Top 12 - Sejak Jan 2012

Cara Kirim tulisan

Tulis dulu tulisan anda di Word atau di word processor apa saja, jangan di format, cukup diberi paragrap saja.
Lihat kolom yang dibawah tulisan; LOGIN: User Name: :Tamu dan Password : superkoran - setelah itu anda akan bisa melihat kotak untuk mengisi tulisan. (kotak kanan atas)
Copy tulisan anda dan Paste di kotak tsb dan beri judul dan tekan SAVE. Tambahan: Setiap tulisan hendaknya diberi TITLE dimulai dengan Nama Penulis + judul Tulisannya. Tanpa nama penulis, dengan sendirinya tidak jelas siapa yang menulis dan tulisan tidak bisa diterbitkan. TIAP ORANG HANYA BOLEH MENGIRIM TULISANNYA SENDIRI

Daftar tulisan

Ernawati: Makna Polusi Dalam Krisis Lingkungan.

Pembaca: 3569

Pada saat kita berbicara tentang lingkungan pastilah setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda tentang arti sebuah lingkungan, ada yang mempersepsikan bahwa lingkungan itu adalah lingkungan kecil disekitarnya, ataupun lingkungan besar yang dibayangkan seperti bumi dan seisinya. Bahkan kalau kita rinci lebih detail lagi, maka yang bisa kita analogkan dengan arti sebuah lingkungan adalah lingkungan fisik, lingkungan biologi dan lingkungan sosial. Kala perbincangan kita beralih tentang issue lingkungan maka perhatian kita ditujukan pada issue yang bersifat lebih universal, dan ini bisa kita lihat bahwa segala propaganda dari sebuah gerakan atau pembangunan lebih ditekankan pada hubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan lingkungan yang lebih universal. Issue mengenai peduli lingkungan ini telah dilemparkan sejak beberapa puluh tahun lalu, seperti yang telah di katakan oleh Rachel Carson (kurang lebih 35 tahun yang lalu) tentang arti bahayanya pestisida terhadap ekosistematik, namun realisasi teriakan itupun ditanggapi hanya sepintas lalu, dan sangat sedikit sekali orang yang perduli.

Apalagi dengan adanya propaganda revolusi hijau yang mendunia, maka propaganda penggunaan pestisidapun tak terbendung. Ideologi Perduli Lingkungan yang lebih luas lagi juga telah juga diadvokasi oleh Giffordd Pinchot sejak 90 tahun yang lalu, dengan menelorkan istilah “konservasi” yang dibahasakan dalam gaya eufomisme-nya dan diartikan menjadi “pembangunan yang berkesinambungan”. Dalam mottonya yang terkenal yaitu “Kewajiban utama yang harus dilakukan oleh manusia adalah mengontrol bumi dan kehidupan yang berada di dalamnya” dimana sampai saat ini motto tersebut menjadi landasan peringatan hari bumi.

Tapi walaupun dikumandangkannya perduli lingkungan sejak puluhan tahun yang lalu, perubahan menuju perbaikan yang terjadi sangatlah lamban, bahkan fenomena yang berlawanan dengan idealisme cinta lingkungan tersebut ditampakkan dengan adanya kerusakan yang semakin tak terbendung di berbagai tempat dimuka bumi ini. Advokasi lingkungan oleh para aktivis pecinta lingkungan di negara kitapun juga tak kalah gencarnya telah dilakukan, namun gaung mereka seperti tertelan bumi.

Istilah “cinta lingkungan” dan “konservasi” masih bermakna di awang-awang dan tak bisa dicerna dengan mudah oleh kelompok lain diluar kelompok pecinta lingkungan, dan segala tindakan serta upaya cinta lingkungan juga masih dianggap merugikan bagi sebagian golongan. Kedua istilah itupun sampai saat ini masih dikategorikan kata yang ekslusif, karena yang mengerti istilah tersebut hanya golongan tertentu saja yaitu golongan yang bergerak dilingkungan. Implemenasi secara nyata dari kata “cinta lingkungan” dan “konservasi” dalam kehidupan sehari-hari juga masih belum mengakar, sebagai contoh membuang sampah, bagaimana membuang sampah dengan memilahkan sampah organik dan sampah plastik. Apakah ini sudah terpikirkan oleh kita? Ataukah sudah timbul kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempat yang telah disediakan? Ataukah ada anggaran khusus yang kontinyu dari APBD dalam menangani sampah di masing-masing kota? Disini kita bisa menilai bahwa tindakan cinta lingkungan atau konservasi jangan diharap terlalu tinggi untuk berhasil di negara kita karena istilahnya-pun masih belum tersosialisasikan dengan baik untuk segala golongan. Sebagai tolok ukur yang sangat sederhana, coba kita bertanya pada pada anak Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Umum, apa yang dinamakan dengan cinta lingkungan, atau kita tanyakan apa yang dimaksud dengan konservasi sumberdaya alam pada mahasiswa teknik mesin. Apakah jawaban yang diberikan sudah menggambarkan kesatuan dalam setiap tindakan dan pikirannya? Mengapa ini terjadi? Kalau kita bertanya mengapa wawasan itu masih belum ada pada setiap langkah dan pikiran anak SD, dan mungkin kalau kita bertanya pada diri kita senidiri, barangkali kitapun belum tentu tahu apa makna cinta lingkungan serta konservasi sumberdaya alam, sehingga jawaban yang diberikan apa makna kedua kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari akan beragam. Dan fenomena itu lagi-lagi perlu dimaklumi, karena kita memang tak perlu berharap banyak dari kondisi ini.

Sebagai perbandingan bahwa “cinta lingkungan” juga belum menyatu dalam setiap keputusan karena kurang mengertinya arti sebuah lingkungan, dapat dilihat pada jajak opini tentang arti sebuah lingkungan oleh seorang sosiologis Stephen Cotgrove di Inggris. Dari jajak opini ini didapatkan 2 buah persepsi yang sangat jauh berbeda tentang arti sebuah lingkungan, dimana dua persepsi tersebut didapatkan dari 2 kelompok yang berbeda yaitu kelompok pecinta lingkungan dan kelompok industrialis. Kelompok lingkungan melihat suatu keputusan dengan perspektif yang lebih luas dan jauh kedepan tentang resiko tindakan pada lingkungan, sedangkan kelompok industrialis kurang memperhatikan resiko suatu teknologi yang diterapkannya terhadap lingkungan secara luas. Namun kelompok yang kedua tersebut selanjutnya bukan berarti melakukan upaya yang tidak bertanggung jawab, tapi mereka pada umumnya tidak melihat resiko yang signifikan terhadap apa yang telah dilakukannya terhadap lingkungan, apalagi usaha industrinya tidak mempunyai sangkut paut dengan lingkungan secara langsung. Dari kedua kelompok yang jauh berbeda dalam pekerjaannya tersebut, bisa kita lihat bahwa “persepsi lingkungan” itu sendiri belum sama dan belum tersosialisasikan dengan baik. Gambaran tersebut bisa direfleksikan ke negara kita saat ini, apalagi negara kita “baru mau bangkit” untuk cinta lingkungan. Dari jajak opini tersebut akan menggulirkan pertanyaan yang perlu kita renungkan serta dibahas bersama yaitu :”Apakah dalam setiap keputusan bisnis yang berhubungan dengan lingkungan telah memperhatikan resiko terhadap lingkungan itu sendiri di negara kita?” Sebagai contoh penambangan kayu hutan tropis, penambangan isi laut ataupun penambangan segala bentuk jenis mineral di darat dan dilaut, apapun alasannya, apakah telah diperhitungkan segala resiko yang mempengaruhi kelangsungan hidup bumi ini dalam aturannya?.

Berbicara tentang krisis lingkungan, tentunya kita tidak hanya berbicara krisis secara fisik, tapi juga hendaknya meninjau krisis lingkungan secara sosial. Dimana krisis sosial ini adalah sebagai sumber terjadinya krisis secara fisik. Hal ini seperti diungkapkan oleh Neil Everden dalam bukunya yang terkenal yaitu “the Social Creation of Nature”. Dari perdebatan kedua kelompok tersebut Neil Everden menterjemahkan kedalam perspektif yang sangat filosofis, bahwa kalau kita membicarakan krisis lingkungan maka kita tak pernah lepas dari pembicaraan tentang polusi.

Tentu saja dalam konteks saat ini, kalau kita berbicara tentang polusi maka yang ada di benak kita adalah polusi secara fisik yang diakibatkan oleh pekerjaan manusia yang bertentangan dengan hukum alam itu sendiri. Tapi secara filosofis barangkali kita perlu menterjemahkan lebih jauh lagi tentang arti sebuah polusi, karena kenyataannya polusi yang menyebabkan krisis lingkungan tersebut adalah  polusi moral. Contoh nyata yang diberikan pada hasil jajak opini di 2 kelompok tersebut pada saat digulirkannya sebuah pertanyaan, “berapa banyak racun atau zat kimia yang bisa di terima oleh bumi kita ini?”. Dari jajak opini itu digambarkan bahwa kedua kelompok tersebut memberikan jawaban yang berbeda kalau ditinjau dari kontaminasi moral. Di satu sisi kelompok pecinta lingkungan memberikan argumentasi yang sangat ideal tentang indahnya sebuah kehidupan di masa depan, dengan tanpa memberikan warisan lingkungan yang rusak bagi generasi mendatang, tapi di sisi lainnya kelompok industrialis juga memberikan indahnya kehidupan yang ideal di masa depan. Keduanya memberikan hasil jawaban yang sama, yaitu memimpikan “kehidupan yang ideal di masa depan”. Sekarang yang perlu kita terjemahkan adalah apakah definisi kehidupan yang ideal di masa depan tersebut, siapa yang menentukan kriteria bahwa itu adalah kehidupan ideal, dan apa kriteria dari sebuah kehidupan yang ideal?

Dari jajak opini yang menghasilkan pendapat yang kurang memperhatikan arti sebuah lingkungan atau kurang memperhatikan kehidupan manusia secara menyeluruh, dimana pikiran tersebut di tuangkan dalam pembenaran-pembenaran kebijaksanaannya tanpa memperhatikan pendapat dari kelompok lainnya, tak lebih hanyalah ingin menonjolkan kepentingkan diri sendiri atau kelompoknya. Dan pemikiran tersebut sangat menyatu dalam ideologi secara struktural yang dapat dilihat pada kondisi Indonesia saat ini maupun sebelumnya. Makna kontaminasi fisik tentu saja bukan menjadi sasaran utama dari diskusi tersebut, tapi lebih ditekankan pada kontaminasi moral yang masih berlangsung dengan dalih apapun untuk memenangkan pendapatnya. Dengan adanya contoh perbedaan pendapat tersebut seharusnya kita mulai merefleksikan bersama terhadap aktifitas kita, hendaknya kita mulai melakukan kegiatan untuk mencari pemecahan yang bisa mengentaskan lingkungan kita ini dari krisis yang berkepanjangan. Kita lakukan pada lingkungan kita terkecil tanpa perlu mengibarkan kata “demi lingkungan” atau slogan-slogan yang romantis, kalau dibalik semua slogan itu hanya termuat kandungan kepentingan pribadi maupun kelompok. Itu sama saja dengan adanya kontaminasi moral dalam memperjuangkan perbaikan lingkungan.

Perdebatan yang panjang antara kelompok pecinta lingkungan dan kelompok industrialis itu tak pernah berhenti dan terus bergulir karena mempunyai pijakan yang berbeda dalam ideologinya. Konsep polusi dalam krisis lingkungan terus bergulir. Mary Douglas mencoba menerangkan dengan konsepnya tentang arti sebuah polusi, bahwa  makna polusi itu sangat universal dalam kehidupan manusia, dan tentu saja penggunaan kata itu jangan dibayangkan seperti kehidupan primitive di masa lalu, dimana jumlah manusia masih sedikit, sumber daya alam melimpah dan teknologi yang sangat sederhana atau diterjemahkan ke dalam kontek kehidupan yang sempit dengan keragaman persoalan yang sangat kecil. Tapi hendaknya pengertian polusi ini diterjemahkan dalam konteks yang lebih luas lagi, karena makna polusi dalam krisis lingkungan juga mempunyai makna sangat sosiologis yang berarti polusi moral.

 

Leave a Reply