Sejak Jan 2012

Tolong Klik LIKE

Cara Kirim tulisan

Tulis dulu tulisan anda di Word atau di word processor apa saja, jangan di format, cukup diberi paragrap saja.
Lihat kolom paling atas; LOGIN: dengan User Name: Tamu dan Password superkoran - setelah itu anda akan bisa melihat kotak untuk mengisi tulisan. (kotak kanan atas)
Copy tulisan anda dan Paste di kotak tsb dan beri judul dan tekan SAVE. Tambahan: Setiap tulisan hendaknya diberi TITLE dimulai dengan Nama Penulis + judul Tulisannya. Tanpa nama penulis, dengan sendirinya tidak jelas siapa yang menulis dan tulisan tidak bisa diterbitkan. TIAP ORANG HANYA BOLEH MENGIRIM TULISANNYA SENDIRI

Daftar tulisan

H. Asmara Hardi: Menanam

Pembaca: 1602

menanamNasehat klasik siapa menanam padi panen padi, siapa tanam jagung panen jagung, apakah nasehat klasik ini berlaku untuk orang yang menanam kebaikan atau pun kejahatan? Ternyata banyak orang jahat hidup aman dan baik-baik saja, banyak orang baik-baik dan jujur hidup pas-pasan dan tidak jarang sengsara.
Beberapa topik dan diskusi akhir-akhir ini dari milis Superkoran didominasi oleh opini-opini keagamaan dimana agama, diyakini hampir semua warga Indonesia, dianggap bagian vital dari kurikulum pendidikan di Indonesia, tak ada yang berani menggugat apalagi melawan soal tersebut. Berbeda dengan Eropa di abad pertengahan dimana agama begitu powerfull dan tidak boleh ada yang menentang kekuasaan gereja, tetapi tetap ada orang-orang Eropa yang gigih dan berani menentangnya meskipun berakibat di tiang penyiksaan. Kegigihan mereka membuahkan hasil munculnya kemerdekaan berpikir dan berbicara, tidak lagi pemikiran mereka dibelenggu oleh agama yang ketika itu dianggap memasung cara berpikir, memasung kemajuan karena otoritasnya mencakup sampai ke bidang ilmu profan (duniawi).

Kalau menanam itu kita artikan mendidik, apakah bangsa ini telah berinvestasi menanam sesuatu yang berharga agar kelak memanen sesuatu yang berharga pula. Tentu mendidik pasti bertujuan baik tetapi bisa saja hasilnya sangat tidak baik karena ketidak pedulian bahwa yang ditanam pendidikan yang tidak baik pula. Suatu benih usang yang tidak diperlukan untuk pendidikan modern yang dilandasi keterbukaan terhadap nilai-nilai kebaikan yang berlaku secara universal. Lihat bagaimana bangsa Amerika belajar dari para perintis guru bangsa pendahulunya George Washington, Abraham Lincoln, Thomas Jefferson, Benjamin Frnklin, JF. Kennedy dan masih banyak guru bangsa yang lain seperti Gandhi, Nelson Mandela dsb. Pendidikan yang baik akan mampu menelorkan para pemimpin sekualitas mereka, mengikis perbedaan ras, suku, agama, dan rasisme lainnya, pendidikan yang baik merupakan fondasi kekuatan suatu bangsa untuk menggapai keadilan dan kesejahteraan. Rasanya saya belum pernah tahu ada negara republik yang mampu bertahan 200 tahun lebih dengan ganti-ganti pemimpin (presiden) di dunia ini selain Amerika Serikat karena mereka belajar dari para pemimpin yang terdidik yang memiliki komitmen dan integritas kebangsaan.

Lalu bagaimana dengan kita? Kita merdeka belum 70 tahun tetapi tanda-tanda kehancuran sudah ada di depan mata, segala yang buruk dan jahat dilakukan secara transparan dari tingkat rendah sampai ke tingkat kalangan kepresidenan. Karena apa? Karena yaitu tadi soal MENANAM !! Lihat pendidikan kita begitu menjujung tinggi pendidikan agama, semua orang percaya agama itu baik, tetapi apakah bibit agama yang kita tanam bibit yang baik? Tidak! Samasekali tidak! Belajar agama secara murni fisik agama hanya MENANAM PERPECAHAN karena agama fisik intinya apologetic, menyalahkan yang lain, mempertajam perbedaan, tak ada yang bisa diharapkan. Kalau sejak awalnya sudah begini apa yang bisa diharapkan dari pendidikan semacam itu??? Kecuali pertengkaran, kekuasaan dan saling curiga.

TANAMLAH SEMANGAT & JIWA dari agama-agama, jiwa yang islami adalah semangat menegakkan keadilan, jiwa kristiani adalah semangat mencintai sesama, jiwa budhisme semangat unity (penyatuan), jiwa hindu trimurti semangat untuk memelihara alam semesta, jiwa dari orang-orang atheist adalah mengajak orang-orang yang mengaku beragama kritis dan tidak hanya bisa menjadi penikmat sambil mencaci maki. Jika semangat ini yang ditanamkan bangsa ini akan bangkit dari keterpurukan, agama yang fisik tidak perlu diajarkan di sekolah-sekolah tetapi ajarkan diluar sekolah, yang perlu diambil semangat dan jiwa agama yang murni dari dalam. Yang mau belajar secara fisik Islam cari kiai dan ustad di mesjid, yang Kristen belajar ke pendeta atau pastor demikian juga bagi agama yang lain. Sehingga pemerintah tidak lagi dibebani pembiayaan institusi agama, guru-guru agama dan buku-bukunya yang sebenarnya hanya belajar bertengkar. Belajar hal-hal yang tidak produktif, belajar angan-angan tentang surga-neraka, hal yang sangat merugikan, belajar agama secara kasarnya sama dengan belajar soal angan-angan hal yang tidak produktif. Agama memang perlu sebatas itu membuat pemeluknya menjadi berlomba dalam semangat kebaikan sehingga semua bisnis dijiwai dan disemangati oleh sikap religius pemeluknya. Agama tidak diperlukan lagi di sekolah, KTP, dan kartu identitas lainnya jika hal-hal ini masih ada dan masih perlu maka tak perlu kita mengharap hal yang baik tumbuh di negara ini karena kita menanam hal yang tidak baik. Penulis tidak bermaksud meniadakan agama dalam kehidupan tetapi mengajak menempatkan agama pada tempat yang menurut penulis tepat yaitu di dalam hati yang menyemangati dan memperindah hidup kita, hidup menjadi berkat sekaligus hadiah bagi setiap orang.

Tetapi siapa berani memulai dalam hal ini? Para mullah, kiai, guru agama, pendeta dan pastor akan marah bersama pengikutnya… kenapa marah?? Marah, karena kehilangan lahan bisnis sekaligus otritas kewibawaan duniawinya…lalu? Tak ada cara lain selain berpikir kritis dan terbuka untuk segala kebaikan yang muncul dari mana saja. Sejak kecil kita sudah diberi sabu-sabu agama fisik sehingga tanpa itu kita akan mati mengenaskan, jalan satu-satunya adalah membekali generasi muda agar mendapat pendidikan yang benar dan baik. Sangat berbeda orang terdidik dan orang pintar hasil godokan universitas, orang terdidik mampu mengukur perasaan orang lain tidak akan buang sampah sembarangan apalagi dari dalam mobil. Bisa saja dia seorang sarjana yang berhasil berkarir tetapi sanggup buang sampah dari dalam mobil, piara puluhan burung-burung kicau di rumahnya jelas orang ini pintar tetapi tidak terdidik seperti anggota DPR kita jelas mereka pintar-pintar tetapi tidak terdidik. ORANG YANG TERDIDIK adalah gabungan dari hasil kecerdasan yang didapatkan di sekolah dan kebijaksanaan yang didapatkan dari berkembangnya pengalaman hidup serta terbukanya budi pekerti (humanisme/inti kebenaran agama) yang menyertainya.

Berikut dua contoh dari dua guru yang berbeda dan anda yang menilainya sendiri mana kelak yang mampu membuat anak-anak tumbuh memiliki pribadi yang dewasa berperhatian terhadap yang lain (caring others) atau tumbuh menjadi pribadi orang tua yang cenderung menggurui, menghakimi dan merasa benar sendiri. Perhatikan contoh berikut :
Guru Indonesia mengatakan:
“Anak-anak kalian harus tahu tidak ada tuhan selain Allah SWT, yang maha pemurah dan pengasih. Barang siapa menyekutukan DIA maka akan dihukum di api neraka yang sangat panas tidak pernah padam. Allah SWT suka pada anak-anak yang membantu orang tua, beramal soleh mereka akan mendapat pahala yang berlimpah”.

Guru Amerika mengatakan (cerita ini benar-benar kejadian, seorang teman yang berimigrasi ke USA bercerita ketika pertama kali si kecil bungsu masuk ke sekolah taman kanak-kanak di USA) :
G: Anak-anak kita memiliki teman baru tetapi teman kita ini dari suatu tempat yang jauuuh… sekali dan tidak mengerti bahasa yang kalian gunakan setiap hari…..
A: Wow…. (dalam benak anak-anak Amerika kok ada anak lain yang nggak bisa mengerti bahasanya).
G: Untuk itu aku minta bantuan kalian, dia butuh teman untuk main-main di halaman, untuk ke library, dan membantu menunjukkan tempat-tempat yang dia butuhkan ke toilet, tempat sampah dll.
G: Nah…! Siapa di antara kalian yang bersedia menemani main-main di halaman?
A: Saya bu…, saya juga bu…, saya! Saya!
G: Siapa yang bersedia menemaninya ke library?
A: Saya…! Saya…! Saya…juga mau!

Nah! Dari kedua cerita tadi kita sudah bisa memperkirakan kelak jika mereka dewasa. Sepintas guru Indonesia nampak lebih baik tetapi kita akan memetik buah yang ditanam pada anak-anak tersebut ketika dewasa. Mereka akan membagi manusia menjadi hitam-putih yang benar sesuai seleranya dan yang tidak benar yang harus dijauhi (dimusuhi). Mereka mengabdi Allah SWT tidak akan pernah tulus karena setiap amal baiknya selalu dikonversi dengan pahala, maka apa yang bisa diharapkan dari pengajaran semacam ini? Lebih menekankan perbedaan daripada persatuan dan saling membantu, lebih banyak khaosnya juga.
Sedangkan anak murid dari hasil pendidikan guru Amerika tadi ketika dewasa akan lebih berkomitmen terhadap sesamanya tanpa ada pembedaan. Mereka belajar memberi, belajar mncintai sejak dini tanpa mengharapkan ada pahala atau tidak, ada hadiah surga atau tidak. Segala kegiatan dari soal ekonomi, hukum dan agama untuk manusia bukan manusia untuk agama, hukum atau pun ekonomi. Berbalikan dengan kita bahwa manusia Indonesia boleh diamankan (dibunuh) hanya karena dianggap melecehkan agama, yang kriterianya gak jelas.

Banyak keuntungan jika pelajaran agama dihilangkan dari kurikulum sekolah, dihilangkan dari KTP dan identitas lainnya seperti budget belajar angan-angan yang tidak produktif dialihkan menjadi yang lebih produktif. Seleksi kepegawaian akan lebih modern dengan mengutamakan skill daripada sentimen agama, perusahaan-perusahaan akan lebih mendapatkan profit karena tidak lagi dipaksa mengadakan mushola, air, listrik untuk hal tersebut. Rasa kebersamaan sebagai bangsa yang bersatu akan mudah digalang tanpa ada unsur pemaksaan dari pihak mayoritas. Dan masih banyak lagi keuntungan dengan menempatkan pendidikan dan agama pada porsi dan posisi yang benar.

Segala tindakan yang kita lakukan atau ekspresikan setiap hari adalah hasil reduksi dari apa yang kita tanam dan percayai. Jika kita diajar bahwa Gusti Allah itu suka menghukum, maniak membunuh orang-orang yang tidak turut perintahNYA, dan memberi pahala pada yang berbuat baik. Maka bisa dipastikan kita juga akan kejam terhadap kesalahan orang lain. Jika kita diajar bahwa Gusti Allah itu penuh belas kasih, mengerti dan memahami kita, yang rusak dibetulkan dengan penuh kasih sayang maka kita pun akan berlaku demikian. Sehingga hukuman kepada seseorang yang salah bukan lagi menyakiti dan menyiksa agar mereka jera tetapi hukuman adalah sarana untuk memperbaiki kemanusiaan mereka yang rusak agar mampu merenungi kesalahannya dan kembali ke masyarakat dengan harapan baru. Maka kenapa banyak negara-negara di Eropa meniadakan hukuman mati karena mereka orang yang cerdas dan terdidik. Itulah buah dari yang ditanam oleh pendahulunya. Siapa menanam ia menuai.
Hash021

17 comments to H. Asmara Hardi: Menanam

  • Eman

    Mantab! Ini REVOLUSI cara berpikir dan pendidikan anak-anak Indonesia yang kita perlukan sekarang. Kita membutuhkan pendidikan BUDI PEKERTI, bukan pendidikan agama fisik. Kita perlu ilmu untuk hidup yang baik di dunia, bukan ilmu angan-angan untuk masuk surga.
    Tapi ini hanya MIMPI Mas Hardi. Bangsa Indonesia sudah memilih jalannya sendiri untuk punah lebih cepat dari tenggelamnya pulau-pulau Nusantara ke dalam sesar bumi.

  • yang menjadi pertanya, teruus bagaimana bisakah kita menjamin meral peserta didik? dan bisakah dengan tidak adanya pendidikan agama mereka bermoral baik, dan sekarang banyak kejadian banyak anak dibawah umur mencabuli,dan saya ingin mengambil contoh, anak sma suka tawuran, dan pesta minuman keras dan pesta sex, saya rasa saya rasan yang membuat bejat mereka bukan pendidikan agama tapi polafikir mereka yang kurang pahamnya fungsi agama dan penanaman pendidikan moral. kalau pendidikan agama ditiadakan pasti akan terbentuk generasi matrialis yang akan dan orang yang meng halalkan segala cara untuk memmuaskan keinginannya, dan saya rasa selama saya sekolah gak ada tu ajaran untuk mendiskriminasikan kelompok lain dan ajaran yang mengajar kan perbuatan bejat, untuk menghakimi orang lain, perbuatan bejaat seperti orang lakukan itu karena mereka gak bisa mengotrol nafsu dan kurangnya pendidikan tentang moral,

  • Yohanes

    Saya juga setuju sekali dengan cara pandang penulis ini, bangsa Indonesia yang Islam tidak akan takut dipimpin orang Kristen yang berjiwa islami, atau Budha atau Hindu dan sebaliknya orang non Islam tidak akan berprasangka buruk jika kepemimpinan dipegang oleh yang Islam yang berjiwa kristiani (belas kasih & cinta sesama). Bagi saya yang kristen lebih baik dipimpin oleh orang Islam yang berjiwa bersih, jujur dan mengutamakan kesejahteraan sesama daripada dipimpin sesama Kristen tetapi berperangai buruk, jahat dan korup. Mari bermimpi bersama mas Hardi…!!

  • heru

    Anda mau tahu apakah di Indonesia ada sekolah yang mengajarkan demikian??? Jawabannya ADA; gak percaya lihat itu sekolahan SDK Mangunan, SD yang dirintis oleh Rm. Mangun Wijaya (seorang Pastor Katolik). Sekolah ini tidak mengajarkan agama di sekolah meskipun sekolah ini nota bene adalah sekolah Katolik. Sistem pendidikan yang diterapkan sungguh banyak kemiripannya dengan sekolah-sekolah dasar di USA. NAmun ada sedikit kegelisahan dalam diri saya tentang tulisan saudara Hardi; dia seolah2 mengunggulkan hasil pendidikan di Amerika, dan “melihat” bahwa anak-anak Amerika jauh lebih berbudipekerti dibandingkan anak2 Indonesia…wait, halllo….are you sure? Lihat saja bagaimana anak2 Amerika ke sekolah bawa senjata pistol dan menembaki sesama temannya, lihat saja bagaimana mahasiswa Amerika membunuh teman kencannya, lihat saja banyak pemimpin Amerika yang korup (meskipun tidak transparan seperti di Indonesia). So…find the answer by yourself.

    Anyway, saya setuju bahwa agama musti dipisahkan dari pemerintahan namun bukan dari pendidikan. Saya lebih setuju bahwa agama tetap menjadi bagian dari pendidikan meskipun bukan pendidikan formal. Saya punya alasan sendiri kenapa saya lebih setuju dengan prinsip ini, karena banyak orang bermutu di USA ternyata adalah orang-orang yang sangat religius. Contohnya banyak, ambil saja Timothy Tebow, dia seorang pemain sepak bola Amerika tapi dia sungguh religius, JF. Kenedy, Bill Clinton, Jeremy Lin (pemain NBA), Rick Santorum (Kandidat presiden Amerika). So nggak ada salahnya orang jadi religius. Well…I don’t wanna talk too much.

  • Wong Ma Lang

    Untuk om Aristoteles di atas…. di negara-negara maju seperti Australia, Perancis dan konco-konco majunya tidak ada pendidikan agama tetapi tidak ada tuh menghalalkan segala cara, di Indonesia semua sekolah ada pendidikan agamanya tetapi buuuuaanyaakkk sekali orang menghalalkan segala cara!! Lihat aja tuh Polisi, anggota DPR dan konconya mereka semua kenyang dengan agama tetapi sanggup menghalalkan segala cara. Jadi?????

  • iwntr

    hmm hmmm….. mnrt saya justru pendidikan agama diajarkan disekolah hanya kurikulumnya diperhatikan!. Pendidikan Islam skrg banyakan sejarah perang n soal fiqh, ritual saja sedang soal cinta sesama, kedamaian nabi yang mau menghormati umat sesama (termasuk meminjamkan bangunan masjid utk umat lain) serta sejarah era kejayaan Islam yg terbuka spt era Ibnu Sina / Cordova yg byk bergaul dgn bangsa lain dan menghrmati umat 2x lain gak pernah diajarkan…..

    Kenapa perlu diajarkan ? Bila tidak para siswa justru mendapat ajaran agama (khususnya Islam) dari khotbah2x sedang kita tau saat ini khotbah2x banyak yg dikuasai kaum fundamentalis. Saya Shalat Jumat bbrp minggu lalu saja khotbahnya bukan soal tatacara hidup yg baik tapi anti nasrani dgn memanfaatkan momentum Valentine. bukankah malah lebih kacau lagi kalo mereka tau Islam dari kaum radikalis/fundamentalis/wahabis ?

    Selain itu perlu juga pelajaran perbandingan agama dimana semua agama belajar di kelas yg sama dan yg diajarkan sisi-sisi kebaikan/tolerannya biar saling memahami satu sama lain n gak asal nuduh

    Tapi kunci dari semua ini : Pemerintah/presiden yg gak pucat dalam kegentaran oleh protes kaum FPI n konco2xnya..bukan macemnya presiden skrg…

  • Wong Ma Lang, yang menjadi pertanya tentang para pejabat yang menghalalkan segala cara itu, menjadi pertanyaan dari saya mereka tau agama tapi apakah mereka melaksanakan apa yang menjadi aturan agama? terus apakah ajaran agama mengajarkan mereka berbuat seperti itu?
    dan apakah kamu tau sebenernya yang terjadi di negara-negara itu yang engkau katakan tidak menghalalkan segala cara??

    sebenernya negara ini bobrok bukan karan pendidikan agama tapi karena hukum tidak ditegakkan secara benar dan hukum diindonesia ini tidaklah adil, dan orang yang mengaku beragama tapi tidak mau mencontok pendirinya,dan sebagian hanya ikut ikutan, dan banyak orang indonesia yang mengikuti paham filsafat materialisme yang tak terkontrol.

  • Agama kekerasan

    @aristoteles jangan lupa, mereka yang anarkhis itu ngerti agama, yang ngebom-ngebom itu juga ngerti agama dan mereka yakin bahwa mereka melakukan semua itu karena menjalankan perintah agamanya,

    jadi saya lebih suka ajaran budi pekerti lebih diutamakan dari pada ajaran agama, untuk bermoral tidak harus beragama, moral itu universal bung dan bisa menjadi tolak ukur yang sangat baik.

    Sebab kalau orang bermoral tau kalo perbudakan, pedofilia, ngerampok, perkosa tawanan perang itu salah, jadi kalau ada agama bahkan tokoh agamanya melakukan semua itu berarti agamanya itu agama yang gak bener karena tidak bermoral

  • Agama kekerasan@ sekaranya yang saya tanyakan mana perintah agama yang menyuruh mereka melakukan itu semua mohon tunjukan bunyi perintah itu?

    saya tanya apakah didalam agama tidak di ajarkan budi pekerti?

    dan apakah orang yang bergama semua melakuakn demikian dan tidak ada yang baik?

    dan apakah kamu pernah benar mengkaji dan mempelajari semua yang engaku tuduhkan semua itu, dan dari berapa sumber yang engkau baca, dan apakah engkau benar benar sudah membaca dengan seluruhnya dari ajaran agama itu,

  • Agama kekerasan

    @aristoteles : anda kurang ngikutin berita ya, berkali-kali amrozi, imam samudra sampai ustad abu bakar baasyir mengutip ayat-ayat kitab suci yang mendukung kelakuan mereka…anda tidak tau atau pura-pura tidak tau…

    Ajaran budi pekerti yang saya maksud adalah ajaran budi pekerti yang universal dan ajaran moral yang universal bukan ajaran budi pekerti yang subjective (cuma dari sudut pandang agama tertentu)yang bisa membuat seseorang jadi berpikiran sempit, merasa benar sendiri, menghakimi orang lain seenaknya

    Siapa yang nuduh, yang saya sampaikan diatas adalah apa yang saya liat sehari-hari dimedia, anda suruh saya mempelajari agama tsb, emang gue kurang kerjaan apa, cukup liat kelakuan umatnya aja sudah bisa menilai kok

  • Abangan

    Mas Tales, sudah bukan rahasia lagi bahwa agama Islam yang sampean dan saya percayai ini adalah pengekspor kekerasan dan kekerasan itu bersumber dari Al Quran. Kalau anda, saya dan mungkin Islam yang lain itu suka damai dan anti kekerasan itu dikarenakan pengaruh budaya lokal seperti kejawen. Jika murni Arab yang terjadi ya…bisa kita lihat seperti FPI, Laskar Hizbullah, JI, Al Qaida dan masih segudang kelompok keras lainnya. Mereka-mereka itu memetik dari ajaran yang terdapat di Quran spt ayat-ayat berikut ini:
    Al Taubah 5: Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu630, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan631. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang
    Surah At Taubah 12, Surah Al Baqarah 193, Surah An Nissa 91, dan masih banyak ayat-ayat keras lainnya, yang membikin bulu kuduk berdiri. Tak heranlah jika tega memenggal kepala pengikut Ahmadiyah, dan di jaman PKI jutaan orang terlepas kepala dari badannya di klewang oleh umat Islam (NU) ketika itu. Karena mengikuti Surah Al Baqarah 191.
    Dalam dunia budi pekerti (dunia universal) tidak ada atau tidak dikenal pembagian manusia menjadi kafir dan non-kafir, sedangkan di agama kita ada. Pembagian ini tidak boleh diterapkan oleh negara-negara yang menandatangani menjadi anggota PBB. Dunia budi pekerti melarang membunuh orang hanya karena yang dibunuh memfitnah, sedangkan di Islam syah untuk dibunuh karena ada ayatnya. Coba baca link berikut ini yang cukup merasahkan dunia:
    http://life.nationalpost.com/2011/09/28/saudis-export-anti-christian-and-anti-jewish-textbooks-across-the-world-report/
    Kita harus mengakui banyak hukum-hukum Islam tidak sesuai dengan nilai-nilai budi pekerti (universal) dan diperlukan penafsiran yang wise (bijak) agar sesuai dengan dunia modern, sehingga Islam benar-benar bisa menjadi berkat bagi dunia. Tidak boleh hukum rajam, potong tangan, pancung dan hal-hal yang tidak manusiawi karena ini melanggar Piagam PBB.

  • hehehehehehe emang saya gak tau dasar dasar mereka, saya pernak bertanyakan kepada orang islam waktu saya bertemu mereka apa yang mereka-mereka lakukan,dan mereka juga menganggap salah perbuatan mereka itu,

    ini lah kekurang dan kepicikan kita kadang kita yang sering terpaku dengan media masam dan tau mebuktikan,dan langsung menilai mereka dari agama ini melakukan kekerasan yang menyebabkan kekerasan dari ajaran agamanya dan kita menyalahkan agamanya, padahal kita tidak tau apakan benar agama itu mengajarkan seperti itu, atau mungkin saja pemahaman mereka saja yang keliru,

    yang selam ini saya rasasan hidup dengan orang orang yang beragama ya akur akur ajau tu dan damai aja tu dan tak ada kekerasan antar agama padahal disitu ada islam,kristen,budha.aknotis,

    kalau kita tidak mempelajari ajarannya mana bisa kita mengecap atau menuduh bahwa ajaran agama/agama itu tak bener,dan kita tidak dapat mengetauhui yang salah itu ajaran agamanya atau orangnya yang salah memahami ajaran agamanya

    dan kita sering menyalahkan sesuatu dengan menlihat sekilas tanpa mau mebuktikan apa yang salah dari mereka dan dasar mereka apakah betul demikian.

  • iwntr

    @aristotales… kedamaian yg anda rasakan itu yg kini tengah dirusak disponsori Saudi. Dibalik lembaga dan partai2x maupun ormas yg tengah mengobrak abrik negara ini ada elemen negara itu. Kalau tidak ada perubahan Islam damai yg anda kenal bakal tinggal masalalu (mmg mayoritas damai tapi tetep aja yg demen gebuk kiri kanan akan kelihatan dominan)

  • Abangan

    Islam mas Tales, Islam FPI, Islam MUI, Islam NU, Islam Muhammadiyah, Islam Ahmadiyah, Islah Sunni, Islam Siah, Islam Liberal, Islam Jawa Abangan SEMUA MEMILIKI KACAMATANYA SENDIRI-SENDIRI. Seperti mas Tales telah memvonis Islam keras itu, FPI misalnya, bukan Islam sebenarnya sebaliknya Islam FPI juga akan mengatakan Islamnya mas Tales itu bukan Islam murni dan….saling gebuklah akhirnya karena memang Al Quran mendukung untuk menggebuk Islam palsu. Mana asli mana palsu tergantung tafsir = tebakan masing-masing yang jelas mereka semua mengaku Islam dan mas Tales nggak mau mengakui mereka Islam sebaliknya MUI juga nggak mau mengakui Islam Kejawen yang toleran itu Islam dst. dst. saling gebuk-menggebuk sesama Islam apalagi terhadap non Islam. Inilah Islam yang menjadi berkat bagi dunia…bisnis penjual senjata hhaaa….hhaaaa….

  • Abangan

    Hoallah Slam, Islam kowe ki kok kaya ngono ki piye ta..Slam… Slam? Kebangetan koncone apik-apik padha ditukari …. Kok kaya tembang dolanan rikala aku isih bocah…. “Buto-buto galak solahmu lunjak-lunjak…!!

  • iwntr

    @Abangan… intine sing seneng gebug-gebug kuwi kudu digebug ndisik dadi ora mbebayani liyan ngono loh….
    Masalahe sing nerima wahyu ngayomi negoro (SBY) kok loyo ngadepi koyo ngene ora ono ajine ora ono nyaline, ora koyo eyang Karno opo eyang Harto …

    opo wae agamane yen seneng gebug-gebug kuwi pratandha atine ala… wong ala yen nyekel agama paling apik wae tetep tumindake ala malah soyo mbebayani mergo agamane dinggo tameng/landasan/alesan… panjenengan mangertos boten ? :)

  • rajya

    Saya juga setuju dg penulis.
    Kebetulan pendidikan saya dr Sd-Kuliah campur2, SD swasta netral, SMP katolik favorit, SMU Muslim favorit, Universitas Katolik. Jadi saya sempat belajar agama Katolik karena mmg di SMP ada persetujuan belajar agama tsbt,sdgkan sy sndr muslim. Terus terang yg sy rasakan di SMP dan SMU sangat bebeda dr segi pndidikan agama.. JELAS. Bukan krn agama ny tetapi cara guru mengajar ttg agamany yg bbda. Entah mengapa guru agama katolik di SMP sy dari guru agama biasa, romo, suster mrk tidak pernah menyinggung, menjatuhkan atau melecehkan agama lain. pelajaran agama ny 30%katolik, 70%lebih ke budi pekerti, teposeliro, seperti PPKn. jadi sy merasa belajar agama Katolik spt PPKn. Tetapi ketika sy SMU, yang ada guru guru tsbt mnjatuhkan ataupun melemahkan agama lain yg mmbuat sy sangat tdk stuju dg beliau2. sy sangat kecewa pd saat itu, betapa beliau2 tdk dpt menghargai sesama manusia seperti yg diajarkan guru SMP kpd saya. Menurut beliau Islam agama paling benar, memang sy yakin benar.. tp apakah lalu harus menjatuhkan yg lain?? apakah Allah membolehkan kita untuk menyombongkan diri bahwa kita yang paling benar, dan yg lain salah? Dari kejadian tsbt, sy sangat berhati2 memilih sekolah untuk putra-putri kami. Tidak smua sekolah yg berlabel agama dan favorit bisa menghargai sesamany. Bahkan mrk malah mengajarkan untuk merendahkan kawan atau sodara yg tdk seagama.jadi, untuk sodara2 yang memilih sekolah dg label agama, tlg diteliti terlebih dl bagaimana cara pandang guru2 disekolah tsbt ttg agama lain?? apakah agama yg diajarkan merupakan pelajaran agama yg santun, atau sebalikny.

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>