Tadi pagi, pkl 10.30-pk. 12.00, tgl 9 April 2012, saya bersama dua kawan lain tampil rekaman di Tempo TV, Jakarta, berbincang soal ateisme di Indonesia.
Fokus talkshow ini tentu Sdr. Alexander Aan, yang sedang diadili mula-mula karena soal ateisme yang dianutnya.
Tapi menurut seorang teman dalam perbincangan itu, fokus kasus Aan sudah bergeser ke soal pelecehan figur besar Nabi junjungan kaum Muslim.
Dalam perbincangan itu, saya berharap kalau kasus Aan tetap kasus ateisme-nya, hendaknya Aan ini dibimbing untuk berubah, bukan dipenjara.
Ada aliran-aliran agama di Indonesia yang tak memiliki teologi, sehingga disebut sebagai agama non-theistik.
Zen Buddhisme, misalnya, menawarkan suatu jalan menuju pertumbuhan spiritual bukan lewat dogma, tapi lewat olah pikiran dalam suatu zazen.
Orang yang brain-nya condong ateistik bisa masuk ke rumah spiritual Zen Buddhisme, sehingga menjadi tetap beragama tapi non-theistik.
Banyak hal muncul dalam talkshow di Tempo TV itu, dan acaranya menarik karena dipandu oleh presenter Poppy Pradana yang manis, anggun dan jelita.
Kedua narasumber lainnya berbicara dari sudut yuridis kasus Aan dan legalitas ateisme di Indonesia pada umumnya.
Saya juga menyatakan bahwa semakin modern Indonesia ke depannya, akan semakin banyak orang yang menjadi ateis, overt or covert.
Kenapa semakin modern sebuah negara, akan semakin banyak orang ateis di dalamnya?
Karena di dalam suatu negara yang modern, sains meresap ke mana-mana, dan sains pada hakikatnya memang sekuler, ateistik.
Modern atau tidaknya suatu negara ditentukan oleh apakah negara ini terbuka pada sains seluas-luasnya atau tidak.
Di negeri-negeri maju, kaum saintis tulen, karena ilmu pengetahuan yang mereka geluti, banyak yang memilih dan mengaku ateis dengan terang-terangan.
Saya percaya, di Indonesia sebetulnya banyak juga orang yang sudah ateis, tapi tidak terang-terangan karena iklim sosial yang tidak kondusif.
Kalaupun belum berani terang-terangan mengaku ateis, ada juga sekian pemikir dan saintis di Indonesia yang mengaku agnostik.
Saya sendiri sempat bimbang, apakah mau tetap religius ataukah menjadi ateis, pergumulan yang eksistensial.
Tapi kini saya sudah tiba pada keputusan, saya seterusnya menempuh jalur spiritual, khususnya seperti yang dibentangkan dalam Zen Buddhisme.
Saya menemukan, ada bagian-bagian dalam otak saya (dan juga otak anda) yang memerlukan pasokan spiritual dan memproduksi spiritualitas.
Saya tetap memerlukan suatu dimensi transenden dalam kehidupan saya, karena otak saya berisi ruang neural untuk dimensi ini.
Dimensi neural dalam brain kita, yang terhubung dengan dunia transenden, tak bisa diremehkan atau dihapuskan, tapi membutuhkan pengisian.
Apa wujud dimensi transenden ini, berlain-lainan dari satu agama ke agama lain, dari satu pandangan dunia ke pandangan dunia lainnya.
Dimensi transenden itu tidak harus Allah yang personal atau surga atau neraka di dunia adikodrati, tapi bisa sesuatu yang lain.
Albert Einstein, misalnya, menolak dengan tegas Allah personal yang dipercaya agama-agama monoteistik Abrahamik (Yudaisme, Kristen, dan Islam).
Tapi Einstein juga mengakui bahwa dia mengalami ketakjuban luar biasa pada dimensi transenden yang lain. Apa?
Dimensi transenden yang mempesona Einstein adalah struktur dan tertib kosmologis yang selalu melampaui kemampuan sains untuk menggapainya.
Sedangkan dimensi transenden yang dilihat Baruch de Spinoza adalah hukum-hukum alam, atau hukum-hukum fisika.
Jadi sebetulnya, setiap saintis juga membuka diri pada dimensi transenden yang tak pernah bisa tuntas dimasuki. dan karena itu sains terus maju.
Di kalangan saintis dikenal istilah “historical transcendence”, bukan “suprahistorical transcendence.”
Suprahistorical transcendence mencari yang adikodrati pada Allah dan kehidupan setelah kematian yang dipercaya ada oleh agama-agama, di luar sejarah.
Tetapi historical transcendence menawarkan keadikodratian justru di dalam dan lewat yang kodrati, di dalam dan lewat sejarah.
Kalau anda menulis banyak buku visioner yang berwawasan jauh ke depan puluhan generasi, dalam puluhan generasi mendatang itu anda hidup terus.
Walaupun anda hidup hanya sampai usia 75 thn, buku-buku yang telah anda tulis itu membuat anda hidup terus, kekal, dalam benak generasi-generasi yang akan datang.
Itulah salah satu wujud historical transcendence: anda menjadi abadi lewat karya-karya besar anda.
Begitu juga, kemahabesaran jagat raya menjadi suatu transcendence sendiri bagi kaum saintis yang perlu mereka sibak lewat karya-karya besar mereka dalam dunia ini sementara mereka hidup.
Banyak kosmolog dan fisikawan angkasa merasa masuk ke kawasan transenden jagat raya ketika mereka memasuki jagat raya terdalam lewat peralatan teknologis dan sains modern.
Kedalaman jagat raya yang mempesona mereka membuat mereka merasa begitu kecil di hadapan jagat raya maha besar.
Pada titik-titik tertentu, sains yang mempesona kaum saintis memberi mereka juga suatu perasaan bahwa mereka tengah memasuki transendensi, yakni transendensi yang historis.
Siapa bilang, kaum saintis tak punya pengalaman akan dimensi-dimensi transenden? Mereka punya!






>Dalam perbincangan itu, saya berharap kalau kasus Aan tetap kasus ateisme-nya, hendaknya Aan ini dibimbing untuk berubah, bukan dipenjara.
Sebaliknya, kalau seseorang mengaku beragama islam atau kristen dalam dunia yang mayoritas ateis, yang bersangkutan tidak akan dipenjara. Juga tidak akan dianjurkan “dibimbing untuk berubah”. Tindakan begini bertentangan dengan hakekat kebebasan berkeyakinan yang menjadi hak azasi dasar setiap individu yang normal.
Negara ini kebanyakan aturannya, padahl kelakuannya masih pada minus. Secara pribadi, zen buddhisme sudah berada di path yg benar, yaitu fokuskan pada pikiran, ucapan dan perbuatan secara positif, itu yang berguna bagi semua makhluk di kehidupan ini apapun dimensinya.
Agama yang mengajarkan penekanan pada fisik membelenggu kemajuan cara pikir, cepat atau lambat agama jenis ini akan kehilangan peminat karena pamor yang dibangunnya selalu apologetik menyalahkan yang lain. Kalau toh tetap mampu bertahan agama tipe binaan FPI dan MUI akan hanya mampu mengumpat pada zaman karena di belahan dunia lain sudah jauh menjadi modern dimana agama-agama model MUI dan FPI hanya akan menjadi penikmat (mobil, tv, cam coder, internet, pengobatan modern dst) tanpa mampu berkontribusi, hanya bisa melarang tanpa memberi solusi, hanya mampu memungut tanpa mampu berproduksi dan negara yang ikut cara pikir MUI dan FPI akan diseret mundur jauh kebelakang, tidak percaya? Boleh aja!!
Mengapa reaksi kaum agamawan di Indonesia terhadap ateisme di begitu keras dan frontal? Mungkin di bawah sadarnya kaum agamawan itu memendam rasa terancam eksistensinya. Bayangkan jika makin banyak orang Indonesia jadi ateis, makin berkuranglah jemaat yang beribadah ke mesjid, dan gereja, akibatnya makin berkuranglah sumbangan dan kolekte ke pundi-pundi pengurus mesjid dan gereja. Berbahaya itu untuk eksistensi agama yang terorganisir!
Sungguh malang nasib Alexander Aan, dia pasti akan dihukum bagaimanapun caranya dan apapun alasannya. Untuk saat ini yang aman di Indonesia adalah menjadi covert atheist saja, belum waktunya untuk secara terbuka memproklamirkan diri sebagai seorang ateis. Sudah begitu ateisme radikal yang menolak segala bentuk kepercayaan yang bersifat transenden sebenarnya ada kelemahannya ketika mereka menolak secara a-priori terhadap segala sesuatu yang bersifat transenden. Ateisme yang sekedar bersifat reaksioner terhadap theisme bisa terhenti pada suatu titik atau tahap berpikir yang negatif, pokoknya menolak segala sesuatu yang bersifat transenden, “Pokoke ora ngandel opo-opo sing ora nyoto.” Menjadi sangat empiristik seperti Thomas Henry Huxley pemikir Inggris yang tersohor sebagai penggagas istilah “agnostic” itu.
Terlalu kaku begitu juga tidak benar. Jika Ioanes Rakhmat mau mengisi bagian neuralnya yang masih bisa diisi dengan pengalaman transenden dari Zen Buddhism boleh juga itu. Hal mana membuktikan bahwa IR masih akan terus bertumbuh secara spiritual. Ada satu tradisi lain yang juga bagus adalah tradisi Theravada dari vihara hutan di Thailand yang dikembangkan di Australia (Perth) oleh Ajahn Brahm.
Mas PikiranNyasar, setuju banget dengan pendapat sampean! MUI dan FPI dengan yakin seyakin-yakinnya sedang menyeret umat Islam Indonesia dan seluruh bangsa ini kembali ke situasi pada abad ke 7 di Arab sana. Audzubillahi mindzalik!
Agama yang pede tidak takut ada penganut ateis, tidak takut sebuah buku atau film, tidak takut nabinya atau bahkan tuhannya diolok-olok, tidak takut para pengikutnya keluar masuk ganti agama. Coba pikir tuhan aja gak takut menciptakan adam pada hal tuhan kan tahu nantinya adam akan melawan perintahnya, keturunannya sebagian juga akan melawan dia sang pencipta tapi toh dia tetap menciptakannya juga. Karena apa ya…karena tuhan pede aja!! Maka agama-agama yang pede pasti datang dari dia, sedang agama-agama yang sering ketakutan berbagai kegiatan manusia itu jelas bukan agama tetapi organisasi penuh ketakutan (OPK). Agama anda apa OPK? Hhhee…hheee…..
@wong ma lang : nice one, apabila ada agama yang selalu takut pengikutnya murtad, anti kritik dan suka melakukan kekerasan dan terror kepada pengkritiknya, bisa dipastikan pasti ada yg salah dari agama tersebut
di negara kita ini untuk membuat maju cara berfikirnya susah sekali, karena org2nya masih frimitip identik dgn candu agama, pendiikan hanya buat kaum menengah keatas jdinya bnyak masyarkat yg msih berpikir terbelakang, mudah terprovokasi, tdk taat hukum, media informasi khususnya televisi acaranya 75% tdk mendidik, acaranya bikin tolol masyakat kita,,, saya memilih meningan jdi negara liberal sekalian karna bisa mendidik rakyat jdi dewasa mandiri,,:((
Agama yang paling penakut di dunia ini adalah Islam dan untuk menutupi ketakutannya ini ditanamkan sifat GARANG. Hhhhiiiiiiiii….. ngeriiii…. deh!
agama itu membentuk komunitas yg gua lihat kalau dibimbing ke arah yg bener, malah bagus. cuma sayangnya krn agama itu, terutama yg semitik/ibrahim, rentan manipulasi, jadinya mudah juga dibimbing ke jalan yang salah.
perlu kesadaran agar tidak buta dalam mengikuti ajaran agama / spiritual, tetaplah berpikir yang rasional, logis, kritis.
Berbagai kekeliruan kacamata sudut pandang atheistic
1.atheis keliru dalam mengkonsep ‘realitas’.
Atheis berpandangan bahwa ‘realitas’ adalah segala suatu yang dunia panca indera bisa menangkapnya’,bila kita kaji secara ilmiah ini adalah konsep yang salah sebab definisi ‘realitas’ adalah : ‘segala suatu yang ada – nyata atau terjadi’ dimana realitas itu ada yang bisa tertangkap dunai indera dan ada yang tidak bisa tertangkap dunia indera,jadi realitas terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang gaib.
Karena atheis beranggapan bahwa yang real adalah segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun selalu mereka kaitkan dengan segala suatu yang tertangkap dunia indera sehingga bagi atheis yang rasional = yang dunia indera bisa menangkapnya.ini berlawanan dengan konsep Tuhan,karena realitas itu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun harus dikaitkan dengan kedua dimensi realitas itu,sebab akal bukan hanya alat berfikir yang diciptakan untuk menela’ah serta menjelajah dunia konkrit semata tapi juga untuk menela’ah serta menjelajah dunia abstrak.sehingga dalam konsep Tuhan ‘yang rasional’= yang akal bisa memahaminya bukan yang mata bisa menangkapnya.
Sebab itu karena definisi ‘realitas’ versi agama berbeda dengan definisi ‘realitas’ versi atheis maka definisi pengertian ‘rasional’ versi agama pun berbeda jauh dengan ‘rasional’ versi atheis.
2.atheis keliru dalam membuat definisi pengertian ‘rasional’ sehingga definisi pengertiannya menjadi sesuatu yang seolah harus selalu terkait secara langsung dengan bukti mata telanjang, ’rasionalisme’ kaum atheis selalu dikaitkan dengan tangkapan mata langsung sehingga bagi atheis yang rasional selalu harus yang didahului oleh bukti mata telanjang sehingga deskripsi tentang yang abstrak sering divonis ‘irrasional’ hanya karena berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa tertangkap dunia indera.padahal definisi pengertian ‘rasional’ yang sebenarnya adalah ‘yang akal fikiran bisa memahaminya secara tertata’,dan definisi pengertian ‘rasional’ itu sama sekali tidak bergantung mutlak pada tangkapan dunia indera.sebab akal tidak bergantung secara mutlak pada dunia indera.
Agama sering distigmakan sebagai ‘irrasional’ hanya karena mendeskripsikan hal yang gaib bagi mata manusia.padahal akal itu adalah alat berfikir untuk memahami rasionalitas dari segala suatu (keseluruhan) termasuk yang abstrak. sebagai contoh : konsep sorga – neraka tak bisa disebut irrasional hanya karena tak bisa tertangkap ditangkap mata,karena konsep sorga-neraka berhubungan secara sistematis dengan keberadaan kebaikan dan kejahatan didunia jadi adanya sorga neraka bisa difahami secara sistematis oleh cara berfikir logika akal.dan bayangkan bila didunia ada kebaikan dan kejahatan tapi tak ada konsep balasan diakhirat maka kehidupan akan menjadi ganjil dalam arti menjadi tidak sistematis.
Dengan kata lain rasionalitas atheis hanya bisa berjalan didunia alam lahiriah -material tapi ketika berhadapan dengan dunia abstrak cara berfikir logika akal mereka menjadi macet-buntu itu karena ketergantungan secara mutlak pada tangkapan dunia indera,sehingga cara berfikir logika akalnya menjadi sempit.
Filsuf-pemikir-saintis-ilmuwan yang atheistik sering menyebut serta membanggakan diri sebagai golongan yang berpandangan ‘rasional’ tetapi anggapan mereka itu sebenarnya harus diklarifikasi – harus dianalisis secara ilmiah sehingga kita bisa mengetahui secara lebih jelas betulkah mereka adalah golongan yang berpandangan rasional (?)
Akal adalah alat berfikir agar manusia bisa berfikir secara sistematis-tertata (konstruktif) sehingga sesuatu bisa disebut sebagai ‘rasional’ apabila bisa dijelaskan oleh cara berfikir yang tertata secara sistematis,sebagai contoh : bila ada pertanyaan : mengapa sebuah gedung besar bisa berdiri tegak (?) maka bila kita memberi penjelasan bahwa didalam gedung itu ditanam konstruksi besi beton yang kokoh yang menopang gedung itu, maka itu adalah penjelasan yang rasional (penjelasan yang tertata-sistematis) walau kita tidak memperlihatkan konstruksi besi beton itu melalui tangkapan mata secara langsung.tapi bila kita katakan bahwa gedung itu bisa tegak karena faktor ‘kebetulan’ maka itu adalah penjelasan yang tidak tertata artinya penjelasan yang tidak rasional atau penjelasan yang bersandar pada pemikiran spekulatif,dan pemikiran spekulatif adalah bentuk pemikiran yang tidak tertata beda dengan pikiran yang rasional yang mengikuti jalan pikiran yang tertata.
Atheisme bisa disebut sebagai irrasional karena sama dengan beranggapan bahwa segala bentuk keteraturan dan ketertataan alam semesta itu berasal dari ‘kebetulan’ .bandingkan dengan argument agama yang menyatakan bahwa yang serba teratur itu hanya bisa berasal dari adanya desainer.jadi atheis tidak bersandar pada prinsip bahwa pengertian ‘rasional’ adalah bentuk cara berfikir yang tertata-sistematis tapi bersandar pada anggapan bahwa sesuatu disebut ‘ rasional’ bila disertai oleh fakta yang tertangkap mata secara langsung.jadi beda jauh antara definisi pengertian ‘rasional’ versi agama yang murni cara berfikir akal yang sistematis dengan definisi pengertian ‘rasional’ versi atheis yang tidak murni cara berfikir akal yang sistematis sebab ketergantungan yang bersifat mutlak pada dunia panca indera.
Atheis sering berargementasi mengatasnamakan ‘logika’ tapi mereka sering menolak argumentasi logis yang terang benderang bagi akal,sebagai contoh : bila argumentasi sistematis dari Wiliam paley tentang jam atau dari Thomas Aquinas tentang keharusan adanya Tuhan bagi akal masih saja tidak memuaskan dan ditolak lalu argumentasi rasional yang bagaimana lagi yang sebenarnya mereka (atheist) inginkan (?), jawabnya adalah yang memuaskan bagi atheist selalu pada hal hal yang tertangkap mata telanjang.
Berbagai kekeliruan kacamata sudut pandang atheistik
1.atheis keliru dalam mengkonsep ‘realitas’.
Atheis berpandangan bahwa ‘realitas’ adalah segala suatu yang dunia panca indera bisa menangkapnya’,bila kita kaji secara ilmiah ini adalah konsep yang salah sebab definisi ‘realitas’ adalah : ‘segala suatu yang ada – nyata atau terjadi’ dimana realitas itu ada yang bisa tertangkap dunai indera dan ada yang tidak bisa tertangkap dunia indera,jadi realitas terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang gaib.
Karena atheis beranggapan bahwa yang real adalah segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun selalu mereka kaitkan dengan segala suatu yang tertangkap dunia indera sehingga bagi atheis yang rasional = yang dunia indera bisa menangkapnya.ini berlawanan dengan konsep Tuhan,karena realitas itu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun harus dikaitkan dengan kedua dimensi realitas itu,sebab akal bukan hanya alat berfikir yang diciptakan untuk menela’ah serta menjelajah dunia konkrit semata tapi juga untuk menela’ah serta menjelajah dunia abstrak.sehingga dalam konsep Tuhan ‘yang rasional’= yang akal bisa memahaminya bukan yang mata bisa menangkapnya.
Sebab itu karena definisi ‘realitas’ versi agama berbeda dengan definisi ‘realitas’ versi atheis maka definisi pengertian ‘rasional’ versi agama pun berbeda jauh dengan ‘rasional’ versi atheis.
2.atheis keliru dalam membuat definisi pengertian ‘rasional’ sehingga definisi pengertiannya menjadi sesuatu yang seolah harus selalu terkait secara langsung dengan bukti mata telanjang, ’rasionalisme’ kaum atheis selalu dikaitkan dengan tangkapan mata langsung sehingga bagi atheis yang rasional selalu harus yang didahului oleh bukti mata telanjang sehingga deskripsi tentang yang abstrak sering divonis ‘irrasional’ hanya karena berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa tertangkap dunia indera.padahal definisi pengertian ‘rasional’ yang sebenarnya adalah ‘yang akal fikiran bisa memahaminya secara tertata’,dan definisi pengertian ‘rasional’ itu sama sekali tidak bergantung mutlak pada tangkapan dunia indera.sebab akal tidak bergantung secara mutlak pada dunia indera.
Agama sering distigmakan sebagai ‘irrasional’ hanya karena mendeskripsikan hal yang gaib bagi mata manusia.padahal akal itu adalah alat berfikir untuk memahami rasionalitas dari segala suatu (keseluruhan) termasuk yang abstrak. sebagai contoh : konsep sorga – neraka tak bisa disebut irrasional hanya karena tak bisa tertangkap ditangkap mata,karena konsep sorga-neraka berhubungan secara sistematis dengan keberadaan kebaikan dan kejahatan didunia jadi adanya sorga neraka bisa difahami secara sistematis oleh cara berfikir logika akal.dan bayangkan bila didunia ada kebaikan dan kejahatan tapi tak ada konsep balasan diakhirat maka kehidupan akan menjadi ganjil dalam arti menjadi tidak sistematis.
Dengan kata lain rasionalitas atheis hanya bisa berjalan didunia alam lahiriah -material tapi ketika berhadapan dengan dunia abstrak cara berfikir logika akal mereka menjadi macet-buntu itu karena ketergantungan secara mutlak pada tangkapan dunia indera,sehingga cara berfikir logika akalnya menjadi sempit.
Filsuf-pemikir-saintis-ilmuwan yang atheistik sering menyebut serta membanggakan diri sebagai golongan yang berpandangan ‘rasional’ tetapi anggapan mereka itu sebenarnya harus diklarifikasi – harus dianalisis secara ilmiah sehingga kita bisa mengetahui secara lebih jelas betulkah mereka adalah golongan yang berpandangan rasional (?)
Akal adalah alat berfikir agar manusia bisa berfikir secara sistematis-tertata (konstruktif) sehingga sesuatu bisa disebut sebagai ‘rasional’ apabila bisa dijelaskan oleh cara berfikir yang tertata secara sistematis,sebagai contoh : bila ada pertanyaan : mengapa sebuah gedung besar bisa berdiri tegak (?) maka bila kita memberi penjelasan bahwa didalam gedung itu ditanam konstruksi besi beton yang kokoh yang menopang gedung itu, maka itu adalah penjelasan yang rasional (penjelasan yang tertata-sistematis) walau kita tidak memperlihatkan konstruksi besi beton itu melalui tangkapan mata secara langsung.tapi bila kita katakan bahwa gedung itu bisa tegak karena faktor ‘kebetulan’ maka itu adalah penjelasan yang tidak tertata artinya penjelasan yang tidak rasional atau penjelasan yang bersandar pada pemikiran spekulatif,dan pemikiran spekulatif adalah bentuk pemikiran yang tidak tertata beda dengan pikiran yang rasional yang mengikuti jalan pikiran yang tertata.
Atheisme bisa disebut sebagai irrasional karena sama dengan beranggapan bahwa segala bentuk keteraturan dan ketertataan alam semesta itu berasal dari ‘kebetulan’ .bandingkan dengan argument agama yang menyatakan bahwa yang serba teratur itu hanya bisa berasal dari adanya desainer.jadi atheis tidak bersandar pada prinsip bahwa pengertian ‘rasional’ adalah bentuk cara berfikir yang tertata-sistematis tapi bersandar pada anggapan bahwa sesuatu disebut ‘ rasional’ bila disertai oleh fakta yang tertangkap mata secara langsung.jadi beda jauh antara definisi pengertian ‘rasional’ versi agama yang murni cara berfikir akal yang sistematis dengan definisi pengertian ‘rasional’ versi atheis yang tidak murni cara berfikir akal yang sistematis sebab ketergantungan yang bersifat mutlak pada dunia panca indera.
Berbagai kekeliruan kacamata sudut pandang atheistic
1.atheis keliru dalam mengkonsep ‘realitas’.
Atheis berpandangan bahwa ‘realitas’ adalah segala suatu yang dunia panca indera bisa menangkapnya’,bila kita kaji secara ilmiah ini adalah konsep yang salah sebab definisi ‘realitas’ adalah : ‘segala suatu yang ada – nyata atau terjadi’ dimana realitas itu ada yang bisa tertangkap dunai indera dan ada yang tidak bisa tertangkap dunia indera,jadi realitas terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang gaib.
Karena atheis beranggapan bahwa yang real adalah segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun selalu mereka kaitkan dengan segala suatu yang tertangkap dunia indera sehingga bagi atheis yang rasional = yang dunia indera bisa menangkapnya.ini berlawanan dengan konsep Tuhan,karena realitas itu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun harus dikaitkan dengan kedua dimensi realitas itu,sebab akal bukan hanya alat berfikir yang diciptakan untuk menela’ah serta menjelajah dunia konkrit semata tapi juga untuk menela’ah serta menjelajah dunia abstrak.sehingga dalam konsep Tuhan ‘yang rasional’= yang akal bisa memahaminya bukan yang mata bisa menangkapnya.
Sebab itu karena definisi ‘realitas’ versi agama berbeda dengan definisi ‘realitas’ versi atheis maka definisi pengertian ‘rasional’ versi agama pun berbeda jauh dengan ‘rasional’ versi atheis.
2.atheis keliru dalam membuat definisi pengertian ‘rasional’ sehingga definisi pengertiannya menjadi sesuatu yang seolah harus selalu terkait secara langsung dengan bukti mata telanjang, ’rasionalisme’ kaum atheis selalu dikaitkan dengan tangkapan mata langsung sehingga bagi atheis yang rasional selalu harus yang didahului oleh bukti mata telanjang sehingga deskripsi tentang yang abstrak sering divonis ‘irrasional’ hanya karena berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa tertangkap dunia indera.padahal definisi pengertian ‘rasional’ yang sebenarnya adalah ‘yang akal fikiran bisa memahaminya secara tertata’,dan definisi pengertian ‘rasional’ itu sama sekali tidak bergantung mutlak pada tangkapan dunia indera.sebab akal tidak bergantung secara mutlak pada dunia indera.
Agama sering distigmakan sebagai ‘irrasional’ hanya karena mendeskripsikan hal yang gaib bagi mata manusia.padahal akal itu adalah alat berfikir untuk memahami rasionalitas dari segala suatu (keseluruhan) termasuk yang abstrak. sebagai contoh : konsep sorga – neraka tak bisa disebut irrasional hanya karena tak bisa tertangkap ditangkap mata,karena konsep sorga-neraka berhubungan secara sistematis dengan keberadaan kebaikan dan kejahatan didunia jadi adanya sorga neraka bisa difahami secara sistematis oleh cara berfikir logika akal.dan bayangkan bila didunia ada kebaikan dan kejahatan tapi tak ada konsep balasan diakhirat maka kehidupan akan menjadi ganjil dalam arti menjadi tidak sistematis.
Dengan kata lain rasionalitas atheis hanya bisa berjalan didunia alam lahiriah -material tapi ketika berhadapan dengan dunia abstrak cara berfikir logika akal mereka menjadi macet-buntu itu karena ketergantungan secara mutlak pada tangkapan dunia indera,sehingga cara berfikir logika akalnya menjadi sempit.
Filsuf-pemikir-saintis-ilmuwan yang atheistik sering menyebut serta membanggakan diri sebagai golongan yang berpandangan ‘rasional’ tetapi anggapan mereka itu sebenarnya harus diklarifikasi – harus dianalisis secara ilmiah sehingga kita bisa mengetahui secara lebih jelas betulkah mereka adalah golongan yang berpandangan rasional (?)
Akal adalah alat berfikir agar manusia bisa berfikir secara sistematis-tertata (konstruktif) sehingga sesuatu bisa disebut sebagai ‘rasional’ apabila bisa dijelaskan oleh cara berfikir yang tertata secara sistematis,sebagai contoh : bila ada pertanyaan : mengapa sebuah gedung besar bisa berdiri tegak (?) maka bila kita memberi penjelasan bahwa didalam gedung itu ditanam konstruksi besi beton yang kokoh yang menopang gedung itu, maka itu adalah penjelasan yang rasional (penjelasan yang tertata-sistematis) walau kita tidak memperlihatkan konstruksi besi beton itu melalui tangkapan mata secara langsung.tapi bila kita katakan bahwa gedung itu bisa tegak karena faktor ‘kebetulan’ maka itu adalah penjelasan yang tidak tertata artinya penjelasan yang tidak rasional atau penjelasan yang bersandar pada pemikiran spekulatif,dan pemikiran spekulatif adalah bentuk pemikiran yang tidak tertata beda dengan pikiran yang rasional yang mengikuti jalan pikiran yang tertata.
Atheisme bisa disebut sebagai irrasional karena sama dengan beranggapan bahwa segala bentuk keteraturan dan ketertataan alam semesta itu berasal dari ‘kebetulan’ .bandingkan dengan argument agama yang menyatakan bahwa yang serba teratur itu hanya bisa berasal dari adanya desainer.jadi atheis tidak bersandar pada prinsip bahwa pengertian ‘rasional’ adalah bentuk cara berfikir yang tertata-sistematis tapi bersandar pada anggapan bahwa sesuatu disebut ‘ rasional’ bila disertai oleh fakta yang tertangkap mata secara langsung.jadi beda jauh antara definisi pengertian ‘rasional’ versi agama yang murni cara berfikir akal yang sistematis dengan definisi pengertian ‘rasional’ versi atheis yang tidak murni cara berfikir akal yang sistematis sebab ketergantungan yang bersifat mutlak pada dunia panca indera.
Atheis sering berargementasi mengatasnamakan ‘logika’ tapi mereka sering menolak argumentasi logis yang terang benderang bagi akal,sebagai contoh : bila argumentasi sistematis dari Wiliam paley tentang jam atau dari Thomas Aquinas tentang keharusan adanya Tuhan bagi akal masih saja tidak memuaskan dan ditolak lalu argumentasi rasional yang bagaimana lagi yang sebenarnya mereka (atheist) inginkan (?), jawabnya adalah yang memuaskan bagi atheist selalu pada hal hal yang tertangkap mata telanjang.
Berbagai kekeliruan kacamata sudut pandang atheistik
1.atheis keliru dalam mengkonsep ‘realitas’.
Atheis berpandangan bahwa ‘realitas’ adalah segala suatu yang dunia panca indera bisa menangkapnya’,bila kita kaji secara ilmiah ini adalah konsep yang salah sebab definisi ‘realitas’ adalah : ‘segala suatu yang ada – nyata atau terjadi’ dimana realitas itu ada yang bisa tertangkap dunai indera dan ada yang tidak bisa tertangkap dunia indera,jadi realitas terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang gaib.
Karena atheis beranggapan bahwa yang real adalah segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun selalu mereka kaitkan dengan segala suatu yang tertangkap dunia indera sehingga bagi atheis yang rasional = yang dunia indera bisa menangkapnya.ini berlawanan dengan konsep Tuhan,karena realitas itu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun harus dikaitkan dengan kedua dimensi realitas itu,sebab akal bukan hanya alat berfikir yang diciptakan untuk menela’ah serta menjelajah dunia konkrit semata tapi juga untuk menela’ah serta menjelajah dunia abstrak.sehingga dalam konsep Tuhan ‘yang rasional’= yang akal bisa memahaminya bukan yang mata bisa menangkapnya.
Sebab itu karena definisi ‘realitas’ versi agama berbeda dengan definisi ‘realitas’ versi atheis maka definisi pengertian ‘rasional’ versi agama pun berbeda jauh dengan ‘rasional’ versi atheis.
2.atheis keliru dalam membuat definisi pengertian ‘rasional’ sehingga definisi pengertiannya menjadi sesuatu yang seolah harus selalu terkait secara langsung dengan bukti mata telanjang, ’rasionalisme’ kaum atheis selalu dikaitkan dengan tangkapan mata langsung sehingga bagi atheis yang rasional selalu harus yang didahului oleh bukti mata telanjang sehingga deskripsi tentang yang abstrak sering divonis ‘irrasional’ hanya karena berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa tertangkap dunia indera.padahal definisi pengertian ‘rasional’ yang sebenarnya adalah ‘yang akal fikiran bisa memahaminya secara tertata’,dan definisi pengertian ‘rasional’ itu sama sekali tidak bergantung mutlak pada tangkapan dunia indera.sebab akal tidak bergantung secara mutlak pada dunia indera.
Agama sering distigmakan sebagai ‘irrasional’ hanya karena mendeskripsikan hal yang gaib bagi mata manusia.padahal akal itu adalah alat berfikir untuk memahami rasionalitas dari segala suatu (keseluruhan) termasuk yang abstrak. sebagai contoh : konsep sorga – neraka tak bisa disebut irrasional hanya karena tak bisa tertangkap ditangkap mata,karena konsep sorga-neraka berhubungan secara sistematis dengan keberadaan kebaikan dan kejahatan didunia jadi adanya sorga neraka bisa difahami secara sistematis oleh cara berfikir logika akal.dan bayangkan bila didunia ada kebaikan dan kejahatan tapi tak ada konsep balasan diakhirat maka kehidupan akan menjadi ganjil dalam arti menjadi tidak sistematis.
Dengan kata lain rasionalitas atheis hanya bisa berjalan didunia alam lahiriah -material tapi ketika berhadapan dengan dunia abstrak cara berfikir logika akal mereka menjadi macet-buntu itu karena ketergantungan secara mutlak pada tangkapan dunia indera,sehingga cara berfikir logika akalnya menjadi sempit.
Filsuf-pemikir-saintis-ilmuwan yang atheistik sering menyebut serta membanggakan diri sebagai golongan yang berpandangan ‘rasional’ tetapi anggapan mereka itu sebenarnya harus diklarifikasi – harus dianalisis secara ilmiah sehingga kita bisa mengetahui secara lebih jelas betulkah mereka adalah golongan yang berpandangan rasional (?)
Akal adalah alat berfikir agar manusia bisa berfikir secara sistematis-tertata (konstruktif) sehingga sesuatu bisa disebut sebagai ‘rasional’ apabila bisa dijelaskan oleh cara berfikir yang tertata secara sistematis,sebagai contoh : bila ada pertanyaan : mengapa sebuah gedung besar bisa berdiri tegak (?) maka bila kita memberi penjelasan bahwa didalam gedung itu ditanam konstruksi besi beton yang kokoh yang menopang gedung itu, maka itu adalah penjelasan yang rasional (penjelasan yang tertata-sistematis) walau kita tidak memperlihatkan konstruksi besi beton itu melalui tangkapan mata secara langsung.tapi bila kita katakan bahwa gedung itu bisa tegak karena faktor ‘kebetulan’ maka itu adalah penjelasan yang tidak tertata artinya penjelasan yang tidak rasional atau penjelasan yang bersandar pada pemikiran spekulatif,dan pemikiran spekulatif adalah bentuk pemikiran yang tidak tertata beda dengan pikiran yang rasional yang mengikuti jalan pikiran yang tertata.
Atheisme bisa disebut sebagai irrasional karena sama dengan beranggapan bahwa segala bentuk keteraturan dan ketertataan alam semesta itu berasal dari ‘kebetulan’ .bandingkan dengan argument agama yang menyatakan bahwa yang serba teratur itu hanya bisa berasal dari adanya desainer.jadi atheis tidak bersandar pada prinsip bahwa pengertian ‘rasional’ adalah bentuk cara berfikir yang tertata-sistematis tapi bersandar pada anggapan bahwa sesuatu disebut ‘ rasional’ bila disertai oleh fakta yang tertangkap mata secara langsung.jadi beda jauh antara definisi pengertian ‘rasional’ versi agama yang murni cara berfikir akal yang sistematis dengan definisi pengertian ‘rasional’ versi atheis yang tidak murni cara berfikir akal yang sistematis sebab ketergantungan yang bersifat mutlak pada dunia panca indera.