Sejak Jan 2012

Tolong Klik LIKE

Cara Kirim tulisan

Tulis dulu tulisan anda di Word atau di word processor apa saja, jangan di format, cukup diberi paragrap saja.
Lihat kolom paling atas; LOGIN: dengan User Name: Tamu dan Password superkoran - setelah itu anda akan bisa melihat kotak untuk mengisi tulisan. (kotak kanan atas)
Copy tulisan anda dan Paste di kotak tsb dan beri judul dan tekan SAVE. Tambahan: Setiap tulisan hendaknya diberi TITLE dimulai dengan Nama Penulis + judul Tulisannya. Tanpa nama penulis, dengan sendirinya tidak jelas siapa yang menulis dan tulisan tidak bisa diterbitkan. TIAP ORANG HANYA BOLEH MENGIRIM TULISANNYA SENDIRI

Daftar tulisan

Dwi Oktrisna: Membedah otak monyet akhirat (1)

Pembaca: 1049

Ulangan:

Ketika aku masih kanak-kanak adalah salah satu istilah aneh, “akhirat” yang membuatku bertanya-tanya penuh heran.

    “Ibu guru akhirat itu apa?”

    “Akhirat adalah kehidupan setelah kematian anakku. Jadi nanti ketika kamu mati, kamu akan dibangkitkan lagi oleh Allah. Tempat kamu di bangkitkan itulah yang dinamakan akhirat, mulai dari kamu diadili sampai kamu akhirnya diputuskan untuk masuk surga atau neraka.”

 

    “jadi surga dan neraka termasuk akhirat bu ya?”

 

    “iya, makanya sering-sering berbuat baik, taati perintah dan larangan agama biar masuk surga”

 

Penjelasan yang diberikan oleh ibu guru membuat kepalaku pening. Karena aku sering berbuat nakal ketika aku masih kecil. Jadi aku benar-benar ketakutan setelah mendengar penuturannya tentang akhirat itu.

 

Namun ada sedikit kelegaan juga sih sebenarnya, tidak lama setelah selang beberapa hari aku menonton sebuah film keren. Film yang akan membuat rasa penasaranku terhadap kata “akhirat” menjadi berkurang seadanya. Ada secercah cahaya yang menerangi kegelapan kata “akhirat” dalam benakku saat itu.

 

Akhirat, dari hari ke hari sudah tidak lagi menjadi sebuah alam yang misterius bagiku, sudah tidak ada lagi ketakutan yang melekat dalam pikiranku. Akhirat menjadi sebuah alam yang menyenangkan, seperti dunianya Sun Go Ku setelah dia mati. Pendekar saiya yang kalah bertarung dengan Tsel. Akhirnya ada lingkaran putih yang mengambang di atas kepalanya.

 

Alam barzah tempat roh-roh manusia pada ngantri seperti ngantri sembako, surga yang sejuk menyenangkan seperti naik ke pegunungan, dan neraka yang panas menyengat memedihkan seperti di gurun pasir sahara.

 

Begitulah bayangan tentang akhirat terbentuk silih berganti, seperti di film dragon ball yang biasa kutonton. Film kartun Jepang yang tiap hari minggu pagi diputar oleh indosiar. Kerennya Go Ku setelah mati, masih saja bisa terus berlatih meningkatkan power kekuatan tempurnya bersama dewa emperor.

 

MERUNTUHKAN PSIKOLOGI IMAJINASI

 

Dan agaknya psikologi imajinasi kekanak-kanakan yang terbentuk selama ini dalam alam pemikiran manusia dewasa telah diruntuhkan juga. Hanya karena diawali oleh suatu hal sebab musabab yang sangat sederhana tersebut. Hanya karena sebuah pemutaran film dragon ball yang kekanak-kanakan itu. Memang perlu kejujuran lebih untuk berani bersikap menjadi manusia yang apa adanya. Berani mengakui bahwa selama ini. Selama puluhan ribu tahun. Manusia hidup di bawah bayang-bayang kuasa positivisme nilai/mitos yang penuh gairah kesia-siaan. Agaknya aku jadi kian paham dengan ungkapan sartre bila Manusia memang penuh dengan “gairah yang sia-sia”.

 

Mencoba mengamini apa yang telah diungkapkan olehnya. Bukankah memang hampir semua yang pernah dididik menjadi umat beragama, pastilah pernah mendapatkan penjejalan-penjejalan-pemaksaan atau lebih tepatnya pemerkosaan psikis mengenai penanaman nilai-nilai positivistik yang jauh dari fitrah dasar manusia itu. Nilai-nilai positivistik yang katanya lahir dari pemikiran orang-orang bijak di masa lalu. Tentu nilai-nilai itu sudah usang dan hampir ambruk, tak relevan lagi bila diajarkan di masa kini.  Dan menurutku, meminjam ungkapan Derrida: harus segera didekonstruksi, bila memang kita tidak ingin usia negeri ini premature, tewas tertimpa atap dan tiang-tiangnya.

 

Ya nilai-nilai lama itu seperti kayu yang lapuk. Nilai-nilai yang terlalu dipaksakan dijadikan atap penopang, tiang-tiang penyangga, dan pondasi bagi berdirinya sebuah rumah yang bernama Indonesia.  Lihatlah rumah  yang harusnya tegak berdiri ini, lihatlah rumah ini semakin reyot. Rekonstruksi : rasa-rasanya bukan solusi yang efektif untuk memugarnya. Karena memang sudah terlalu banyak rayap-rayap religiosentris yang menggerogotinya. Rayap-rayap sentimen SARA yang diam-diam sejak kemerdekaan negeri ini kian tumbuh subur dan selalu dikembang biakan oleh kepentingan politik praktis tertentu. Hanya ini jalan satu-satunya, lebih baik dihancurkan dan diratakan saja rumah reyot ini dengan tanah sekalian. Seluruh bangunan berpola religi yang ada hingga detik ini harus dihancurkan didalam relung hati kita yang terdalam, semua lembaga baik pendidikan dan pemerintahan harus segera disekulerkan. Demi masa depan bumi Indonesia yang lebih baik.

 

 

 

AWAL MULA SIA-SIA

 

Mengingat fitrah manusia yang sejak dilahirkan ke dunia ini, sejatinya telah dikaruniai dengan seperangkat mukjizat luar biasa maha besar yang dinamakan “kebebasan”. Ya kebebasan untuk menjadi  apa saja sesuka kita. Kebebasan untuk berimajinasi lebih liar, lebih keren, lebih berwarna dengan sejuta kreatifitas, kebebasan untuk meragu dan mempertanyakan segala sesuatu, kebebasan mendayagunakan segenap potensi akal untuk bernalar.

 

Sayangnya praktik-praktik pemerkosaan kebebasan terhadap anak-anak berusia dini ini semakin menggejala akhir-akhir ini di tiap-tiap tempat kita hidup, baik itu di rumah hingga sekolah-sekolah: jam pelajaran yang seabreg dan masih saja pelajaran rasis(agama) masih juga diajarkan. Dalam tanda kutip, aku tidak ingin membahas jam sekolah yang makin menggila, kasihan juga melihat anak-anak indonesia kehilangan masa kanak-kanaknya.

 

Namun dalam tulisan ini aku ingin menyorot perihal pelajaran agama yang bagiku begitu sangat rasial. Di dalam sekolah negeri, aku dan teman-temanku yang tidak seagama pernah dipisahkan akibat perlakuan rasis dari pelajaran agama ini. Betapa enaknya mereka minoritas belajar di luar kelas, sedang kami yang mayoritas ini di dalam kelas mendengar bu guru agama Islam mengajar, aduh tentang akhirat pula yang diajarkan. Capek dehh..

 

Memang di kemudian hari, pada saat ketika kami ini telah menjelang dewasa, nilai/mitos-mitos itu kelak akhirnya menjadi absolut. Mitos bila kami berbeda tak mungkin bersatu dalam surga. Mitos itu mengakar kuat di sistem limbus otak manusia dewasa seperti kami, menjadi sebentuk ungkapan rohani yang bernama iman. Iman cikal bakal toksin yang bagiku pribadi akan mengubah otak manusia sepertiku tak lebih pintar dari monyet.

 

Dan puluhan tahun telah terlewati. Sebagai manusia dewasa di hari ini, akupun sering tertawa terbahak-bahak sendirian bila mengingat jawaban ibu guru mengenai pertanyaanku tentang akhirat di masa kecilku itu. Oh, betapa lucunya ibu guruku, kok pelajaran agama yang diajarkan olehnya,  seperti film kartun dragon ball kesukaanku itu ya? atau mungkin lebih baik lagi metode pengajarannya dengan nonton film kartun saja. Supaya keimanan itu lebih merasuk, Go.. Go.. Go ku sampai matipun engkau masih bisa berlatih tempur di akhirat bersama dewa emperor. Hahaha.. :lol

 

 

 

SEJARAH IMAN VS AKAL

 

Dogma Iman yang begitu dipuja-puja dan dilindungi oleh kekuasaan agama, pernah disebutkan oleh sejarah sebagai salah satu penghambat bagi kemajuan otak homo sapiens untuk bernalar.Salah satunya adalah dogma iman yang diproduksi oleh kekuasaan ortodoks gereja Roma di abad pertengahan di Eropa.

 

Sebenarnya kalau mau dibedah lagi, akarnya adalah Filsafat Plato. Akar dari dogma-dogma absurd yang selalu diproduksi oleh Gereja, semua adalah hasil comot dari ide-ide Plato. Pemikiran plato yang kental akan aura mistisnya, jujur bagiku penuh bualan dan tidak mendidik manusia menjadi dewasa, malah kekanak-kanakan. Salah satunya ya ide bahwa jiwa manusia itu abadi, dan ada alam setelah kematian yang bernama akhirat ini. Dari pemikiran geje itu lahirlah ide-ide konsep ketuhanan, keimanan, kesucian, penebusan dosa dan tetek bengek lainnya berdasarkan inspirasi dari pemikiran plato yang bagiku juga geje, sangat geje.

 

Sejalan dengan itu banyak akademi ala plato didirikan juga, (ketika di tangan kekuasaan gereja roma berubah menjadi sekolah-sekolah biara). Itulah tips dan trik kekuasaan, harus ada ajaran sebagai kepanjangan kekuasaan untuk mendidik, mendoktrin, untuk kemudian mengontrol monyet-monyetnya. Itulah alasan dasar mereka Kerajaan Romawi barat maupun timur perlu membentuk suatu agama baru yang akan menyatukan Eropa.

 

Mengingat kejayaan Yunani di masa sebelum mereka, dan ide plato sungguh sangat populer, terang akan banyak membantu usaha penguasa untuk memonyetkan manusia-manusia eropa. Dan sejak saat itulah, selalu saja tradisi ilmiah yang dipustakai oleh aristoteles, filsafat yang berhubungan dengan alam, filsuf-filsuf alam sepanjang sejarah pra-klasik Yunani hingga  masa neo platonis tak lagi pernah populer. (Hingga saat zaman helenistik, Alexander the great meninggal, kerajaan Yunani sampai asia terpecah, muncul kerajaan Roma, turki menyerang pusat dimana seluruh enskripsi filsuf alam tersimpan).

 

Dalam kurun waktu awal abad pertengahan itu,  ciri iman dapat kita cermati; dari pola hidupnya yang statis, berkembang biak fasis, seragam dan sejenis selama 10 abad, “tak ada tanda-tanda kemajuan jaman”, malah yang sering terjadi juga perang. Takjubnya, entahlah mengapa  jumlah penyebaran Iman juga sangat mudah sekali bertambah banyak saat itu. Iman itu selalu ditelurkan oleh agamawan kepada akal-akal polos manusia melalui teks-teks skriptural penuh bualan dan mitos pengandaian. Mungkin itulah sebabnya ia makin populer, karena bisa menjawab keresahan-keresahan dan kegalauan-kegalauan umum manusia.

 

manusia resah dengan misteri kematian

    dan manusia mana yang mau mati begitu saja

    tanpa tahu apa yang akan terjadi pada mereka setelahnya?

 

    manusia resah dengan makin tingginya angka kejahatan

    sedangkan manusia mana juga

    yang mau berbuat baik tanpa ada imbalannya?

 

Filsafat plato bisa menjawab itu semua, dia ajarkan ide tuhan langit, konsep moral dan segala lembaga aparatur tuhan. Tak lain adalah untuk meredakan keresahan keresahan itu, maka tak heran ide-idenya begitu sangat populer hingga kelak menyeberang ke tanah arab dan keseluruh dunia nantinya. Menjadi bapak dari agama-agama langit.

 

Tak hanya itu, iman juga selalu dijadikan pembenaran oleh orang-orang suci zaman dulu dalam melakukan tindakan pembunuhan atas nama kesucian. Begitulah iman bahkan bisa menjadi bahan bakar emosi bagai sesama manusia untuk saling berperang, salah satunya adalah sejarah perang salib. Perang tertua sepanjang peradaban manusia, sebelum PD I dan PD II berkecamuk.

 

Namun kali ini kita kesampingkan dulu soal perang. Dalam hal pendidikan, salah satunya pengetahuan. Pengetahuan atau sains, tidak akan pernah semaju seperti sekarang ini. Jikalau memang iklim kebebebasan tidak juga belum pernah terbentuk saat itu di Eropa. Kebebasan baik itu berpendapat-berpikir-berorganisasi, bukankah masih tetap adalah syarat utama bagi bahan bakar dasar yang saklek untuk  tumbuh suburnya tradisi ilmiah?  Tradisi yang sangat dibutuhkan guna melahirkan pemikiran-pemikiran baru. Dan agaknya Eropa bisa mewujudkan iklim itu, tentu setelah melewati masa-masa gelap ortodoks kekuasaan Gereja Roma yang sangat-sangat lama sekali. Bayangkan, lebih dari empat belas abad semenjak kelahiran kristus di bumi ini.

 

Dari sini bisa kita lihat, betapa Iman dalam sejarah tak akan pernah bisa berjalan beriringan dengan sains. Selalu saja iman digunakan untuk membunuh kesempatan bagi akal yang polos untuk berpikir dan bernalar guna mencipta pengetahuan yang lebih baru, ter-update dan teranyar. Bahkan tak ayal lahirlah usaha-usaha pengkristenan terhadap 2 filsuf yunani terpopuler, seperti Plato yang dikristenkan oleh St agustin dan aristoteles yang coba dikristenkan oleh thomas aquinas.

 

Tetap saja usaha untuk meredam “ancaman Filsafat” terhadap dogma gereja dengan cara mengkristenkan para filsuf, tidak akan pernah berhasil. Filsafat akan selalu berkembang seiring perkembangan jaman, tuduhan “akal liar” yang sesat-pun tak tahan dituduhkan oleh mereka “para pemilik stempel Iman”(yaitu para Imam gereja saat itu) kepada para filsuf. Jadi kengeyelan mereka sudah diambang batasnya, dan benar-benar sia-sia usaha para agamawan itu mencoba mengkristenkan para filsuf. Toh gereja kejebolan dengan adanya satu astronom yang dibakar dianggap sesat sebagai penyihir, salah satunya adalah Giordano Bruno, kawan seperjuangan Copernicus yang getol memanusiakan manusia.

 

Begitulah semenjak pemikiran etika dan moral Plato-didokumentasikan ala aristoteles, untuk kemudian diadopsi ke dalam teks-teks skriptural gereja oleh kekuasaaan Romawi akhir. Cerdiknya sebelum diujung kehancurannya akibat serangan Turki Ottoman, Romawi telah berhasil melakukan penyelamatan kekuasaan. Tapi juga bodoh, Romawi ceroboh melalui mitos Jesus sang mesias mencoba mensaklekan dan menggabungkan ajarannya dengan tradisi filsafat yunani plato-aristoteles: sebagai salah satu dasar keimanan bagi ajaran-ajaran kristen.

 

Walaupun mereka berhasil bermutasi menjadi Institusi Agama terbesar yang pernah ada di bumi ini. Gereja Katolik Roma. Mereka tidak paham, filsafat bagaimanapun selalu berubah seturut kemajuan zaman, sedang mereka ingin doktrin kekristenannya bertahan hingga akhir jaman. Mana ada tradisi dibumi ini yang statis, tradisi dinosaurus saja sudah musnah tak berbekas ditelan jaman. Masaklah tradisi monyet mau bertahan terus-terusan?

 

Dari gereja inilah sejarah akal polos yang bernalar selalu terpinggirkan. Iman menjadi melembaga, sistemik, dan menjajah kebebasan Berpikir manusia.  Seperti sebuah negara induk, gereja ini memiliki koloni hampir di setiap negara barat di Eropa. Menutup ruang kebebasan bagi akal orang eropa untuk meragu dan bertanya. Untuk selanjutnya kusebut “akal manusia” saja agar lebih mudah membedakannya dengan “akal monyet” punya orang-orang yang beriman.

 

“Ragu” atas nama akal manusia yang bernalar dan “iman” atas nama akal monyet yang terbiuskan oleh perasaan, mereka akan saling berbenturan. Dan menjengkelkannya selalu saja dimenangkan oleh iman pada ronde pertama, karena normalnya memang begitu. Semakin purba usia bumi, makin banyak manusia yang akalnya memang masih begitu mudah dibodohi, temperamentil dan emosionil selugu monyet. Bukankah ini sejalan dengan teori evolusi darwin?

 

Lalu bagaimana nasib “ragu” yang akal manusianya selalu bernalar? Untuk ronde selanjutnya akankah ia menang melawan “iman” atas nama akal monyet para primata?

 

 

 

Ronde pertama (ting..ting..)

 

Jadi selama zaman abad pertengahan sebelum renaissans di eropa. Dapat kita simak, begitu banyaknya otak lemper manusia eropa yang telah ditumpulkan oleh mitos keimanan versi gereja. Akal manusia-manusia primata itu,atas nama kelebayan perasaan telah dilemahkan alias didungukan oleh gerejanya sendiri. Itu tak lain supaya umatnya menurut.  Maaf aku menyebutnya primata, bagi penggemar film Rise of the Planet of The apes, pasti paham bagaimana rasanya jadi monyet, betapa jengkelnya jadi hewan piaraan manusia, padahal kita sama-sama manusia.

 

Untunglah tak lama kemudian. Terlahirlah tiga orang manusia jenius yang kelak akan menghidupkan tradisi ilmiah, membongkar kebiasaan mal praktik Intitusi agama yang selama itu selalu menyuntikkan DNA-DNA monyet ke otak-otak manusia-manusia di eropa. Begitulah mereka bertiga kelak akan mengubah sejarah peradaban manusia dimasa mendatang. Paling tidak manusia eropa akan bangkit, dan tak sudi di suntik mitos monyet, hingga diperlakukan layaknya monyet oleh gereja katolik Roma saat itu.

 

Mereka bertiga akan menjadi tonggak awal kemenangan kebebasan berpikir “bila manusia itu memang manusia, BUKAN MONYET!!”.  Mereka bertiga akan mempermalukan mitos gereja–mitos yang nanti jauh hari kedepan dengan begitu cepat disadari oleh umatnya sendiri. Ternyata sedari dulu kami begitu mudah dibodohi oleh pemuka agama, dan tertawalah mereka semua disaat telah menyadari kebodohannya. Mereka berhasil dikibulin dan tak lebih pintar dari monyet selama itu. Selama belasan abad. Gobloknya, wkwkwk..

 

Trio maut antara Giordano bruno, Copernicus dan Galileo di abad pertengahan di Eropa melawan otoritarian Gereja Katolik Roma, membuat Kebebasan berpikir versus Keimanan taik kucing ala gereja kian memanas. Drama itu dimulai dari lahirnya karya-karya Bruno diantaranya;  La Cena de le Ceneri ( The Ash Wednesday Supper , 1584), De la Causa, Principio et Uno ( On Cause, Principle and Unity , 1584), De l’Infinito Universo et Mondi ( On the Infinite Universe and Worlds , 1584) as well as Lo Spaccio de la Bestia Trionfante ( The Expulsion of the Triumphant Beast , 1584) dan De gl’ Heroici Furori ( On Heroic Frenzies , 1585). Sedang Copernicus turut pula menyusun sebuah dokumen astronomi sejenis berjudul “Bumi dan manusia bukanlah pusat alam semesta. DAN MANUSIA BUKAN MONYET GEREJA”. Itulah beberapa dokumen filosofis astronomi kontroversial terjenius yang pernah di ungkap oleh mereka untuk menjungkirbalikkan dogma Gereja Roma kala itu . Maaf untuk yang huruf kapital itu hanya tambahan dari saya. Supaya lebih mendebarkan, haha.

 

Jelas isi dari dokumen tersebut berseberangan dengan prinsip dan ideologi filsafat plato yang selama ini dipuja-puja dan diindoktrinasikan oleh seluruh cecunguk-cecunguk gereja Roma selama belasan abad. Tidak lama Galileo yang merasa terpanggil untuk melanjutkan misi dan cita-cita mereka. Beruntunglah ia telah berhasil menyempurnakan sebuah alat yang akan membantu seluruh umat manusia, untuk melihat kebenaran alam semesta dengan apa adanya, tak peduli apapun agamanya, dari belahan bumi manapun juga, dari suku/ras apapun itu. Dan tak perlu berperang dalil-dalil dalam menjungkirbalikkan fakta-fakta mitos agama. Begitu sederhana, hanya karena sebuah alat bernama teropong.

Dari sini kita bisa petik pelajaran. Kebenaran itu memang sering tak sejalan dengan agama. Agama itu tak rasional, kekanak-kanakan, dan sebagian besar ngeyel dengan kedunguannya. “Lihat bumi itu mengelilingi matahari bro!”, katanya dengan santai di atap genteng kamarnya, ketika menghadapi hukuman tahanan rumah seumur hidup yang diberikan oleh gereja.

 

Ronde kedua (ting.. ting.. ting..)

 

Tolong jangan tertawa, ini serius, karena ronde kedua ini, agama atas nama “kelebayan perasaan” akan menjilat ludahnya sendiri seperti anjing-eh maaf, seperti monyet. Dan herannya sungguh sangat memalukan bagaimana bisa hingga detik ini, Intitusi itu masih tetap berdiri berlabelkan kesucian. Bener-bener monyet gak punya malu sama sekali. yakk!!

 

Haha. Hanya karena sebuah Alat bernama teleskop yang disempurnakan oleh Galileo, maka makin teranglah teori heliosentris. Nama baik giordano bruno, copernicus dan galileo yang selama itu direndahkan oleh Gereja Roma sebagai kafirun tukang bid’ah-pun, akhirnya dikembalikan.  Tunduk dan malulah kaum Agamawan, Paus toh akhirnya menelan ludahnya sendiri. Tolong jangan dicontoh oleh pemuka umat Agamawan yang lain ya. Naasnya, seperti pepatah nasi sudah menjadi bubur, daging sate giordanopun juga sudah terlanjur gosong cong!

Ya begitulah, itukan kisah iman dari tradisi keagamaan di Eropa di abad pertengahan yang sudah terbukti sangat memalukan, tidak hanya bagi umat kristiani saat itu, tapi juga menginjak-injak rasa kemanusiaan bagi seluruh dunia.

Lalu bagaimana dengan tradisi keagamaan di negeri ini

Sambil ngopi dan bergalau-galau, saranku tonton dulu film Rise of the planet of the apes, kita bisa sedikit banyak memahami bagaimana otak monyet berevolusi dan belumlah sempurna proses evolusi itu hingga detik ini, selama agama-agama masih diproduksi dan dikembangbiakkan oleh manusia-manusia di bumi ini. Ya begitulah, layaknya sirkus, bukankah perlu pisang dari para pelatihnya untuk bisa membuat monyet menurut. Itu otak monyet, tidak ada sisi altruistik sama sekali yang tertangkap di otaknya. Apa itu altruistik? itulah salah satu poin kelebihan, tanda perubahan bagi perkembangan evolusi otak manusia yang bisa kita rasakan sepanjang sejarah mitos monyet hingga abad ini.

 

7 comments to Dwi Oktrisna: Membedah otak monyet akhirat (1)

  • Selamat

    Reward and Punishment. Dunia ini memang dibangun dengan sistem nilai Reward and Punishment. Baik yang secara kasar terlihat dengan jelas, maupun yang sangat halus. Tetapi sementara orang lebih senang dengan Hak dan Kewajiban. Orang dapat saja mereduksi untuk dirinya sendiri; yang terpenting tidak Tertangkap Polisi, atau kalau pun ditangkap Polisi, ada hitungannya. Bagaimana dengan kehidupan Akhirat? Sementara orang banyak yang tidak meyakini ada kehidupan akhirat, kematian adalah akhir dari segala-galanya. Semua akan habis, hilang, menjadi nol, tidak ada, selesai, hampa, setelah datangnya kematian.

  • Wong Bou Dho

    Jika Katolik Roma itu sampah dan pengibul besar, sebaiknya semua agama belajar dari dia berani mengaku salah, berani memaafkan, berani menjilat ludah sendiri dan di sinilah hebatnya Katolik meskipun diburu-buru pemerintah Kerajaan Roma ketika itu, dimusuhi di berbagai negara modern, digoda oleh kekuasaan otoriter abad pertengahan, tidak takut di beritakan macam-macam, diserang oleh sebuah buku mau pun film, gereja di bakar. Anehnya belum ada di dunia ini suatu organisasi yang mampu berdiri kokoh dua ribu tahun dengan orang-orang super-bodoh dan super-genius berada di dalamnya Katolik Roma tetap berdiri teguh…karena apa ya??? Heran aku! Mungkin pede aja modalnya! Malah muncul berbagai tokoh hebat dari sosial, ilmuwan, entertainer, seni dan olah raga. Aku bukan Katolik tapi sekolah di Katolik, aku harap Katolik Roma tetap aja pede, ngajarin agama lain tak perlu melawan dengan kekerasan, apa lagi hanya melawan opini penulis Superkoran, opini dunia pun tak membuat rontok rambut Katolik Roma. Mungkin pede kali’

  • Apa kata Galileo

    Walaupun aku menemukan teori yang bertentangan dengan ajaran Gereja, Aku tidak meninggalkan Iman Kristiani/Katolikku, teoriku cuma cara baru dalam menginteprestasikan Alkitab, Aku mengamalkan apa yang dibilang Ioanes Rahmat beragama secara modern, Kalau Aku saja yang menciptakan teori tidak menghina Kekristenan kenapa Dwi Oktrisna yang tidak menciptakan teori apa-apa cuap-cuap gak keruan, ngaca donk mbak atau mas

  • PD_aja

    Mas @Galileo!! Jangan ngambek…masak orang Katolik gitu aja ngambek! Tiru tuh Ibu Teresa gak ngambekan kayak sampean. Opini mbak/mas Dwi perlu juga lho buat vitamin (pahit tetapi menyehatkan) agama Katolik. Malcolm Muggeridge yang wartawan senior BBC mungkin lebih sangar dari mbak/mas Dwi akhirnya malah jadi Katolik gara-gara Ibu Teresa. Pede aja gak usah ngambek! Aku juga Katolik kok, tetapi aku senyum-senyum aja baca tulisan mbak/mas Dwi. Ikuti saran Wong Bo Dhou… pede aja!

  • PD_aja

    Tambahan …..
    Malcolm Muggeridge riwayatnya menyatakan dirinya sebagai agnostik seumur hidup http://en.wikipedia.org/wiki/Malcolm_Muggeridge#Conversion_to_Christianity kemudian menjadi kristen dan karena ibu teresa akhirnya menjadi katolik bersama isterinya dan memprogandakan moral katolik di inggris. jadi jika dibandingkan mbak/mas dwi dengan macolm dan tony blair yang jadi katolik kan kayak mentimun dibanding durian.

  • Apa kata Galileo

    Mas PD, bukan ngambek mas cuma menghimbau, bukankah dalam perjalanan sejarahnya Kekristenan sudah biasa dikritik, dihujat bahkan dianiaya dan dibunuhi tapi kenyataannya tetap ada, seperti ada kekuasaan besar yang menyertai gitu lho

  • pencari kebenaran

    Kebenaran dan realitas (1)

    Realitas (dalam pengertian yang utuh – bersifat menyeluruh) adalah suatu yang memiliki dua sisi : dimensi yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) dan yang konkrit (bisa tertangkap mata secara langsung).samadengan realitas manusia terdiri atas yang abstrak (jiwanya) dan yang konkrit (raganya),atau sama dengan perangkat komputer yang terdiri atas hard ware dan soft ware.inilah pemahaman yang benar yang bersifat mendasar tentang ‘realitas.siapa yang belum memahami secara mendasar definisi pengertian ‘realitas’ yang sebenarnya jangan mudah bersikap a priori terhadap agama atau jangan gegabah dalam membuat pernyataan negative terhadap agama.
    Sebab itu keliru besar bila ada yang beranggapan bahwa ‘realitas’ adalah : ‘segala suatu yang nampak mata dan bisa dibuktikan secara empirik’ sebab itu sama dengan tidak bersikap realistik sebab faktanya realitas itu selalu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit.tetapi kacamata sudut pandang materialist ‘bermata satu’ (‘dajjal’ menurut bahasa kitab suci) selalu berangkat dari prinsip bahwa ‘yang benar adalah segala suatu yang bersandar kepada bukti empirik’ (bukti yang tertangkap mata secara langsung).sehingga ketika kitab suci mendeskripsikan realitas yang abstrak (yang diluar kemampuan manusia untuk menangkapnya secara langsung) maka kacamata sudut pandang materialist langsung memvonis nya sebagai ‘salah’ atau’irrasional’.padahal mengapa tidak berfikir bahwa bukan agama yang salah atau irrasional tapi pengalaman dunia indera tidak bisa menjangkaunya dan akal manusia yang lemah yang lebih banyak bersandar kepada tangkapan dunia inderawinya ketimbang bersandar pada yang abstrak.

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>