Menurut mitos Taman Eden, kecerdasan moral manusia ada pada buah pohon moral, yang konon diminta sang ular untuk dimakan oleh Hawa, sang hero pemberani! Sementara Allah melarangnya memakan buah pohon moral itu. Dus, moralitas berasal dari alam!
Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa makhluk manusia bertubuh modern homo sapiens muncul 300.000 tahun lalu di Afrika./1/ Tetapi agama yang oleh antropolog Edward Tylor dinamakan “animisme” baru muncul 12.000 tahun SM, atau 14.000 tahun yang lalu./2/ Jika betul demikian, berarti selama 300.000 tahun minus 14.000 tahun, homo sapiens tak mengenal dan menjalankan agama apapun.
Tapi penemuan arkeologis lebih mutakhir oleh arkeolog Universitas Oslo Sheila Coulson dan timnya, mengharuskan kita menyimpulkan lain. Coulson mendapatkan bukti, ritual keagamaan yang sudah berkembang, sudah dipraktekkan orang Basarwa di Ngamiland, Afrika Selatan, 70.000 tahun lalu./3/ Dalam ritual religius mereka, orang Basarwa 70.000 tahun lalu menyembah ular Python besar yang dalam mitos penciptaan mereka dipandang sebagai leluhur yang melahirkan manusia. Jika demikian, berarti selama 300.000 tahun minus 70.000 tahun, nenek moyang homo sapiens hidup tanpa agama.
Jika selama 230.000 tahun nenek moyang kita tak mengenal agama, dari manakah mereka mendapatkan moralitas untuk mengatur kehidupan mereka? Sudah pasti, tanpa agama apapun, nenek moyang homo sapiens bisa merumuskan moralitas untuk ketahanan komunitas mereka. Jadi salah sekali jika kini kita beranggapan bahwa moralitas hanya bisa didapat dari agama.
Dari mana sesungguhnya moralitas berasal pada mulanya? Yang pasti, bukan dari agama. Dalam biologi kita, menurut biologiwan besar Richard Dawkins, ada altruistic gene dan selfish gene./4/ Altruistic gene mendorong setiap individu untuk mau berkorban diri demi survival komunitas. Selfish gene mendorong setiap individu untuk mempertahankan kehidupannya sendiri, yang akhirnya juga mempertahankan komunitasnya. Jadi, baik selfish gene maupun altruistic gene mendorong setiap individu membela dan mempertahankan komunitas, dengan caranya sendiri-sendiri.
Bagaimana cara gene manusia bekerja untuk menghasilkan ketahanan komunitas mereka? Tak ada cara lain selain gene insani itu mengatur cara otak manusia bekerja, demi survival manusia. Gene manusia bekerja sedemikian rupa lewat otak manusia untuk menghasilkan ketahanan komunitas. Tak ada jalur lain selain lewat otak, untuk gene kita memerintahkan kita mempertahankan kehidupan komunitas. Gene kita menghendaki spesies kita bertahan kekal di muka Bumi.
Jadi, pertanyaan dari mana asal-usul moralitas pada mulanya, dapat dijawab: moralitas muncul dari kerja otak manusia sendiri. Selama otak manusia masih bekerja, dan selama gene kita mendorong kita untuk mempertahankan spesies kita, moralitas dilahirkan. Gene kitalah yang berjuang di dalam diri kita, lewat otak kita, untuk melahirkan moralitas.
Semua agama boleh lenyap, tapi manusia akan tetap hidup dan bertahan jika gene kita terus mendorong otak kita untuk bekerja. Kalau dulu kajian-kajian agama menjadi perhatian kita dalam kita merumuskan moralitas, sekarang tidak lagi. Sebagai ganti studi agama, kini neurosains (atau neurobiologi) memegang peran penting dalam usaha manusia merumuskan moralitas./5/
Neurosains adalah kajian saintifik atas segala sesuatu yang berkaitan dengan sel-sel saraf dalam organ otak kita, yang dinamakan neuron yang jumlahnya 100 milyar sel. Neurosains telah memperlihatkan ihwal apakah seseorang bisa menjadi baik atau bisa menjadi jahat, tak bergantung pada suatu Allah adikodrati. Menjadi jahat atau menjadi baik, bergantung pada ihwal bagaimana seseorang me-manage neuron-neuron dalam organ otaknya.
Untuk segala jenis kelakuan dan sikap mental, ada ruang-ruang neural-nya sendiri dalam organ otak kita. Menjadi liberal dalam beragama atau malah menjadi militan fundamentalis, juga ada ruang-ruang neurologisnya yang menentukan, dalam organ otak./6/ Demikian juga, ada ruang-ruang neural dalam organ otak kita yang membuat seseorang bisa menjadi berhaluan politik liberal atau bisa berhaluan politik konservatif, bergantung mana yang paling banyak diberi masukan mental dan kondisi fisik anatomis ruang-ruangnya./7/ Ihwal apakah seseorang menjadi psikopat (anti-sosial dan tak bisa berempati) juga ditentukan oleh kondisi kesehatan ruang-ruang neural tertentu dalam organ otaknya./8/
Jadi, mengapa dan bagaimana nenek moyang manusia selama 230.000 tahun bisa survive sekalipun tanpa agama? Jawabnya: karena mereka berpikir, karena mereka menggunakan otak mereka untuk berpikir. Pikiran-lah yang melahirkan moralitas.
Orang beragama tanpa berpikir, akan binasa bersama agamanya; tapi orang berpikir tanpa beragama, akan bertahan abadi, setidaknya spesiesnya sebagai kolektivitas. Survival manusia bergantung pada isi pikirannya dan caranya berpikir, bukan pada agama apapun.
Agama hanya bermanfaat jika membantu manusia berpikir dengan benar demi global survival spesies manusia. Tetapi jika agama hanya sebagai museum fosil teologi, agama semacam ini tak membantu manusia berpikir, dus tak membantu survival spesies manusia.
Catatan-catatan
/1/ Lihat L. Vigilant et al., “African Populations and the Evolution of Human Mitochondrial DNA”, dalam Science 253, no. 5027 [1991], hlm. 1503-1507.
/2/ Robert Wright, The Evolution of God (New York, etc.: Little, Brown and Company, 2009) hlm. 17.
/3/ Reportase tentang temuan arkeologis ini tersedia online di http://www.afrol.com/articles/23093.
/4/ Richard Dawkins, The Selfish Gene (New York: Oxford University Press, 1976).
/5/Sejumlah buku telah membahas hubungan neurosains dan moralitas manusia, antara lain Sam Harris, The Moral Landscape: How Science Can Determine Human Values (New York: Free Press, 2010); Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton and Oxford: Princeton University Press, 2011).
/6/ Lihat Andrew Newberg & Mark Robert Waldman, How God Changes Your Brain: Breakthrough Findings From A Leading Neuroscientist (New York: Ballantine Books, 2009); Michael Persinger, Neuropsychological Bases of God Beliefs (New York: Praeger, 1987).
/7/Lihat reportase dan video online-nya di http://www.huffingtonpost.com/2012/04/07/conservative-politics-low-effort-thinking_n_1410448.html?ncid=edlinkusaolp00000003.
/8/ Lihat reportase dan video online-nya di http://www.reuters.com/article/2012/05/07/us-brains-psychopaths-idUSBRE8460ZQ20120507.






5 Komentar baru