“(George Galloway with his new wife Putri Gayatri Pertiwi ) The 57-year-old’s fourth wife Putri Gayatri Pertiwi is 30 years younger than him at just 27 – and two years younger than his eldest daughter, 29-year-old Lucy. According to Putri’s Linkedin page she has also blogged for Wijblijvenhier.nl, a website for young Dutch Muslims, where she says she views herself as a ” ‘Dutch Indonesian.” ”
Sudah 20 tahun mengamati jejak langkah Islam, saya semakin yakin bahwa perbedaan antara kaum moderat (yang katanya mewakili Islam sebenarnya) dan ekstrimis/fundamentalis bin teroris (yang katanya golongan lebay yang salah tafsir mulu) adalah soal timing (waktu) saja.
Simak pernikahan Galloway dan Gayatri. Tapi sebelumnya, penting untuk meluruskan beberapa hal. Ini karena pers Indonesia (termasuk Antaranews) salah kaprah tentang Galloway: ia merebut kursi bagi partainya yang All-Muslim atau All-Simpatisan Muslim, yang bernama Respect, dan bukan bagi kubu Partai Buruh (Labour).
SIAPA GALLOWAY?
Namanya selalu diasosiasikan dengan permusuhan dengan partai dan rakyat UK mainstream.
Tahun 2003, simpatisan Uni Soviet dan Islam ini didepak dari Labour karena merusak nama baik Labour. Saat perang dengan Irak, ia terang-terangan memuji Saddam Hussein, menghina Tony Blair (ketua Labour saat itu) dan menghina tentara Inggris yang tewas di Irak.
Galloway juga terbukti kongkalikong dengan rejim Saddam lewat yayasan milik Galloway, the Mariam Appeal. Yayasannya ini menerima dana PBB guna membeli minyak dari Irak dan membayar Irak dengan sandang pangan (dan bukan dengan uang). Dana Oil for Food ini dimaksudkan bagi rakyat Irak yang kelaparan. Ingat bahwa pada waktu itu Irak kena sanksi ekonomi. Upaya non-profit ini ternyata dibuat untuk menguruk profit sebesar-sebesarnya oleh Galloway dan istrinya ketika itu. Lewat yayasan ini, rejim Irak memperkaya Galloway dan menjadikannya juru propaganda di Barat. Ini semua hasil investigasi gabungan parlemen Inggris dengan Senat AS. [Lihat laporan almarhum Christopher Hitchens dalam ‘The Galloway Papers’ 1)]
Di tahun 2003 juga, Jaksa Umum mempertimbangkan untuk menindaknya dibawah Incitement to Disaffection Act. Tapi bagai ikan belut, Galloway memang susah digenggam.
Di tahun 2007, parlemen UK menerbitkan laporan ke-enamnya tentang the Galloway- Iraki-Gate ini dan aneh bin ajaib, menyatakan bahwa parlemen tidak bisa memastikan bahwa Galloway memanfaatkan akun non-profitnya ini secara tidak sah karena ‘tidak memiliki akses pada akun-akun tsb.’ Namun yang pasti, Galloway terbukti mencemarkan nama baik parlemen dan di-suspend selama 18 hari. Berbeda dengan politisi UK lainnya yang baru kena gosip korupsi saja, tanpa menunggu penyidikan bertahun-tahun, sudah mengundurkan diri demi nama baik partai dan parlemen, Galloway–yang tidak kenal malu dan tidak kenal lelah seperti konconya, almarhum Saddam Hussein–justru memanfaatkan Galloway-Gate ini untuk meraih popularitas diantara golongan ekstrim kiri, terutama di golongan … yah, anda tebak betul: Muslim! Malah menurut badan think-thank Muslim moderat, Quillam, Galloway memang didanai oleh Islamis. 2) Dan ini dieksploitasi ‘Gorgeous George’ (nama yang diberikan golongan kiri padanya) sampai semaksimal mungkin.
Malah kalau saya boleh usul pada Gorgeous George, kalau sekali waktu ia benar-
benar didepak dari parlemen atau sudah bosan dengan UK, pindahlah ke Indonesia (mumpung sedang punya istri Indonesia). Kualitas politisi macam itu cocok benar di Indonesia: sudah kena gosip korupsi, sudah ditindak, nama sudah cemar, ehhh … besoknya masuk kantor lagi, manggut-manggut di mesjid lagi, berlagak bego. Si istri juga bisa menanjak karir jadi kepala organisasi wanita dan mendominasi majalah high society Vanity Fair dan Bazar Indonesia sambil difoto membagi-bagi sedekah pada orang miskin sambil menyandang tas Gucci. Bayangkan pengikut tweeternya yang langsung membludak. ‘Pusing deh, mau jadi First Lady Inggris atau First Lady Indonesia, yaaahhh .. ah terserah Allah saja, gimana mas George aja ahhh …’ (tweet ‘Javaprincess’)
THE UNHOLY ALLIANCE
Galloway memang cerminan politisi yang mengawinkan paham ekstrim kiri dengan Islamofasisme yang tidak hanya benci tapi ingin melenyapkan budaya Barat.
Selama perang dingin, Galloway menunjukkan dukungannya pada rejim-rejim sosialis barbar mulai dari Mao tse Tung sampai ke Castro. Jatuhnya Uni Soviet, disebutnya sebagai ‘hari yang paling menyedihkan dalam hidup saya.’ Tapi ia tidak pernah lama bersedih dan kemudian mendukung ekstrimisme Islam. Ia tidak peduli apakah tindakannya ini mengancam keselamatan tentara sekutu, Inggris khususnya. Saat tentara UK tewas di Irak, ia tur keliling Timur Tengah memuji ‘para mujahid dan semangat syuhada mereka.’
Saat Ahmedinejad dan para Ayatollah mendanai Hezbollah, menembaki dan memperkosa anak-anak muda dijalanan dan dipenjara, Galloway menerima bayaran dari TV Iran untuk tampil dan memuji ‘keadilan dan kebenaran’ republik Islam Iran ini yang sangat dibenci rakyatnya sendiri.
Dan saat ramainya demo-demo anti teror Islam oleh English Defence League di Inggris, didepan massa Muslim Galloway menantang ‘siapapun yang mencoba menyentuh jenggot lelaki Muslim, akan harus melampaui 10.000 mayat.’
BRADFORD
Bukan juga sebuah kebetulan Galloway memilih untuk berjaya di Bradford Barat yang sarat penduduk Muslimnya. Seperti kita tahu semua, dimanapun di dunia kafir Muslim bercokol, disitulah terjadi segregasi berdasarkan SARA. Galloway tahu benar ini. Ia tahu bahwa Islam dan Muslim adalah ‘potential game-changer’ dalam politik UK.
Partai Galloway menang, bukan karena mereka menjanjikan perbaikan pelayanan kesehatan/mutu sekolah/standar hidup. Ia menang karena ia memanfaatkan obsesi Muslim Bradford dengan kebijakan luar negeri: Palestina, Afghanistan, Iran diantaranya.
Sebaik apapun fasilitas yang diberikan pemerintah kafir kepada Muslim pendatang, politik Muslim hanya didominasi oleh apa yang terjadi di dunia Islam. Peduli amat mereka dengan penderitaan penduduk asli di sekitar mereka. Muslim Bradford adalah yang pertama yang menyerukan agar mereka pecah dari UK dan menjadi emirat terpisah yang tunduk pada Hukum Syariat.
Di tahun tujuhpuluhan di Bradford, seorang kepala sekolah bernama Ray Honeyford, diintimidasi oleh Muslim sampai harus menanggalkan jabatannya karena berani mengusulkan bahwa ‘komunitas-komunitas imigran Pakistan harus mau belajar bahasa Inggris agar bisa berasimilasi.’
Bradford adalah kota kelahiran Shehzad Tanweer dkk, para suicide bomber 7/7.
Segregasi berdasarkan warna kulit (hitam) dan agama (Islam) ini menyebabkan politik UK tidak lagi didominasi oleh kepentingan bersama sebagai satu rakyat dan satu bangsa tapi berdasarkan garis rasial dan religius. Korupsipun semakin merajalela. Partai-partai mencoba membeli blok-blok suara ini dengan taktik yang semakin kotor.
Simak saja perbendaharaan kata Galloway pada saat kampanye di Bradford: Siapapun yang tidak memilihnya, Allah ingin tahu kenapa. Dan saat melawan calon Partai Buruh di Bradford, yang tidak kebetulan juga Muslim, Galloway mengatakan: ‘Allah tahu siapa yang Muslim tulen’ sambil menuduh kandidat Muslim lainnya sebagai ‘konsumer alkohol.’ Galloway mengirimkan selebaran kampanye kepada ‘Saudara dan Saudari Muslim saya’ dan menyatakan bahwa ia tidak pernah menyentuh alkohol, memuji Allah, berjihad bagi Islam dan bersimpati kepada Taleban. Dan tatkala ia menang, ia berteriak: ‘ALLAHU AKBAR! All praise to Allah!’
ENTER THE JAVANESE PRINCESS
Kita semua sudah tahu sekelibat tentang perkawinan Galloway dengan een Javaanse vrouw van Amsterdam. Putri Gayati Pertiwi bukan wanita yang lahir kemarin. Bukan anak culun enam tahun yang dijodohkan pada seorang nabi macam Galloway. Ia wanita terdidik 27 tahun yang so pasti bisa membaca laporan di internet tentang suami barunya ini. Tidak mungkin ia tidak mengerti bahasa Inggris. Tidak tahukah ia bahwa haar schatje, George, adalah musuh demokrasi? Tidak tahukah ia bahwa suaminya memanfaatkan demokrasi untuk menggantikannya dengan syariat Islam? Tidak tahu menahukah ia dengan syariat Islam? Tidak tahukah ia bagaimana schatje George memanfaatkan istri nomor dua dari Palestina dan istri ketiga yang juga Muslimah?
Ia kolumnis majalah internet Muslim Belanda. Ini bukan majalah netral seperti Superkoran kita tersayang ini, tapi majalah Muslim. Judulnya saja Wijblijvenhier (yi: Kami Akan Tetap Tinggal Disini). Nama provokatif ini memang khas Muslim yang tidak akan pernah mau beranjak dari negara adopsinya. Yah, habis mereka mau kemana lagi? Dimana lagi mereka bisa hidup enak, ke rumah sakit gratis, sekolah gratis dan menikmati berbagai tunjangan lainnya sambil bersungut bahwa mereka terus dizolimi? Seperti kata pemuda Muslim Perancis asal Aljazair di sebuah banlieue (perumahan kumuh) menanggapi kematian Muhammad Merah: ‘Disini kita enak, di Aljazair kita akan mati kelaparan. Tapi terkutuklah Perancis. Perancis musuh kami.’
Putri, kalau kau membaca laporan saya ini, tolong ganti nama wacanamu menjadi Wijdurfenooknergensheengaan (Kami juga tidak berani kemana-mana) biar lebih sreg dan paling tidak menunjukkan kejujuran .
Simak analisa sang Putri tentang Mesir paska Mubarak yang katanya memiliki persamaan dengan Indonesia: http://www.wijblijvenhier.nl/3263/een-post-mubarak-egypte-naar-indonesisch-model/
Bagi saya, analisa sang Puteri Jawa itu simplistik, tidak rampung. Tapi saya tidak mau
terlalu banyak mengritik sesama penulis, apalagi yang punya darah Jawa, takut nanti saya dibilang sirik tidak mendapat cinta kasih seorang terpandang seperti George.
Nah, menurut saya, Putri merupakan pasangan ideal bagi Galloway, si politikus jenius. Dengan seorang wanita Muslim yang bernampak moderat, sambil membawahi wilayah ekstrimis, anggota parlemen ini akan semakin melebarkan sayapnya. Hari ini Bradford, besok, Leicester, Luton, Leeds, London … dan tentunya kita juga akan semakin banyak mendengar dari Putri dalam kolumnya di Wijblijvenhierenjulliemoetenvanonshouden (Kami akan tetap tingal disini dan kalian harus cinta kami) yang menunjukkan betapa ‘moderat’nya Islam dan betapa fobinya mereka yang tidak setuju dengan mijn schatje, George.
Lihat foto-foto Galloway di http://www.dailymail.co.uk/debate/article-2123654/George-Galloways-victory-thing-Britain-needs.htmltain-needs.html
http://www.dailymail.co.uk/debate/article-2123715/George-Galloway-wins-Bradford-West-election-A-dangerous-enemy-democracy.htmlest-election-A-dangerous-enemy-democracy.html
————————————-
1) http://www.slate.com/articles/news_and_politics/fighting_words/2007/07/the_galloway_papers.html_papers.html
2) http://www.scribd.com/doc/34834977/Secret-Quilliam-Memo-to-government







Tambahan: di BRradford juga buku Salman Rushdie, Ayat2 Setan, dibakar dan memicu kebencian Muslim pada Rushdie keseluruh dunia, termasuk ke Iran yg lalu menjatuhkan fatwa mati terhadapnya. Bradford adalah sarang ekstrimisme terparah di Inggris. Astagfirullahhh! Inggris kok bisa sampai begini?