Saya tidak perlu berpura-pura senang menyambut datangnya bulan Ramadan hanya untuk menyenangi kalangan tertentu atau karena ingin dikatakan sebagai pribadi yang berjiwa toleransi. Saya hanya mengatakan jika benar-benar pantas untuk saya katakan. Bila saya mengatakan wanita itu cantik, itu karena memang ia cantik menurut saya. Jika saya mengatakan ia seksi berarti menurut penilaian saya ia benar-benar seksi. Walaupun mungkin sebagian gadis akan mengatakan saya tipikal pria penggoda yang memiliki jutaan rayuan gombal. Saya tidak perduli. Sebab ketika saya jujur kepada diri sendiri, saya telah memberikan penghormatan kepada diri saya sendiri. Ketika saya mengatakan cantik kepada seorang wanita, saya sebenarnya telah melakukan penghormatan kepada diri saya sendiri.
Bila saya berpura-pura gembira menyambut datangnya bulan Ramadan, maka saya telah membohongi diri sendiri. Bagaimana kita bisa menyebut diri kita sebagai seorang terhormat jika di dalam hati, kita tahu bahwa kita tidak menghormati diri sendiri. Bagaimana orang lain mau menghormati kita, jika kita saja tidak dapat menghormati diri kita sendiri.
Dulu aku percaya kepada mitos yang mengatakan bahwa Ramadan merupakan bulan keberkahan penuh kegembiraan. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar (SD) saya telah penuh berpuasa selama 1 bulan. Namun lambat laun kejanggalan itu semakin tampak nyata. Bulan Ramadan adalah bulan tersial di antara bulan-bulan lainnya.
Di setiap bulan Ramadan saya menyaksikan banyak bentuk kekerasan mengatas-namakan agama, yang dilakukan oleh ormas radikal. Berteriak nama tuhan, memukuli, menutup paksa warung yang kebetulan buka di siang hari. Pernahkah terpikir oleh mereka bahwa warung kecil itu merupakan mata pencaharian orang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya? Sedangkan disisi lain, harga sembako di bulan puasa melejit tajam.
Saya melihat di bulan Ramadan tingkat pencurian kian meningkat dari bulan-bulan sebelumnya. Mulai dari pencuri sandal di masjid, pencopet yang berkeliaran di stasiun kereta api, terminal bus, hingga pencurian yang menggasak isi rumah. Biasanya pencuri ini memanfaatkan waktu di saat solat tarawih dan subuh ketika rumah dalam keadaan kosong. Sebagian pencuri yang tertangkap mengaku nekat melakukannya demi memenuhi kebutuhan berlebaran atau ongkos pulang kampung.
Semakin dewasa, aku mulai berpikir jangan-jangan hari raya keagamaan itu memancarkan aura iblis. Sebab saya ingat betul ketika kecil, sebagaian orang datang ke rumah dengan tujuan meminjam uang kepada ibuku demi memenuhi kebutuhan berlebaran mereka. Begitu tragisnya-kah sebuah perayaan hari raya sampai ada yang nekat mencuri, merampok, bahkan berhutang, yang hutang itu sendiri sebenarnya sulit untuk mereka bayar.
Saya pernah mengatakan bahwa; agama, ilmu pengetahuan, maupun ajaran lainnya adalah mediasi pembelajaran bagi kita untuk dapat memahami hubungan kita dengan diri sendiri, hubungan kita dengan orang lain, dan hubungan kita dengan sesuatu yang lebih besar (semesta alam). Hanya dengan inilah kebijaksanaan dapat tercapai.
Di bulan Ramadan orang yang berpuasa secara tidak tahu malu meminta untuk dihormati. Sedangkan mereka sendiri tidak mau menghormati orang yang tidak berpuasa, bahkan diri mereka sendiri. Mulai salat Isa hingga berakhir salat tarawih dan kemudian dilanjutkan jam 2 dini hari terdengar suara hingar-bingar dari toa masjid.
Di sini saya melihat ritual puasa telah gagal sebagai mediasi dalam memahami hubungan diri sendiri dengan orang lain. Mereka tidak mau perduli, apakah teriakan mereka telah mengganggu masyarakat sekitar yang tidak berpuasa. Apakah teriakan sialan itu tidak mengganggu tidur lelap mereka yang tidak berpuasa di malam hari. Di bulan Ramadan seolah-olah dunia ini milik mereka. Mereka telah menggantikan nurani mereka dengan ego pengharapan akan pahala yang berlipat ganda.
Di siang hari semua warung makan dipaksa berselimut atau ditutup sama sekali. Tempat-tempat porstitusi ditutup selama bulan Ramadan. Alasannya sebagai bentuk penghormatan kepada yang berpuasa. Di sini timbul paradoks logika. Jika bulan Ramadan adalah sebagai bentuk latihan menahan hawa-nafsu, tapi mengapa di sisi lain godaan yang dapat memancing hawa nafsu ditiadakan. Sama saja seperti kita ujian soal, namun semua soal ujian tersebut ditiadakan. Jadi apa yang mau diuji. Kita hanya berpura-pura melaksakan ujian, kemudian berpura-pura lulus mengerjakannya. Secara tidak langsung kita telahmembohongi diri kita sendiri. Berarti ritual puasa telah gagal sebagai mediasi pembelajaran bagi kita dalam memahami hubungan dengan diri sendiri.
Dulu aku percaya jika di bulan Ramadan semua setan diikat.Namun sekarang aku mulai berpikir. Jangan-jangan di bulan Ramadan yang diikat justru setan-setan yang baik, sedangkan setan-setan jahat bergentayangan.
Aku tidak dapat berpura-pura senang menyambut bulan Ramadan, jika bulan tersebut bulan paling sialan di antara bulan-bulan lainnya. Aku tidak dapat berpura-pura membanggakan bulan Ramadan, jika bulan tersebut penuh dengan kemunafikan.
Menurut saya yang lebih pantas diberikan apresiasi lebih adalah orang-orang yang tidak berpuasa. Mereka lebih berat mendapatkan ujian dibulan Ramadan, daripada orang-orang yang berpuasa. Mereka berusaha bersabar mengendalikan amarah ketika mereka terbangun di malam hari. Mereka bersabar mencari warung makan di siang hari yang sulit untuk ditemui. Walaupun sulit, mereka mencoba memahami keadaan yang tengah terjadi di sekitar mereka.
Saya mengucapkan, “Selamat menjalankan ibadah kepada mereka yang tidak berpuasa. Semoga amal ibadah Anda diterima di sisi-”Nya” !!






ijin share ya Pak…..terima kasih
Setuju banget, kl saja lebih banyak orang yang berani bersikap kritis seperti ini mungkin Indonesia sudah makmur sejak dahulu. Sekarang dengan mudahnya pemerintah/pemuka agama mengajarkan kita untuk tabah dan tawakal menghadapi kesusahan hidup sementara mereka terus saja korupsi dan menghalalkan segala cara untuk mengumpulkan kekayaan. Kapan kita mampu berlaku kritis terhadap apa yang telah menimpa bangasa ini sejak zaman Majapahit.
Betul…… !!! jadi intinya puasa itu menyuruh orang untuk tidak boleh “menggoda”,walaupun kata menggoda sebetulnya tidak tepat, karena orang lain memang mengerjakan kegiatan sehari2nya diluar bulan puasa sekalipun. Saya teringat tetangga saya yang beragama Budha, sekali waktu ibunya sedang berpuasa, hanya makan nasi putih saja, tapi dia tetap masak seperti biasa untuk keluarga nya. karena melawan hawa nafsu makan itu, yang membuat dia merasa berpantang. apalah artinya puasa(berpantang) makan nasi putih , kalau memang diatas meja cuma ada nasi putih ???
hehehe…kayanya cuma ada di indonesia aja.negara tetangga aja yg notabene mayoritas islamnya justru menghormati yg ga puasa..ga perlu suara pengeras di masjid buat ingatin waktu sahur pagi2…puasa itu masalah siapa yang yg menang dan kalah…jiwa atau fisik yg menang..kalo cuma nahan laper ma haus aja cm fisik yg menang..apa gunanya? klo tdk bisa nahan nafsu otomatis sudah kalah kita..karena puasa tak sebatas “menahan” lapar,haus atau tidak melakukan hal2 yg nyerempet dgn dosa…kalo bisa justru jangan sampai orang tahu kalo kita puasa meskipun kita benar2 puasa..
Tulisan yang memikat dengan penggelaran kejujuran hati yang dihargai. — Saya memandang shalat dan puasa adalah produk dari cuci otak sedari kecil.
Tidak ada yang salah dengan perangkatnya..Sholat, puasa, zakat adalah perangkat ibadah dan bukan perangkatnya yg salah, karna perintah itu datangnya langsung dari ALLAH SWT.. yang menjadi salah adalah mengunakan perangkat ibadah ini untuk kesewenang2an yg mengatas namakan ibadah..Rasulullah yg di utus mengajarkan perangkat ibadah ini tdk pernah sekalipun mengajarkan kese-wenang2an ini, jd mereka adalah orang2 yg tidak mengetahui* (baca: tidak berilmu).. kalau mereka mau belajar dari sejarah Rasulullah maka mereka tdk akan bertindak seperti yg tertulis di artikel ini.. Wallahualam
Ini cerita ngarang !… di kampung saya biasa aja tuh gak ada yang ngerasa ngeri kalo dateng bulan rmadhan, bahkan keturunan china sekalipun. Tetep bisa jualan makanan, minuman, kelontong, metrial dsb. Semuanya tenang-tenang aja tuh padahal gak jauh bgt dari Jakarta yg katanya banyak keributan.
tidak terjadi di kampung anda bukan berarti ini cerita ngarang…tidak tjd di kampung anda bkn berarti tdk tjd jg di kampung2 lain. Jakarta luas bung…gak cm selebar kampung anda!
Ngarang? Gak mau mengakui kenyataan kah kamu?
Di siang hari semua warung makan dipaksa berselimut atau ditutup sama sekali. Tempat-tempat porstitusi ditutup selama bulan Ramadan. Alasannya sebagai bentuk penghormatan kepada yang berpuasa. Di sini timbul paradoks logika. Jika bulan Ramadan adalah sebagai bentuk latihan menahan hawa-nafsu, tapi mengapa di sisi lain godaan yang dapat memancing hawa nafsu ditiadakan. Sama saja seperti kita ujian soal, namun semua soal ujian tersebut ditiadakan. Jadi apa yang mau diuji. Kita hanya berpura-pura melaksakan ujian, kemudian berpura-pura lulus mengerjakannya. Secara tidak langsung kita telahmembohongi diri kita sendiri. Berarti ritual puasa telah gagal sebagai mediasi pembelajaran bagi kita dalam memahami hubungan dengan diri sendiri.
paragraph yang paling menarik
Ya ya ya, emang sih, susah bagnet ya jadi minoritas. Mungkin umat islam yang ada di belahan dunia barat sono juga pasti banyak yg ngeluh2 kyk gini. Selamet deh buat para orang kafir yg idup di negara mayoritas Islam gini. Eh tapi itu nggak berlaku buat kota2 yg udah dikuasain cina kok, seperti Jakarta (selaen selatan), bandung (pusat kota bandung), surabaya (kyknya smua bagian), nah di tempat2 itu yg udah dikuasain cina2 kafir, orang2 kafir enak tuh idup di situ. Buktinya aja tadi di bioskop kyknya saya doang yg puasa, orang2 laen enak aja tuh pada pacaran dan minum2 soft drink (asumsi sih kafir semua), restoran2 di mall itu juga nggak ditutup tirai sama sekali seperti usulan pemerintah. Nah jadi buat anda orang2 kafir ya udah, itu beberapa saran dari ane tempat tinggal yg cocok bagi anda, tempat2 yg udah dikuasain Cina2 kafir. Jelas aja kan, kalo kyk kasus di bekasi ormas2 islam menolak dibangunnya gereja, soalnya mereka taqkut daerah mereka juga nanti bakal diinvasi (dikuasain) kafir2 pendatang (pendatang luar pulau/luar negeri) yang duitnya pasti lebih bejibun dari pada masyarakat lokal. Lagian kan udah ada tuh daerah2 yg diinvasi cina kafir ya kyk kelapa gading/glodok/pluit/dkk lah banyak pokoknya.
Iri tanda tak mampu
ini mah bukan masalah minoritas mayoritas, tapi masalah syrikkk…hehehe
Di bulan Ramadhan harga bahan makanan naik gila tentu karena permintaan melonjak. Logikanya, yang puasa malah makan lebih banyak.
Intinya puasa apapun adalah melawan hawa nafsu.
Perintah Nabinya orang Islam : Makanlah ketika kamu lapar, BERHENTILAH SEBELUM KENYANG”.
Perintah 2 : “Berpuasalah, niscaya kamu SEHAT” (apakah makan banyak itu sehat?)
Jadi, kalau TS menganggap Ramadhan bulan sial, ane gak menyalahkan. Orang Islam di Indonesia sangat jauh dari kitab sucinya dan Nabinya. Lihat aja korupsinya, semua korruptor adalah orang-orang yang menuruti hawa nafsunya.
Marah sama ane? Silahkan kalian mengaji Al Quran, bukan sekedar MEMBACA Al Quran.
setuju banget dengan anda
Banyak kok daerah2 di kota2 dunia yg di “invasi” pendatang non-lokal. Bukan hanya Jakarta dgn Kelapa Gading / Glodok / Pluit dll. atau kota2 lain di Indonesia. Paris juga ada Chinatown, Marocco town, Algeria town, Munich juga ada daerah yg banyak orang Turki nya, Dearborn di Michigan USA, malah jadi kota Arab pendatang, Sydney di daerah tertentu ( sy lupa ) juga bnyk orang Indonesia nya. Mau tinggal dimana kek, yg penting belinya pakai duit. Balik ke topik tulisan, biar saja yg non-puasa mau minum makan kek, pacaran kek, dengar musik kek, nonton kek, nyembah patung kek, selama tidak memaksakan kehendak kepada yg puasa atau non-golongan nya. Memang susah kalau katanya agama rahmatan lil-alamin selalu merasa yg benar, mencap non-Islam kafirun, minta di hormati oleh orang “kafir” padahal kelakuannya malah malu2in. Atau memang tidak punya rasa malu ?
Sudah waktunya bangsa ini membebaskan diri dari cuci otak gaya arab. Arab2 itu sangat berhasil menjajah mental dan mencuci otak bangsa ini.
Penting untuk mengingat bahwa pesan penghormatan bagi kebebasan beragama juga tersebar di banyak tempat dalam al-Qur?an, di antaranya: ?Tidak ada paksaan dalam agama? (2:256); ?Sesungguhnya orang-orang yang beriman (kepada yang diwahyukan kepadamu, Muhammad), dan orang-orang Yahudi, Nasrani, serta Sabiin?siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhan mereka, dan tak perlu ada rasa takut pada mereka, dan tidak perlu mereka bersedih? (2:62). http://id.qantara.de/webcom/show_article.php/_c-769/_nr-49/_p-1/i.html
Setuju dengan ulasan anda. Memang tidak perlu meminta penghormatan yg berlebih untuk orang yg berpuasa. Tapi anda dulu berpuasa? Saya kok gak yakin ya? Dari ulasan dan ucapan anda sepertinya anda tidak pernah berpuasa seumur hidup. Dari tutur kata dan bahasa anda, anda menggambarkan bahwasanya anda tidak lebih baik dari orang2 yang anda kritik. Semoga Tuhan mengampuni dan memberi jalan yang terang bagi anda.
setuju sekali dengan urain anda dan untuk Yang koment diatas saya, saya yakin tipe muslim yang menganut syndrom seperti orang-orang yang selalu menuduh dan merasa yakin dengan tuduhannya… semoga anda koreksi diri
Artikel diatas SARA bangat ga ya?,minta pendapatnya dong,masalahnya gara2 nih artikel ada yang menyebarkan by mail,jadi terjadi sedikit keributan dilingkungan kerja saya antara suatu kelompok dengan kelompok tertentu,waduh pokoknya riwet deh,saya kwatir terjadinya perpecahan antara pekerja A,B dan C..
menerut saya kata ‘kafir’ pun, udah berbau SARA.
soal SARA apa tidak,tidak penting. Yang lebih penting apa isinya artikel ini benar apa tidak? Kalau benar dan SARA, tetap harus diterima. Kenyataan itu pahit tapi perlu diterima dan dihindarkan berulang, kalau cuma mengeluh SARA SARA tapi mengulang ulang tindakan tidak benar artinya yah memang orang yang tidak beres…
yowislah…
Mohon ijin untuh share di wall FB saya . terima kasih
Seperti kata mas Tukul Arwana…”Hormatilah orang yang tidak puasa…”
Artikel bagus dan ditulis sangat logis. Memang kenapa kalau bulan puasa banyak kekejaman dan tak ada toleransi ? Kenapa yang nggak puasa malahan disiksa ? Aku setuju banget dengan tulisan yang sangat logis dan membuat orang juga ingat bahwa puasa adalah ibadah. Puasa bukan maksudnya sok-sokan dan menonjolkan puasanya ! Puasa bukan melampiaskan nafsu menunjukkan kekuasaan seperti yang ditonjolkan ormas garis keras yang beryindak barbar. Selamat berpuasa dan menahan godaan !
Fair saja apa yang ditulis itu benar, tetapi ada yang biasa saja yang tidak mengganggu tapi jelas juga banyak yang sok Rambo…jangan sampai bulan suci bulan penuh berkah menjadi bulan penuh Rambo…menjadi bulan paling sialan bagi tukang becak, mbok-mbok jual nasi kucing, sopir angkot. Semoga Islam dan Non-Islam semoga saling akur dan memahami. Selamat Rambodhan…eh..sorry Ramadhan maksudku…benar-benar menjadi berkat bagi dua-duanya yang suci (Islam) dan yang gelepotan (Non-Islam)….
Adanya FPI sebenarnya adalah politik dari pemerintah zaman pemerintahan yang menggunakan preman untuk dimanfaatkan. Jadi nggak bisa dibiarkan , apalagi menggunakan alasan Puasa untuk mengaduk-ngaduk umat beragama lainnya. Sekarang muncul FBR – Forum Betawi Rempug yang menginginkan menjaga keamanan. Preamanisme harus diberantas dan bukannya makin besra kepala mau ngatur segala bidang , padahal preman jenis Mafia kampung ! Jadi Bulan Ramadhan jangan disalah gunakan dan artikel diatas sangat bagus dan sangat menyentuh umat beragama lainnya ! Negara harus bebas dari permainan menggunakan agama untuk premanisme agama ! Wassalam,
Terbentuklah bangsa ini menjadi “centheng ngArab” yang lebih ngArab daripada arabnya sendiri..
mendingan yang ga puasa hormat sama yang puasa. Nah yang puasa harus lebih hormat sama yang ga puasa, namanya juga puasa.. apa yang mau dimenangkan kalau ndak ada yang diperjuangkan? – salam, orang yang hanya ingin berpuasa tanpa diketahui orang lain kalau dia sedang berpuasa. Hey tidak hanya Islam toh yang berpuasa?
Dari banyaknya komentar dan kegelisahan masyarakat akan ulah preman agama, tampaknya seharusnya pemerintah bertindak tegas dan hukum harus berlaku bagi siapa saja. Banyak kejadian yang dipicu peraturan menteri , tidak tegasnya pemerintah serta pengadilan yang bobrok sehingga kelompok preman agama bertindah sesukanya. Disinilah perlunya penegakan hukum serta menghilangkan kerancuan mengenai ulah preman agama. FPI , FBR, FUI dan beberapa preman agama bertindak menegakkan Ngarabisasi : ini nggak boleh terjadi terus menerus. Banyaknya komentar artikel ini menunjukkan betapa masyarakat tidak menyukai budaya Ngarabisasi. Puasa jangan dikotori preman agama !
Justru pemerintahlah yang sembunyi-sembunyi sambil mendorong-dorong preman agama (Islam) untuk bertindak beringas, kemudian tentara atau polisi datang mengamankan dan orang non-Islam sangat terkesan terhadap Polri & TNI sebagai pelindung. Padahal merekalah yang membiarkan dan yang mendorong anarki, ingat peristiwa Mei 1998. Orang yang yakin agamanya berasal dari Gusti Allah tidak minta dihormati karena tindakannya akan menimbulkan rasa hormat dari sesama, tidak takut diserang dengan opini orang, sebuah buku, karya film, paham lain (komunis, atheist, agama lain dll.) Hai…orang non muslim hormatilah dengan tulus hati tanpa diminta apalagi diminta untuk menghormati orang yang puasa maupun yang tidak. Balaslah kebringasan mereka dengan pengertian dan rasa kasihan karena mereka hilang rasa kemanusiaannya yang tinggal hanyalah kebencian dan fanatisme. Yakinlah apa yang anda percayai dari Gusti Yang Maha Pengasih dan tak akan satu kekuatanpun mengalahkannya. Selamat menghormati dengan tulus hati, jangan berkeluh kesah!! George T
Pengikutnya hanyalah KORBAN ajarannya. Maka dari itu… JANGANLAH kita salahkan pengikutnya 100%… TIDAK ADIL ITU NAMANYA !!!
Jadi manusia jangan goblok. Kalo ajarannya sangat begok dan cuma bikin berisik saja tanpa makna, janganlah di taati. Menentukan awal puasa saja sudah repot dan kelihatan tidak becus
Memang ritual kebodohan itu menunjukkan kualitas mereka yang sebenarnya : barbar. Jadi kemunduran Indonesia ini dikarenakan masyarakatnya dididik utk jadi bangsa bar-bar. Tidak heran bila korupsi, perselingkuhan, perzinahan, premanisme, kekerasan, dsb banyak terjadi disini. Tidak lain tidak bukan itu semua disebabkan karena memeluk ajaran bar-bar tersebut. Dan memang tidak bisa dipungkiri bahwa memang ajaran itu lebih dekat ke ajaran mahluk asyura, barangkali malah jin yang dikira malaekat.
Terlalu berlebihan bila Komentator No. 28 mengatakan bahwa ajaran Islam itu barbar, alias ngaco belo. Seperti pernah dikatakan oleh Habe bahwa dia akan mengedit Alquran sehingga tinggal ayat-ayat damai dan kasih yang tinggal, maka Islam itu bisa menjadikan umatnya cinta damai dan penuh kasih kepada sesamanya tanpa pandang bulu. Islam menjadi beringas ketika dipahami sebagai perintah politik untuk menguasai dunia. Islam menjadi beringas ketika ayat-ayat Mekkah lebih mengemuka dari pada ayat-ayat Medinah. Islam menjadi beringas ketika penganutnya merasa dirinya dan ajaran yang dianutnya paling benar dan orang lain yang tidak seiman itu kafir dan dihalalkan darahnya. Islam jadi beringas ketika ditunggangi kepentingan-kepentingan politik dan golongan tertentu. Islam jadi beringas ketika ditafsirkan secara harfiah oleh kaum Wahabi dkk. Islam jadi beringas ketika ilmu menggapai sorga tidak mampu bersaing di dunia nyata untuk menghadirkan kesejahteraan di sini dan sekarang selagi masih hidup dengan ilmu dunia yang praktis dan tidak terobsesi dengan janji surga nanti setelah mati, tapi menggeluti hidup yang nyata ini dengan ilmu hidup bukan ilmu untuk nanti sesudah mati. Islam jadi beringas ketika kemampuan otak manusia dipasung dengan fatwa ini fatwa itu yang tidak berguna untuk hidup di dunia yang nyata. Marilah jadikan Islam yang damai dan penuh kasih. Bisa?
kamu tahu tripitaka, atau the bible ? hey kitab itu juga baik, malah lebih baik.. pernah baca? saya rasa malah al-quran yang bisa dibilang seluruh cakupannya mengambil dari perjanjian lama the bible (pernah dengar sejarahnya ? ya si Muhammad yang ngambil.. coba cross cek) Jadi ya.. gimana ya ga perlu ngebela2 iman lah kayak (atau memang benar) imanmu ngga ada.. kita ga perlu ngebela Tuhan atau setidaknya kepercayaan kita, kalau memang kepercayaan tersebut lebih kuat (besar,hebat, dsb) dari kita.. you get it don’t you
won jowo, wong maduro, sundo, minang, lombok, batak, sulawesi kok harus mengikuti arab. Kalo orang baik masuk surga, para penjahat pendosa masuk neraka. contoh bunda teresa, bill gates masuk surga. hitler, pengebom norway, amrozi, harto, gayus masuk neraka. emang sang pencipta alam guoblok dg memasukkan imam samudra ke surga, dan memasukkan bill gates, james watt penemu listrik ke neraka hanya krn sholat nya cuma 0 x sehari (hampir 5x sehari). jangan kaget kalo para penyebut al fatehah masuk neraka nanti
Seandainya artikel ini dimuat di buletin kampung saya di Kemang-Ampera-Pejaten-Pasar Minggu dan sekitarnya, lalu (berharapadamukjijatmencerahkenjidatmereka) pada sadar bahwa yg namanya ibadah mesti melihat kepentingan penduduk DKI lainnya, tidak memacetkan jalanan, tidak seenak jidat menutup jalan negara dari ujung ke ujung sedemikian sehingga saya dan warga lain kebingungan cari carteran heli (lha wong akses keluar dan ke dalam nggak ada!), tidak menganggap semua orang tuli total, tidak memasang kelambu sepanjang pol tangan saat si uztad anu berceramah.. alangkah indahnya ramadhan ini. Hiks..
upsss, yakin lo dapat mencerahkan? wong banyak FPI FBR dan antek-anteknya yang benar-benar diBUTAKAN.. hey, DIBUTAKAN! ya sudah dibutakan, mau menerima pikiran orang lain aja belum tentu.. tapi memang masih mungkin sih. Bagi Tuhan nda ada yang mustahil, allahuakbar
Orang pintar minum tolak angin, orang bodoh gag bisa dibilangin….
Agama2 lain jg punya ritual puasa, tapi gak lebay ampe triak2, mengubah aturan2 yg ada, pamer sana sini, mengabaikan umat2 lain. Justru puasa diam2 aja dgn sgala godaan nafsu alami yg ada sehari2. Itu bru namanya puasa yg bsa dsebut kemenangan trhdp hawa nafsu dunia.
Tp gak smua muslim jg kok yg sperti itu. Ada sbagian jg yg udah memahami hakikat agama itu sndiri. Sdikit banyak kekritisan dan keterbukaan seperti artikel ini dan lainnya juga pasti ngefek ke pola pikir masyarakat kok. Pokoknya positive thinking aja. Salam peace.
setuju dengan yg diatas…..
knp harus memaksa??? sebagai umat manusia yang beriman sudah sewajibnya kita sling mengingatkan.. namun bukan berarti kita harus memaksa mereka…
yang mau puasa silahkan berpuasa…
yang mau dugem silahkan dugem…
yang mau shlt silahkan solat…
yang mau makan2 silahkan makan2…
saling menghargai dan jgn saling menganggu…
apapun yg kita perbuat pasti akan timbul suatu akibat… entah akibat yg baik atau buruk…. itu sesuai dgn apa yg kita lakukan…
arab bukan islam…..
islam itu agama….
kenapa agama islam di trunkan di arab??? kenpa tdk di eropa saja??? apakah negara arab sblm adany para nabi merupakan negara yang baik??? saya rasa tdk… malah arab merupakan negara yang penuh kegelapan…… kejahatan dimana2…pemekorsaan,perbudakan,pemabuk dan lain2…..
dan betul apa yg dikatakan oleh penulis…ramadhan buat saya mungkin bukan bulan yg membahagiakan….karena tempat kerja saya harus tutup selamaa 1 bulan penuh…tanpa cela!! dan mengenai para “preman2 berkalung surban” itu karena pernah berhadapan langsung dgn mereka…yg meminta menutup tempat kerja saya…bagi saya mereka bener2 otaknya tidak lebih pintar dari seekor keledai….dongo banget sumpahh….susah deh jelasinnya….
Saya bukan muslim, tetapi waktu saya dirumah makan waktu mw buka puasa, banyak sekali muslim yg tidak mengucap syukur waktu buka puasa..
Mereka lgsg menyantap ketika sudah mahgrib…
Apakah puasa itu menjadi paksaan?
Bukannya menjadi sebuah penghayatan..
maaf aye cuma mau koment…
kyaknya FPI yang ngaku2nya org islam n rajin shlat ataupun ibadah… FAKTA menyatakan mereka adalah org2 yang IMANnya lemah… mengapa demikian???
bulan puasa rumah makan dilarang buka… BERARTI imannya kgk kuat lih org makan….
bulan puasa razia cwex sexy…. BERARTi NAFSU FPI besar disini lbh keliatan lgi IMANny masih tipis……
satu lagi… org FPI terlalu yakin kalau tidakkannya benar 100%… n dengan begitu mereka akan masuk SURga…. karena sudah menghapus SEtan dr MUKA bumi.. tapi setau saya terkadang SETAN tersebut dpt berwujud seseorang yang bergaya alim tapi busuk kelakuannya….
stidaknya umat islam harus introspeksi atas kegagalan mereka dlm dakwah, banyak umat lain yg berkeluh kesah n komplain atas kebisingan n hiruk pikuk ktk ramadhan datang. pdhal nabi tidak mngajarkan umatnya u brlebih2an, nabi tdk mnganjurkan umatnya mengganggu umat lain yg brbeda, ini bahan renungan u umat islam agar memperbaiki media dakwah dg lebih tenang, hening n damai karena itulah sesungguhnya hakekat ajaran rosul.
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya”. (HR Bukhari)
‘Suatu hari Nabi saw. mendengar seorang wanita tengah mencaci-maki hamba sahayanya, padahal ia sedang berpuasa. Nabi saw. Segera memanggilnya. Lalu beliau menyuguhkan makanan seraya berkata, “Makanlah hidangan ini!” Keruan saja, wanita itu menjawab, “Ya Rasulullah, aku sedang berpuasa.” Nabi saw. Berkata dengan nada heran, “Bagaimana mungkin engkau berpuasa sambil mencaci-maki hamba sahayamu? Sesungguhnya Allah menjadikan puasa sebagai penghalang (hijab) bagi seseorang dari segala kekejian ucapan maupun perbuatan. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang lapar”. ( HR Bukhari)
Dengan hadits tersebut, sebenarnya Rasulullah Saw. ingin menyadarkan kaum Muslim tentang hakikat puasa yang sebenarnya.
Istilah “shaum” merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang mempunyai arti “menahan, mengekang atau mengendalikan (al-imsak) sedang istilah puasa adalah kata serapan dari bahasa Sansekerta yang mempunyai arti menyiksa.Dari pengertian ini, terlihat dengan jelas perbedaan arti dari kedua istilah itu. Tetapi dalam bahasa Indonesia, kedua istilah itu diartikan sama.
Arti puasa yang sebenarnya adalah menahan diri atau mengendalikan dari apa saja, termasuk dari aktivitas inderawi, salah satu contohnya adalah puasa berbicara. Hal ini dapat disimak dari ucapan Maryam tatkala dirinya diberondong pertanyaan perihal kelahiran putranya, ‘Isa al – Masih.
“ …. Sesungguhnya aku bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun hari ini (QS Maryam 19 : 26)
Dalam ayat ini, Maryam menggunakan kata puasa (shaum) untuk sikap yang diambilnya, yakni tidak mau berbicara dengan siapa pun.
Sementara itu, menurut istilah fiqih, puasa berarti “menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri sepanjang hari sejak terbit fajar hingga terbenam matahari”.Tampaknya puasa dalam pengertian seperti itulah yang dipahami sahabat wanita yang ditegur Nabi Saw. Memang, tidak terlalu salah bila hal itu didasarkan pada ukuran fiqih. Sebab, sebagaimana diketahui, fiqih hanya mengatur persoalan-persoalan lahiriah atau esoteris semata. Menurut fiqih, puasa yang demikian itu sah, sekalipun hanya dengan menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Dengan demikian, kewajiban puasa seseorang pun telah tertunaikan. Namun, ini tidak memadai bila diukur dengan menggunakan parameter Sunnah Nabi. Oleh karena itu, kaum Sufi (‘urafa’) membagi puasa dalam beberapa tingkatan.
Menurut kaum Sufi puasa dapat dipilah dalam tiga kategori : puasa perut, puasa nafsu, dan puasa qalbu. Puasa perut adalah puasa dalam pengertian para ulama fiqih (fuqaha). Puasa jenis ini hanya sekadar menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri dan tidak lebih dari itu, sementara mata, telinga, lidah, dan anggota tubuh lainnya tetap bebas tanpa kendali. Dalam terminologi Imam Al Ghazali, puasa seperti ini disebut puasa awam.
“Dalam khutbah menjelang bulan Ramadhan, Nabi Saw. dengan jelas mengatakan : “Peliharalah lidahmu, tundukan pandanganmu dari sesuatu yang matamu tidak dihalalkan melihatnya, dan palingkan pendengaran dari sesuatu yang haram untuk didengar telingamu” (HR Bukhari)
Karena itu, puasa perut tentu saja tidak bernilai di mata Allah dan tidak akan menghasilkan apa pun. Paling banter, yang dihasilkannya hanyalah lapar dan dahaga saja.
“Alangkah banyaknya orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya, selain rasa lapar dan dahaga semata” (HR An Nasa’i)
Tingkatan puasa yang lebih tinggi dari puasa perut adalah puasa hawa nafsu. Imam Abi Thalib menegaskan, “Puasa hawa nafsu lebih baik dari pada puasa perut”. Puasa hawa nafsu adalah pada dasarnya adalah puasa seperti yang didefinisikan para ulama fiqih, tetapi dibarengi dengan upaya mengendalikan seluruh aktivitas inderawi dan anggota tubuh dari segala yang diharamkan Allah.
“Apabila engkau berpuasa hendaknya telingamu berpuasa dan juga matamu, lidahmu dan mulutmu, tanganmu dan setiap anggota tubuhmu”. (Al Hadits)
Dalam sebuah riwayat, misalnya disebutkan juga, bahwa Abu Abdillah r.a. (Imam Ja’far ash-Shadiq) berkata, “Jika engkau berpuasa, maka puasakan pula pendengaran, penglihatan, dan kulitmu. Janganlah samakan hari puasamu dengan hari berbukamu”.
Dalam riwayat lain, Imam Ja’far ash-Shadiq r.a mengatakan, “Jika engkau berpuasa, maka kendalikan pendengaran dan penglihatanmu dari segala sesuatu yang diharamkan. Tahanlah seluruh anggota tubuhmu dari segala keburukan. Tinggalkan perilaku yang dapat melukai perasaan pelayanmu, dan bila mampu, diamlah dari segala pembicaraan, kecuali untuk mengingat Allah. Jangan jadikan hari-hari puasamu seperti hari-hari fitrahmu”.
Puasa hawa nafsu (Imam Al Ghazali menyebutnya puasa khusus) memang bukan pekerjaan mudah. Untuk menjalankan puasa itu, selain niat dan tekat yang kuat, diperlukan juga pertolongan dari Allah.
Tingkatan puasa terakhir adalah puasa qalbu. Inilah tingkatan puasa paling tinggi. Sayidina Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Puasa qalbu adalah menahan diri dari segala pikiran dan perasaan yang menyebabkan terjatuh pada dosa”. Puasa qalbu jauh lebih baik dari puasa hawa nafsu. Sementara itu, puasa hawa nafsu lebih baik daripada puasa perut. Puasa qalbu dalam pandangan Sayidina Ali identik dengan puasa khushush al-khushush menurut Imam Al Ghazali. Inilah gabungan puasa jenis pertama dan puasa jenis kedua plus “puasa dari segala kecenderungan yang rendah dan pikiran yang bersifat duniawi, serta memalingkan diri dari segala sesuatu selain Allah: (Ihya’ ‘Ulumiddin, 1 : 277). Dalam tingkatan ini, puasa sudah dianggap batal hanya lantaran pikiran tertuju kepada sesuatu selain Allah. Karena pada waktu kita melakukan puasa qalbu atau puasa khushush al khushush saat itu kita sedang bertemu dengan Allah.
Demikianlah tingkatan-tingkatan puasa dalam pandangan kaum Sufi. Sebuah pertanyaan menarik segera mengemuka : Puasa tingkat manakah yang mempunyai kemungkinan besar mencapai tujuannya seperti dinyatakan Al Qur’an? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya dijelaskan terlebih dahulu apa yang menjadi tujuan puasa.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”. (QS Al Baqarah 2 : 183)
“Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya “. (HR Bukhari)
“Buatlah perut-perutmu lapar dan qalbu-qalbumu haus dan badan-badan mu telanjang, mudah-mudahanan qalbu kalian bisa melihat Allah di dunia ini”. (HR Bukhari)
Berdasarkan dalil tersebut, terlihat dengan jelas bahwa puasa yang diwajibkan kepada umat Islam merupakan kewajiban yang juga diperintahkan oleh Allah kepada umat sebelum Nabi Muhammad Saw. menjadi Rasul. Hal ini berarti ada persamaan antara puasa umat Islam dengan puasa umat sebelumnya, tetapi pertanyaannya, puasa yang seperti apa? Kemudian, dalil tersebut juga menjelaskan bahwa tujuan orang berpuasa adalah untuk menjadi orang yang bertakwa. Apakah yang dimaksud dengan takwa? Dalam dalil tersebut juga dijelaskan bahwa orang berpuasa akan mendapat kenikmatan yaitu kenikmatan saat berbuka dan saat bertemu dengan Tuhannya. Puasa yang bagaimanakah yang dapat menghantarkan kita bertemu dengan Tuhan kita?
Kata takwa merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yang arti adalah memelihara atau menjaga. Tujuan dari orang yang berpuasa adalah agar ia terus memelihara iman yang telah ditanam oleh Allah dalam qalbunya agar ketika ia meninggal dunia tetap dalam keadaan beriman kepada Allah. Apakah iman itu ? Pada hakikatnya iman itu adalah Nur Allah yang telah disaksikan oleh setiap orang yang beriman ketika ia bertemu dengan Allah untuk pertamakalinya. Pertemuan dengan Allah itu dapat terjadi lantaran ia melakukan ibadah puasa. Inilah yang dikatakan oleh Rasulullah Saw. bahwa ibadah puasa dapat digunakan sebagai sarana untuk bertemu dengan Allah, dan pertemuan tersebut merupakan pengalaman yang sangat menggembirakan bagi para pelaku puasa.
Banyak ulama yang berpendapat bahwa kegembiraan bertemu dengan Tuhan karena melakukan ibadah puasa, didapatkan nanti ketika kita berada di akhirat kelak, sehingga banyak umat Islam tidak peduli lagi dengan puasanya apakah dapat menghantarkan kepada pertemuan dengan Tuhan atau tidak. Padahal hadits tersebut tidak menjelaskan pertemuan dengan Allah itu nanti di “akhirat”. Akan tetapi justru pertemuan dengan Allah itu terjadi ketika orang itu berpuasa. Maka merugilah orang yang berpuasa tetapi tidak merasakan kegembiraan dan kenikmatan bertemu dengan Tuhannya.
“Berapa banyak orang melakukan puasa tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga semata”. (HR An Nasai dan Ibnu Majah)
Dengan tegas Al Hujwiri dalam kitabnya yang berjudul Kasyaful Mahjub mengatakan : “ Buah lapar adalah menyaksikan Allah (musyahadah), sedangkan caranya adalah penundukan hawa nafsu. (mujahadah). Kenyang yang dipadu dengan menyaksikan Allah (musyahadah) lebih baik daripada lapar yang terpadu dengan mujahadah, karena menyaksikan Allah adalah medan perang manusia, sementara mujahadah adalah tempat bermain anak-anak”. Kemudian Al Hujwiri menceritakan bahwa dirinya telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw. dan memohon kepada beliau untuk memberikan nasihat dan Rasulullah Saw. menjawab : “Tahanlah lidahmu dan indera-inderamu”.
Menurut Al Hujwiri, menahan indera-indera adalah mujahadat yang sempurna, karena semua pengetahuan diperoleh melalui panca indera : penglihatan,pendengaran, pengecapan, penciuman dan perabaan. Empat dari indera-indera itu mempunyai suatu tempat yang khusus, tetapi yang kelima, yakni perabaan, tersebar ke seluruh badan. Segala sesuatu yang diketahui oleh manusia melewati pintu ini, kecuali pengetahuan intuitif dan Ilham Tuhan, dan pada masing-masing terdapat kesucian dan ketidaksucian. Karena, sebagaimana terbuka bagi pengetahuan, akal dan ruh, demikian pula mereka terbuka bagi imajinasi dan hawa nafsu yang merupakan organ-organ yang berperan dalam ketaatan dan dosa, juga berperan dalam kebahagiaan dan penderitaan. Karena itu, bagi orang yang melakukan puasa diharapkan untuk memenjarakan semua indera itu agar mereka bisa berpaling dari ketidaktaatan kepada ketaatan. Berpantang hanya dari makanan dan minuman adalah permainan anak-anak. Orang harus berpantang dari kesenangan-kesenangan yang tidak berguna dan perbuatan-perbuatan yang diharamkan, bukan dari makanan yang halal.
Kuran Setuju gan
banyak yang membabi buta nuduh Ajaran Agama yang rusak…
padahal yang rusak itu ORANGNYA
Manusia yang pake ngumpet dibalik Ajaran Agama buat muasin napsu egoisnya…
—————————————————————————————–
Buat Fanatikun yang pade blo’on…
Kalo lo fanatik, ya udah buat fanatisme itu buat kebaikan lo
jangan maksa orang laen supaya ikutan fanatik kaya lo
kalo lo fanatik, lo pasti masuk sorga kan ?
kalo orang laen kaga mau ikut, ya salah mereka….
Lo kaga bakal rugi apa2…
Lagian segitu fanatiknya sampe maksa orang laen…..emang yakin konci gerbang sorga lo yang pegang ?
sampe boleh nentuin siap yang yg boleh masuk sorga ?
kaga kan ?
Lo tetep orang biasa….yang tetep bisa dibuang ke neraka…
Ada beberapa hal yang menarik dikemukakan oleh penulis, namun yang saya sayangkan ujung2nya jadi cenderung menyalahkan agama..Terlihat sekali kalau penulis sama sekali tidak mengerti apa yang dia bicarakan dan hanya mencari-cari alasan untuk menjelekkan Islam. kalau ada ormas-ormas pengacau seperti FPI yang membawa nama agama Islam, bukan berarti Islam itu buruk. Yang buruk ya FPI, yang buruk ya para ormas yang suka sok kuasa di jalan kalau mau ibadah, teriak2 nggak jelas. Untuk penulis artikel ini, tolong pikir yang benar kalau mau membuat sebuah tulisan, apalagi yang bisa dishare secara luas seperti ini. Niat anda mungkin ingin menjunjung perbedaan. Tapi tulisan anda ini justru malah memperbesar jurang perbedaan,..anda hanya menyulut api keributan. Tapi ya, nggak tau juga sih kalau memang itu tujuan anda sebenarnya dibalik tulisan yang dibalut image ‘berpikiran kritis’ ini…
cuma di indo minoritas agama tertentu bawel… untung aja negeri ini udah merdeka.. cb kl blm merdeka, bisa apa mereka? jilat2 pantat kompeni kali..
Saya kira tulisan yang apa adanya. Yang penting bukannya penulis adalah umat Islam atau bukan, lebih kepada kenapa beliau menulis demikian. Perbedaan itu ada untuk mrmperkaya bukan saling menjatuhkan. Selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin. Selamat berdiskusi.
Mas alah nya mas chaerudin, kebanyakan orang islam itu bebal, dongo dan uneducated jadinya susah sekali diajarin yang bener. Lah pemerintahnya aja takut ama ini preman sehingga ga pernah berani menegakkan keadilan bagi seluruh umat manusia (bukan cuma islam). Kenapa pemerintah takut ? karena preman berjubah ini didukung memakai alasan agama dan mayoritas penduduk indonesia beragama sama dengan mereka seperti biasa akan membela membabi buta asal seagama gak perduli kalo orang seagama mereka itu suka korupsi, memperkosa, membunuh sekalipun.
high five dude!
Memang bener, tulisan yang bagus, singkat tapi berisi dan sesuai sama faktanya.
Tidak pernah terpikir sebelumnya klo pada bulan Ramadhan sebenernya bulan yang lebih merupakan ujian bagi non-muslim dibanding muslimnya itu sendiri.
Thanks for writing this.
KUDOS!!!! TO YOU MY FRIEND!!!
I have never heard such a very correct and mature approach to the holy ritual of fasting. This is the kind of responsible and mature thinking that is need for all muslims and christians. Christian too practice fasting. At least with this kind of approach, we all agree. Praising and honoring God does not only start and end with such ritual practices but rather the being honest to ourselves and start honoring God by starting change within our being. Again, kudos to you and God Bless!!!!!
Ijin share ya pak bro…:). Mantaftt
Sangat setuju
dari awal yang bermasalah itu bukan agama. semua agama itu baik, karena semua agama mengajarkan kita untuk taat pada Sang Pencipta. tetapi itu tergantung pada masing2 pribadi orang dan bagaimana dia menanggapi, menelaah, dan mengimani keyakinannya sendiri2 kemudian dihubungkan dengan masyarakat luas.. kalau manusia terlalu menisik isi agamanya tanpa mengisinya dengan interaksi2 terhadap orang lain yang terjadi adalah terciptanya orang2 fanatik-sempit. karena pada hakikatnya manusia itu bangsa komunal. manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain.. yang terpenting saling menghormati dan menghargai meskipun keyakinan/paham/mindset yang berbeda…
yang nulis lebay binti kamse-upay… kalo nggak mau bising kan bisa beli penutup kuping, mau cari makan siang susah, ya belajar masak aja, siapa tau bisa ikut Master Chef nantinya… kalo masih merasa terganggu ya pindah aja ke daerah yg mayoritas non muslim… gitu aja kok repot. kalo mau protes ulah FPI yg saya juga nggak setuju, ya tulis aja langsung gak usah nyinggung Ramadhan yg buat banyak muslim lain itu bulan penuh berkah… dan sbagai anak dari rentenir kan ibu penulis juga dapat banyak keuntungan setelah Lebaran dan utang dicicil atau dibayar… mungkin 1-2 yg mangkir tapi kan pendapatan dari bunganya justru berlipat.
di Bali, pecalang juga sangat tegas saat hari Nyepi, untung cuma 1 hari… kalau seminggu saja pasti si Rangga akan bikin tulisan spt ini lagi… Kalau pun mau sekuler, buat tulisan itu dgn bahasan ilmiah yg bisa diterima akal sehat bukan mencaci bulan atau perayaan agama apapun.
Arab itu mayoritas Islam agamanya tapi Islam bukan Arab, Islam di Indonesia ya seperti ini, mari perbaiki bersama-sama tanpa menghujat. Atau hanya akan memperuncing masalah.
Mengapa Tidak Minta Maaf Pada Mereka?
Akhirnya kita memasuki bulan Ramadhan, setelah berbagai permintaan maaf basa basi bersliweran di facebook, blackberry messenger, sms. Tidak sedikit, orang yang berbeda mengirimkan permintaan maaf dengan kata-kata yang sama. Artinya, saling copas mengcopas. Permintaan maaf ini, nanti akan berulang tanggal 1 Syawal. Yah, begitulah tradisi. Saling mengirim permintaan maaf, ada yang tulus, tapi melihat umumnya manusia tidak berubah setelah bulan puasa berakhir, saya rasa permintaan maaf itu mayoritas adalah basa basi semata.
Teman-teman yang meminta maaf pada saya, menurut saya tidak ada gunanya sama sekali. Selain saya tidak merasa kalau teman-teman ada salah sama saya, saya juga tidak merasa perlu meminta maaf atas hal-hal yang tidak sengaja saya buat. Namanya saja manusia tidak sempurna, masak orang hidup harus menjaga agar orang lain tidak sakit hati. Sakit hati kan relatif.
Jika anda hendak minta maaf, minta maaflah pada orang-orang yang dengan sadar anda rugikan atau anda jahati sepanjang tahun ini.
Minta maaflah pada anak-anak jemaah Ahmadiyah yang bapaknya anda bunuh dengan keji tahun lalu. Gara gara anda, mereka jadi anak yatim. Anda tidak mau menikahi jandanya dan menafkahi anaknya kan?
Minta maaflah pada jemaah Syiah, yang masjidnya anda rusak beberapa bulan lalu, gara-gara anda mereka tidak bisa sholat tarawih.
Minta maaflah pada anak-anak jemaah Syiah dan Ahmadiyah. Mereka seperti anda saat anak-anak, agamanya ikut saja sama agama orang tuanya. Bagaimana jika anda terlahir dari rahim seorang penganut Syiah atau Ahmadiyah? Emangnya enak melihat orang tua kita dikata-katai sesat dan ditimpuki batu?
Minta maaflah pada para PSK dan pekerja bar. Anda enak saja menyuruh mereka libur selama bulan puasa tanpa memberikan tunjangan hari raya pada mereka, yang mayoritas juga sama-sama merayakan Lebaran.
Minta maaflah pada pedagang-pedagang warung yang anda suruh tutup itu, karena wangi sambel gorengnya dianggap tidak menghormati anda. Mereka ini perlu menabung untuk beli tiket pulang kampung, agar bisa berlebaran dengan keluarga, yang anda juga tidak sudi membelikannya.
Jadikan ibadah anda sebagai ibadah yang utuh. Minta maaflah terutama untuk kesalahan yang dengan sadar dan sengaja anda lakukan. Dan berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi. Jika anda hanya sudi meminta maaf untuk kesalahan yang tidak anda sengaja, apa lebihnya anda dari orang yang tidak beriman?
- Esther Wijayanti -
http://sosbud.kompasiana.com/2012/07/21/mengapa-tidak-minta-maaf-pada-mereka/
saya orang muslim.. saya berbangsa arab, bahkan tinggal di negeri arab.. tapi disini saya sama sekali tidak pernah dengar masjid berteriak2 membangunkan sahur..
atau ormas anarkis yang berlebihan dan kampungan itu..
bangsa arab banyak yang memeluk agama kristiani dari lahir/keturunannya,,
tapi mereka hidup damai2 saja dengan arab muslim lainnya..
bahkan boss suami saya orang kristiani lebanon.. tapi saat ramadhan ini mereka damai2 saja dalam mengatur jam kerja untuk kenyamanan bersama..
dalam Islam diajarkan untuk toleransi, ada surat dalam alquran yang namanya AlKafiruun (disbelievers), perlu digaris bawahi disini, arti kafir itu adalah orang yg tidak percaya, dalam hal ini tidak percaya akan agama Islam, bukan sesat atau apapun sebutan tidak hormat dari umat Islam yg tidak berilmu.. bahkan banyak umat muslim yang tidak benar2 faham akan arti kata kafir, tapi mereka menteriakkan kata itu dengan pemahaman dangkal mereka sendiri..
dalam surat itu disebutkan bahwa “aku tidak menyembah yang kau sembah dan engkau tidak menyembah yang aku sembah, bagimu agamamu dan bagiku agamaku”
dalam ajaran Islam sendiri sudah jelas bahwa tidak ada paksaan dalam agama, apalagi kekerasan..
bahkan Muhammad SAW mengajarkan, apabila ada seorang diluar agama Islam, mengunjungi negara kita secara damai dan sesuai dengan peraturan, kita harus menghormati mereka, bahkan MELINDUNGI mereka..
kalau pada kenyataannya di Indonesia banyak praktek2 Islam yang berlebihan, kasar, anarkis, berteriak2 saat sahur, tidak bertoleransi terhadap agama lain, merasa yang paling benar sendiri, salahkan daya penyerapan mereka atau ilmu mereka,, bukan menyalahkan agamanya..
dan budaya2 itu semua sama sekali tidak ada dalam budaya arab.. kami bangsa arab sama seperti bangsa2 lainnya, punya cara hidup, gaya, pakaian, lagu, makanan, budaya kami sendiri..
seperti layaknya orang china yang punya budayanya sendiri, walaupun dia Islam tapi tetap Islam dengan ke-China-aannya..
atau Iran dengan ke-Iran-annya,, bahkan mungkin Islam Amerika dengan ke-Amerika-annya..
Islam itu tidak sama dengan Arab, kalau ada golongan tertentu yang berusaha meng-Arab atau berlagak Islam Arab tapi salah kaprah, salahkan mereka, jangan salahkan Arab, apalagi Islam..
apapun agamamu, Islam ataupun bukan, tetaplah dengan budaya ke-Indonesia-anmu teman..
Subhanallah, bijaksana sekali. Setuju.
cocok.. setuju… karena buah dari iman/islam adalah ahlaq..
yang nulis artikel memang benar, Benar masuk Neraka huahuahua……….
Selama tulisan isinyafakta dan kebenaran,itu layak untuk diterima.ingat kebenaran lah yg hrs manusia junjung,bukan agama.karena setan benci kebenaran….
Yang jelas ketuhan tdk boleh standart ganda dalam “BUNYI”.tuhan tidak dualisme apalagi multi tafsir dalam dalil2nya.artinya wajah umat beragama yg benar hanya satu,tidak “dua wajah” apalagi “multi wajah”.
Silahkan tutup paksa warung2 yang berjualan di bulan puasa tapi berilah dia ganti rugi dan ada jaminan barang2 kebutuhan tidak naik menjelang Puasa sampai Idhul Fitri. Silahkan tutup paksa prostitusi tapi berilah pekerjan yang layak dan halal kepada pelacur tsb dan adanya jaminan pekerjan yang mencukupi kebutuhan para pelacur tsb di Indonesia.
************ Saya yakin sekali mas Rangga bukan seorang muslim . . . Karena tak mungkin seorang muslim bagitu merendahkan Bulan Yang Dimuliakan oleh Alloh swt .
Jika mas Ranga Seorang muslim, Saya bertanya pada mas Rangga . . . Apakah Islam memerintahkan seperti itu ? Mencuri, mengganggu tetangga malam, berbuat semena-mena atau Dzolim ?
——————————————————————————
Rasulullah juga memiliki tetangga orang Nasrani dan Yahudi, tapi Apakah beliau semena2 terhadap mereka ? Beliau sangat menghormati, Bahkan Rasulullah Bersabda, kepada sahabat-sahabatnya, “Barang siapa yang mengganggu mereka, itu sama dengan mengganggu diri saya”
——————————————————————————–
Tidak menutup mata, memang itu banyak terjadi . . . Namun Jangan Samakan Islam dan kelakuan sebagian muslim. Silahkan Mengkritik, tapi cara Anda mengkritik sebaiknya dengan lebih santun, apalagi menyangkut Agama dan keyakinan.
Saya tau maksud Anda baik utk mengingatkan saudara-saudara kita yang masih belum mengerti esensi dari puasa, namun tolong cari kata yang yang lebih santun dalam penyampaiannya, Jangan sampai non muslim salah faham dan menganggap itu Ajaran Islam. Maaf kika ada kata-kata saya yang tidak berkenan.
jangan suka mengadu domba ya,,,
kenapa tulisan sampah seperti ini masih saja beterbaran di website?
kesalahan logisnya fatalllll, dimana-mana
saya yakin dan percaya…
lambat laun masyarakat indonesia dapat dewasa…
Puasa adalah moment kita mendekatkan diri kepada TYME…
tampa harus menjauh dari sesama….
tulisan yang berbau SARA.
Give me five bro!
Secara umum apa yang anda paparkan adalah realitas umat islam di Indonesia, dan saya kira iotu adalah suatu pengamalan ajaran islam yang jelas keliru dan salah fatal. Bulan ramadhan bulan dimana umat islam dituntut untuk melatih menahan amarah, jadi jika ada umat islam yang berpuasa pake acara marah-marah apalagi secara brutal mengobrak abrik milik orang lain, saya yakin mereka yang melakukan hal tsb telah gagal memaknai puasa yang diajarkan islam itu sendiri.
jika anda merasa bulan ramadhan bulan paling sial, ya itu sah-sah saja, mungkin nasib anda yang memang lagi sial dikala bulan ramadhan, saya dari kecil hingga sekarang masih tetap meyakini Ramadhan bulan poenuh berkar dan itu bukan mitos namun memang fakta yang saya alami.
jadi saya kira pengalaman pribadi anda tidak bisa dijadikan ukuran untuk menilai hal tsb. Semua itu sah-sah aja….. heheheheh
soal menghormati orang yang berpuasa, SAYA PRIBADI JUGA TIDAK SETUJU, ITU KEBIJAKAN DAN PANDANGAN YANG KONYOL…. DAN MEMANG TIDAK ADA DASAR HUKUMNYA DIDALAM QURAN YANG MEMERINTAHKAN HAL TSB, ITU HANYA TRADISI YANG DIADA-ADAKAN SAJA…. JADI BUKAN AJARAN ISLAM.
Hahaha…kritis dan mempunyai sudut pandang yang tidak umum seperti orang kebanyakan, tapi menurut saya artikel ini tanggung dalam penggunaan logika dalam artian logika dicampur-campur dengan perasaan dalam proporsi yang kurang pas, sehingga aksi (baca:tulisan) ini mendapatkan reaksi (baca: komentar) yang bermacam-macam alias justru kurang tepat sasaran. Jika dianalisis secara psikologis menggunakan teori Berne, hehe…penulis ini secara tidak sadar menempatkan CRITICAL PARENT dan FREE CHILD yang kuat, sementara itu ADULT-nya hanya sebagai pelengkap saja, padahal untuk menulis sebuah artikel yang non fiksi, atau katakanlah sejenis esei atau reportase, sedapat mungkin penulis menggunakan ADULT, sedangkan CRITICAL PARENT dan FREE CHILD digunakan sebagai pelengkap, jika memang diperlukan. Ini sangat merangsang mendapat tanggapan yang dipengaruhi oleh CHILD pembaca.
Analisis Transaksional Eric Berne dapat dibaca secara sekilas pandang di sini.
http://wsmulyana.wordpress.com/2009/01/19/analisis-transaksional-eric-berne/
na’udzubillah.. menurut Imam Al Ghozali, kemungkinan yang menulis ini termasuk orang yang Bodoh, tapi tidak mengetahui kebodohannya, maka jauhilah. Imam Al Ghozali.
Entah maksudnya apa, penulis sempat menjelekkan Ramadhan, brarti dia telah medustakan ayat-ayat Allah yang mengagungkan Ramadhan, dan tentu penulis telah merendahkan Allah,..
Apapun keyakinan seseorang, jika ibadahnya bahkan Tuhannya sendiri direndahkan, tentu kita akan merasa marah dan tidak setuju, sebaiknya kita berusaha membenarkan org tsbut.
Afwan byk nulis banyak salah, Ramadhan Mubarak.
Buat penulis mohon direvisi kembali tulisannya, dan minta maaflah kepada Allah SWT dan umat Islam.. Afwan,
Jazaakallah Khairan Katsiran Wa Jazaakallah Ahsanal Jazaa..
PENULIS ARTIKEL INI SANGAT2 MUNAFIK DAN SANGAT2 TIDAK TAHU DIRI!
ASAL TAHU SAJA, DI BULAN SUCI ROMADHON SEMUA AGAMA MENDAPATKAN KEBERKAHNNYA.
YANG NYADAR AJA KLU BICARA!!! TIAP TAHUN ORANG SE-DUNIA BAIK ISLAM MAUPUN NON ISLAM MERASAKAN KEBERKAHNNYA ROMADHON.
RAMAI MANA KEBERKAHAN KEBERSAMAANNYA DIBANDING DENGAN HARI RAYA NATAL ??????
NT NGOMONG SAMA KENTUT SAMA SAJA !!!!
Tulisan diatas sangat mencerminkan yg sesungguhnya ! seperti yg dipaparkan sdr Anymous :
anymous
July 23, 2012 at 00:56 · Reply
Di siang hari semua warung makan dipaksa berselimut atau ditutup sama sekali. Tempat-tempat porstitusi ditutup selama bulan Ramadan. Alasannya sebagai bentuk penghormatan kepada yang berpuasa. Di sini timbul paradoks logika. Jika bulan Ramadan adalah sebagai bentuk latihan menahan hawa-nafsu, tapi mengapa di sisi lain godaan yang dapat memancing hawa nafsu ditiadakan. Sama saja seperti kita ujian soal, namun semua soal ujian tersebut ditiadakan. Jadi apa yang mau diuji. Kita hanya berpura-pura melaksakan ujian, kemudian berpura-pura lulus mengerjakannya. Secara tidak langsung kita telahmembohongi diri kita sendiri. Berarti ritual puasa telah gagal sebagai mediasi pembelajaran bagi kita dalam memahami hubungan dengan diri sendiri.
Nice troll bro…
Sampe afa pembaca yg emosi
Wakakakaka…!!!
@FPI: maksud “ramai” disini gimana…??
K’lo maksudnys banyak yg merayakan tentu saja Natal bakal lbh ramee karna kaum kristiani kan jumlahnya terbesar pertama. islam ketiga terbesar btw
IJIN SHARE DI WALL SAYA YA. TRIMS
hmm,artikel ini hanya menyulut api aja cuy..
w cuma inget 1 kalimat yg MENURUT W BENER,
HARGAILAH ORANG MAKA LOE PANTAS DIHARGAI..!!
kekerasan yg hanya DILAKUKAN OLEH SEBAGIAN ORANG ISLAM,BUKAN BERARTI SELURUH ORANG ISLAM ANARKI..
kalo lo mikir kaya gitu,selamat lo bisa dibilang bodoh bin tolol cuy,
ini cuma pemikiran anak kecil yg cuma cari perhatian aja,
islam ga pernah ngajarin buat anarki ataupun memaksakan sesuatu..
trus 1 hal yg w kutip di artikel ini, “Tempat-tempat porstitusi ditutup selama bulan Ramadan”
menurut w,sebenernya tempat2 porstitusi seharusnya ditutup selamanya,bukan cuma dibulan ramadhan..!!
memang di agama lo,diajarin ya kalo sange tinggal ketempat porstitusi??
w mau naya memang tempat porstitusi memang ada manfaatnya ya??
trus mang diagama u,dibolehin gitu??atau memang diajurin??
TOOOOOOOLLOOOOLLLLLL GAAA PUNYA OTAK KALO NGOMONG..!!
hmm,artikel ini hanya menyulut api aja cuy..
w cuma inget 1 kalimat yg MENURUT W BENER,
HARGAILAH ORANG MAKA LOE PANTAS DIHARGAI..!!
kekerasan yg hanya DILAKUKAN OLEH SEBAGIAN ORANG ISLAM,BUKAN BERARTI SELURUH ORANG ISLAM ANARKI..
kalo lo mikir kaya gitu,selamat lo bisa dibilang bodoh bin tolol cuy,
ini cuma pemikiran anak kecil yg cuma cari perhatian aja,
islam ga pernah ngajarin buat anarki ataupun memaksakan sesuatu..
trus 1 hal yg w kutip di artikel ini, “Tempat-tempat porstitusi ditutup selama bulan Ramadan”
menurut w,sebenernya tempat2 porstitusi seharusnya ditutup selamanya,bukan cuma dibulan ramadhan..!!
memang di agama lo,diajarin ya kalo sange tinggal ketempat porstitusi??
w mau nanya memang tempat porstitusi memang ada manfaatnya ya??
trus mang diagama lo,dibolehin gitu??atau memang diajurin??
TOOOOOOOLLOOOOLLLLLL GAAA PUNYA OTAK KALO NGOMONG..!!
Tulisan ini sesuai kenyataan top @waed tolong kasih pekerjaan untuk nafkah para pelacur kalo, udah silakan tutup tempat pelacuran
salut buat tulisan loe ni bro…. merakyat bgt… heheheh GBU
ALHAMDULILLAH.. SETELAH MEMBACA ARTIKEL ANDA, KEIMANAN SAYA TERHADAP ISLAM SEMAKIN KUAT, KARNA DI DALAM AGAMA ISLAM TIDAK ADA YANG SEPERTI DISEBUTKAN DIATAS, ISLAM SANGAT BERTOLERANSI TERHADAP ORANG2 YANG BUKAN MUSLIM, KALAU ANDA BELUM TAHU SILAHKAN PELAJARI ISLAM SECARA MENDALAM ATAU LIHATLAH SEJARAH DIMASA KEPEMIMPINAN ISLAM DI DUNIA.. ISLAM SANGAT TOLERAN.. SAYA HANYA BISA TERTAWA MEMBACA TULISAN ANDA.. SANGAT JAUH DARI ISLAM… TULISAN INI JELAS HANYALAH INGIN MENYUDUTKAN KAUM MUSLIM YANG SANGAT TOLERAN DI INDONESIA..
Pengecut dipelihara, kalau lu berani dengan apa yang lu tulis …
Tampilin mukalu, dasar penganut faham kebencian
tulisan ini sebenernya merupakan kritik yang bagus untuk direnungkan, masalahnya hanya pada “zona tembak” tulisan yang terlalu luas, siapa target utama tulisan ini, mengingat pemeluk Islam merupakan unifikasi dari berbagai karakter, tingkat pemahaman dan level kedewasaan iman sehingga efeknya malah ngeblur karena tidak fokus , menggeneralisir perilaku pemeluk Islam ini tentunya juga kurang bijaksana, di lain pihak , membaca tanpa mencerna dan hanya direspon dengan emosi juga sama tidak bijaksananya…..
salam hormat,
dari peacefull disbeliever
Saya ingin tau apa tanggapan penulis berpikiran ‘kritis’ ini terhadap pembantaian umat Muslim Rohingya? kondisinya terbalik dari disini kan? disini Muslim mayoritas, disana Muslim minoritas…bedanya klo kaum minoritas (non muslim) disini tidak bisa tiduur (krena ada yg bangunin sahur di blan Ramadhan), susah cari warteg yang buka di siang hari, atau yang bentuk diskriminasi2 lainnya. Umat muslim Rohingya TIDAK BISA HIDUP alias DIBANTAI!!!…mana itu suara penulis sebagai pembela kaum ‘minoritas’???…tapi yah, orang2 seperti penulis ini biasanya cuman bunyi klo ada isu2 yang menyudutkan kaum Muslim. Kalau ada FAKTA yang menyudutkan non-Muslim seperti di Myanmar pasti cuek…wong itu yang dia harapkan kok..
@fyi: Kalau pembantaian Kristen di Nigeria dan Sudan oleh muslim gimana om, trus penganiayaan terhadap Kristen Coptic di Mesir gimana, lalu penganiayaan terhadap Ahmadiyah dan Syiah didalam negeri, trus penolakan terhadap rohingya oleh bangladesh yang Muslim juga bagaimana, om fyi peduli gak, lagipula emang ada pembantaian Muslim di Myanmar bukannya konflik masalah kewarganegaraan aja
saya mau nanya pada penulis
“anda dibayar berapa untuk menulis cerita ini? terimakasih
izin share ya kumandan…kalo saya punya slogan : HORMATILAH YANG TIDAK PUASA
Salam hormat,
Dengan logika sederhana, jika seorang manusia ber-Terpuasa harus menahan diri dari yang mungkar lantas tidak bolehkah dirinya mencegah kemungkaran itu terjadi di sekitar dirinya?? Hanya karena ia harus menghormati hak orang lain dalam berbuat kemungkaran, demi sebuah toleransi?? Jika saudara seorang yang ‘beragama’, setujukah anda untuk paling tidak ‘hati anda’ menolak kemungkaran tersebut?? Logika mana lagi yang anda pakai???. Simpan saja energi anda untuk hal-hal yang bermanfaat bagi manusia lainnya. salam Hormat
memang kalau lagi gak punya uang ramadhan-lebaran itu mimpi buruk. Ramadhannya sih gak apa-apa, tapi lebarannya itu mengerikan. baju baru, kue2, masak2 besar, dan … MUDIK .. itu butuh duit yang tidak sedikit. Aku malah kemarin bilang berani puasa nggak berani lebarannya. Terasa sekali kalau lagi bangkrut, gak punya uang. Mau berhutang, semua juga lagi mau pakai uang itu buat kebutuhan lebaran mereka. mau minjemin takut ngga cukup buat sendiri.
Biar aja orang nggak puasa yang penting kita kuat puasa. Semua godaan itu kan untuk meningkatkan kualitas puasa kita. pernah dulu mudik semobil batal puasa smua kecuali aku dan suami, sementara cuaca puanas kering, jalanan macet perjalanan begitu berat dan lama. tapi itulah puasa terindah yang aku alami. berhasil menahan semua godaan! rasanya belum pernah buka puasa dengan perasaan seindah itu sebelum dan sesudahnya sampai sekarang. kalau semua warung ditutup orang mens, orang sakit susah cari makanan.
mesjid dengan toanya itu aku setuju. Emang suka kebangetan. Tidak semua orang meskipun islam butuh dengan suasana berisik itu. Ngaji gratul2 di mik, udah jelek berisik, malu2in aja. cukup buat adzan doang deh, dan kalo bisa serempak, dalam menit dan detik yang sama, jadi bisingnya cukup 2-3 menit abistu udah
Betul banget tuh… Coba dipikir-pikir, buat apa menahan hawa nafsu, lapar, jika semua warung makan dan restoran ditutup? Semua orang juga bisa kaleee… Orang yang non muslim aja bisa kalo gitu karena emang gak ada restoran yang buka.. Kalo gitu makna berpuasa apa?
Tambah lagi orang puasa kok kemalingan malah banyak. Itu udah langganan, menjelang lebaran malah banyak kecolongan. Padahal lagi puasa. Kalo gitu caranya gak usah lebaran, karena kebanyakan orang mengharuskan diri membeli baju koko dan mudik walau gak punya uang. BULAN RAMADHAN, BULAN PENUH BERKAH?
Puasa Ramadhan itu kan cuma merubah waktu jam makan? dan kenyataannya selama bulan puasa pengeluaran belanja RT membengkak tapi sebaliknya produktivitas kerja menurun, ah ribet klo udh bicara soal ini; maaf klo saya salah.. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433H.
Saya Muslim. Saya tidak mengingkari banyak kelakukan muslim radikal yang tak pantas di bulan Ramadhan. Saya mengakui banyak peraturan pemerintah yang tak pantas di Bulan Ramadhan.
Tapi saya percaya bahwa Islam tidak mengjarkan demikian. Peraturan harus ditegakkan, hukum mereka yang anarkis.
Setuju. Bagi yang ingin memuliakan Ramadhan muliakanlah, bagi yang tidak mau silahkan saja cuekin saja.
hahaha…. ternyata ini toh kondisi aslinya? akhirnya terusterang juga. bahwa toleransi di Indonesia itu 0 beusarrrrrr. bahwa toleransi itu cuma lahiriah saja, batiniah sebenarnya saling membenci dan mencela. bahwa toleransi itu cuma slogan2 di tiap hari raya agama apapun. bahwa toleransi ituuuuuu…..bullshit
)
Normal aja. Kl Ramadhan, masjid jd ramai, tmsk kemudian didatangi oleh org yg jarang ke masjid. Apalagi si orang itu ngga puasa dg bener, ngeliat lbh banyak sendal dr bulan2 biasa, bagus2 pula bisa jadi lsg dia ambil. Puasa cuma luarnya doang, hatinya ngga dibikin puasa juga.
Puasa menguji keimanan. 100% benar! Termasuk keimanan seseorang yg di bulan Ramadhan melihat kondisi spt ini. Apakah ia akan ttp puasa, ttp istiqamah dlm Islam atau malah pundung/putus asa dg Ramadhan, dg Islam?