PEMUJAAN Tuhan sebagai Yang Maha Pengasih dan Penyayang, sangat sesuai dengan cita-cita manusia masa kini dan masa depan. Kini manusia sudah semakin dicemaskan oleh efek pemanasan global yang diakibatkan ulah manusia itu sendiri. Kepunahan sebagian kehidupan di planet bumi ini sudah mulai dirasakan. Cuaca semakin panas, kutub meleleh, permukaan air laut semakin meninggi, dan banyak pulau akan tenggelam. Seolah-olah semua ini menegaskan sinyalemen bahwa “bumi yang semakin panas, adalah produk manusia modern” (Emil Salim, 2010).
Pemimpin-pemimpin dunia telah sering bertemu dalam berbagai forum untuk membicarakan cara-cara paling efektif mengurangi pemanasan global yang mengancam seluruh dunia. Pernah tercatat, Presiden Maldives memimpin sidang kabinetnya di dasar laut, sebagai simbol bahwa negara Maldives akan tenggelam jika pemanasan global terus terjadi. Pemerintah Nepal juga pernah menyelenggarakan sidang kabinetnya dekat puncak Mount Everest, sehingga para peserta sidang harus memakai masker oksigen karena tipisnya udara. Para pemimpin dunia dan kita semua, kini semakin sadar bahwa kemajuan teknologi yang selama ini memberikan kenikmatan lahiriah, ternyata berdampak buruk pada alam lingkungan yang akhirnya merugikan diri manusia itu sendiri.
Pada awalnya, persoalan cuaca memang sering dianggap sepele. Baru setelah cuaca itu berubah ekstrem, semua pihak kelabakan. Bahkan para ahli cuaca pun dibuatnya bingung. Hujan dan badai semakin sering terjadi. Salju turun mendahului musimnya sampai udara menjadi sangat dingin mencapai 30-40 derajat celsius di bawah titik nol. Akibatnya, lapisan es tebal menutupi bumi, penerbangan terganggu, dan transportasi lumpuh. Pada gilirannya, cuaca ekstrem itu berubah menjadi panas berkepanjangan, menggagalkan panen, yang akhirnya mendorong kenaikan harga-harga pangan. Sebagai contoh, pada pertengahan bulan Juli 2012 ini, gubernur Missouri mengumumkan 114 county (setingkat kabupaten) di negara bagian Amerika Serikat itu ditetapkan sebagai daerah bencana alam kekeringan. Inilah kekeringan terparah yang dihadapi AS selama lebih dari 50 tahun terakhir.
Sementara daya dukung bumi semakin menurun, penduduk dunia bertambah terus dengan tajam. Kini jumlah penduduk dunia telah mencapai 7 miliar orang, sekitar 1 miliar diantaranya mengalami kelaparan setiap hari. Indonesia sudah menyumbang 3,5 persen jumlah penduduk dunia itu. Meskipun jumlah penduduk besar bisa menjadi peluang atau tantangan, yang terjadi di Indonesia impor pangan terus meningkat, bahkan sebagai negara kepulauan, kita masih impor garam dan ikan. Disamping itu, gejolak dan penyakit terjadi dimana-mana, dan manusia semakin cepat emosi, marah dan frustrasi. “Manusia modern telah kehilangan aspek moral sebagai fungsi kontrol dan terpasung dalam sangkar the tyranny of purely material aims” tulis Ahmad Syafii Maarif dalam pengantar buku “Agama & Krisis Kemanusiaan Modern”. Ditambahkannya, “Modernisme gagal karena ia telah mengabaikan nilai-nilai spiritual transendental sebagai pondasi kehidupan. Akibatnya dunia modern tidak memiliki pijakan yang kokoh dalam membangun peradabannya”.
Perlu keseimbangan
Tuhan nampaknya sedang mengajarkan kepada manusia bahwa dalam hidup ini perlu keseimbangan. Pencapaian yang tinggi di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi saja tidak cukup. Perlu diimbangi dengan kemajuan budaya, pendalaman spiritual dan kemanusiaan yang universal. Dasar setiap budaya dan spiritualitas adalah kasih sayang, pelayanan dan pengorbanan. Maka agama yang akan berkembang di masa depan adalah agama “Kasih Sayang”, bukan agama yang ditafsirkan penuh dengan kekerasan, ancaman, dan pengerusakan.
Inti agama “Kasih Sayang” adalah pemuliaan terhadap seluruh kehidupan. Islam mengenal rahmattan lil’Alamin, agama Hindu merumuskannya dalam Tri Hita Karana dan Trikaya Parisuda.Yakni hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia, antara manusia dengan Tuhan, dan antara manusia dengan alam sekitarnya. Ketiga hubungan itu haruslah dilengkapi dengan pikiran yang baik, perkataan yang baik, dan akhirnya perbuatan yang baik.
Implementasi ajaran agama yang meneguhkan kasih sayang Tuhan kepada manusia, sudah seharusnya menjadi tujuan kita bersama. Dalam sejarah perkembangan agama-agama, hal itu telah terbukti. Dalam Hindu, mantra-mantra Veda dan ajaran-ajaran Upanisad, penuh dengan pemuliaan terhadap kehidupan. Spritualitas Islam dengan sufisme-nya, juga berusaha menyeimbangkan kehidupan batiniyah dengan lahiriah. Salah seorang tokoh neo-sufisme, al-Ghazali dengan karya monumentalnya “Ihya Ulumuddin”, secara bertahap mengajak umat Islam berangkat dari pemahaman syariat, meningkat ke arah pendekatan batiniyah sesuai dengan perkembangan pemikirannya dalam pencarian kebenaran. Dalam sejarah hidupnya, al-Ghazali akhirnya melakukan penghayatan batiniyah lewat proses ‘uzlah, semacam pertapaan. (Rivay Siregar, 1999).
Kejawen
Sama seperti di Hindu, sasaran tasawuf sampai kepada zat Al Haqq (Tuhan) dan bersatu dengan Dia. Sasaran tasawuf ini, menurut Suwardi Endraswara (2003), sering dinamakan sufisme Jawa. Merupakan titik temu perpaduan antara paham sufistik dengan kejawen yang sama-sama ke arah manunggal dengan Tuhan.
Salah seorang tokoh tasawuf kejawen yang terkenal adalah Syeh Siti Jenar. Sunan Kalijaga sangat menghormati Syeh Siti Jenar karena dianggap memiliki tingkat spiritualitas yang sangat tinggi. Syeh Siti Jenarlah yang mengajarkan bahwa esensi Islam yang sesungguhnya, sama dengan agama lain. Pernyataan seperti itu sekarang dianggap biasa. Tetapi pada abad ke-15, ucapan tersebut telah menyebabkan Syeh Siti Jenar dianggap sesat dan akhirnya dihukum mati. Sebelum wafat, beliau berpesan kepada Sunan Kalijaga agar terus berjuang menegakkan Islam yang toleran, yang penuh kasih, bukan Islam yang kolot, kaku dan dangkal.
Dalam kekristenan kita juga mengenal ajaran kasih sayang yang mendalam. Bahkan Yesus juga menerima kematiannnya dengan tenang, sambil berdoa agar Tuhan memaafkan semua mereka yang menyebabkan kematiannya itu. “Ya Bapa, Ampunilah mereka”, ujar Yesus. Doa pengampunan ini dinilai menunjukkan bahwa Jesus menganggap tetap ada sesuatu yang bernilai pada diri manusia. Pemuliaan pada manusia, itulah inti ajaran Jesus Kristus, meskipun hal itu harus dilakukan dengan penuh pengorbanan. Itulah pula pesan Paskah: kehidupan yang baru harus selalu mengutamakan kepentingan orang banyak dengan mengalahkan kepentingan pribadi atau kelompok.
Semoga ke depan, seluruh umat beragama dapat lebih memantapkan sumbangan mereka bagi terwujudnya dunia yang lebih seimbang dalam pertumbuhan ekonomi, tanpa merusak lingkungannya. Juga umat beragama yang semakin memuliakan manusia, memuliakan kehidupan, karena itulah pesan inti seluruh agama-agama.Itulah agama “Kasih Sayang”.*





5 Komentar baru