Banyak orang bertanya pada saya, apa itu keabadian. Bisakah kita memasukinya?
Saya pernah tertawan oleh dua buah ilustrasi tentang keabadian.
Keabadian konon adalah waktu yang diperlukan seekor burung pipit untuk memindahkan Mount Everest dengan paruhnya yang kecil, secuil demi secuil, ke kutub selatan bola Bumi.
Jika anda bisa, hitunglah berapa waktu yang dibutuhkan si burung pipit itu sampai seluruh gunung pindah tempat.
Atau keabadian adalah waktu yang diperlukan seekor kura-kura kecil untuk menempuh perjalanan satu kali keliling bola Bumi.
Jika anda bisa, hitunglah berapa waktu yang diperlukan untuk kura-kura kecil itu tuntas satu kali mengelilingi bola Bumi.
Tapi dua ilustrasi tentang keabadian itu kini tak menawan hati saya lagi.
Kini saya melihat si burung pipit dan si kura-kura itu tak sedang menikmati keabadian, tapi sedang terikat oleh kegiatan monoton yang membosankan.
Lalu, apa itu keabadian?
Kini saya mulai celik, dan menemukan bahwa keabadian ternyata adalah ketiadaan.
Eternity is simply nothingness or emptiness.
Hanya dalam ketiadaan, segala sesuatu tak berubah, waktu tak berjalan, ruang menjadi lenyap, tak ada yang lahir dan tak ada yang mati. That’s eternity!
Ketika saya memasuki ketiadaan, di situlah saya abadi.
Only when i am no longer i am, when i am really extinct, do i enter eternity.
Mengapa Allah abadi? Karena Dia tidak ada!
God is eternal because She is non-existent.
Because God is non-existent, She is eternal.
Jadi ketika nanti saya mati, menjadi mayat, dan identitas saya lenyap selamanya, menjadi nothingness, saya masuk ke keabadian.
Ketika saya masuk ke dalam keabadian, saya lenyap total, tidak masuk ke mana-mana, entah ke surga atau ke neraka.
When I become nothingness, I become eternal.
When I become nothingness through my total death, I will become divine in the realm of nothingness.
Jadi kalau saya ingin abadi dengan masuk surga, saya malah terikat kembali oleh kefanaan yang mengerikan.
Ketika saya hanya inginkan ketiadaan setelah mati total, ketika saya tiada selamanya, tak ada di surga atau di neraka, saya sesungguhnya menjadi abadi.
Barangsiapa bertelinga, hendaklah dia mendengar. Barangsiapa memiliki akal, hendaklah dia berpikir dan menemukan.




Keabadian adalah kata benda yang abstrak, seabstrak maknanya. Tiada yang abadi. Kita hanya abadi sebelum mencapai garis finis kematian. Sesudahnya tidak ada itu yang namanya cinta abadi, surga atau neraka hasil ilusi orang arab.
Bersebab tiada yang abadi, sebaiknya kita menikmati hidup dengan senang sembari menyelamatkan anak-anak yang terlahir malang.