
Awal mula Perang Salib adalah Perang antar Gereja dan Yahudi, jadi bukan bermula Perang antara Kristen – Islam, yang diartikan secara umum saat ini (Kenneth Setton, 1958).
Awal mula Perang Salib adalah Perang antar Gereja dan Yahudi, jadi bukan bermula Perang antara Kristen – Islam, yang diartikan secara umum saat ini (Kenneth Setton, 1958).
Strategi Menyatukan Umat Kristen Eropa
Pada tahun 1088, seorang Perancis bernama Urbanus II menjadi Paus. Kepausannya itu ditandai dengan pertikaian raja Jerman, Henry IV — kelanjutan kebijakan pembaruan oleh Paus Gregorius VIII yang tidak menghasilkan apa-apa. Paus yang baru ini tidak ingin meneruskan pertikaian ini. Tetapi ia ingin menyatukan semua kerajaan Kristen di Eropa. Ketika Kaisar Alexis dari Konstantinopel meminta bantuan Paus melawan orang-orang Muslim Turki, Urbanus melihat bahwa adanya musuh bersama ini akan membantu mencapai tujuannya sebagai strategi untuk menyatukan umat Kristen Eropa.
Perang Salib Ala Barbarian. Dengan bekal dari sang kaisar, pasukan atau laskar salib melakukan penyerangan ke selatan dan timur, menduduki kota-kota Antiokhia dan Yerusalem. Banjir darah mengikuti kemenangan mereka di Kota Suci itu. Taktik para tentara Perang Salib ialah "tidak membawa tawanan". Seorang pengamat yang merestui tindakan tersebut menulis bahwa para prajurit "menunggang kuda mereka dalam darah yang tingginya mencapai tali kekang kuda".
Setelah mendirikan kerajaan Latin di Yerusalem, dan dengan mengangkat Godfrey dari Bouillon sebagai penguasanya, mereka berubah sikap, dari penyerangan ke pertahanan. Mereka mulai membangun benteng-benteng baru, yang hingga kini, sebagian darinya masih terlihat. Pada tahun-tahun berikutnya, terbentuklah ordo-ordo baru yang bersifat setengah militer dan setengah keagamaan. Ordo paling terkenal adalah Ordo Bait Allah (bahasa Inggris: Knights Templars) dan Ordo Rumah Sakit (bahasa Inggris: Knights Hospitalers). Meskipun pada awalnya dibentuk untuk membantu para tentara Perang Salib, mereka menjadi organisasi militer yang tangguh dan berdiri sendiri.
Perang Salib pertama merupakan yang paling sukses. Meskipun agak dramatis dan bersemangat, berbagai upaya kemiliteran ini tidak menahan orang-orang Muslim secara efektif. Apalagi keberadaan faksi-faksi militer di kubu laskar salib masing-masing menganggap sebagai pahlawan nomor satu, merupakan kelemahan organisasi kemiliteran laskar salib pada kancah perang salib kedua.
Riwayat singkat Shalahuddin Al-Ayyubi (SAA). SAA sebenarnya hanya nama julukan dari Yusuf bin Najmuddin. Shalahuddin merupakan nama gelarnya, sedangkan al-Ayyubi nisbah keluarganya. Beliau sendiri dilahirkan pada tahun 532 H/ 1138 M di Tikrit, sebuah wilayah Kurdi di utara Iraq. Sejak kecil Shalahuddin sudah mengenal kerasnya kehidupan. Pada usia 14 tahun, Shalahuddin ikut kaum kerabatnya ke Damaskus, menjadi tentara Sultan Nuruddin, penguasa Suriah waktu itu. Karena memang pemberani, pangkatnya naik setelah tentara Zangi yang dipimpin oleh pamannya sendiri, Shirkuh, berhasil memukul mundur pasukan Salib (crusaders) dari perbatasan Mesir dalam serangkaian pertempuran.
Pada tahun 1169, Shalahuddin diangkat menjadi panglima dan gubernur (wazir) menggantikan pamannya yang wafat. Setelah berhasil mengadakan pemulihan dan penataan kembali sistem perekonomian dan pertahanan Mesir, Shalahuddin mulai menyusun strateginya untuk membebaskan Baitul Maqdis dari cengkeraman tentara Salib.
Laskar Salib Ditaklukkan
Pertempuran Damaskus, laskar Salib memilih untuk menyerang Damaskus dari timur, dimana kebun akan memberi mereka makanan konstan. Mereka tiba pada tanggal 23 Juli, dengan pasukan Yerusalem di garis depan, diikuti dengan Louis dan lalu Conrad sebagai penjaga belakang. Orang Muslim berisap untuk serangan dan langsung menyerang pasukan yang maju menuju perkebunan. Pasukan Salib mampu melawan mereka dan mengejar mereka kembali ke Sungai Barada dan menuju Damaskus; setelah tiba diluar tembok kota, mereka langsung menyerang Damaskus. Damaskus telah meminta bantuan dari Saifuddin Ghazi I dari Aleppo dan Nuruddin dari Mosul, dan vizier, Mu'inuddin Unur, memimpin serangan yang tidak berhasil pada kemah pasukan salib. Ada konflik pada kedua kemah: Unur tidak mempercayai Saifuddin atau Nuruddin dari menguasai seluruh kota jika mereka menawarkan bantuan; dan pasukan salib tidak setuju siapa yang akan mendapatkan kota jika mereka merebutnya. Pada 27 Juli, pasukan salib memilih untuk bergerak ke bagian timur kota, yang lebih sedikit pertahanannya, tetapi memiliki sedikit persediaan makanan dari air. Nuruddin telah tiba dan tidak mungkin untuk kembali ke posisi mereka yang terbaik. Pertama Conrad, lalu sisa dari pasukan, memilih untuk mundur ke Yerusalem.
Semua sisi merasa dikhianati oleh yang lain. Rencana lain baru dibuat untuk menyerang Ascalon, dan Conrad membawa pasukannya kesana, tapi tidak ada bantuan tiba, karena tidak ada kepercayaan karena kegagalan serangan Damaskus. Ekspedisi Ascalon ditinggalkan, dan Conrad kembali ke Konstantinopel, dimana Louis tetap berada di Yerusalem sampai tahun 1149. Kembali ke Eropa, Bernard dari Clairvaux juga dipermalukan, dan ketika dia hendak memanggil perang salib yang gagal, dia mencoba memisahkan dirinya dari fiasco perang salib kedua. Dia meninggal pada tahun 1153.
Serangan Damaskus membawa malapetaka kepada Yerusalem: Damaskus tidak lagi percaya kepada Kerajaan laskar Salib, dan Kota itu diambil oleh Nuruddin pada tahun 1154. Baldwin III akhirnya mengepung Ascalon pada tahun 1153, dimana membawa Mesir kedalam konflik ini. Yerusalem mampu membuat kemajuan memasuki Mesir, dengan singkat merebut Kairo pada tahun 1160. Namun, relasi dengan Kekaisaran Bizantium dicampur, dan bantuan dari barat jarang setelah bencana dari perang salib kedua. Raja Amalric I dari Yerusalem bersekutu dengan Bizantium dan berpartisipasi dalam invasi Mesir tahun 1169, tapi ekspedisi ini gagal.
Sang Penakluk dan Pengasih
Pada tahun 1171, Shalahuddin, keponakan dari salah satu jendarl Nuruddin, menjadi Sultan Mesir, mempersatukan Mesir dan Siria dan mengepung kerajaan tentara Salib. Setelah itu, aliansi dengan Bizantium berakhir dengan kematian kaisar Manuel I pada tahun 1180, dan pada tahun 1187, Yerusalem diserang dan direbut oleh Shalahuddin. Pasukannya lalu menyebar ke utara dan merebut semua ibukota dari semua daerah yang direbut tentara salib, menyulut terjadinya Perang Salib Ketiga.
Shalahuddin terkenal sebagai penguasayang menunaikan kebenaran—bahkan memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme. Tepat pada bulan September 1174, Shalahuddin menekan penguasa Dinasti Fatimiyyah supaya tunduk dan patuh pada Khalifah Daulat Abbasiyyah di Baghdad. Belom cukup sampai di situ, tiga tahun kemudian, sesudah kematian Sultan Nuruddin, Shalahuddin melebarkan sayap kekuasaannya ke Suriah dan utara Mesopotamia. Satu persatu wilayah penting berhasil dikuasinya: Damaskus (pada tahun 1174), Aleppo atau Halb (1138) dan Mosul (1186).
Sebagaimana diketahui, berkat perjanjian yang ditandatangani oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Uskup Sophronius menyusul jatuhnya Antioch, Damaskus, dan Yerusalem pada tahun 636 M, orang-orang Islam, Yahudi dan Nasrani hidup rukun dan damai di Suriah dan Palestina. Mereka bebas dan aman menjalankan ajaran agama masing-masing di kota suci tersebut.
Banyak kisah-kisah unik dan menarik seputar Shalahuddin al-Ayyubi yang layak dijadikan teladan, terutama sikap ksatria dan kemuliaan hatinya. Pola perilaku Shalahuddin sebagai Sultan yang menjadi teladan bagi umat manusia pada umumnya, dan umat Islam pada khususnya.
- Di tengah suasana perang, ia berkali-kali mengirimkan es dan buah-buahan untuk Raja Richard yang saat itu jatuh sakit.
- Ketika menaklukkan Kairo, ia tidak serta-merta mengusir keluarga Dinasti Fatimiyyah dari istana-istana mereka. Ia menunggu sampai raja mereka wafat, baru kemudian anggota keluarganya diantar ke tempat pengasingan mereka. Gerbang kota tempat benteng istana dibuka untuk umum. Rakyat dibolehkan tinggal di kawasan yang dahulunya khusus untuk para bangsawan Bani Fatimiyyah. Di Kairo, ia bukan hanya membangun masjid dan benteng, tapi juga sekolah, rumah-sakit dan bahkan gereja.
- Shalahuddin juga dikenal sebagai orang yang saleh dan wara‘. Ia tidak pernah meninggalkan salat fardu dan gemar salat berjamaah. Bahkan ketika sakit keras pun ia tetap berpuasa, walaupun dokter menasihatinya supaya berbuka. “Aku tidak tahu bila ajal akan menemuiku,” katanya.
- Shalahuddin amat dekat dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Ia menetapkan hari Senin dan Selasa sebagai waktu tatap muka dan menerima siapa saja yang memerlukan bantuannya. Ia tidka nepotis atau pilih kasih. Pernah seorang lelaki mengadukan perihal keponakannya, Taqiyyuddin. Shalahuddin langsung memanggil anak saudaranya itu untuk dimintai keterangan.
- Pernah juga suatu kali ada yang membuat tuduhan kepadanya. Walaupun tuduhan tersebut terbukti tidak berdasar sama sekali, Shalahuddin tidak marah. Ia bahkan menghadiahkan orang yang menuduhnya itu sehelai jubah dan beberapa pemberian lain. Ia memang gemar menyedekahkan apa saja yang dimilikinya dan memberikan hadiah kepada orang lain, khususnya tamu-tamunya.
- Ia juga dikenal sangat lembut hati, bahkan kepada pelayannya sekalipun. Pernah ketika ia sangat kehausan dan minta dibawakan segelas air, pembantunya menyuguhkan air yang agak panas. Tanpa menunjukkan kemarahan ia terus meminumnya. Kezuhudan Shalahuddin tertuang dalam ucapannya yang selalu dikenang: “Ada orang yang baginya uang dan debu sama saja.” (sa/ind/berbagaisumber)
Refleksi
Menyadari bahwa budaya perang cenderung mengekspresikan nilai-nilai kekerasan, pembunuhan serta saling bantai, maka ketika agama dijadikan ideologi untuk menaklukkan lawan, sepanjang sejarah, keberadaannya hanya jadi alat kekuasaan semata, dan menjadi sumber permusuhan yang tidak bermakna dalam merajut kehidupan sosial yang harmoni, yang masih berlanjut sampai saat ini. Seperti fatwah menggerikan dari gembong teroris osama bin Ladin, “god order to kill…our enemies (Jews, US, and Crusaders).
Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan untuk bercermin pada kisah Shalahuddin di atas, mestinya generasi sekarang ini yang membawa-bawa agama dalam perjuangan, suka atau pun tidak suka harus mengakui bahwa apa yang pernah ditunjukkan oleh Shalahuddin di era perang salib pada ribuan tahun lebih yang lalu, masih jauh tingkat/kualitas peradaban sosial (multikulturalisme) dibandingkan dengan era kekinian (today). Bahkan jauh sebelum ada perjanjian/hukum jenewa (tawanan musuh tidak boleh disiksa/dibunuh), Shalahuddin dan pasukannya sudah mempraktekkan dalam kancah perang salib.
———————————————————–
Karombasan Utara, 27 Maret 2011







kesimpulannya adalah : Shalahudin lebih mulia dan berakhlak daripada nabinya, nabi membantai tawanan Yahudi di khaibar, sedangkan Shalahudin tidak …. ironis, Shalahudin sang pahlawan yg notabene seorang KURDI, orang-orangnya di bantai ama orang-orang ARAB
Kesimpulan asal jeplak, kalee.
#1 Aneh, Shlahuddin adalah pengikut Nabi jadi semua tindak tanduknya terinpirasi dan bercermin pada nabi ….
di apakabar ini memang konyol, siapapun yg berbuat baik dan perpikiran posisif, kalau dia beragama islam dan menjunjungjung nabi muhammad, tetap saja dianggap bukan karena ajaran agama/ajaran muhammad, heran sekali, untuk memahami nabi muhammad secara konteks, dg nalar yg jernih, tanpa diembel-embeli rasa kebencian/antipati plus apriory berlebihan nggak ada yg sanggup dari barisan anti islam ini. kasihan pada kalian manusia2 cupet nalar yg ngecablak hanya berdasar issue miring dan pemikiran2 sinting.
Lain kali tulisan kayak gini gak perlu diposting. nggak ada referensi, gak ada bukti, cuman muja-muji orang yg dah gak ada, konspirasi islam buat nutupin carut marut sejarahnya. Yang penting buat kita sekarang gimana bikin bangsa ini lepas dari kebodohan agama dan radikalisme. Buat apa mikirin yang lalu-lalu?
Osama itu pengikut nabi, Amrozi itu pengikut nabi. semua terorrist extrimist wahabiah alsintingiyah adalah pengikut nabi. JANGAN STANDAR GANDA??!!
to #6 ^ #6. Anda sebaiknya menggali informasi secara seimbang baik dari Non Muslim maupun Muslim, nanti anda akan paham bahwa banyak orang Muslim yang berhati mulia tidak seburuk sangkaan anda. Agama tidak bisa menjamin moral dan attitude pengikutnya, tetapi agama paling tidak mempengaruhi secara positif karakter pengikutnya.
lha iya, temen ane banyak muslim yg baik tapi jarang sholat, bedanya apa ama amrozi yg rajin sholat ama muslim baik yg jarang sholat. ente sudah salah paham dari awalnya, ane ga bica soal moral quality. tapi perbedaan dasar nurani manusiawi terlepas dari ajaran sang kanjeng nabi besar. makanya ane labelin muslim extrimist wahabi alsintingiyah supaya tdk tertukar dengan muslim mainstream lainnya. taro dimana otak ente??
Muslim ‘mainstream’ adalah mereka yg tidak tahu Islam sebenarnya. Entah karena mereka memang malas belajar atau salah kaprahiah sama ustadz yg perlu duit kafir. Hare gene dgn info lengkap di internet Muslim mainstream masih berlagak sok paling tahu Islam. padahal di Arab sendiri, Muslim Indonesia diketawain. Elu orang tuh dicap kaum pembantu yg Islamnya morat marit. Banyak cewek2 berjilbab yg sama sekali tidak tahu menahu ttg Political Islam dan mendesign Islam sesukanya sendiri. Jaman udah berubah bu!
kalau mau mengasihi, jangan menakluk dong. Menakluk khan bunuh orang. Apa Shalahuddin gak tahu bedanya??
Untuk penulis artikel ini, tolong dibaca: http://en.wikipedia.org/wiki/Muslim_conquests Muslim conquests (632?732), also referred to as the Islamic conquests or Arab conquests, began after the death of the Islamic prophet Muhammad. He established a new unified polity in the Arabian Peninsula which under the subsequent Rashidun (The Rightly Guided Caliphs) and Umayyad Caliphates saw a century of rapid expansion of Muslim power. http://en.wikipedia.org/wiki/Crusades The Crusades originally had the goal of recapturing Jerusalem and the Holy Land from Muslim rule and their campaigns were launched in response to a call from the Christian Byzantine Empire for help against the expansion of the Muslim Seljuk Turks into Anatolia. Lucu kali kau memulai artikel ini dengan menulis seakan2 Muslim dan Islam adalah pihak yang terdzolimi!
http://indonesia.faithfreedom.org/forum/sejarah-perang-salib-terjemahan-yang-tidak-diketahui-islam-t5960/
Tulisan tanpa referensi bisa disebut sebagai Fiksi atau karangan bebas.Alangkah baiknya kalo disini digunakan untuk adu argumen bukan malah jadi adu dongeng agar Apakar menjadi lebih bermutu
Seiring dengan matinya Muhammad, penerus Muhammad, para kalifah, meneruskan kampanye ekspansi yang agresif. Kurang dari satu abad mereka telah mengambil alih, antara lain, Siria, Palestina dan Afrika Utara. Meskipun sekarang kita menganggap daerah tersebut adalah daerah Muslim, pada waktu itu daerah daerah tersebut adalah Kristen. Dikatakan bahwa kerajaan Muslim yang berekspansi telah mencaplok setengah dari peradaban Kristen. Bahkan Eropa sendiri terancam. Muslem mengambil alih Spanyol Selatan, meng-invasi Prancis dan bahkan mengancam untuk meng-invasi Roma. Namun ekspansi mereka ditaklukkan oleh Charles Mantel pada pertempuran Poiters di 732. (http://www.catholic.net/rcc/Periodicals/Dossier/2002-02/article3.html)….. dari tulisan Bung Albert Kusen,bisa2 orang salah menarik kesimpulan bahwa Hitler aadalah penakluk dan pengasih