, gak semuanya bisa ada diatas…belanda dateng dengan bubuk mesiu dan meriam, kalian kira majapahit bisa menang lawan itu

  • Anonymous

    1. kebenaran majapahit ada atau tidak,tidak ditentukan oleh ketidaktahuan anda semuanya.sama halnya perahu nabi nuh….mungkin sama dengan itu,setelah peristiwa itu banyak yg memepertanyakan kebenarannya,yg hanya diceritakan di kitab2,tp pada sekian ribuan tahun barulah dia muncul dengan sendirinya….sama halnya piramid suku maya….apakah adaa yg berpikir ada ketika piramid itu hilang? barulah setelah ratusan bahkan mungkin juga ribuan tahun,piramid itu muncul….bohong jika ada yg mengaku menemukan….pasti penemuanya hanya sebuah kebetulan belaka. 2.islam agama damai,jika terjadi pertempuran mengatasnamakan islam,mk itu adalah oknum,semua pertempuran dimuka bumi ini hanya diakibatkan oleh ambisi perorangan or kelompok,bukan agama….! 3. bagi penulis,dg tulisan anda ini….anda seolah-olah mengatakan agama anda paling benar,semua agama benar…..jika dia mengajarkan tentang TUHAN yg satu dan tidak wujud spt apa yg kita pikirkan,krn kita tdk akan pernah menjaungkaunya dengan indra kita yg terbatas,tp dengan kita bisa melebur atau menyatu dengan DIA sajalah maka kita baru bisa menjangkauNYA.dan mengajarkan kebaikan terhadap sesama dan lingkungan kita….serta meyakini hari akhir itu ada.selebihnya adalah pedoman hidup bagi manusia untuk membantu manusia belajar atau arahan bertahap,krn tiap manusia berbeda dalam menerima ilmu TUHAN,sehingga dibuatlah tatacaranya yg dasar agar bisa diikuti oleh semuanya,yg lebih tinggi pemahamannya pun hrs dan pasti melalui yg dasar. 4. jika kita menghujat agama lain,sesungguhnya anda tidaklah lebih baik dr yg anda hujat,mungkin justru kita lbh buruk dari mereka. 5. sesungguhnya semua ini atas kehendak TUHAN,semua sdh diatur olehNYA….

  • Anonymous

    Nasi udah jadi bubur guys..!! akibat raden patah yg melawan ayahnya sendiri yg telah berbaik hati padanya, rasa2nya kita generasi selanjutnya seperti kena kutukan bencana alam d mana2, penguasa semuanya mementingkan keserakahannya, mari kita bangkit dan buat jaya negeri ini dengan menjalankan nilai2 luhur bangsa peninggalan Majapahit leluhur kita..apapun agamanya kta harus tetap menghormati dan selalu ingat dengan leluhur kita! karena bangsa yg besar adalah bangsa yg bisa menghargai leluhur dan nilai2 yg d tinggalkannya..niscaya kita akan berjaya kembali gemah ripah loh jinawi..!! dua jempol buat mas damar sang penulis :)

  • Anonymous

    SEJARAH MENCATAT, semua kerajaan di Indonesia pada umumnya dan di Jawa pada khususnya, hancur berantakan akibat dari dalam yaitu akibat perebutan kekuasaan para petingginya (anak dan sanak saudara raja), bukan karena serangan bangsa lain dari luar. Hingga sekarangpun Republik Indonesia terpuruk akibat perebutan kekuasaan para petinggi, politikus dan sejenisnya (masih “kemaruk” kekuasaan dan harta). Pelaksanaan program mensejahterakan rakyat, memajukan bangsa dan negara hampir tidak kelihatan apalagi mendominasi sepak terjang pemerintah. Itu semua karena kwalitas masyarakat kita masih didominasi SDM yang rendah, sehingga yang mengalir masuk ke Nusantara/Indonesia berupa “agama”, “aliran”, “paham” dan sejenisnya, mengakibatkan pertengkaran, tindak kekerasan, hanya karena berbeda paham, berbeda keyakinan, berbeda aliran,akhirnya menghancurkan kemanusiaan. Saudara-2, sadarlah untuk meningkatkan MUTU DIRI masing-2 agar yang mengalir masuk ke Indonesia itu Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Kesadaran (Spiritual Quotient)untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, memajukan bangsa dan negara, akhirnya memuliakan manusia dan kemanusiaan. Jangan berdebat dan bertengkar terus tentang agama, aliran, paham, kepercayaan dan berebut kekuasaan terus. Kapan majunya……?

  • Anonymous

    yang nulis ngawur, gak ada referensinya. kelihatan ada sentimen tertentu,,,

  • Anonymous

    saya sangat menikmati tulisan ini, tapi saya kurang setuju dengan akhir tulisan tentang ideologi asing, saya berpikiran penulis terlalu berpihak ke keyakinan yang di anutnya dan terlalu menyalahkan ideologi lainnya, saya rasa kalau memang penulis telah mengerti “isi” bukan kulit, penulis tidak akan mengeluarkan ungkapan tersebut, menurut saya yang salah itu bukan ideologinya, tetapi penganutnya, karena kalau penganutnya hanya mengenal “kulit” dari ideologinya maka apalah arti ideologi itu sendiri, apapun merk agamanya kalau hanya tau “kulit” tanpa tau “isi” maka pasti akan melakukan pembenaran pandangannya dan menyalahkan pandangan ideologi lainnya, marilah kita belajar dari ki ageng pengging dan syech siti jenar,

  • Anonymous

    Sabdo palon tengah mengitari Nusantara…..

  • Anonymous

    Saya acungkan 2 jempol ke Mas Damar..Two Thumbs up!!..berkat penulisan Anda, minimalnya telah terjadi pendiskreditan ke agama tertentu, so pasti islam maksudnya..saya rasa misi dan sentimen pribadi anda boleh dibilang berhasil..:)..sayangnya anda hanya memikirkan kepentingan anda sendiri..tidak untuk kepentingan negara kita ini,baik dari segi ‘kebenaran’ sejarah yang disertai bukti, kemajemukan maupun masa depan bangsa kita sendiri…kenapa gampang banget saya berpikir begitu?..Anda cukup perhatikan saja ‘gaya’ kalimat2 yg anda pakai dalam penulisan ini ..:)..anda menggiring pembaca untuk meyakini bahwa seakan2 anda 1-1nya saksi hidup yg berada di tempat kejadian saat itu..:)..tapi saya yakin saudara2 kita para pembaca disini tahu mana sejarah dan mana dongeng dengan latar belakang sejarah..hehe..jadi ingat film transformer..:)

  • Anonymous

    Anda salah, Raden Wijaya tidak memotong hidung dan telinga utusan Kubilai Khan, itu dilakukan oleh kerajaan Singosari (Kertanegara). Anda ingat bahwa kemudian Kertanegara melakukan ekspedisi Pal Malayu, untuk mencegah kedatangan serangan dari Mongol, namun ternyata ada pemberontakan Jayakatwang dan Singosari runtuh. http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit Mohon Anda juga melakukan crosscheck untuk sumber Anda.

  • ranggalawe

    ini mah cerita fiksi tapi kok nanggepinya pada serius yak.. kalo emank mau bahas sejarah alangkah baiknya disertai dengan sumber dan bukti yang akurat. Kalu cuma asal nulis dongeng saya juga bisa :v

    • Rahman

      kalau sudah ngomong cerita sejarah orang emang suka bingung mana yang ilmiah mana yang dongeng, mana yang separuh-separuh

      persis cerita dalam agama

  • pramudyawardani

    cerita G bener pada percaya…hadeehh..raja terakhir Majapahit itu Raja Wijaya tp kita sering nyebut Raden Brawijaya. Kehancurannya karena dilengserkan kerajaan Demak soalnya Raja Wijaya kecewa beraaaat lantaran anaknya (Bondhan) memeluk agama Islam setelah menikah dengan anaknya Jaka Tarub. Kemudian Raja Wijaya pergi dan menghilang ke Gunung Lawu. Ada yang bilang kalo makam Raja Wijaya di sekitar Jogja, Demak, dll…padahal g ada yg tau.

  • anonim

    cuplikan : Menangislah membaca sejarah bangsa kita. Menangislah kalian karena kalian sendiri yang telah lalai terlalu bangga membawa masuk ideologi bangsa lain yang tidak sesuai dengan tanah Nusantara.

    pertanyaan gue : emang ada ideologi bangsa sendiri? kayak apa ?? Emang ada agama nusantara ??? Emang agama Budha, Hindu, Kristen, Katolik dan Islam berasal dari nusantara juga ?

  • mosley

    tendensius sekali ceritanya..

  • andhap asor

    Penulis ini ngomongin sejarah, agama atau politik?
    Kok campur aduk???

    Sejarah adalah kenangan masa lalu.
    Gak hanya Majapahit, semua dinasti dan semua bangsa pasti ada pasang surut. Sesudah siang, pasti akan diganti malam.

    Agama adalah hak masing2 individu. Kok bisa2nya ada yg menyalahkanKanjeng Prabu Brawijaya masuk islam. Beliau lebih tahu dari kita, karena beliau pelakunya.

    Tentang politik, usah dihubungkandg agama. Jk agama terbukti baik, pasti bisa bertahan. Sedangkan pergolakan kekuasaan yg terjadi di masa lalu, jelas cuma rebutan kekuasaan antar keluarga.

    Jadi, BIJAKLAH menyikapi.
    Majapahit toh sudah usai, kita berusaha utk masa depan Indonesia yg lebih baik.

    Mulai dari diri masing2.

  • mosley

    DONGENG KOK DIPERCAYA.. FAKTA SEJARAH HARUS BERDASARKAN ARTIFAK MAUPUN DATA MANUSKRIP
    ~~~ SEJARAH TDK BISA BERDIRI SENDIRI KRN PASTI ADA JUGA CATATANNYA DINEGARA SAHABAT & TIDAK BISA BERDASARKAN MITOS, DONGENG, LEGENDA, HIKAYAT ATAU TAFSIR *MIMPI* tulisan dibawah ini semoga bermanfaat…
    http://www.facebook.com/groups/327670604460/permalink/10150680002884461/

  • Anonym

    Saudari Damar Sasangka, anda menulis berdasarkan atas persepsi anda, dan tidak dalam kerangka hegemoni asing (dinasti Monggol dan China), sehingga jelas sangat subyektif, yang amat sangat sekali. Kalau kita mencermati sejarah dunia, bahwa hancurnya Majapahit sebetulnya karena setting dari Dinasti-dinasti kerajaan Monggol yang ingin menaklukan Asia termasuk Nusantara. Dan karena begitu tagguhnya Singgorasi (zaman Kertanegara, sebelum Majapahit) dan Majapahit (setelah R. Wijaya), sehingga dinasti Monggol berupaya meruntuhkannya dari dalam, dengan memberinya UPETI putri China (cuantik sekali, sehingga R. Bhravijaya, tergiur kesengsem tak bisa menolak) dan moment inilah yang ditunggu-tunggu dan tidak disadari oleh raja yang wawasannya politiknya tertutup oleh nafsu libido (buktinya istrinya banyak selain permaisuri dari China yang menurunkan R. Patah Jim-Bun Ningrat, sebagai pewaris syah dari permaisuri syah yang, tentunya tidak rela jika haknya disingkirkan lagi seperti ibunya yang dibuang ke adipati Srivijaya di Palembang, namun ada juga yang dari Champa yang Muslim, dan ada yang dari perempuan lokal dan juga dari kepulauan Banda). Jadi, memang nampak upaya “Concoerant” (penaklukan) oleh asing, namun memang kelemahan dalam hal libido raja Bhravijaya V ini, betul-betul perangkap, untuk menaklukan kerajaan Maritim Nusantara yang dulunya tagguh dikomandani Gadjah Mada dan Hayam Wuruk hanya sebagai perisai pembenaran saja untuk membentuk kekuatan kerajaan maritim Nusantara. Pak Damar, hanya meninjauan sejarah kualitatif dan tidak sejarah kuantitatif, sehingga jelas seperti PROVOKASI seolah Islam penyebab kehancuran Nusantara. Mohon tulisannya lebih netral dan tidak provokatif.

  • cyntia

    Klo mnurutku ceritanya benar2 nyata dan apa adanya,,,Banyak yang panik rupanya,terkuak sudah apa yg sebenarnya,,suami sy org jawa dan sy sgt senang dia menghormati skali leluhurnya serta sejarah majapahit ini malah yg sy baca di buku sabdo palon sbenernya sunan kalijaga itu memasukkan pandan spy harum pd bambu itu,jd sbenernya air di bambu itu tetaplah kotor dan berbau,jd prabu brawijaya mau pdh agama klo air dibambu itu berubah jd wangi,,well,,terlepas apapun itu, sikap putri campa dan raden patah tidak patut di contoh,,

  • D W

    Mendapatkan tahta dengan cara yang tak pantas, anak durhaka itu pastilah sampai ajalnya dihantui rasa bersalah, kesalahannya bukan hanya pada ayah dan keluarga besarnya tapi terhadap masa depan bangsa.

  • Gusti Ngurah

    Kehancuran Nusantara memang diawali dari runtuhnya Majapahit itu.
    Satu contoh sekarang Lumpur lapindo yang tak knjung surut,malah bertambah besar.Ulama ulama di daerah sana sempet dateng ke Bali kecamatan Gerokgak kabupaten BUleleng Bali.Mereka mendapat bisikan bahwa didaerah kami ada sesepuh kami yang bisa menyurutkan lumpur lapindo.Sesampainya mereka didesa kami dan TANGKIL ke Griya/rumh IDA LINGSIR. dijawab lah disana,lumpur itu akan surut jika kalian mau kembali ke majapahit,dan saya yang akan kesana sekarang,jikalau lumpur tersebut tidak surut,kepala saya jadi taruhannya. namun apa yang dikatakan ulama ulama tersebut,mereka malah pergi tidak memenuhipermintaan itu. itulah satu bukti akan kebenaran cerita diatas

  • adi praatow

    Gak usah bertele tele.dan gak usah munafik
    !
    Islam itu agama monoTheis.diluar itu,sesat.Kafir.dan haruslah di hwncurkan pengikut2nya.hukumnya,sah.halal 100%.nyawa manusia tdk ada harganya bila sdh di tuding sbgai kafir.kenapa begitu? Krna menganggap apa yg dianutnya itu adlh paling dari yng benar.jangankan orang lain,saudara sendiri.orang tia kandung.halal dibunuh.krn KAFIR.

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>