Top 12 - Sejak Jan 2012

Tolong Klik LIKE

Cara Kirim tulisan

Tulis dulu tulisan anda di Word atau di word processor apa saja, jangan di format, cukup diberi paragrap saja.
Lihat kolom yang dibawah tulisan; LOGIN: User Name: :Tamu dan Password : superkoran - setelah itu anda akan bisa melihat kotak untuk mengisi tulisan. (kotak kanan atas)
Copy tulisan anda dan Paste di kotak tsb dan beri judul dan tekan SAVE. Tambahan: Setiap tulisan hendaknya diberi TITLE dimulai dengan Nama Penulis + judul Tulisannya. Tanpa nama penulis, dengan sendirinya tidak jelas siapa yang menulis dan tulisan tidak bisa diterbitkan. TIAP ORANG HANYA BOLEH MENGIRIM TULISANNYA SENDIRI

Daftar tulisan

Kurnia Harta Winata: Dari Dahulu Begitulah Cina, Beritanya Tiada henti

Pembaca: 17818

Ahok begini, Ahok begitu…

Sudah Cina, Kristen pula…
Sudah Kristen, Cina pula…

Sebenarnya isu paling ramai adalah kekristenan Ahok, tapi yang diangkat cukup sederhana. Muslim, sebagai mayoritas dilarang memilih pemimpin di luar agamanya. Jadi untuk masyarakat kristiani yang hanya ingin hidup santai damai sebagai warga Indonesia, isu ini tidak terlalu menohok (walau saya tidak menampik isu ini bisa berkembang lebih besar dan mengancam ketentraman nantinya).

Nah, untuk isu Cina ini yang lebih mengerikan. “Dosa-dosa” keturunan Cina di Indonesia diungkit-ungkit, didedah, seolah-olah berkulit kuning dan bermata sipit adalah tanda seorang penjahat. Dengan pengobaran sentimen semacam ini, seolah bangsa Indonesia diingatkan bahwa keturunan Cina bukanlah bagian dari mereka. Kebencian disulut kembali. Prasangka, kecemburuan semu, dan dendam olahan disebarkan dalam masyarakat. Isu ini tidak hanya mengakibatkan Ahok saja yang ditatap dalam tuduhan, tapi seluruh keturunan Cina di Indonesia. Atau tepatnya, semua yang tampak dan mirip keturunan Cina.

Itulah sebabnya saya selalu tak suka bila ada keturunan Cina maju ke pentas politik. Kampanye negatif yang (pasti) digencarkan musuh politiknya bukan hanya mengincar ia sebagai pribadi, tapi juga semua keturunan Cina di Indonesia. Apa daya, kesipitan mata dan kekuningan kulit tidak selalu dapat disembunyikan oleh logat medok saya.

Tapi tentu saja Ahok berhak maju dalam pentas politik. Ketika saya berpandangan bahwa semua warga negara Indonesia adalah sama haknya di depan hukum, maka saya akan mengkhianati diri saya sendiri jika melarang Ahok maju sebagai calon wakil gubernur.

Ahok, atau Basuki Purnama adalah pendamping Joko Widodo (Jokowi) dalam perebutan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang diajukan PDIP dan Gerindra. Pasangan ini menantang calon kuat yang telah menjadi Gubernur periode sebelumnya, Foke. Dalam pemahaman masyarakat, Foke memiliki citra pemimpin yang arogan dan haus kekuasaan. Ia dekat dan tampak memelihara dua ormas yang sering membuat kekacauan, FPI (Front Pembela Islam) dan FBR (Forum Betawi Rempug). Jadi yang terlihat adalah, Foke memelihara kekuasaannya bukan dengan prestasi yang ia toreh, melainkan dengan memiliki pasukan non formal yang siap mengacak-acak pihak-pihak yang berseberangan dengannya. Bolehlah ia disebut pihak status quo.

Sebaliknya, Jokowi dan Ahok maju berdasar pencapaian yang telah mereka toreh selama memimpin daerahnya masing-masing. Pasangan ini digambarkan sebagai harapan rakyat kecil yang mendamba perubahan dan muak dengan kepemimpinan selama ini.

Lalu apa sih sebenarnya dosa-dosa yang dituduhkan pada warga keturunan Cina? Apa sih yang ditakutkan oleh para sinophobia, orang-orang yang ketakutan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Cina?

Ekonomi! Keturunan Cina menguasai perekonomian Indonesia! Mereka menghisap kekayaan pribumi sampai habis, lalu melarikannya ke luar negeri. Nasionalisme! Mereka tidak peduli terhadap bangsa Indonesia, hanya loyal terhadap tanah leluhur di daratan Cina sana. Sebagai bukti kita bisa lihat kewarganegaraan mereka, banyak yang tidak berwarganegara Indonesia. Masih saja mengagung-agungkan bangsa leluhur di daratan Cina sana. Selama penjajahan, mereka juga memihak pada Kompeni sehingga diberi kasta di atas pribumi. Eksklusif, tidak mau berbaur. Mereka sendiri yang tidak merasa jadi bagian dari Indonesia. Yang dipikiran mereka hanya uang. Coba tengok, mana ada orang Cina di desa-desa. Memacul tanah dan bergelut dengan tahi kerbau. Mereka hanya berkumpul di kota-kota besar dan bergaul dengan sesamanya saja. Kalau tidak, kenapa sampai ada pecinan segala?! Indonesia tidak butuh penduduk seperti mereka! Selamatkan pribumi dengan mengusir mereka! Makmurkan bangsa asli dengan membantai mereka!

Bagaimana keturunan Cina bisa menjadi hantu yang begitu mengerikan bagi pribumi? Pernahkah Anda menanyakan hal ini sebelumnya?

Untuk mengetahuinya mari kita mundur ke masa lalu. Bukan dengan mesin waktu Doraemon, tapi dengan sedikit ingatan, beberapa buku, fasilitas pencarian google, dan semangat untuk memahami ruwetnya sejarah.

Mari kita tarik tuas mesin waktu kita menuju pembantaian etnis Cina terdekat! Wuuut…!

***

Tanggal 13-14 Mei 1998, kota Jakarta membara saat presiden yang berkuasa, Soeharto, sedang melawat ke Mesir. Toko-toko dijarah dan dibakar. Esoknya kerusuhan ini sudah menjalar ke Surakarta. Di kota itu dan kota-kota lain,  beberapa menempelkan tulisan “Pribumi Muslim” di pintu tokonya yang tertutup rapat. Kerusuhan ini memang mengincar warga keturunan Tionghoa. Toko-toko dan rumah mereka dijarah. Bukan hanya uang atau barang mewah saja yang diambil, beberapa kesaksian menyatakan bahkan sendok dan pakaian pun ludes tak bersisa. Itu termasuk beruntung, karena beberapa toko tidak hanya dijarah tapi juga dibakar. Perempuan-perempuan keturunan Cina, atau yang tampak seperti Cina ditarik ke jalanan lalu diperkosa secara massal. Saat itu, tidak tampak gerakan dari aparat keamanan untuk menghentikan kerusuhan yang terjadi.

Saat itu memang terjadi huru-hara di mana-mana. Masyarakat resah. Krisis moneter memukul mereka. Inflasi merajalela, harga-harga membumbung tinggi. Tuntuntan penggulingan presiden Soeharto yang sudah berkuasa selama lebih dari 30 tahun digerakkan oleh mahasiswa. Kelangsungan rezim terancam. Demo yang semula kecil jadi membesar tak terkendali. Boneka dan foto Soeharto dibakar. Tokoh yang selama ini begitu ditakuti, namanya diteriakkan di jalan-jalan. Gantung anjing Soeharto jadi frasa yang dipekikkan penuh kebanggaan.

Etnis Cina dituduh sebagai pihak yang mengakibatkan krisis moneter karena konon merekalah yang menguasai perekonomian Indonesia. Memang saat itu beberapa pengusaha keturunan Cina menjadi raksasa kolongmerasi. Mereka mendapat banyak fasilitas dan hak monopoli yang diberikan oleh rezim Soeharto. Sebagai gantinya, Soeharto meminta balas budi mereka saat merasa membutuhkan. Terutama melalui jaringan keluarganya, atau yang sering disebut keluarga Cendana.

Tanggal 21 Mei, Soeharto mengundurkan diri. Orde baru berganti menjadi orde reformasi.

Dua tahun setelah itu, Gus Dur selaku presiden berlaku yang terpilih mengeluarkan Keppres no: 6/2000. Kepres ini berisi pencabutan terhadap Inpres no:14/1967 yang berisi pelarangan tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina. Sejak itu berbagai aturan yang bersikap diskriminatif dicabut. Masyarakat keturunan Cina diperbolehkan kembali untuk merayakan upacara dan adat istiadat secara terbuka.

Tapi darimana sumber segala pelarangan terhadap budaya Cina ini? Karena Cina yang jadi lintah bagi perekonomian bangsa, Cina yang eksklusif dan tidak mau berbaur?

Mari kita tarik tuas mesin waktu kita kembali. Karena kisah kita barusan adalah kisah pembantaian etnis Cina sekaligus kisah pergantian rezim, maka Anda boleh pilih pergi ke masa kerusuhan anti-Cina atau ke masa perebutan kekuasaan sebelumnya. Wuuut…!

***

Apapun pilihan Anda, ternyata kita kembali ke masa yang sama. Sekitar tahun 1973 -1974. Mirip kejadian tahun 1998, saat itu mahasiswa bergejolak. Muncul ketidakpuasan terhadap kebijakan perekonomian pemerintah. Pelaksanaan pembangunan dinilai terlalu memihak pemodal asing, terutama pemodal dari Jepang. Pengusaha-pengusaha kecil lokal menjadi hancur. Negara terlalu menggantungkan diri pada IMF dan bank Dunia. Ditambah lagi isu-isu KKN yang dilakukan lingkaran Soeharto.

TIba-tiba tanggal 5 Agustus terjadi penjarahan dan perusakan terhadap toko dan rumah etnis Cina di Bandung. Aparat keamanan saat itu juga terkesan melakukan pembiaran, bahkan dikabarkan bahwa ada prajurit terlibat dalam aksi tersebut.

Oktober 1973, para mahasiswa mengeluarkan “Petisi 24 Oktober”. Petisi itu menuntut pemerintah untuk meninjau kembali strategi pembangunan, juga meprotes  adanya perkosaan hukum, penyelewengan kekuasaan, korupsi, kenaikan harga, dan sempitnya lapangan pekerjaan.

Beredar juga desas-desus bahwa ada seorang jenderal yang akan menjatuhkan Presiden Soeharto. Jenderal yang dimaksud adalah Jenderal Soemitro.

Tanggal 14 Januari, terjadi demonstrasi di kantor Ali Moertopo yang dianggap bersalah terhadap kekacauan ekonomi yang sedang berlangsung. Aksi mahasiswa ini tidak menemui rintangan dari Jenderal Soemitro yang mengkoordinasi aparat keamanan saat itu.

Tanggal 15 Januari, demonstrasi besar-besaran dilakukan terhadap Perdana Menteri Jepang Tanaka yang melakukan kunjungan ke Indonesia. Mereka meneriakkan anti terhadap barang Jepang yang saat itu membanjir tanpa henti ke Indonesia. Namun aksi ini berubah menjadi aksi liar yang konon direkayasa oleh kelompok Opsus, bikinan Ali Moertopo. Massa mulai menjarah dan membakar kendaraan buatan Jepang. Kerusuhan ini mulai merambat ke daerah Glodok dan Senen. Mereka menjarah dan membakar toko-toko milik warga keturunan Cina. Lagi-lagi terjadi pembiaran oleh aparat keamanan.

Akibat dianggap gagal menjaga keamanan dan ketertiban Jakarta, Sumitro dipecat dari jabatannya. Ia diberi tawaran untuk menjadi duta besar di Amerika Serikat. Ia menolak tawaran itu dan meminta pensiunnya dipercepat.

Setelahnya terjadi beberapa mutasi dalam tubuh militer dan pemerintah bertindak lebih represif. Aksi-aksi menentang kebijakan pemerintah pun akhirnya padam.

Tapi tunggu, kita masih belum tahu asal muasal pelarangan budaya Cina di Indonesia. Bukankah tadi kita menarik tuas mesin waktu untuk mencari tahu hal tersebut. Oke, langsung saja kita pergi ke jaman saat peraturan tersebut dikeluarkan. Wuuutt….!

***

Dan di sinilah kita. Masa-masa pergantian dari orde lama ke orde baru yang ditandai dengan peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Dan coba tebak, di masa ini pun kita menemui aksi anti-Cina. Lebih besar dan lebih mengerikan dari yang sudah kita bahas di atas.

Selepas peristiwa G30S/PKI, ribuan orang Cina dibantai, dianiaya, dan diusir di berbagai tempat di Indonesia. Toko-toko dan rumah-rumah dijarah, dirusak, dan dibakar. Menurut majalah Life, korban tewas mencapai ratusan ribu. Tapi jumlah ini simpang siur. Ada juga yang menyatakan “hanya” beratus-ratus, atau tidak sampai melewati angka dua ribu.

Pada Agustus 1966, diambil sebuah keputusan dalam Seminar Angkatan Darat II untuk mengganti sebutan Tiong Hoa dan Tiong Kok menjadi Cina.

“…untuk menghilangkan perasaan inferior pada orang kita dan di lain pihak menghapus perasaan superior pada golongan yang bersangkutan dalam negeri kita, maka adalah tepat untuk melapor bahwa seminar memutuskan untuk menggunakan lagi sebutan untuk Republik Rakyat Tiongkok dan warganya “Republik Rakyat Cina” dan “warga negara Cina”.”

Istilah Cina memang berkonotasi penghinaan. Dahulunya sering digunakan oleh Jepang saat menginvasi daratan Cina. Loh, lha terus dari tadi saya kok pakai kata Cina? Ya sudah, mulai saat ini saya akan menggunakan kata Tiong Hoa.

Dari mana kebencian ini berkobar, sampai-sampai perlu mengganti sebutan? Semenakutkan apakah keturunan Tiong Hoa ini sampai-sampai mereka harus dihancurkan?

Kita perlu mundur beberapa langkah untuk melihat keadaan secara lebih luas. Pergantian orde lama menjadi orde baru bukan sekedar pergantian kekuasaan dalam negeri. Kita harus sadar bahwa Soekarno sebagai penguasa orde lama adalah penguasa yang dekat dengan Tiongkok dan Uni Soviet. Si raksasa sosialis komunis. Sedang penguasa orde baru, Soeharto, adalah penguasa yang dekat dengan Amerika Serikat dan Inggris. Si raksasa kapitalis. Pada saat itu, antara dua kubu ini terjadi perang dingin. Mereka berebut pengaruh di antara negara-negara lain. Termasuk Indonesia. Untuk menumbangkan pengaruh sosialis komunis, agen-agen kapitalis ini selain melakukan propaganda komunisphobia, juga melakukan propaganda sinophobia. Tiong Hoa begini, Tiong Kok begitu, pokoknya yang jelek-jelek dan mengerikan. Dan saat kekuasaan Soekarno dibungkam, maka pengaruh Amerika Serikat dan Inggris membanjir masuk ke Indonesia. Akhirnya seperti yang telah diketahui, terjadi pemutusan hubungan diplomatik antara pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok yang diawali dengan penyerbuan massa terhadap Kedutaan besar RRT di Jakarta.

Sentimen anti Tiong Hoa ini juga disambut masyarakat dengan cara menuntut diberlakukannya kembali PP no. 10 tahun 1959. Pengusaha pribumi ingin merebut perekonomian yang selama ini dikembangkan oleh pengusaha keturunan Tiong Hoa.

Di Makassar, walikota mengeluarkan larangan bagi orang Tiong Hoa WNA (Warga Negara Asing) untuk berdagang sembako di kota tersebut. Di Jawa Timur, orang Tiong Hoa WNA dilarang melakukan perdagangan besar di kota selain Surabaya. Mereka diharuskan membayar pajak per-jiwa,  juga dilarang menggunakan huruf dan bahasa Tiong Hoa di muka umum, di pembukuan, perdagangan, surat menyurat, bahkan percakapan telepon. Di saat yang sama, mereka dilarang berpindah domisili keluar dari Jawa Timur. Selain itu juga diperintahkan penutupan semua kelenteng di Jawa Timur dan Madura. Di Jawa Tengah dan DIY, seluruh orang Tiong Hoa WNA diharuskan memasang papan tanda kebangsaan agar aparat dapat dengan mudah melakukan pengawasan. Walaupun peraturan ini berlaku terhadap keturunan Tiong Hoa yang WNA, tapi harus diketahui bahwa saat itu status kebanyakan warga keturunan Tiong Hoa masih mengambang gara-gara UU no. 52 tahun 1958 yang mengurusi soal penyelesain kewarganegaraan ganda antara Indonesia dan RRT.

Aduh apa lagi PP-10 tahun 1959 dan UU no 52 tahun 1958 ini?

Mari kita tarik lagi tuas mesin waktu kita. Wuuut…!

***

Ternyata kita harus keluar sebentar ke negeri Tiongkok sana. Untuk menggalang kekuatan dari orang-orang Tiong Hoa yang hidup di perantauan, Mao Zedong mengumumkan bahwa RRT menganut asas ius sanguinis, yaitu siapa saja di mana saja yang lahir membawa marga Tiong Hoa maka ia otomatis menjadi warga negara Tiongkok. Ini menjadi permasalahan di Indonesia yang tidak mengenal kewarganegaraan ganda.

Bersamaan dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, ditandatangilah perjanjian Dwi Kewarganegaraan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah RRT. Isinya adalah mengharuskan orang Tiong Hoa di Indonesia untuk memilih menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) atau menjadi warga negara RRT. Aturan ini menggantikan aturan tahun 1946 yang menyatakan bahwa siapa saja yang lahir di Indonesia adalah warga negara Indonesia. Disadari atau tidak, aturan ini akan menyebabkan banyak orang keturunan Tiong Hoa di Indonesia akan menjadi WNA, kalau bukan malah tidak berkewarganegaraan. Bukan karena keturunan Tiong Hoa di Indonesia memilih menjadi warga negara Tiongkok, melainkan karena ketidakmampuan mereka untuk memenuhi syarat-syarat pengajuan kewarganegaraan Indonesia. Untuk menjadi WNI, mereka harus menyatakan melepas kewarganegaraan RRT-nya dengan pergi ke pengadilan negeri. Untuk mendaftar di sana dibutuhkan banyak dokumen, misal akta kelahiran, akta kelahiran orang tua, surat kawin, dan KTP. Padahal kantor catatan sipil bagi keturunan Tiong Hoa di Indonesia baru ada di Jawa tahun 1919. Sedang yang di luar Jawa baru pada tahun 1926.

Dan bagaimana mengerikannya status tidak berkewarganegaraan itu bisa kita tanyakan pada kaum muslim Rohingnya yang sedang ramai dibicarakan belakangan.

Implikasi dari aturan ini benar-benar terasa pada tahun 1959. Muncul Peraturan Pemerintah no. 10 yang ditandatangani Soekarno pada 16 November 1959. Peraturan ini memaksa semua pedagang eceran Tiong Hoa di wilayah pedalaman, yaitu di luar ibukota daerah tingkat I dan tingkat II untuk menutup usaha mereka sebelum 1 Januari 1960. Ini sama saja mengusir keturunan Tiong Hoa dari desa-desa dan kota kecil ke kota-kota besar. Bila tidak, bagaimana mereka mencari nafkah. Mengingat sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai pedagang.

Nah, sekarang kita sudah memahami kenapa keturunan Tiong Hoa seakan angkuh tidak mau jadi WNI dan tetap memegang kewarganegaraan Tiongkok. Kita juga tahu kenapa keturunan Tiong Hoa seakan angkuh, tidak mau tinggal di desa-desa. Selain itu dengan empati, kita juga mengerti kenapa banyak dari mereka tidak banyak berbaur dengan masyarakat luas. Tentu saja karena rasa takut. Bagaimana bisa dengan enteng kita berbaur dengan orang yang sekonyong-konyong bisa menghina, menjarah, membunuh, dan memperkosa dirimu? Sejarah telah menggores trauma pada mereka.

Tapi tentu kita belum puas, masih banyak dosa keturunan Tiong Hoa yang belum kita gali. Bukankah keturunan Tiong Hoa ini juga merupakan antek Belanda, bersama-sama dengan mereka menindas bangsa Indonesia? Kenapa seolah mereka hanya mau hidup dari perdagangan saja? Bagaimana cap rentenir dan lintah darat melekat pada mereka? Bukankah eksklusifitas mereka juga ditandai dengan adanya pecinan di berbagai kota besar di Indonesia?

Mari kita kembali menggunakan mesin waktu. Sekali lagi Anda boleh memilih. Menarik tuas ke masa perebutan kekuasaan di nusantara atau ke masa pembantaian etnis Tiong Hoa sebelum G30S/PKI. Saya rasa kedua pilihan tersebut akan membawa kita ke masa yang sama.

Wuuuutttt….!

***

Apa lagi kalau bukan proklamasi kemerdekaan tahun 1945. Selepas proklamasi, muncullah sebuah masa yang tampaknya tak pernah muncul dalam buku sejarah kita. Namanya masa bersiap!

Masa ini ditandai dengan seringnya seruan, “Bersiap!” Sebuah periode kacau balau yang diakibatkan oleh kekosongan kekuasaan. Jepang sudah runtuh. Belanda belum datang. Sementara Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan belum memiliki pemerintahan. Keadaan tidak terkontrol.

Korbannya tidak lain adalah orang-orang yang dianggap musuh saat itu, dan tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Orang-orang sipil Belanda, Indo, dan etnis Tiong Hoa. Massa pemuda menjarah, memperkosa, dan membunuh dengan seenaknya. Pekikan, “Siap!” menjadi tanda yang menakutkan bagi mereka. Kejadian ini tidak lepas dari sikap para tokoh perjuangan sendiri. Dalam pidato-pidatonya, Bung Tomo bersikap rasis dan menggelorakan sikap anti Tiong Hoa. Bahkan Bung Hatta memberi pernyataan,

“Karena kenyataannya para pedagang Ting Hoa  menjadi kepanjangan tangan dari kapitalis asing di masyarakat Indonesia, mereka telah menimbulkan kesan tidak disenangi. Juga selama… pendudukan Jepang, diamati bahwa orang-orang Tiong Hoa berusaha agar mereka selamanya berada dalam posisi yang menyenangkan…Memang benar orang-orang Tiong Hoa tersebut sebagai instrumen membuat banyak kekacauan kepada pengusaha Jepang, tetapi setidaknya mereka berusaha agar posisi ekonominya tetap berada di atas.”

Sikap anti Tiong Hoa pada masa awal kemerdekaan yang paling terkenal adalah pembantaian Tangerang. Awal Juni 1946, ratusan orang Tiong Hoa dibantai, hartanya dijarah, dan rumahnya dibakar. Alasan pembantaian ini adalah bahwa orang Tiong Hoa dituduh dibalik pelaporan penyergapan laskar Republik oleh tentara NICA. Orang Tiong Hoa dituduh sebagai mata-mata. Kerusuhan ini menyebar dengan cepat. Banyak dilaporkan adanya orang Tiong Hoa yang dibakar hidup-hidup. Ada pula para lelaki Tiong Hoa yang disunat secara paksa, sedang remaja putrinya diperkosa. Kerusuhan ini baru berakhir pada tanggal 8 Juni. Tidak lama setelah itu, Belanda berhasil memperluas daerah kekuasaannya ke pinggiran Jakarta. Memang sebelumnya Belanda sudah berniat menduduki Tangerang pada tanggal pada tanggal 13 Juni. Dan pembantaian ini memberi alasan moral bagi Belanda untuk melakukannya.

Sejak itu, orang-orang Tiong Hoa mulai mengungsi ke daerah-daerah yang dikuasai oleh Belanda. Mereka takut perbuatan yang dilakukan oleh laskar Republik ini terulang pada mereka.

Melanggar isi Perjanjian Linggarjati, pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda mulai menyerang kedaulatan Indonesia. Peristiwa ini dikenal sebagai agresi militer Belanda. Tujuan utama agresi ini adalah merebut daerah-daerah yang penting dan kaya. Daerah-daerah pelabuhan, perkebunan, dan pertambangan. Menyadari bahwa sulit melawan Belanda secara langsung, maka pemerintah Republik Indonesia (RI) memilih mundur secara teratur sembari menjalankan perang gerilya dan taktik bumi hangus.

Taktik bumi hangus adalah taktik untuk membakar habis bangunan-bangunan penting yang mungkin dapat digunakan oleh Belanda, terutama pabrik-pabrik. Namun dalam keadaan kacau seperti itu, terjadi hal-hal yang tak diharapkan. Selain membumihanguskan bangunan-bangunan yang penting, ternyata aksi itu juga dilakukan sembari menjarah harta benda, rumah-rumah, dan tempat usaha etnis Tiong Hoa. Tak luput juga pembunuhan dan perkosaan. Mendapat serangan seperti itu, etnis Tiong Hoa merasa frustasi dan mengharap pertolongan dari tentara NICA. Bahkan beberapa akhirnya memihak Belanda dengan menjadi mata-mata mereka. Hal ini memperparah keadaan, karena dengan demikian terjadi pembunuhan serampangan dengan tuduhan sebagai mata-mata.

Apakah memang sedemikian jahatnya pasukan Republik ini?

Mungkin. Tapi perlu diingat bahwa pada masa itu, selain pasukan formal (terikat pada induk kesatuan) dari pemerintah ada juga pasukan informal yang juga mengatasnamakan Republik. Pasukan-pasukan ini dikenal sebagai laskar atau gerombolan liar. Salah satu contoh yang terkenal adalah saat tahanan dari penjara Kalisosok Surabaya dilepaskan. Mereka dipersenjatai dan diminta membantu Republik untuk membantu taktik bumi hangus yang didahului dengan cara mengosongkan kota. Kekacauan ini terus berlangsung hingga akhir tahun 1949.

Belanda sendiri juga tidak dapat dilepaskan dari dosa ini. Karena tiap kali mereka hendak memasuki kota, mereka berhenti dan memberi kesempatan agar taktik bumi hangus dapat dilaksanakan. Bahkan di Sukabumi tercatat, bahwa Belanda menyebarkan pamflet terlebih dahulu. Artinya juga, memberi kesempatan terhadap penjarahan dan pembantaian terhadap etnis Cina. Selain mendapat keuntungan dengan hancurnya reputasi Republik yang tampak masih barbar, Belanda juga mendapat keuntungan dengan perpecahan antara pribumi dan etnis Cina.

Hasil adu domba ini tampak jelas dengan terbentuknya Pao An Tui. Ketika pemerintah Republik Indonesia secara resmi mengambil sikap bahwa penjarahan dan pembakaran yang ditanggung oleh etnis Cina adalah harga yang harus ditanggung demi revolusi, maka etnis Cina berpaling kepada Belanda. Belanda yang merasa tak mampu melindungi mereka, akhirnya memberi ijin pembentukan Pao An Tui, badan yang bertugas menjaga keamanan etnis Cina. Dalam prakteknya, Pao An Tui ternyata ada juga yang dapat diajak bekerja sama dan dipersenjatai oleh Belanda.

Keberadaan Pao An Tui masih jadi kontroversi selama ini. Apakah ia musuh Republik, ataukah sekedar badan guna melindungi etnis mereka sendiri. Karena nyatanya Pao An Tui pusat di Jakarta masih bersikap anti-Belanda dan banyak juga kalangan dari etnis Tiong Hoa yang bersikap menentang keberadaan Pao An Tui. Yang jelas Pao An Tui menghasilkan kesalahapahaman di masyarakat, seolah-olah mereka adalah barisan pemuda keturunan Tiong Hoa yang melawan pemuda Indonesia. Dan perlawanan ini tampak nyata karena Pao An Tui memang dibentuk untuk menghalau penjarahan yang dilakukan oleh laskar liar yang berisi pemuda pribumi.

Ketika kita melihat sikap antipati masyarakat terhadap etnis Tiong Hoa yang dimanfaatkan Belanda bisa sedemikian besar, tentunya kita curiga. Kebencian pribumi terhadap etnis Tiong Hoa tentunya sudah berakar dari sebelum proklamasi kemerdekaan.

Mari kita tarik tuas mesin waktu kita kembali. Ke masa perebutan kekuasaan sebelum proklamasi. Wuuut….

***

Pearl Harbour diserbu Jepang pada 8 Desember 1941. Setelah itu, gantian Hindia Belanda yang jadi sasaran. Jepang sangat membutuhkan kilang-kilang minyak untuk mendukung perangnya. Pertempuran berlangsung sangat cepat, 8 Maret 1942  angkatan perang Belanda sudah menyerah pada Jepang di pulau Jawa. Seluruh Hindia Belanda telah jatuh ke tangan Jepang. Para pemimpin pergerakan Indonesia terpecah menjadi dua, sebagian menentang sebagian lagi pro-Jepang.

Masyarakat Tiong Hoa di Hindia Belanda kembali berada dalam posisi sulit. Karena pada saat yang sama, berkibar perang antara Jepang dan daratan Tiongkok. Seluruh pemimpin dan tokoh Tiong Hoa  ditangkap. Partai politik, ormas, dan penerbitan diberangus. Mereka yang ditahan, dijadikan satu dengan tahanan Belanda dalam kamp interniran. Orang-orang Tiong Hoa yang tidak tertawan mengorganisasi gerakan-gerakan bawah tanah menentang Jepang.

Selain penjarahan dan perampokan terhadap toko dan rumah Tiong Hoa saat pendaratan pasukan Jepang, eksekusi dan penyiksaan terhadap tokoh-tokoh Tiong Hoa yang menentang Jepang, tidak ada pembantaian massal terhadap etnis Tiong Hoa di bumi nusantara.

Tapi masih perlu kita catat juga bahwa ada pembantaian massal terhadap etnis Cina pada masa ini di Singapura. Singapura merupakan markas besar tentara ketujuh Angkatan Darat Jepang, yang juga membawahi wilayah Sumatra.

Jadi di masa ini, tidak ada cukup keterangan yang dapat kita ambil. Bagaimana kalau kita ke masa perebutan kekuasaan yang lebih lalu lagi, adakah pembantaian etnis Tiong Hoa di sana? Wuuuttt…

***

Sekarang kita berada pada masa perang Jawa, 1825-1830, atau yang sering disebut juga perang Diponegoro. Pangeran Diponegoro adalah putra sulung Sultan Hamengkubuwono III. Namun ternyata ia tidak diangkat menjadi putra mahkota. Penguasa Hindia Belanda lebih tertarik memberikan takhta pada adiknya.

Dengan ditandai pematokan di atas tanah Pangeran Diponegoro, maka pecahlah perang. Pematokan ini dilakukan oleh kraton atas permintaan Residen Yogyakarta (semacam kepala daerah dalam pemerintahan Hindia Belanda), tentu saja tanpa seijin Pangeran Diponegoro. Banyak bangsawan yang turut memihak Pangeran Diponegoro. Dukungan ini terutama disebabkan oleh keputusan menghentikan hak sewa lahan perdesaan oleh Gubernur Hindia Belanda yang dinilai mematikan sumber penghasilan para bangsawan. Tidak hanya para bangsawan yang membantu perjuangan Diponegoro, tetapi banyak juga orang Tiong Hoa yang turut serta. Selain bantuan secara pasif dalam bentuk uang, senjata, dan candu, bantuan ini juga bersikap aktif. Turut serta mengangkat senjata melawan Belanda. Namun bantuan ini tidak berjalan langgeng, di pertengahan perang orang-orang Tiong Hoa menarik dukungan terhadap Diponegoro. Berkhianatkah mereka?

Pada masa awal perang, Raden Ayu Yudakusuma puteri dari Sultan Hamengbuwono I bersama pasukannya menyerbu Ngawi. Saat itu Ngawi merupakan pos perdagangan yang penting. Di sana, terjadi pembantaian etnis Tiong Hoa oleh pasukan tersebut. Ternyata pembantaian ini tidak hanya terjadi di Ngawi. Di berbagai tempat di Jawa Tengah dan sepanjang Bengawan Solo, pembantaian ini terjadi terus menerus.

Kabar mengenai pembantaian ini akhirnya diketahui oleh para Tiong Hoa yang membantu Diponegoro. Rasa kecewa dan prasangka muncul. Namun sikap ini bersifat timbal balik. Orang-orang Jawa juga curiga dan berhati-hati pada Tiong Hoa. Pangeran Diponegoro sendiri memerintahkan para komandannya menjaga hubungan agar tidak terlalu akrab dengan orang Tiong Hoa. Bahkan dalam Babad Dipanagara, Diponegoro menyalahkan kekalahannya di Gowok akibat ia terjebak kecantikan seorang gadis Tiong Hoa yang ia tangkap dan ia jadikan tukang pijatnya. Kekalahan Sasradilego, ipar Diponegoro, dalam pertempuran di pesisir utara pun dilimpahkan kepada pundak orang Tiong Hoa. Yaitu Sasradilego melanggar perintah Diponegoro untuk tidak menggauli seorang perempuan Tiong Hoa di Lasem. Padahal kemenangan yang sedemikian cepat diraih Sasradilego dalam awal pertempuran bisa dibilang didapat dari bantuan para Tiong Hoa yang mampu menyelundupkan senjata api. Sedang kekalahannya disebabkan oleh pihak Belanda yang sudah berhasil mendatangkan bala bantuan.

Sebenarnya saat itu memang sudah muncul gesekan antara orang Jawa dan orang Tiong Hoa. Penyerbuan Raden Ayu Yudakusuma yang sebelumnya mempunyai hubungan baik dengan orang Tiong Hoa pun bukan tanpa alasan. Orang-orang Tiong Hoa saat itu banyak yang berprofesi sebagai rentenir maupun pemungut pajak dan sewa.  Oleh karena semakin lama pajak dan uang sewa ini semakin mencekik, maka wajar jika muncul kebencian terhadap orang-orang Tiong Hoa yang datang menagih. Tapi kebencian ini sebenarnya tidak terjadi pada kaum bangsawan.

Setelah Daendels dan Raffles selaku Gubernur Hindia Belanda waktu itu mengurangi wilayah kekuasaan para raja, maka semakin sedikit pula sumber penghasilan para raja. Untuk itu mereka harus mendapatkan keuntungan lebih dari wilayah yang mereka miliki. Keuntungan ini mereka dapatkan dari menyewakan sawah dan pekerja kepada para wiraswasta. Sedangkan para wiraswastawan pada waktu itu adalah orang-orang yang sudah memiliki kemampuan berhitung, orang-orang yang terbiasa berdagang. Tentu saja kalau bukan orang Eropa, ya orang Tiong Hoa. Dan karena kepemilikan mereka akan uang, banyak dari mereka yang juga memberikan pinjaman, alias jadi rentenir. Termasuk Raden Ayu Yudakusuma, yang juga sering meminjam uang pada orang-orang Tiong Hoa ini.

Pemerintah Hindia Belanda yang melihat keefektifan kerja orang Tiong Hoa dalam menarik sewa, akhirnya melakukan hal yang sama. Mereka mempekerjakan orang-orang Tiong Hoa untuk melakukan penarikan pajak di wilayah mereka. Dalam prakteknya, pasti kegiatan-kegiatan penarikan pajak dan rentenir ini akan menjerumus pada tindakan-tindakan pemerasan. Tapi para bangsawan dan pemerintah Hindia Belanda tidak peduli, karena mereka mendapatkan uang dengan lancar. Kebencian rakyat terhadap mahalnya pajak pun tidak terarah pada mereka. Melainkan pada golongan Tiong Hoa yang langsung turun ke lapangan.

Lalu apakah sebenarnya orang Tiong Hoa ini memang anak emas pemerintah Hindia Belanda? Mengingat kegiatan orang Tiong Hoa dalam menarik pajak dilindungi oleh mereka?

Dari segi pajak, orang Tiong Hoa menghadapi pajak yang jauh lebih tinggi. Dalam perdagangan, pajak orang Tiong Hoa bisa sampai tiga kali lipat lebih besar dari orang Jawa. Orang Tiong Hoa juga dikenai pajak konde atau pajak per-kepala. Selain itu ada berbagai peraturan dari pemerintah Hindia Belanda yang mengekang orang-orang Tiong Hoa. Peraturan-peraturan itu antara lain;

Wijkenstelsel, orang-orang Tiong Hoa dikumpulkan pada satu tempat. Mereka diharuskan bermukim hanya pada tempat-tempat yang ditentukan. Tempat-tempat ini lah yang kemudian berkembang dan disebut dengan pecinan. Aturan ini dibuat agar orang-orang Cina mudah diawasi.

Passenstelsel, aturan yang menyebutkan tiap orang Tiong Hoa harus memiliki pas (surat ijin) jika bepergian. Tiap kali mereka perlu keluar dari wilayah yang ditentukan oleh wijkenstelsel, mereka harus mendapat ijin dari penguasa Belanda. Selain sebagai pengawasan, aturan ini juga menjadi lahan basah para opsir Belanda untuk memeras orang Tiong Hoa.

Undang-undang Agraria 1870,  secara resmi UU ini bertujuan melindungi hak petani pribumi dari pemodal asing. Caranya dengan melarang orang asing untuk memiliki tanah di Hindia Belanda. Akibat langsungnya adalah, orang-orang Tiong Hoa kehilangan lahan pertaniannya yang mungkin saja sudah mereka garap sendiri secara turun-temurun.

Ketiga peraturan ini secara tidak langsung memperlihatkan usaha pemerintah Hindia Belanda untuk memisahkan pribumi dengan orang-orang Tiong Hoa. Juga ketakutan mereka atas orang-orang Tiong Hoa sehingga mereka harus selalu diawasi dengan seksama. Apa yang menyebabkan ketakutan ini?

Seperti yang sudah-sudah, kita coba menjawab pertanyaan kita dengan mesin waktu yang kita miliki. Kemana kali ini kita akan pergi? Bagaimana kalau ke pembantaian etnis Tiong Hoa terdekat sebelum perang Jawa dimulai. Tarik tuasnya! Wuuuttt…!

***

Sekarang kita berada di Batavia. Pada masa-masa mulainya kehancuran VOC. Tahun 1732, terjadi wabah penyakit di Batavia. Penegakan hukum yang dilakukan oleh VOC pun membuat banyak orang bangkrut karena kehilangan mata pencaharian. Praktek-praktek kotor dan curang memang sudah jadi praktek sehari-hari di masa itu. Pengangguran merajalela. Namun orang-orang Tiong Hoa yang sebelumnya didatangkan oleh VOC untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak mau dilakukan oleh pribumi dan Eropa terus saja berdatangan. Penumpukan pendatang ini menciptakan problem baru, terutama kebanyakan dari mereka menjadi pengangguran akibat lapangan kerja yang semakin menciut. Kriminalitas mulai terjadi di daerah-daerah pinggiran. Keadaan ini berlanjut terus sampai tahun 1740.

Untuk itu VOC mengeluarkan peraturan yang berguna membatasi orang Tiong Hoa di Batavia. Setelah gagal membendung imigran, VOC membuat aturan yang lebih keras. Tiap orang Tiong Hoa yang menganggur akan dideportasi.ke Ceylon dan Afrika Selatan. Ketika aturan ini mulai diberlakukan, terdenganr kabar bahwa ini hanyalah akal-akalan pemerintah. Orang-orang Tiong Hoa yang tertangkap dan dinaikkan kapal tidak pernah sampai di Ceylon atau Afrika Selatan, melainkan dibuang ke laut!

Orang-orang Tiong Hoa mulai takut akan adanya kabar burung ini. Mereka mulai nekat. Beberapa pemberontakan muncul di luar tembok kota. Sebenarnya tidak ada bukti bahwa orang-orang Tiong Hoa yang ada di dalam tembok kota ikut terlibat, tapi rasa was was penduduk sudah sedemikian hebat. VOC memberlakukan jam malam bagi warga Tiong Hoa, bahkan tidak diperkenankan membuat api sekalipun. Pemerintah VOC takut apabila itu digunakan sebagai tanda aba-aba bagi orang-orang Tiong Hoa di luar benteng untuk menyerang kota. Karena memang ada desas desus penyerbuan itu akan ditandai dengan api di dalam kota.

Penduduk non Tiong Hoa berkumpul di jalan-jalan sambil membicarakan rumor tentang penyerangan. Mereka bertambah curiga dengan tiadanya orang-orang Tiong Hoa di antara mereka, yang sebenarnya memang dilarang keluar oleh pemerintah. Para majikan Belanda yang merasa terancam mempersenjatai  bawahannya yang terdiri dari berbagai ras dan suku bangsa. Tidak lama terjadi kebakaran di beberapa warung Tiong Hoa. Kemungkinan kebakaran ini terjadi karena penggeledahan senjata oleh aparat. Tapi bagi orang-orang Belanda, kebakaran ini diartikan sebagai dimulainya pemberontakan oleh orang Tiong Hoa.

Kerusuhan tidak terelakkan. Penjarahan dan pembakaran rumah-rumah Tiong Hoa terjadi dengan kejam. Semua orang Tiong Hoa, laki perempuan, besar kecil, tua muda, semua dibantai. Banjir darah terjadi. Sungai menjadi merah dalam arti sebenarnya. Dari sinilah nama Angke yang berarti kali merah berasal. Meriam-meriam ditembakkan ke rumah-rumah orang Tiong Hoa. Sekejap begitu banyak korban terpanggang hidup-hidup. Banyak di antara mereka yang memilih bunuh diri dari pada jatuh ke dalam tangan orang-orang Belanda, pribumi, dan orang-orang kulit hitam yang memburu mereka. Sebuah kesaksian menyatakan, pada saat pembakaran berhenti tidak tampak seorang Tiong Hoa pun di kota. Semua jalan dan lorong penuh mayat, kali-kali ditimbuni mayat sehingga orang dapat menyebrang di atas mayat-mayat tanpa kakinya menjadi basah.

Kabar mengenai kejadian ini segera menyebar ke luar Batavia. Orang-orang Tiong Hoa yang marah mulai melancarkan pemberontakan terhadap VOC. VOC meminta penguasa Jawa saat itu yaitu Sunan Paku Buwono II untuk membantunya, tetapi Sunan bersikap hati-hati. Tidak pernah sebelumnya orang Jawa menangkapi orang Tiong Hoa. Lagipula ia tidak mau membuat kesalahan dengan menangkap orang yang tidak bersalah. Sunan berusaha bersikap netral.

Namun lama kelamaan, pemberontakan ini mulai didukung oleh orang Jawa. Selain benci dengan VOC, orang-prang jawa juga merasa bersimpati terhadap orang Tiong Hoa yang sudah hidup harmonis dengan mereka selama beberapa generasi. Sedang Sunan yang terus ditekan kekuasaan VOC berada di kebimbangan. Para bangsawan kraton terpecah menjadi dua, antara yang ingin membantu VOC dan yang ingin turut serta membantu orang Tiong Hoa.

Pemberontakan terus meluas. Pasukan Tiong Hoa mulai merebut kemenangan di mana-mana. Sunan sendiri akhirnya memilih membantu orang Tiong Hoa secara rahasia. Secara resmi ia masih mengulur waktu, tapi di bawah tangan ia memerintahkan penguasa-penguasa bawahannya untuk menyerang VOC.

VOC menyadari tidak mungkin bertahan dengan kemampuan yang ada. Ia berusaha mendapatkan bantuan. Akhirnya VOC mendapat bantuan pasukan Cakraningrat IV dari Madura yang memang mengulurkan tangan. Cakraningrat IV meminta janji dari VOC bahwa ia akan mendapat kemerdekaan dari penguasaan Kartasura. Bala bantuan ini menjungkirbalikkan perimbangan. Pasukan pemberontak ditumpas. Di Madura, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, terjadi pembantaian terhadap orang Tiong Hoa oleh pasukan Madura.

Mengetahui Cakraningrat IV yang merupakan musuh politiknya membantu VOC, Sunan akhirnya memihak pemberontak secara terbuka. Namun ketika ternyata pasukan Belanda dan Madura lebih kuat, terutama saat kegagalan merebut Semarang, Sunan menyatakan untuk menghentikan permusuhan lebih lanjut. VOC menyambut gembira pernyataan ini. Pemberontak Tiong Hoa dan sebagian besar anak buah Sunan marah mengetahuinya. Mereka ganti menyerang kraton Kartasura. Namun tidak lama kemudian, pemberontakan ini pun berhasil ditumpas. Sunan Paku Buwono II dipulihkan kedudukannya sebagai penguasa Mataram.

Sejak saat itu pemerintah kolonial VOC selalu memberi pengawasan ekstra terhadap orang Tiong Hoa. Kebijakan ini diteruskan oleh pemerintah Hindia Belanda, dan dilanjutkan lagi oleh pemerintah Indonesia.

Ternyata pembantaian orang Tiong Hoa di Batavia ini adalah pembantaian etnis Tiong Hoa pertama di Nusantara. Bahkan yang pertama pula di luar daratan Tiongkok.

Sebelum ini hubungan antara pribumi dan Tiong Hoa tampak harmonis. Hubungan ini bisa dilihat dari banyaknya orang Tiong Hoa yang diberi jabatan oleh penguasa. Juga catatan-catatan yang memperlihatkan baiknya hubungan bilateral antara kerajaan nusantara dan kerajaan Tiongkok. Misalnya pengangkatan Cik Go Ing, atau Tumenggung Mertaguna menjadi bupati Lasem oleh Sultan Agung atas jasanya dalam perang Mataram (1620-1625).

Satu-satunya konflik antara Tiong Hoa dan pribumi yang tercatat di nusantara sebelum ini hanyalah ekspedisi Kubilai Khan pada tahun 1292. Namun perlu kita catat, selain sebenarnya Kubilai Khan adalah penguasa Mongol yang menjajah Tiongkok, ekspedisi itu bersifat konflik antar kerajaan. Tidak membawa-bawa etnis tertentu. Dan kita catat lagi, ekspedisi ini membawa dampak besar pada nusantara. Prajurit-prajurit Kubilai Khan yang akhirnya menetap di nusantara tersebut melakukan transfer teknologi. Terutama teknologi perkapalan dan senjata api. Dengan teknologi baru ini dengan sangat singkat akhirnya Gajah Mada berhasil mempersatukan nusantara di bawah panji-panji Majapahit.

***

Nah, sekarang pertanyaan-pertanyaan mengenai dosa keturunan Tiong Hoa dapat kita ganti menjadi:

Kecuali pembantaian yang pertama, mengapa pembantaian dan penjarahan terhadap etnis Tiong Hoa besar-besaran selalu berbarengan dengan perebutan kekuasaan yang besar-besaran pula?

Kita lihat tidak ada perlunya lagi kita menggunakan mesin waktu untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita.

Pembantaian pertama dilakukan penguasa atas ketakutannya akan etnis Tiong Hoa. Lalu mereka melihat besarnya kekuatan yang tercipta dari bersatunya etnis Tiong Hoa dan pribumi. Ini lebih berbahaya lagi bagi mereka. Untuk itu penguasa berusaha memisahkan keduanya dengan cara menciptakan jarak dalam kehidupan mereka. Lebih lanjut dari itu, penguasa juga menjadikan etnis Tiong Hoa sebagai alat pemeras rakyat jelata.

Keberhasilan dari adu domba ini meledak pertama kali saat perang Jawa. Sentimen anti Tiong Hoa yang sudah tercipta terus menerus digunakan penguasa-penguasa sesudahnya. Untuk apa menciptakan sasaran baru, kalau sasaran yang ada sudah tersedia. Kita bisa mengamati bahwa wijkenstelsel yang dilakukan oleh kolonial dihidupkan kembali dalam masa kemerdekaan dalam bentuk PP-10 dan UU no. 52 tahun 1958. Pemerasan dalam bentuk penarikan pajak yang dilakukan kolonial dengan menggunakan etnis Tiong Hoa diulangi kembali dalam bentuk pemberian hak-hak monopoli terhadap etnis Tiong Hoa yang dijadikan sapi perahan penguasa Indonesia. Imbasnya etnis Tiong Hoa yang ketakutan dan memiliki cukup banyak harta, memilih menyimpan hartanya di luar negeri mengingat harta mereka di dalam negeri bisa dijarah sewaktu-waktu. Selalu ada pemikiran, bahwa ada kemungkinan mereka harus kabur ke luar negeri. Yang tidak memiliki cukup banyak harta…yah, di mana-mana orang miskin memang tak punya pilihan.

Dalam tiap perebutan kekuasaan selalu ada penguasa yang dipertanyakan. Dalam tiap perebutan kekuasaan selalu ada rakyat yang mendendam. Tiap penguasa ini butuh pihak untuk disalahkan, dan rakyat butuh pihak tempat untuk melampiaskan amarah. Dan yang terjepit ditengah selalu yang jadi korban. Di nusantara, kebetulan pelanduk di antara gajah ini adalah etnis Tiong Hoa.

Mau bagaimana lagi sekarang? Semua sudah telanjur terjadi. Apalagi sudah dimulai beratus tahun silam.

Masa reformasi memang sudah mengembalikan hal-hak keturunan Tiong Hoa yang diberangus penguasa-penguasa sebelumnya. Namun kita tak boleh lengah, kerusuhan-kerusuhan dapat saja terjadi sekonyong-konyong seperti waktu-waktu lalu. Bahkan penguasa masih saja menyisakan peraturan-peraturan diskriminatif itu. Coba lihat Surat Keputusan Walikota Pontianak no 127/2008 yang melarang atraksi naga dan barongsai di jalan umum. Atau di Yogyakarta, yang selama ini disebut sebagai model terbaik dari pluralisme  Indonesia.  Instruksi Kepala Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor K.898/I/A/1975 yang melarang WNI non Pribumi untuk memiliki sertifikat hak milik atas tanah masih berlaku hingga saat ini. Tapi yah…

Dari dulu begitulah Cina, deritanya tiada henti.

Namun derita ini bukan milik keturunan Tiong Hoa saja! Derita ini adalah derita segenap bangsa Indonesia!

Bagaimana tidak, tiap kali kerusuhan anti Tiong Hoa terjadi pastilah ekonomi kita tersendat. Pelarangan bagi WNI keturunan Tiong Hoa untuk berdagang berkali-kali nyatanya tidak membuat kekosongan ini dapat diisi oleh pribumi begitu saja. Kita terganjal dari gerak maju. Mengaca pada sejarah, coba bayangkan seberapa kuatnya bangsa ini jika kebencian-kebencian ini tidak memisahkan keturunan Tiong Hoa dari pribumi. Kita bahu membahu menjadi bangsa yang kuat. Bersatu padu membangun sebuah budaya yang disegani kawan dan lawan. Berapa besar potensi yang hilang karena kita saling curiga dan penuh prasangka. Betapa menyedihkan dari jaman VOC sampai sekarang kita dikadali dengan kadal yang sama. Tapi yah…

Dari dulu begitulah kita, deritanya tiada henti.

Namun derita ini bukan untuk diratapi. Derita ini juga bukan alasan agar kita dikasihani. Apalagi diungkit-ungkit demi ganti rugi. Derita ini untuk kita pelajari, kita mengerti, dan kita sadari. Hingga kita akhirnya paham, bahwa tiap kali kita dilanda kebencian dan prasangka karena sentimen anti Tiong Hoa atau sentimen apapun, dan berada di pihak manapun, kita harus ingat untuk bertanya;

“Siapakah sebenarnya yang diuntungkan oleh kebencian kita ini? Siapakah sebenarnya yang dirugikan? Apa saja keuntungan yang didapat? Apa saja kerugian yang harus ditanggung?”

Karena jangan-jangan yang rugi sebenarnya hanya kita-kita saja, dan yang untung hanya penguasa-penguasa juga. Karena jangan-jangan yang menanggung kita-kita juga, dan penguasa tinggal ongkang-ongkang saja.

Karena bangsa yang hanya mampu meluapkan amarah memang tak pantas maju. Karena penguasa yang hanya mampu melempar salah memang tak perlu diaku.

Yogyakarta, 26-29 Agustus 2012

nb: sebenarnya saya tak suka istilah pribumi karena banyak keturunan Tiong Hoa yang sudah ratusan tahun hidup di nusantara, tapi saya tetap memakainya untuk memudahkan penyebutan

referensi:

- Tiong Hoa Dalam Pusaran Politik, Benny G. Setiono, Transmediapustaka
- Hoakiau di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, Garba Budaya 1998
- Nusantara: Sejarah Indonesia, Bernard H. M. Vlekke, KPG 2008
- Mur Jangkung: Babad VOC, Bentara Budaya Yogyakarta, 2005
- Perang Pasifik, P.K Ojong, Kompas 2009
- http://transtvnews.blogspot.com/2012/08/ngapain-milih-ahok-masih-banyak-orang.html
- http://en.wikipedia.org/wiki/Sinophobi
- http://politik.kompasiana.com/2010/05/16/permasalahan-etnis-tionghoa/
- http://suar.okezone.com/read/2012/05/28/285/636666/gus-dur-pahlawan-etnis-tionghoa
- Indonesia Raya dibredel, Ignatius haryanto ( http://books.google.co.id/books?id=1eaUmS1dkHcC&pg=PA88&lpg=PA88&dq=petisi+24+oktober&source=bl&ots=dPNIadX8Cg&sig=KKb6sAgqv1yTeD0ylqHYEvrnUYc&hl=id#v=onepage&q=petisi%2024%20oktober&f=false )
- http://www.kependudukancapil.go.id/index.php/suara-warga?func=view&catid=2&id=5282
- http://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_I
- sejarah-interaktif.blogspot.com/2011_10_01_archive.html
- http://www.japanfocus.org/-Hayashi-Hirofumi/3187
- http://sejarahbangsaindonesia.blogdetik.com/2011/03/26/masa-bersiap/
- http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/rawagede-beda-dengan-zaman-bersiap
- http://jiastisipolcandradimuka.blogspot.com/2011/09/sejak-masa-penjajahan-kolonial-belanda_26.html
- Perlawanan atas Dikriminasi rasial-etnik, Faruk, Bambang Purwanto, Bakdi Soemanto ( http://books.google.co.id/books?id=cIlydhee_mYC&pg=PA21&lpg=PA21&dq=Undang-undang+agraria+1870+Tiong+Hoa&source=bl&ots=3FciGqQokV&sig=1XkVx4efRIHrNcJ8sA-khrn80Y0&hl=id#v=onepage&q=Undang-undang%20agraria%201870%20Tiong%20Hoa&f=false)
- http://joglosemar.co/berita/pecinan-eksistensi-tionghoa-12866.html
- http://id.wikipedia.org/wiki/Undang-undang_Agraria_1870
- http://home.netvigator.com/~sadar/news/SumbangsihSGT_BUKU.pdf
- http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4fa0a5a5e0f60/masalah-hak-wni-keturunan-tionghoa-untuk-memiliki-tanah-di-yogyakarta

49 comments to Kurnia Harta Winata: Dari Dahulu Begitulah Cina, Beritanya Tiada henti

  • Terima kasih mas Winata, artikelnya bagus dan dapat dijadikan salah satu bahan masukan dan pembelajaran sejarah bagi bangsa ini agar tidak mudah diadu domba oleh pihak manapun juga di kemudian hari nanti. Bravo untuk penulis.

  • PrashT

    stlah baca kok serasa ada plot twist didalam sejarah bangsa Indonesia :(

    boleh saya share artikelnya…???

  • andy

    SIALAN…SADAR DUNK MAS INDONESIA KALAO GAK ADA ORANG CHINESENYA EKONOMINYA UD LAMA SEKALI HANCUR LEBUR DAN NEGARA INDONESIA UD JD MILIK ASING! !!!! SIAPA ORANG PENGGERAK EKONOMI TERBESAR & PEMBAYAR PAJAK TERBESAR DI INDONESIA???? CINA LOH MAS!!! HUTANG NEGARA INDONESIA TERHADAP AMERIKA,SIAPA YG BANTU LUNASIN???? RRC CINA LOH MAS,INDONESIA BELI ALAT MILITERNYA KEMANA??? CINA LOH MAS! !!!! DASAR ORANG DAN NEGARA GAK TAU DIRI! !!! APA2 YANG KALIAN PAKAI ITU SERBA CINA MAN!!!!! KALAU GAK ADA CINA SAMPAI HARI INI ORANG INDONESIA MAU MENGHARAPKAN BISA PAKAI BARANG TOUCH SCREEN,GAME CANGGIH & KENDARAAN MURAH & PERABOT RUMAH BAGUS & MURAH…ENGGA BAKAL BISA DEH KALAO GAK ADA SI CINA(RRC) NYADAR DUNK ORANG INDONESIA TOH CUMA BISA “BIKIN RUSAK” DOANK TAPI KALO MEMPRODUKSI? ???? BORO BORO BISA!!!!

    • Numpang Lewat

      Koh Andy, lo kayaknya pernah kena jarah waktu kerusuhan ya? boleh kasih sedikit pencerahan ngga?
      Gw kenal beberapa orang keturunan Cina yang jadi penadah barang2 jarahan itu. Lo jangan mungkir ini itu, Orang baek sama orang jahat itu di setiap negara juga ada.

      Ni kata lo!

      ” ORANG INDONESIA TOH CUMA BISA “BIKIN RUSAK” DOANK ”

      Lo juga kayaknya berwawasan sempit sampe ngga baca berita luar negeri. Baru2 ini di Cina sana juga ada kerusuhan sampe ngerusak en ngejarah barang2 produki Jepang sebagai bagian dari demo anti Jepang. Mao kate apa lo sekarang?

      Orang model kayak elo tuh cuma bisanya narik garis memecah belah persatuan lebih baik pulang aja ke Cina, kalo elo berasa ada hutang budi sama Cina. Lo bangun tu negara biar ngga jadi pengekspor susu beracun atau telor palsu atau elektronik abal2. Indonesia juga ngga perlu orang model kayak lo, yang ngga berkontribusi apa2 tapi ngedjuge sembarangan.

  • CINA INDONESIA

    SOK TAU LO !!! EMG LU KIRA ORANG KETURUNAN PUNYA PASPORT 2 GT ? 1 RRC 1 INDO? EMG LU BISA / BERANI BELA KLO HAK ASASI ORANG KETURUNAN DISINI DIINJAK2 ? GA TANGGUNG JAWAB BANGSAT LO !!!

  • anonymous

    eaaa…..
    rasa-rasanya itu artikel memberi pencerahan kenapa kok orang-orang China di Indo dimunsuhin.
    dan itu semua adalah tidak laen karena adu domba pihak asing (dan pemerintah sendiri). Dengan kata laen orang cina adl korban yang tidak semestinya dimunsuhin dan pribumi lah yg harus membuka mata mereka karena kebencian mereaka ga berdasar

    terus kenapa 2 orang diatas malah pada sewot…???

  • CAPSLOCK

    ARTIKEL YANG PANJANG … eh, capslock masih nyala hehehehe …. panjang dan cukup mencerahkan … tks :)

  • THINK SMART

    ngak ada urusan dengan sejarah orang china di indonesia di tarik tarik sampai sekarang …..
    intinya adalah kepentingan barat untuk menhentikan tindak tanduk BANGSA CHINA di ASIA PACIFIC, karena BARAT tahu salah satu bangsa yang bisa membuat ASIA PACIFIC ini berkoak lagi adalah BANGSA CHINA( TIONGHOA) ,
    di tambah lagi musuh berbunyutan SEKUTU barat adalah KOMUNIS, dan NEGERI CHINA(TIONGHOA) yang kebetulan berpaham KOMUNIS. CIA merupakan dalang dari semua tindak tanduk terhadap anti china( TIONGHOA) …. ANTI CHINA(TIONGHOA) bukan di INDONESIA saja tapi bisa serentak seluruh dunia ….itu merupakan perkejaan intelijen kurang ajar itu yang takut akan naga asia tumbuh melebihi mereka….

    di mulai dari perang dingin pernag dunia ke 2 selesai,
    1. intelijen barat mulai mengacaukan ASIA PACIFIC perang sana sini ( perang vietnam , perang korea dengan agenda utama bersihkan komunis dari asia pacific semua harus jadi anjing periharaan barat ) tapi ternyata ngak sedikit biaya yang habis di keluarkan begitu juga nyawa akibat kebodohan orang asia pacific yang mudah di adudomba…

    2.negeri africa yang di porak porandakan, sampai banyak yang terjadi kalparan sana sini , perang saudara ( somalia DLL.)

    3. dan sekarang abad 19-20….. giliran TIMUR TENGAH yang di hajar( IRAK , LYBIA ,DLL) di tambah lagi isu TERORIST … barat yang sibuk terorist kok asia pacific yang repot …..itu karena banyak negara asia pacific yang masih di tekan sama barat ….

    Barat sengaja membuat negeri di asia pacific khususnya indonesia untuk supaya keturunan tionghoa di indonesia ini tidak bisa menghmpun kekuatan dan bantaun dari cina daratan ..maka di buat isu ANTI CHINA ….. padahal itu isu HOAX …yah kebetulan rakyat asia pacific termasuk indonesia masih BODOH BODOH dan mudah di pengaruhi …..

  • Sadardiri

    Ya karena sebagian dari Kaum Etnis keturunan CINA di Indonesia memang memiliki BUDAYA yang kelewat picik terutama dalam BERDAGANG. Karena kesemua penilaian yang warga keturunan Cina di Indonesia itu adalah REFLEXI dari gaya ber-usaha anda sendiri. Walau bukan semua, tapi rata-rata ‘kaum’ Cina keturunan, terutama yang bermukim dikawasan Sumatra yang sering disebut Cina Sumatra itu ‘budaya’ dagangnya kebanyakan LEBIH KASAR. Hal ini bukan cuma sekadar tuduhan tetapi menjadi ulasan studi ANTROPOLOGI. Dimasyarakat mengenal.. peranankan Cina yang bermukim dan bebaur didaerah Jawa Tengan-Jawa Timur biasanya rata-rata LEBIH KALEM alias lebih membaur, dikarenakan budaya JAWA TENGAH/TIMUR dari Cina peranakan disana lebih ‘BLEND’. Dan ketika mereka hijrah ke pusat Bisni seperti Jakarta ‘gaya’ ber-usaha ala JAWA yang santun itu ‘melekat’ pada mereka. Tetapi berbanding berbalik tajam ketika kita mengamati BUDAYA ber-usaha orang-orang PERANAKAN CINA asal SUMATRA atau JAWA BARAT.. gaya nya agak KASAR, agak LICIK dan kurang ‘nge-BLEND’ dengan adat istiadat masyarakat LOKAL(ASLI). Mungkin peranakan asal jazirah Sumatra kebanyakan ‘pendatang’ baru asal PERAHU yang memang baru TERDAMPAR di INDONESIA..yang rata-rata juga kebanyakan belum FASIH berBAHASA INDONESIA…jadi ajaran ber-usaha/dagang ALA MOTHER LAND nya yg KASAR masih berbawa… yang juga rata-rata tingkat AFFEKSI terhadap masyarakat SEKITAR masih RENDAH.
    Mungkin HAL diatas yang menyebabkan banya peranakan CINA di sini yang masih sulit diterima oleh masyarakat ASLI INDONESIA…
    Jika beberapa peranakan merasa sakit hati oleh ‘TUDUHAN’ miring yang selama ini ada, mungkin anda sendiri juga dapat menelaah Mengapa??…
    Memang menyakitkan, dihina itu menyakitkan, tetapi yang terhina juga instrospeksi diri juga… apakah anda JUGA SADAR TELAH MELAKUKAN HAL TERSEBUT JUGA??…
    Karena Inti dari masalah CINA-BUKAN CINA sebenarnya simple…
    Jika peranakan juga merasa PENTING ADANYA PEMBAURAN DENGAN MASYARAKAT ASLI maka hal ini berangsur-angsur akan hilang.. tapi dalam sosialita BERUSAHA, sosialita BERMASYARAKAT malahan kebanyakan, atau masih terasa bahwa PERANAKAN CINA sendiri YANG ‘MERASA’ BELUM MAU BERSOSIAL, BERMASYARAKAT dengan ORANG2 LOKAL.
    Kebanyakan malah PROBLEM yang anda RASAKAN kin adalah Anda sendiri YANG MENCIPTAKANNYA….
    Jadi intinya sebelum anda merasa tidak mau dihina, instrospeksilah..apakah anda dalam kehidupan keseharian melakukan hal yang juga ‘MENYAKITI’ orang????…….

    • Amelia

      Saya keturunan Cina yang berasal dari Sumatera Barat.

      Menurut saya Anda harus lebih cerdas lagi menilai masyarakat keturunan Cina di luar Jawa Tengah dan Jawa Timur.
      Indonesia ini terdiri atas 33 provinsi, bung, sementara daerah dengan keturunan Cina yang Anda sebutkan tidak fasih berbahasa Indonesia itu ada di berapa provinsi? Saya yakin Anda tidak tahu, karena Anda memang tidak pernah mengenal masyarakat keturunan Cina di luar Jawa Tengah dan Jawa Timur (selain di Glodok).

      99% generasi tua masyarakat keturunan Cina di Sumatera Barat memang tidak fasih berbahasa Indonesia, karena mereka lebih FASIH BERBAHASA MINANGKABAU (jika Anda tidak tahu, Minangkabau adalah bahasa daerah Sumatera Barat) dan 99,99% generasi muda masyarakat keturunan Cina di Sumatera Barat TIDAK BISA berbahasa Mandarin atau dialek Cina lainnya. Rasanya bahasa Indonesia saya juga lebih baik daripada Anda yang secara sembarangan menggunakan huruf besar dan tanda baca.

      Jika berbicara mengenai cara berdagang yang kasar, saya rasa Anda terlalu gampang mengeneralisasi. Saya mengakui bahwa ada keturunan Cina yang cara berdagangnya tidak “fair”, tetapi saya juga menemukan hal serupa di masyarakat suku/etnis lain. Orang baik dan orang jahat, pedagang licik dan pedagang baik itu ada di setiap masyarakat, terlepas dari apa etnis dan sukunya. Kebetulan saja karena banyak masyarakat keturunan Cina yang menjadi pedagang, maka seperti kata peribahasa: “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”.

      Harus Anda ingat juga bahwa tulisan di atas menyebutkan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur masyarakat Tiong Hoa tetap menjadi korban saat kerusuhan, di masa lalu dan sekarang, jadi inti masalahnya bukan “nge-blend” atau tidak seperti yang Anda tekankan berulang-ulang.

    • Cumi

      l-l-l-iiiike banget komentar ini. :)

    • numpang nimbrung

      lho, bukannya warga tionghoa tidak mau membaur dengan orang pribumi, banyak alasan untuk tidak ingin berbaur :
      1. warga tionghoa sering di hina
      2. jika ada problem dengan orang pribumi hampir 80% orang lain ikut-ikutan nimbrung,di karenakan yg bermasalah itu orang tionghoa.

      yang di atas itu semua sudah saya alami sendiri.

      malah sekolah saya yang notabena hampir 99,5% itu pribumi

  • dwy setyawan

    saya minta ijin untuk share ^_^

  • mey fairestnymph

    wjwkwk
    ,,
    ada2 aja

    haram hukumnya kl pemimpinnya org kafir(non muslim)
    tp kl MAJIKANnya yg kafir gpp yakk
    ,,
    noh liat aja bnyk org indo yg jd babu k taiwan hongkong
    dll
    ,,majikan mreka, yg gaji mreka,tu org cina

    kl mw benci org cina,,mikir lg d
    d liat lg gmn jasa org cina k org indo

  • MC

    apa untungnya perang2an..
    harta kekayaan duniawi juga gak bakal bisa dibawa jika Anda mati…
    kenapa tidak hidup dengan tenang dan damai apa adanya..
    apa sih yang yang dicari dalam kehidupan ini….

  • batak kristen

    Intinya pemerintah Indonesia masih sgt bodoh. Pemerintah Indonistan (eh salah) Indonesia mestinya bisa menghimpun semua kekuatan ekonomi dlm negri baik itu oleh keturunan cina atau pribumi. Dgn begitu Indo bisa mandiri dan tdk perlu ngutang dr IMF. Yg ada skrg malah pemerintah berpikir keras bgmn supaya selama dia menjabat 5thn bisa menimbun harta spy semua anak2nya bisa sekolah di amerika plus pake mewah di luar negri, kalo perlu nimbun harta spy 7turunan gak habis2, tanpa peduli perekonomian bangsa nya. Kalo ngutang terus ama IMF ya pasrah aja dah jd boneka yg di adu domba dgn berbagai macam issue yg mengada-ada alias kagak penting

  • cina kebun sayur

    “Cina kebun sayur” adalah sebutan bagi keturunan tionghoa yg hidupnya menggantungkan diri dari bertani.

    GOBLOK KALO KATANYA ORANG CINA ITU TIDAK ADA YG BERTANI… CACAT INFO ENTE….ENTE SENDIRILAH YG CUMA HIDUP DIKOTA, MAKANYA BILANG CINA CUMA HIDUP DIKOTA…!!

  • Frans Panjaitan

    Terimakasih atas artikelnya. Informasinya kaya.

  • shiningjade

    makan popcorn ngeliat orang2 saling perang sendiri di komen

  • Isa Almasih

    Kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri…

    Hukum yang sangat Mustahil kan?

  • wong jowo

    Apakah makanya keturunan cina sebagian besar terutama yang memiliki anak perempuan tidak mau menerima menantu laki2 dari golongan jawa
    #curhat
    Moga saling bisa mengoreksi diri sndiri2, gak smua org jawa anti cina dan selalu jahat kepada cina (masih byk org jawa yg baek sebenarnya) dan org keturunan cina semoga merubah mindset yang salah tentang orang jawa.. Sebaliknya org jawa yang msh salah menilai juga merubah pandangan yang salahnya..

  • orang kantoran

    Emang bener di semua negara ada org jelek baiknya, tapi 1 yg guwa kaget, pas ada org asing nanya guwa, eh, katanya org indo kalo tetangganya lagi kebakaran, ga mau nolong kalo ga ada duit/ceperan ya…ya amplop, sampe kaget guwa ditanyain gitu…tapi ya emang bener, kalo liat duit ijo tuh org sini, mangkanya pejabat korup semua…

  • sinyo

    Kalo org chinesse ndak mau bertani atau mengambil sektor2 kerja yg seperti itu sebenernya bukan krn ndak mau hidup sederhana. Masalah latar belakang kesengsaraan org tionghoa luar biasa menderitaa deh. Ngga ada apa2nya dibandingin org sini. Masalah nya adalah kita tdk diberi peluang di sektor2 tsb. Ya gini aja gampangnya, coba liat lingkungan kota/perumahan/sekolah disekitar anda masing2 yg didominasi org tionghoa, lebih bersih,asri, indah,tertib kan.. Ya bayangin kalo negara ini dipimpin org tionghoa ya begitulah deh kira2 jadinya..hehehe..

  • wong jowo

    Mbok jangan memandang rendah dan merasa sombong.. aku sing sng perempuan chinese dadi ra oleh ro ibunya bt menjenjang ke arah yg lebih serius.. Ayo dimulai dari diri sndiri.. saling mengoreksi dan jangan saling merasa benar.. :(

  • neutral

    Saya yakin org pribumi yg dekat dg org tionghoa mayoritas adalah pribumi kristen/khatolik. Jadi intinya karakter manusia ini dibentuk org religi. Suku bangsa itu nomor dua. Kalo masalah menentukan keturunan, itu hak setiap org menentukan jenis keturunannya. Yg pasti ngga ada org pendek mau dapet pasangan yg pendek pula..hahaha

    • Tonggos Darurat 161

      saya dekat dengan cina, tapi saya ateis. bukan katolik atau kristen protestan. menurutmu gimana?

      • numpang nimbrung

        cuma sedikit orang yg religi nya selain kristen yang dekat dengan warga tionghoa,
        hanya orang-orang yang tidak berpikiran sempit saja.
        orang tionghoa dimana-mana juga berteman sama orang pribumi

  • kejawen

    wah ni web menyesatkan, patut dimusnahkan… jgn2 yg buat orang malaysia yg mengadu domba Indonesia… ckckckck…

  • eDoT

    awkawkawkawkawk ngakak liat commentnya wong jowo..sing sabar yo mas..tak dongake jowo cino cepet akur biar kamu bisa dapat istri orang cina..hidup indonesia (jowo cino, cino jowo)

  • Jo

    Artikel yang cukup bagus. Bagus buat mereka kaum berpikir a.k.a kaum 3 Digit, bagus buat renungan.

    Tapi khusus bagi 2 Digit ke bawah, terutama bagi mereka yang selalu mengklaim dan merasa dirinya paling benar (saya rasa semua sudah tahu siapa “mereka” ini, yang akhir2 ini berkoar2 slogan anti China dan anti Kristen), artikel ini hanya akan menjadi sampah tidak berguna.

    Saya hanya bisa berdoa, para 2 Digit itu bisa naik kelas atau tingkat ke 3 Digit, dan mulai berubah menjadi manusia, di mana sifat aslinya adalah: MENGASIHI.

    Cat: Kebencian hanya berasal dari iblis atau kegelapan.

  • dna cinta

    Pemahaman saya adalah semua homo sapiens di nusantara adalah para pendatang. Penduduk asli adalah orang utan. Jadi, tidak usahlah mengajukan claim tentang diri sendiri sebagai pribumi asli. Pandangan mitos pribumi rendahan begini hanya akan menjadi tertawaan manusia yang normal saja.

  • okie

    lalu bagaimana dengan cina benteng di tangerang(mayoritas kuli dan petani), dengan cina di kalimantan yang mayoritas hidup di garis kemiskinan.

    selama kita masih mengkotak2an anak bangsa ini,selama itu pula kita akan salaing melukai antar anak bangsa.
    dan ingat diskriminasi sesama anak bangsa sudah terlalu lama berlangsung, akankah kita meneruskan lingkaran kebencian ini?

    buat saya jelas apapun SARA anak bangsa ini, mereka adalah anak2 indonesia yang lahir di bumi pertiwi!

  • Tonggos Darurat 161

    terimakasih untuk orang cina yang sudah berteman dengan pedagang arab karena setelah mereka berteman dengan pedagang arab mereka menjadi muslim dan menyebarkan Islam di indonesia pada era nusantara (saya tidak menyebutnya Indonesia karena belum merdeka menjadi Indonesia) dengan membuat perkampungan khusus cina selama berdagang di pulau jawa, dimulai dari gresik lalu menyebar ke barat di pantai utara jawa sampai ke jakarta. terimakasih sunan bonang, karena anda adalah cina yang cukup berpengaruh dalam penyebaran agama Islam selama ini.

    mengenai eksklusifitas, salahkan orang Belanda yang terlalu takut orang cina di nusantara menguasai penuh ekonomi dengan membuat kampung cina (sekarang menjadi pecinan) di dekat pusat-pusat kota jajahan mereka sebagai bentuk kontrol terhadap orang cina yang berdagang.
    lanjutan, orang cina harus berterimakasih pada orang belanda yang memperbolehkan orang cina berdagang penuh tanpa kontrol di pelosok-pelosok (dalam kasus ini setau saya dulu di Kalimantan walaupun sekarang sudah bukan lagi pelosok).

    ps: orang cina di Indonesia adalah setengah keturunan cina karena mereka lahir dari gundik jawa pada masa perkampungan cina di pantai barat pulau Jawa di era nusantara karena istri para pedagang terlalu jauh di rumah di China dan revolusi dinasti yang begitu cepat di China mengakibatkan mereka tidak bisapulang, jadi dari awal mereka sudah menjadi bagian dari nusantara.
    ps lagi: saya menyebut orang cina di komentar saya dengan huruf kecil karena memang sudah menjadi bagian dari kita sendiri, bukan orang lain, bukan juga saya tulis dengan awalan huruf “C” dengan kapital, rasa-rasanya seperti menyebut orang lain yang berasal dari tempat yang jauh di asia daratan sana.

    *untuk referensi kalau diminta bisa saya carikan, tapi karena komentar ini adalah reaksioner sifatnya maka saya hanya menggunakan ingatan saya sewaktu kuliah mata kuliah etnografi cina di indonesia. :)
    cheers and respect.

  • avatar

    sy tinggal di jatim. orang cina generasi muda kyk saya jg gak ngerti apa2, wkt kecil sy kalau lewat kampung2 diteriakin cina.. cina.. kadang diludahi, di tolop pakai kacang ijo. hmmm… negara ini banyak bedebahnya yg kurang rasa saling mengasihi tanpa memandang SARA. tidak salah jika bu mega bilang bhw kaum tionghoa adalah kaum yg eksklusif, krn kita kaum tionghoa terpaksa membentuk “kumpulan” sendiri walaupun tidak semua spt itu. orang2 sesama pribumi pun juga saling tengkar kan? jadi menurut saya bukan karna etnisnya yg salah, tetapi karena kegelapan bathin manusianya yg menyebabkan pertengkaran & merusak kedamaian. sampai kiamatpun jika masing2 dari kita tidak berusaha memperbaiki diri sendiri ya hasilnya spt sekarang ini. sy lihat ikan2 hias di akuarium terdiri dari berbagai macam jenis kok malah bisa rukun dibanding manusia yg ciptaan paling sempurna. sempurna apanya kira2? cuma fisiknya doang yg sempurna

  • je

    Well, saya yakin orang pribumi sendiri tidak semuanya berpikiran buruk akan orang Tionghoa. Begitu pula sebaliknya. Saya orang Tionghoa, dan saya tidak hanya memiliki teman2 yang seetnis, tetapi juga banyak sahabat2 pribumi yang sangat dekat dengan saya. Mungkin kita hanya perlu berpikiran lebih terbuka untuk bisa menerima bahwa sebenarnya setiap etnis itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing2. Masyarakat etnis Tionghoa mgkn banyak yang maju di bidang perekonomian, tapi siapa bilang kalo warga etnis Tionghoa orang kaya semua dan tidak ada warga pribumi yang kaya? Itu terlalu kekanak-kanakan!
    Jangan sampai isu-isu perbedaan etnis yang diumbar-umbar sampai merusak pertemanan atau hubungan mutualisme bangsa ini. Kita harus solid. :)

  • an

    saya pikir, bangsa apapun, baik itu cina, pribumi, barat, afrika dll, ada yg baik, ada yg jahat, ada pemerkosa, pembunuh, ada koruptor dll. Semua itu kembali pada diri pribadi masing2, bukan karena suku bangsa ataupun keturunannya. penilaian terhadap baik buruknya seseorang itu tergantung pada cara berpikir anda. jika cara berpikir anda baik, yah pandangan anda tidaklah selalu negatif terhadap satu suku bangsa.begitu juga sebaliknya. semuanya itu juga mencerminkan bagaimana kepribadian anda. Sebelum anda memberi penilaian thd seseorang ataupun suatu suku bangsa, alangkah baiknya berkaca pada diri sendiri dahulu.

    dari cara berpikir, menilai, bertutur kata, itu semua mencerminkan baik buruknya pribadi anda. Untuk apa menghabiskan waktu anda utk mencaci orang dg menilai dr suku bangsanya. bukankah lebih baik kita semua hidup rukun, berpikir positif satu sama lain? hidup itu singkat, isi aja dengan hal2 baik yg memajukan diri anda.

  • VVV

    Aneh memang, hidup di negara barat banyak saya temui yang bukan chinese mengaku kalau mereka ada keturunan chinesenya.
    Emangnya gua peduli, mau keturunan jawa, batak, menado, arab kek kalau sama2 dari indonesia kita bersaudara.
    Yang berdarah chinese dihargai rupanya.

  • ???

    hmm kita liat aj knyataanny d jakarta(IBU KOTA) sering bgt tuh g liat klo ad kasus keserempet mobil dll ….

    Ujung”ny pasti org chinese yg kena todong bayar ini lah itulah belum lg kena sama polisiny lg dll. (ujung”ny org chinese g salah )
    krn ap??
    Krn org chinese nyenggol kaum ***** yg slalu triak” (kamu org gk punya dll >> ud tw gk puny kerja yg bner dong … ud tw gk puny kerjaanny jgn demo mlu , d sekolahin mahal” sma ortu ujung”ny cumen demo sana buat krusuhan sini ,, tinggal tgg kna batu dr org trus mati dh d jln ckckck)

    Ato klo ad ap” psti ad aj yg sok jagoan smbil triak” g penduduk asli d sini ,, U ORG JGN MACEM” !!! dll << wktu kasus madura vs Betawi ….

    GINI AJ KLO U YG D LUAR SNA MRASA ANTI CHINA .. MULAI SKRG JGN OMONG DOANG TW MALU DONG … BERENTI MGUNAKN SMUA BRG MADE IN CHINA TRMASUK MAKANAN , BAJU DLL
    mULAI DR YG D ATS AJ DLU KLO LO MAMPU ..

    PEACE SADAR DIRI ,, KAUM G LBH MENDRITA D BNDING KAUM U !!
    UD KENA JARAH SAMA BELANDA + JEPANG … EHHH SAMA BANGSA SNDIRI JUGA KENA <<<< CUMEN MODAL DENGKUL SAMA BACOT "BUAT NEGARA MERDEKAAA !!! HA? <<<
    SIRIK? MW KAYA ? KERJA WOIII ,,, JGN MAIN RAMPAS KY PERAMPOK AJ AKWAWK

    BUAT MREKA YG SUKA RAMPOK SNA RAMPOK SNI

    …. PEACE ALL …

  • Kancono R. Warsito

    Mohon maaf, saya ikut bergabung karena tertarik untuk share, bukan berarti menggurui dan sok-tau atau lainnya, kita sama-sama berdiskusi.

    Begini, menurut saya artikel yang ditulis Kurnia Harta Winata: “Dari Dahulu Begitulah Cina, Beritanya Tiada henti”, cukup informatif dan sangat membantu dalam memperkaya pemahaman tentang Indonesia dan masa lalunya guna memandang Indonesia ke depan lebih komprehensif. Namun, komentar-komentar yang muncul bagaimanapun mendapat perhatian, memang wajar kalau komentarnya ada yang sinis, pelampiasan emosi, simpati dan bahkan antipati, ataupun curhat, sekali lagi menjadi bahan yang melengkapi proses pembelajaran bangsa Indonesia kelak. Mengenai isi dari komentator ini akhirnya terpulang pada pengalaman lahir maupun bathin, serta tingkat kematangan dan pemahaman sosial secara personal para komentatornya.

    Indonesia secara hukum (atas dasar Proklamasi Kemerdekaan 1945 dan UUD 1945) bukan hanya sebagai bentuk negara saja, tapi juga sebagai bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Lalu siapakah dan yang manakah bangsa Indonesia itu?

    Secara hukum, bangsa Indonesia adalah warga yang ada dari berbagai ras/suku/etnis manusia apapun yang ada di tanah air Indonesia dan lahir di tanah air Indonesia sejak diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945.

    Karena banyaknya komposisi ras/suku/etnik tersebut dari berbagai etnis/suku dan daerah-daerah kerajaan/ kekuasaan pada masa-masa sebelumnya, maka konsep persatuan itulah yang melahirkan konsep kebangsaan (menganut faham ius soli).

    Kemudian yang perlu menjadi inti pembicaraan berikutnya adalah : Sejauhmana hak dan kewajiban sebagai warga negara dan bangsa Indonesia ini berjalan? Jawabnya, terbersit dari cerita Kurnia Harta Winata tadi di atas. Yang tentunya ada kronologi sejarahnya.

    Etnik mongoloid (di sini berarti etnik cina atau tionghoa) sudah sejak jaman laksamana It shing mulai urban dan mendiami tanah Nusantara (ingat jaman kerajaan Singosari yang erat bekerjasama dalam perdagangan dengan dinasti Kubilai Khan, kira-kira 10 abad yang lalu). Antar etnik itu telah terjadi akulturasi (pembauran dan percampuran) yang harmonis dengan penduduk setempat, sehingga terbentuklah masyarakat sosial budaya yang semakin berkembang. Namun karena politik dan perebutan kekuasaan oleh turunan para raja di Singosari itu menimbulkan kebingungan keberpihakan etnik mongol, disatu pihak dimanfaatkan untuk kepentingan memenangkan, dilain pihak diperlakukan sebagai antek lawannya. Jadinya bagai “gajah dengan gajah berperang pelanduk mati ditengah-tengah”. Akhirnya bagi mereka yang penting mencari aman untuk bertahan (survive) berakulturasi dan beranak-pinak. Jadi banyaklah sekarang bangsa Indonesia yang ber-etnik mongol/cina (termasuk saya, entah dari turunan yang mana….hehehe).

    Bahkan ketika Nusantara berganti raja dan kekuasaan kerajaan dikuasai oleh Kerajaan Majapahit, sebagai kelanjutannya, ras mongol itu ingin menjadi bagian dari kerajaan, ini ditandai dengan upeti raja mongol yang berupa putri cantik jelita dari daratan cina sana, untuk dipersunting raja Bravijaya V.

    Dan dari dia-lah trah raja-raja di jawa berikutnya diturunkan, yaitu raja Kerajaan Islam Demak yang pertama ; Fatahilah atau Raden Patah. Walaupun kelak di tengah-tengah perjalannya kekuasaannya hingga Mataram terjadi pergantian dan perebutan kekuasaan, itu hanya pro dan kontra tentang trah silsilah.

    Persengketaan antara pri dan non-pri (dalam hal ini etnik cina, mongol) dipertajam ketika VOC dan belanda mengusai hampir seluruh Nusantara, dengan konsep “devide et impera” (pecah dan adu), hal ini karena kepicikan para rajanya dulu, sehingga yang ada hanya ingin kemewahan dan hegemoni kekuasaan yang tidak mensejahterakan dan mengayomi rakyatnya.
    Hal ini berlaku tidak hanya di jawa,tapi hampir di semua daerah dimana ada kekuasaan kerajaan di Nusantara. Sifat dasar manusia ; iri dengki dan serakah dieksploitasi oleh pakar-pakar belanda untuk tujuan-tujuan ‘concoirant’ (penaklukan dan penguasaan). Akankah hal ini dipertahankan?

    Inilah tugas kita semua untuk mencerahkan kehidupan kebangsaan, menjadi bangsa Indonesia yang Ttat Twan Asi, Bhineka Tunggal Ika, berbeda untuk bersatu, menyingkirkan tirani dan batas-batas strata sosial dan ekonomi, harmonis dan utuh, dengan HUMANISME (Sila ke-2 Pancasila; Peri Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab).

    Terima kasih,
    Kancono R. Warsito di FB

  • panja

    Saya sering berpindah tempat dan banyak berdekatan rumah dengan orang2 cina, sampai akhirnya saya berpendapat bahwa cina mempunyai sifat2 sbb:
    1. Menganggap Rendah Orang Indonesia.
    2. Tidak perduli perasaan orang kecuali sesama cina,(parkir seenaknya, bikin usaha mengganggu tetangga, jagoan melanggar aturan lalu lintas, tidak mau antri dan sangat gemar memberi suap)
    3. Mereka bukanlah pengusaha ulet, tetapi tidak sabaran dan gemar mengambil jalan pintas.
    4. Tidak punya etiket/ kampungan
    5. Kebanyakan tidak bisa berbahasa Indonesia yang baik dan cenderung kasar
    6. Tidak punya kontribusi terhadap lingkungan terutama bila tetangganya kebanyakan orang
    Indonesia. Contoh: Kalau terjadi kejahatan cenderung tidak mau membantu dan bersikap
    acuh, tidak mau bergotong royong, hanya memikirkan kepentingan sendiri
    7. Bisa bersikap manis hanya bila ada maunya, kalau mereka sudah bersikap baik dan
    dermawan ber-hati2lah, setelah itu mungkin mereka minta fasilitas dari kita atau mulai
    melakukan kegiatan/usaha yang akan mengganggu lingkungan dan ketentraman warga.
    8. Hati2lah bila lingkungan telah didominasi orang Cina, dalam sekejap daerah tersebut akan
    menjadi daerah awut2an, busuk, ribet, macet, kacau balau

    Hebatnya mereka tidak sadar kejelekan2 tersebut diatas dan selalu menganggap bahwa orang indonesialah yang jahat dan rasialis. Sebaiknya mengingat kebiasaan2 tersebut diatas mereka harusnya introspeksi dulu dirinya sendiri dan bila tidak bisa melakukan introspeksi terhadap sikap2 buruknya, sebaiknya untuk kebaikan semua mereka hengkang saja dari bumi pertiwi ini. Bila mereka bisa menghilangkan sifat2 buruknya mungkin kita bisa hidup rukun dengan mereka

    • to the point

      upsss…. sorry ….. komen dikit buat loe .. sudah berapa lama kamu tinggal bersama orang2 cina? loe sering berapindah pindah toh….. sekarang gue mau tanya dimana pun kamu pindah dan tidak ada satupun orang cina yang bisa berbaur dengan mu? maka perlu kamu instropeksi dirimu sebelum berkomentar karena anda harus tahu sebuas buasnya harimau tapi masih ada yang bisa berbaur dengan manusia ….. dan kamu itu lebih rendah dari binatang tersebut, ingat orang cina itu juga manusia tidak bodoh dan tidak mudah untuk kamu pengaruhi seperti dirimu yang agak tolol dan emosi an …. terimakasih.

  • kelinciku

    Dari sekian ratus tulisan di SK yg sempat saya baca,
    inilah kuotasi kalimat terbaik dan paling sempurna
    yang pernah saya baca :
    “Karena bangsa yang hanya mampu meluapkan amarah memang tak pantas maju.”

    Terima kasih bpk. Kurnia Harta Winata.

    - Lala -

  • Tetangga Ciben

    Setelah membaca artikel pak Kurnia, walau ngga semua, kepanjangan…. hehehehe, tp saya salut atas detail info sejarahnya, luar biasa…
    Namun melihat komen-komen yang muncul, jadi gatel juga ikut komen, karena sejak kecil saya memang akrab dengan warga Tiong Hoa (dulu sebutannya warga suku cina), di daerah pasar lama tangerang, teringat masa kecil dulu, yah namanya dunia anak kecil, pikirannya polos, tulus dan apa adanya. Dan jelas tidak ada rasa curiga, rasa benci, rasa takut dengan siapa pun, termasuk dengan teman-teman warga tiong hoa (sekali lagi kami anak cina), dan saya rasa teman-teman main saya warga tiong hoa saat itu. Yang ada main senang-senang aja saat itu, walau kadang ada juga konflik kecil, biasa… namanya juga anak kecil, kadang berkelahi, tapi tak lama akur lagi, bermain-main lagi,
    namun ketika beranjak besar dan dewasa, saya terpaksa meninggalkan wilayah “main” saya saat itu.
    Saya rasa… suasana ketika saya masih kecil saat itu, mungkin hal itulah yang perlu dibangun saat ini. Sebaiknya semua orang baik warga pribumi ataupun warga tiong hoa, bersikap seperti itu. Ingat konflik itu timbul dari dalam diri, dari prasangka, dari curiga, dari penyakit-penyakit perasaan yang timbul ketika beranjak dewasa… hehehe
    “Hiduplah tanpa prasangka buruk… berbuatlah hal yang baik…” jika dilakukan secara global dan keseluruhan, mungkin tidak ada yang disebut musuh di dunia ini…

  • to the point

    jauh sebelum nama INDONESIA ini ada. orang TIONGHOA sudah ada di asia pacific ini ….ingat itu INDONESIA BELUM ADA sebelum tahun 1945…..di jajah sama belanda 300 tahun lebih malah bilang cina pula yang jajah. sejauh mana artikel tulisan diatas itu tahu mengenai cina….. ada sejarah cina menjajah? sudah lah … biar di provokator aja..kan banyak orang bodoh bodoh yang masih terbelakang yang mudah di tipu sam aprovokator ..kenapa ? karena mereka merasa takut kalau orang tionghoa sempat berbaur….. indonesia bakalan maju ….. justru ada sekelompok orang yang tidak ingin maju maka di prvokasi dan kebetulan manusia indoensia masih mudah di provokator ( kalau dengan kata kata yah ngak mulus, yah yang pasti pake pelicin lah supaya masnyarakatnya ok ok aja ) toh ngak ada hukumnya kok

  • Muhammad

    abang2, akang2, mas, mbak, bro, and sis semua….numpang tanya nih orang terkaya se Indonesia keturunan cina atau pribumi yah?

    nah kalau udah tahu jawabannya, yang kalah nyadar diri yah..

  • Yang perlu aku katakan simpel saja tentang saudara kita yg keturunan etnis Tionghoa:
    ” Saudara kita ini yang berjiwa nasionalis banyak SEBALIKNYA yang anti kebangsaan juga masih banyak”.

    “Saudara kita ini yang baik dalam pergaulan banyak, tetapi yang kriminal juga banyak seperti para gembong narkoba.”

    “Saudara kita ini yang menjadi pejabat dan pengusaha yang baik banyak, tetapi yang jadi koruptor brengsek juga banyak”.

    ” Saudara kita ini yang sudah Mualaf banyak, dan yang lain juga punya keyakinan masing-masing”.

    KESIMPULANNYA: ” WNI baik yang katanya non pribumi maupun pribumi ada yang baik , ada juga yang jahat. Ada yang berjiwa nasionalis, ada juga yg masing berjiwa komunis , liberalis dan ada yg anti nasionalisme”.

    Indonesia adalah sebuah negeri yang bebas bagi setiap manusia tidak perduli bentuk wajah, warna kulit, suku , agama semua bebas berusaha dinegeri ini.

    HANYA ORANG-ORANG BODOH YANG TIDAK TAU TERIMAKASIH SAJA SELALU BIKIN ONAR DINEGERI TERCINTA INI, BAIK MELALUI PERKATAAN MAUPUN PERBUATAN”.

  • cina

    2 kata, KARENA IRI.

Leave a Reply